Topik: Peluang bisnis bawang merah hidroponik berbasis cocopeat dan AB Mix di Indonesia
Durasi Baca: 9–11 menit
Baca Ringkas 30 Detik
Bawang merah selama ini identik dengan lahan pertanian konvensional. Namun, sejumlah penelitian Indonesia menunjukkan tanaman ini juga dapat dibudidayakan secara hidroponik menggunakan cocopeat dan nutrisi AB Mix.
Penelitian terbaru Universitas Samudra yang dilakukan pada 2025 dan diterbitkan pada 2026 menemukan cocopeat termasuk media terbaik dalam sistem wick, sementara konsentrasi AB Mix 750 ppm menjadi perlakuan nutrisi terbaik dalam penelitian tersebut. Penelitian lain menemukan hasil berbeda pada konsentrasi nutrisi, menunjukkan bahwa formula terbaik harus disesuaikan dengan sistem, varietas, media, dan lingkungan.
Artinya, peluang bisnisnya bukan berada pada pertanyaan "apakah bawang bisa ditanam secara hidroponik?", karena jawabannya sudah terbukti.
Pertanyaan berikutnya jauh lebih menarik:
Apakah bawang merah hidroponik berbasis cocopeat bisa diproduksi secara konsisten dengan biaya yang masuk akal lalu dijual sebagai produk premium?
Di situlah peluang bisnis mulai terbuka.
Balikpapan TV - Hai Ces! Selama ini, ketika mendengar kata hidroponik, yang muncul di kepala biasanya selada, pakcoy, kangkung atau sawi.
Bawang merah jarang masuk daftar tersebut.
Padahal, penelitian di Indonesia sudah menunjukkan bahwa bawang merah dapat dibudidayakan secara hidroponik dan menghasilkan umbi. Bahkan cocopeat, media dari sabut kelapa yang relatif mudah diperoleh, sudah berulang kali diuji sebagai salah satu media tanamnya.
Menariknya lagi, Indonesia sudah memiliki contoh usaha yang menjadikan bawang merah hidroponik sebagai bagian dari kegiatan bisnis.
Jadi, ini bukan ide yang lahir dari ruang kosong.
Yang sedang terbuka sekarang adalah pertanyaan berikutnya: bagaimana teknologi tersebut diubah menjadi model bisnis yang masuk akal?
Riset Indonesia Sudah Membuktikan Bawang Merah Bisa Dihidroponikkan
Penelitian Universitas Samudra yang dilakukan pada April hingga Juni 2025 dan diterbitkan pada 2026 menguji bawang merah melalui sistem wick.
Penelitian tersebut menggunakan tiga media, yaitu rockwool, arang sekam, dan cocopeat.
Tiga konsentrasi AB Mix juga diuji, yakni 750 ppm, 1.000 ppm, dan 1.250 ppm. Hasil penelitian menunjukkan cocopeat dan arang sekam memberikan hasil baik, sementara konsentrasi 750 ppm menjadi perlakuan nutrisi terbaik dalam kondisi penelitian tersebut.
Penelitian lain dari Universitas Malikussaleh menguji konsentrasi AB Mix 900, 1.000, dan 1.100 ppm dengan media biochar, cocopeat, serta rockwool.
Hasilnya menunjukkan konsentrasi 1.000 ppm meningkatkan sejumlah parameter produksi, termasuk diameter umbi, bobot umbi, bobot basah, bobot kering, dan panjang akar.
Dua penelitian tersebut memberi satu pesan penting bagi calon pengusaha.
Formula nutrisi perlu diuji berdasarkan sistem produksi yang digunakan.
Artinya, angka AB Mix dari sebuah penelitian dapat menjadi titik awal, bukan resep mutlak untuk seluruh kebun
Temuan tersebut memberikan satu pelajaran penting.
Calon pengusaha mempunyai ruang untuk mengembangkan SOP sendiri berdasarkan varietas, media, sistem irigasi, EC, pH, cuaca, kondisi lingkungan dan target produksi.
Cocopeat Bukan Media Utama
Cocopeat memiliki karakter yang menarik untuk sistem budidaya berbasis substrat.
Media ini mampu menahan air dan menyediakan ruang bagi perkembangan akar. Karena itu, cocopeat dapat digunakan dalam wadah tanam dengan sistem pemberian nutrisi secara berkala.
Namun untuk bawang merah, kemampuan menahan air tersebut harus dikelola dengan hati-hati.
Bawang membutuhkan air, tetapi akar juga membutuhkan oksigen.
Inilah alasan penelitian di Indonesia tidak selalu menggunakan cocopeat 100 persen.
