Info Lokal InfoScope Gaya Hidup Infotainment Iptek Bisnis & UMKM Religi

Sohra dan Harmoni Alam! Kota Terbasah di Dunia dengan Budaya Matrilineal Unik

AdminBTV • Sabtu, 25 Oktober 2025 | 20:55 WIB

Koneksi Informasi Sehari-hari, Teman Update Setia
Koneksi Informasi Sehari-hari, Teman Update Setia

Balikpapan TV - Hai Cess! Sohra, kota kecil di Meghalaya, India Timur Laut, dikenal sebagai kota terbasah di dunia—tempat di mana hujan tak sekadar turun, tapi menjadi denyut kehidupan itu sendiri. Di balik kabut yang tak pernah benar-benar sirna, masyarakat suku Kasi hidup dengan harmoni unik: menyambut hujan sebagai berkah, menghormati perempuan sebagai pusat keluarga, dan berkomunikasi lewat siulan.

Baca Juga: Canton Fair 2025 Bukti Ketahanan Tiongkok Hadapi Dunia Dari Robot Hingga Mobil Listrik, Canton Fair Tunjukkan Masa Depan Industri

Ketika Hujan Menjadi Identitas: Mengapa Sohra Begitu Spesial?

Sohra (dulu disebut Cherrapunji) berdiri di tepian Plato Meghalaya, menghadap langsung dataran rendah Bangladesh. Dari sinilah, awan-awan basah dari Teluk Benggala datang tanpa henti, memandikan bumi dengan curah hujan yang luar biasa. Tapi bagi penduduk lokal, hujan bukan musibah. Ia adalah identitas.

Mereka percaya, tanpa hujan, hidup tak akan sehat. Filosofi ini begitu dalam, sampai-sampai banyak warga merasa aneh jika langit cerah terlalu lama. Seperti kata seorang penduduk,

Bagaimana Masyarakat Sohra Bertahan di Tengah Hujan Abadi?

Bayangkan hidup di tempat di mana matahari hanya muncul sekilas, dan pakaian basah setiap hari. Di Sohra, adaptasi bukan pilihan, melainkan keharusan.

Pelindung kepala tradisional mereka, disebut kupas kura-kura, terbuat dari anyaman rotan yang bentuknya menyerupai cangkang kura-kura. Unik, fungsional, dan jauh lebih praktis dibanding payung—karena dua tangan tetap bebas untuk bekerja.

Sementara itu, pakaian tak bisa dijemur di luar. Mereka menjemur di dalam rumah, di atas tungku arang tertutup. Panas dan asap menjadi “pengering alami”, cara tradisional yang sudah turun-temurun. Inilah bentuk nyata kreativitas manusia menghadapi alam, bukan menentangnya.

Apa Itu Jembatan Akar Hidup yang Bikin Dunia Kagum?

Nah, satu lagi keajaiban dari Sohra: Living Root Bridges alias jembatan akar hidup. Alih-alih membangun jembatan beton, masyarakat Kasi menanamnya—ya, benar-benar menanam.

Mereka mengarahkan akar pohon karet India untuk tumbuh melintasi sungai. Butuh puluhan tahun sampai jembatan ini matang, tapi hasilnya luar biasa kuat dan terus tumbuh. Bukan cuma struktur fisik, jembatan ini simbol hubungan spiritual antara manusia dan alam.

Siapa Sebenarnya Suku Kasi, dan Kenapa Sistem Matrilinealnya Unik?

Inilah bagian paling menarik: masyarakat Sohra menganut sistem matrilineal penuh. Artinya, garis keturunan dan warisan diturunkan melalui pihak ibu, bukan ayah.

Anak-anak membawa nama keluarga ibu, dan sang suami tinggal di rumah keluarga istrinya setelah menikah. Anak perempuan bungsu, yang disebut Ka Khadduh, biasanya mewarisi rumah dan tanggung jawab utama menjaga orang tua.

Kenapa begitu? Karena sejak dulu, laki-laki sering berpergian untuk berdagang atau berperang, sementara perempuanlah yang menjaga rumah dan keluarga. Maka, sistem ini bukan sekadar budaya, tapi penghormatan terhadap peran perempuan.

Apa Itu Desa Bersiul di Sohra yang Jadi Sorotan Dunia?

Di Sohra, ada satu desa yang uniknya bikin merinding sekaligus kagum: Kongthong, atau disebut juga Whistling Village.

Setiap anak di desa ini punya nama siulan khusus yang diciptakan oleh ibunya saat lahir. Nggak main-main, nada siulan ini benar-benar berfungsi sebagai panggilan pribadi!
Ada dua versi: siulan panjang untuk jarak jauh (misalnya di ladang atau bukit), dan versi pendek untuk jarak dekat.

Alih-alih memanggil dengan nama biasa, penduduk memilih siulan, karena mereka percaya siulan membawa kasih dan kelembutan. Bayangkan, seluruh desa berkomunikasi dalam harmoni bunyi alami—seperti simfoni yang hidup di tengah hujan.

Bagaimana Sohra Terhubung dengan Dunia Luar?

Meski terisolasi secara geografis, Sohra justru terbuka secara budaya dan bahasa. Sebagian besar penduduk, terutama generasi mudanya, fasih berbahasa Inggris. Menariknya, banyak dari mereka tidak begitu mahir berbahasa Hindi—bahasa nasional India.

Secara geopolitik, kedekatannya dengan Bangladesh dan Myanmar membuat ciri-ciri fisik dan budaya mereka mirip masyarakat Asia Tenggara. Tak heran, banyak wisatawan menyebut Sohra terasa seperti “India yang berbeda”.

Yuk, bagikan kisah inspiratif ini biar makin banyak orang tahu bahwa harmoni dan kebahagiaan bisa tumbuh bahkan di tengah hujan abadi.
Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapan TV teman update setia, “Bukan Sekadar Info Biasa!” (khoirul)

 

FAQ

1. Apakah Sohra masih menjadi kota terbasah di dunia hingga kini?
Ya, Sohra tetap memegang rekor curah hujan tahunan tertinggi di dunia, meski beberapa tahun belakangan disusul sementara oleh Mawsynram, kota tetangganya.

2. Apakah wisatawan bisa mengunjungi Desa Bersiul Kongthong?
Bisa banget. Desa ini kini dibuka untuk wisata budaya, namun pengunjung diharapkan menjaga etika dan tidak mengganggu tradisi lokal.

3. Apa tips terbaik saat berkunjung ke Sohra?
Bawa jas hujan tahan lama, sepatu anti-slip, dan kamera tahan air. Pastikan juga menghormati adat setempat, terutama saat berinteraksi dengan perempuan dan tetua desa.

Photo
Photo

Editor : Arya Kusuma
#Sohra kota terbasah dunia #budaya matrilineal suku Kasi #jembatan akar hidup Meghalaya