Info Lokal InfoScope Gaya Hidup Infotainment Iptek Bisnis & UMKM Religi

Aman Nggak Etanol 3,5% di BBM Pertamina! Pro Kontra BBM Etanol 3,5%, Ternyata Ini Risiko di Balik Kandungan Etanol!

Arya Kusuma • Senin, 6 Oktober 2025 | 09:08 WIB

Etanol 3,5% Base Fuel” — menggambarkan transisi menuju energi hijau dan isu teknis yang menyertainya.
Etanol 3,5% Base Fuel” — menggambarkan transisi menuju energi hijau dan isu teknis yang menyertainya.

Balikpapan TV - Hai Cess! Polemik kandungan etanol 3,5% dalam base fuel Pertamina bukan cuma urusan bisnis, tapi juga bikin banyak pengguna kendaraan angkat alis. Di jalanan, mulai ramai obrolan: “Aman nggak sih buat mesin mobil dan motor, apalagi yang udah lawas?”

Beberapa SPBU swasta bahkan memilih menolak menjual bahan bakar beretanol karena dinilai belum sesuai standar teknis. Nah, dari sinilah kekhawatiran muncul — jangan-jangan bahan bakar “campuran” ini bisa bikin mesin cepat aus atau korosi dalam jangka panjang.

Etanol Itu Apa Sih Cess?

Etanol, atau C₂H₅OH, adalah alkohol yang dibuat dari fermentasi bahan nabati kayak tebu, jagung, atau singkong. Dalam dunia energi, etanol jadi primadona baru karena bisa dicampur ke bensin buat menciptakan biofuel — bahan bakar ramah lingkungan yang katanya bisa bantu “ngurangin dosa karbon”.

Kode di bahan bakar pun jadi unik. Ada E5 (5% etanol), E10 (10% etanol), bahkan sampai E85 buat kendaraan khusus. Semakin tinggi angkanya, makin besar porsi etanolnya. Tapi ya, nggak semua mesin siap “minum” campuran ini, terutama mesin-mesin jadul yang belum disiapkan buat bahan bakar modern.

Baca Juga: Heboh Polisi Pegang iPhone 17 Pro Max! Ini Fakta TKDN dan Sertifikasi Postel Terbarunya

Dampak ke Mesin: Antara Aman dan Waspada

Menurut Society of Automotive Engineers (SAE) dalam laporan 2023, campuran etanol rendah (E5) tergolong aman buat mayoritas mesin kendaraan modern. Bahkan, banyak pabrikan global yang udah kasih lampu hijau buat E10.

Tapi hati-hati, beda cerita buat mesin lama. Etanol bisa menyebabkan korosi di tangki, saluran bahan bakar, atau komponen logam lain. Kalau bahan bakar nggak stabil, performa mesin juga bisa anjlok. Karena itu, pemilik kendaraan lawas sebaiknya rajin servis dan periksa sistem bahan bakarnya kalau udah pakai BBM campur etanol.

Pertamina dan SPBU Swasta: Beda Pandangan, Satu Tujuan

Pertamina menegaskan kalau formula BBM beretanol 3,5% mereka sudah sesuai standar internasional. Tapi di lapangan, sebagian SPBU swasta menunda pembelian base fuel ini karena ingin memastikan kesesuaian teknis dulu.

Sebenarnya, langkah hati-hati ini bisa dimaklumi. Sebab, kualitas bahan bakar sangat menentukan umur mesin kendaraan konsumen. Namun di sisi lain, kehadiran etanol juga jadi sinyal positif buat transisi energi bersih di Indonesia — walau belum semua pihak sepakat soal ritmenya.

Lebih Hijau, Tapi Lebih Waspada

Menurut data US Department of Energy (2024), penggunaan bioetanol mampu mengurangi emisi karbon hingga 30% dibanding bensin murni. Ini kabar baik buat bumi dan sejalan dengan target net-zero emission Indonesia 2060.

Namun, buat pengguna kendaraan lawas, bijaklah dalam memilih bahan bakar. Pastikan tangki, selang, dan filter bahan bakar rutin dicek. Karena sedikit kelalaian bisa bikin dompet jebol akibat servis mesin yang seharusnya bisa dihindari.

Menuju Era Bahan Bakar Hijau

Etanol bukan musuh mesin, tapi juga bukan sahabat semua jenis kendaraan. Kuncinya ada di kesadaran pengguna dan kesiapan infrastruktur. Indonesia sedang menuju era bahan bakar hijau, dan etanol cuma langkah awal menuju energi berkelanjutan.

Yang pasti, perubahan ini bukan sekadar urusan teknologi, tapi juga gaya hidup baru dalam merawat bumi dan kendaraan kita. Yuk, mulai peka sejak sekarang, Cess!

Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapan Tv teman update setia, “Bukan Sekadar Info Biasa!”

Koneksi Informasi Sehari-hari, Teman Update Setia
Koneksi Informasi Sehari-hari, Teman Update Setia

 

Editor : Arya Kusuma
#biofuel Indonesia #bbm ramah lingkungan #etanol Pertamina #transisi energi hijau