Mama Sinta Dukung PSN Papua, Dandhy Laksono Minta Publik Tahan Penilaian

Nazwa Deriska Noviyanti • Dipublikasikan Senin, 25 Mei 2026 | 13:39 WIB
Mama Sinta menyampaikan dukungan terhadap PSN Papua Selatan di tengah polemik film dokumenter Pesta Babi.
Mama Sinta menyampaikan dukungan terhadap PSN Papua Selatan di tengah polemik film dokumenter Pesta Babi.

Topik: Polemik Film Pesta Babi Memunculkan Pengakuan Mama Sinta Soal Dukungan terhadap PSN Papua Selatan

Durasi Baca: 6 Menit

Ikhtisar: Sutradara film dokumenter Pesta Babi, Dandhy Laksono, meminta publik tidak menghakimi Yasinta Moiwend atau Mama Sinta yang kini mendukung Proyek Strategis Nasional di Papua Selatan. Pengakuan Mama Sinta soal tekanan ekonomi dan rasa kecewa terhadap pendampingan LBH menjadi perhatian luas.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Polemik film dokumenter Pesta Babi kembali ramai setelah tokoh perempuan adat Merauke, Yasinta Moiwend atau Mama Sinta, menyatakan dukungan terhadap Proyek Strategis Nasional di Papua Selatan. Sutradara film tersebut, Dandhy Laksono, meminta masyarakat menahan komentar keras dan mencoba memahami situasi yang dihadapi Mama Sinta di pedalaman Papua.

Masalah ini bukan cuma soal film dokumenter atau perdebatan media sosial. Ada cerita hidup, tekanan ekonomi, sampai harapan soal masa depan keluarga yang ikut terbawa. Simak terus sampai habis, ada banyak sisi yang jarang disorot, Ces!

Baca Juga: The Other Sister Tayang 29 Mei 2026 di MAXStream TV dan iQIYI, Drama Misteri Emosional dengan Konflik Relasi Masa Kini

Kenapa Dandhy Laksono Minta Publik Tidak Menghakimi Mama Sinta?

Dandhy Laksono menilai banyak orang terlalu cepat memberi penilaian tanpa memahami kondisi nyata yang dihadapi masyarakat adat di Papua. Lewat akun Instagram pribadinya, ia meminta publik menunjukkan empati terhadap Mama Sinta.

“Kawan-kawan semua, kita tak pernah benar-benar tahu apa yang sedang dialami Mama Yasinta Moiwend di pedalaman Papua sana,” tulis Dandhy Laksono via Instagram, Senin 25 Mei.

Sutradara Watchdoc itu juga menegaskan bahwa setiap orang memiliki hak menentukan pilihan hidupnya sendiri. Menurutnya, keputusan Mama Sinta untuk mendukung PSN tetap harus dihormati, meski memicu perdebatan di media sosial.

“Apa pun yang muncul di media sosial sepertinya kita perlu menahan diri untuk tidak menghakimi beliau. Bahkan jika semua yang disampaikan murni atas kehendak sendiri, bukankah setiap orang berhak membuat pilihan?,” lanjutnya.

Apa yang Membuat Mama Sinta Berubah Sikap?

Mama Sinta mengungkap alasan utama perubahan sikapnya berkaitan dengan kondisi hidup yang serba terbatas. Ia mengaku membutuhkan pekerjaan dan berharap rumahnya yang sudah tidak layak bisa diperbaiki.

“Saya mau cari pekerjaan di perusahaan, cari pekerjaan karena rumah saya ingin direhab karena sudah tidak layak lagi,” ujar Mama Sinta dikutip dari Antara.

Selama mengikuti aksi penolakan pembangunan lumbung pangan, Mama Sinta mengaku hanya merasakan kelelahan. Ia juga menyebut kompensasi yang diterima tidak sebanding dengan perjuangan yang dijalani.

“Yang saya dapat cuma capeknya saja. Mereka fasilitasi, jadi kalau mereka fasilitas terus uang duduknya cuma Rp2 juta, Rp1,5 juta itu saja yang kami dapat dari mereka, LBH pusaka,” ungkapnya.

Cerita itu kemudian memicu banyak respons publik. Ada yang mendukung langkahnya, ada pula yang mempertanyakan perubahan arah dukungan tersebut.

Bagaimana Pengakuan Mama Sinta Soal Film Pesta Babi?

Salah satu pengakuan yang paling menyita perhatian datang saat Mama Sinta menyebut wajah dan suaranya masuk ke dalam film Pesta Babi tanpa izin resmi. Ia merasa diperdaya oleh oknum tertentu saat terlibat dalam advokasi penolakan proyek.

Pernyataan itu membuat polemik berkembang lebih luas. Bukan cuma soal dukungan terhadap PSN, tetapi juga tentang relasi antara pendampingan masyarakat adat dan proses dokumentasi dalam film.

