Info Lokal InfoScope Gaya Hidup Infotainment Iptek Bisnis & UMKM Religi

Pesut Mahakam, Enggang, dan Bekantan: Satwa Ikonik Kaltim yang Kini di Ambang Kepunahan

AdminBTV • Selasa, 8 Juli 2025 | 12:47 WIB

Pesut Mahakam, Burung Enggang, dan Bekantan satwa langka Kalimantan Timur yang terancam punah, fakta menyedihkan di balik populasi mereka.
Pesut Mahakam, Burung Enggang, dan Bekantan satwa langka Kalimantan Timur yang terancam punah, fakta menyedihkan di balik populasi mereka.

 

Balikpapantv.id - Hai Cess! Kalau bicara soal Kalimantan Timur, pasti yang langsung terlintas di kepala adalah hutan tropisnya yang lebat, sungai-sungai megah, dan satwa endemiknya yang luar biasa.

Tapi, sedihnya, di balik keindahan itu, ada kabar kurang sedap tentang nasib tiga hewan ikonik Kaltim: Pesut Mahakam, Burung Enggang, dan Bekantan.

Ketiganya kini masuk daftar merah satwa terancam punah. Nah, yuk simak bareng fakta-fakta menarik sekaligus menyedihkan soal mereka!

1. Pesut Mahakam: Si Lumba-Lumba Sungai yang Tinggal Hitungan Jari

Siapa sangka, di Sungai Mahakam yang membelah Kalimantan Timur itu hidup lumba-lumba air tawar langka bernama Pesut Mahakam. Hewan ini dalam dunia sains dikenal dengan nama Orcaella brevirostris.

Bentuknya unik, dengan kepala bulat, mata kecil, warna abu-abu, dan tubuh oval. Panjangnya bisa sampai 2,5 meter dengan bobot sekitar 130 kilogram. Meski badannya lumayan besar, tapi sifatnya pemalu, Cess!

Menurut data terakhir di tahun 2018, populasi Pesut Mahakam hanya tersisa sekitar 80 ekor saja. Bisa bayangin? Di sepanjang Sungai Mahakam dan anak-anak sungainya, hanya ada segelintir Pesut yang masih berenang bebas. Kalau nggak ada aksi nyata, bisa-bisa anak cucu kita cuma bisa lihat hewan ini di buku sejarah.

Memang Beda!
Memang Beda!

Baca Juga: Promo Dihapus! Keputusan Terkait Tarif Baru Ojol di Kaltim Resmi Diberlakukan, Pendapatan Mitra Dipastikan Kembali Normal!

2. Burung Enggang: Ikon Kepemimpinan Suku Dayak yang Terancam Punah

Selanjutnya ada burung yang jadi lambang kehormatan sekaligus kepemimpinan suku Dayak, yaitu Burung Enggang atau Rangkong.

Hewan ini gampang dikenali dari paruhnya yang besar dan bercula. Ukurannya juga bukan main, panjang tubuhnya bisa mencapai 90 cm!

Burung Enggang terkenal setia sama pasangannya seumur hidup, loh. Sayangnya, kondisi mereka sekarang jauh dari kata aman.

Perburuan liar dan kerusakan ekosistem akibat alih fungsi lahan bikin populasi burung ini terus menyusut. Bahkan, statusnya sekarang masuk daftar satwa dilindungi.

Parahnya lagi, peranannya sebagai simbol adat makin terancam karena habitatnya makin sempit. Burung yang dulunya bisa dijumpai di hutan-hutan Kalimantan, sekarang mulai sulit ditemui di alam liar.

Baca Juga: Revitalisasi Pasar Pagi Samarinda Hampir Rampung, Ini Bocoran Progres Pembangunan Fasilitas Modern Hingga Rencana Distribusi Kiosnya!

3. Bekantan: Si Hidung Panjang yang Cuma Ada di Kalimantan

Siapa yang nggak kenal Bekantan? Primata lucu berhidung besar ini cuma bisa ditemukan di Kalimantan, khususnya Kalimantan Timur.