Mama Sinta bahkan menyampaikan permintaan maaf kepada pemerintah atas narasi yang sebelumnya pernah ia suarakan. Ia merasa ekspektasi bantuan yang dijanjikan tidak sesuai kenyataan.

“Saya minta maaf sekali karena itu bukan kemauan saya, itu karena ajakan mereka. Saya juga tidak tahu ke depannya nanti terjadi seperti apa atau mereka bantu saya fasilitas punya rumah atau anak saya dipekerjakan, ternyata tidak ada,” tuturnya.

Apa Harapan Mama Sinta terhadap Pemerintah dan Perusahaan?

Saat ini, Mama Sinta berharap kerja sama pemerintah dan perusahaan bisa membuka kesempatan kerja bagi masyarakat kampungnya. Harapan itu muncul karena kondisi ekonomi keluarga yang dinilai semakin berat.

Ia menilai keberadaan perusahaan dapat membawa manfaat jika masyarakat lokal ikut dilibatkan. Fokus utamanya sederhana, ada pekerjaan dan kehidupan yang lebih layak untuk keluarga.

“Pemerintah bisa membantu kita lewat perusahaan yang ada. Dan kami mendukung karena kami tidak punya apa-apa di kampung ini. Harapan kami cuma ke pemerintah, lewat pemerintah kerja sama dengan perusahaan dengan masyarakat, maka itu kami mau dukung, perusahaan boleh lanjut sampai kami bisa menikmati hasil yang perusahaan sudah berikan,” imbuhnya.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa isu pembangunan di Papua tidak selalu hitam putih. Ada kebutuhan hidup sehari-hari yang ikut memengaruhi keputusan masyarakat adat.

Kenapa Polemik Ini Jadi Perhatian Luas?

Kasus Mama Sinta menarik perhatian karena menyentuh banyak sisi sekaligus. Mulai dari isu pembangunan nasional, kehidupan masyarakat adat, film dokumenter, hingga tekanan ekonomi keluarga.

Di media sosial, perdebatan muncul karena publik melihat perubahan sikap Mama Sinta dari sudut pandang berbeda. Sebagian fokus pada perjuangan lingkungan, sementara yang lain melihat persoalan kesejahteraan warga kampung sebagai hal mendesak.

Ada pula pertanyaan yang terus muncul, apakah masyarakat adat sudah benar-benar mendapatkan ruang aman untuk menentukan pilihan mereka sendiri tanpa tekanan dari berbagai pihak? Pertanyaan itu masih terus bergulir sampai sekarang.

Poin Penting:

Baca Juga: Ruang Tamu Japandi Minimalis 2026, Simpel Dipandang Nyaman Dipakai Sehari-Hari

Insight redaksi: Polemik ini menunjukkan realitas di lapangan sering kada sesederhana narasi yang muncul di media sosial. Di satu sisi ada perjuangan soal lingkungan dan masyarakat adat, tapi di sisi lain ada kebutuhan hidup yang mendesak setiap hari. Ketika dapur, rumah, dan masa depan anak ikut jadi pertimbangan, keputusan seseorang bisa berubah. Itu sebabnya empati penting dipakai sebelum ramai memberi penilaian. Situasi seperti ini juga membuka mata bahwa suara warga kampung kadang punya beban yang berat pang, Ces!

Bagikan jua artikel ini ke kawalan ikam supaya makin banyak yang memahami sisi lain polemik Mama Sinta dan PSN Papua Selatan, nah itu sudah, Ces!

Mau terus update isu nasional yang dibahas santai tapi tetap padat isi dan dekat dengan realita warga? Pantengin terus Balikpapan Tv teman update setia, bukan sekadar info biasa!

FAQ

  1. Siapa Mama Sinta dalam polemik ini?
    Mama Sinta adalah Yasinta Moiwend, tokoh perempuan adat asal Merauke.
  2. Apa isi pernyataan Dandhy Laksono?
    Dandhy meminta publik tidak buru-buru menghakimi keputusan Mama Sinta.
  3. Kenapa Mama Sinta mendukung PSN?
    Ia berharap ada pekerjaan, perbaikan rumah, dan kesejahteraan keluarga.
  4. Apa yang disampaikan Mama Sinta soal film Pesta Babi?
    Ia mengaku wajah dan suaranya masuk ke film tanpa izin resmi.
  5. Apa harapan Mama Sinta sekarang?
    Ia berharap pemerintah dan perusahaan membantu masyarakat kampung melalui pekerjaan dan kerja sama.
    my ride-or-die for updates
    my ride-or-die for updates
     
Editor : Arya Kusuma
Dandhy Laksono Mama Sinta Proyek Strategis Nasional Papua Selatan