Nama latinnya Nasalis larvatus, dan keunikannya terletak pada hidungnya yang panjang, terutama pada bekantan jantan.

Bekantan jantan memiliki tubuh sepanjang 75 cm dengan berat sekitar 24 kilogram, sementara betinanya lebih kecil dengan panjang 60 cm dan berat 12 kilogram. Primata ini tinggal di hutan rawa, bakau, dan hutan pinggir sungai. Sayangnya, Bekantan juga termasuk hewan yang terancam punah.

Berdasarkan data Balai Penerapan Standar Instrumen Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) tahun 2022, populasi Bekantan di Kalimantan diperkirakan sekitar 25 ribu ekor.

Angka itu memang kelihatan banyak, tapi kalau dibandingkan luas Kalimantan yang mencapai 743.330 kilometer persegi, jelas jumlah itu sangat memprihatinkan.

Ancaman Serius: Perburuan Liar & Kerusakan Habitat

Tiga satwa endemik Kalimantan ini menghadapi ancaman yang sama: perburuan liar dan kerusakan habitat. Pesut Mahakam seringkali terperangkap jaring nelayan, Burung Enggang diburu untuk hiasan dan upacara adat, sementara Bekantan kehilangan rumah karena hutan ditebangi untuk perkebunan dan pemukiman.

Ini jadi peringatan keras, Cess! Karena kalau terus dibiarkan, bukan cuma satwanya yang punah, tapi juga keseimbangan ekosistem yang bakal rusak total.

Sungai Mahakam: Rumah Terakhir Pesut Mahakam

Perlu kamu tahu, Sungai Mahakam bukan sekadar sungai biasa. Sungai sepanjang 920 kilometer ini jadi satu-satunya habitat alami Pesut Mahakam.

Populasi hewan ini tersebar di beberapa titik sungai utama dan anak sungainya. Tapi sayangnya, kondisi sungai kini banyak tercemar limbah domestik dan aktivitas tambang batu bara.

Kalau kualitas air sungai makin buruk, bisa dipastikan Pesut Mahakam bakal kesulitan bertahan hidup. Inilah pentingnya menjaga kebersihan sungai dan mencegah aktivitas ilegal di wilayah perairan Mahakam.

Hutan Kalimantan: Surga yang Kian Menyempit

Hutan Kalimantan dulunya dikenal sebagai paru-paru dunia. Tapi kini, luasnya terus berkurang tiap tahun. Habitat alami Burung Enggang dan Bekantan yang dulu leluasa, kini tergusur karena pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit, tambang, dan pemukiman.

Inilah faktor utama kenapa kedua satwa itu makin langka. Apalagi, mereka butuh habitat yang spesifik — hutan primer dengan pohon-pohon besar dan rawa-rawa alami.

 Data Populasi yang Makin Memprihatinkan

Kalau angka itu dibandingkan luasnya habitat Kalimantan, jelas kondisinya gawat. Butuh tindakan cepat buat mencegah ketiganya benar-benar punah.

Ayo, Peduli dan Lestarikan Satwa Kaltim!

Jadi, mulai sekarang yuk, Cess, kita lebih peduli sama satwa endemik Kaltim ini. Mulai dari nggak buang sampah sembarangan ke sungai, mendukung konservasi satwa, sampai aktif menyuarakan kampanye penyelamatan lingkungan. Karena kalau bukan kita, siapa lagi?

Balikpapantv.id - Jangan biarkan satwa ikonik Kalimantan Timur ini cuma jadi cerita! Share artikel ini biar makin banyak yang sadar.

Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapantv.id, 'Bukan Sekedar Berita Biasa!'(Rohman)

Editor : Arya Kusuma
#Populasi Pesut Mahakam #Bekantan Kalimantan Timur #Satwa endemik Kalimantan Timur