Penelitian Universitas Tanjungpura membandingkan beberapa komposisi arang sekam dan cocopeat, termasuk 100 persen cocopeat. Hasil penelitian menunjukkan komposisi 40 persen arang sekam dan 60 persen cocopeat memberikan hasil terbaik dalam penelitian tersebut.
Penelitian lain juga menggunakan kombinasi cocopeat dan arang sekam pada sistem wick.
Bagi calon bisnis, temuan ini justru menarik.
Kita tidak perlu langsung menganggap "100 persen cocopeat" sebagai formula final.
Kita dapat menguji beberapa media dan memilih kombinasi yang menghasilkan umbi layak jual paling banyak dengan biaya produksi paling rendah.
Itulah cara berpikir bisnisnya.
Dari Penelitian Menuju Bisnis
Pertanyaan penting berikutnya adalah: apakah ada yang sudah menjalankan bawang merah hidroponik sebagai usaha?
Jawabannya ada.
Salah satu contoh yang ditemukan dalam penelitian agribisnis adalah Fresh Hidroponik di Gresik. Usaha tersebut menjalankan budidaya hidroponik skala kecil dan memasukkan bawang merah sebagai salah satu komoditasnya.
Penelitian terhadap usaha tersebut tidak berhenti pada pertumbuhan tanaman. Aspek produksi, pemasaran dan kelayakan ekonominya juga dianalisis.
Dalam studi tersebut, usaha bawang merah hidroponik memperoleh R/C ratio 1,3374, sehingga pada kondisi penelitian dinilai layak dijalankan.
Temuan ini tidak berarti semua kebun bawang hidroponik otomatis untung.
Justru sebaliknya.
Angka tersebut menunjukkan bahwa model usaha ini pernah mencapai kondisi ekonomis yang layak dalam praktik, sehingga pantas diuji dalam kondisi pasar dan biaya produksi yang berbeda.
Mengapa Balikpapan Menarik untuk Diuji?
Peluang ini menjadi semakin menarik ketika ditempatkan pada konteks pasar lokal.
Pada September 2026, pemerintah daerah bersama Satgas Pangan melakukan pemantauan harga dan ketersediaan bahan pokok di Balikpapan. Bawang merah termasuk komoditas yang ikut dipantau karena pergerakan harga pangan menjadi perhatian.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa bawang merah bukan produk yang pasarnya harus diciptakan dari nol.
Masyarakat sudah menggunakannya setiap hari.
Restoran membutuhkannya.
Katering membutuhkannya.
Hotel dan dapur produksi membutuhkannya.
Pedagang juga membutuhkannya.
Jadi tantangannya bukan mencari kegunaan produk.
Tantangannya adalah menciptakan produk lokal dengan kualitas dan harga yang mampu memberikan margin bagi produsen.
Seperti Apa Bentuk Kebun Bawang Hidroponik Cocopeat?
Bagi pembaca yang baru mengenal konsep ini, istilah "bawang merah hidroponik dengan cocopeat" mungkin masih menimbulkan pertanyaan sederhana: sebenarnya bawangnya ditanam di mana?
Jawabannya bukan di dalam pipa seperti sistem hidroponik NFT yang banyak digunakan untuk selada atau pakcoy.
Model yang sedang dikembangkan dalam konsep bisnis ini lebih tepat disebut hidroponik berbasis substrat.
Bawang merah ditanam di dalam wadah yang berisi media cocopeat, atau campuran cocopeat dengan arang sekam. Nutrisi AB Mix kemudian diberikan melalui penyiraman atau sistem irigasi tetes.
Dengan model tersebut, bentuk kebunnya secara sederhana adalah:
Wadah → media cocopeat/arang sekam → bibit bawang → irigasi AB Mix → drainase → panen.
Polybag atau Grow Bag Menjadi Pilihan Awal
Untuk tahap uji coba, polybag atau grow bag menjadi pilihan yang praktis.
Satu wadah dapat digunakan untuk satu tanaman ketika penelitian membutuhkan pengukuran individual. Namun untuk produksi, satu wadah dapat diisi beberapa tanaman dengan jarak tanam yang disesuaikan.
Grow bag memiliki keuntungan karena mudah disusun, dipindahkan dan diperbanyak ketika kapasitas kebun meningkat.
Bagian bawah wadah wajib memiliki lubang drainase.
Ini penting karena cocopeat mampu menahan air. Jika air terlalu lama menggenang, kondisi akar dapat terganggu.
Karena itu, sistem yang kita bangun bukan "bawang direndam dalam nutrisi", melainkan akar memperoleh air dan nutrisi secara terukur sementara kelebihan larutan dapat keluar dari media.
Media Cocopeat Dapat Dicampur Arang Sekam
Media yang digunakan tidak harus 100 persen cocopeat.
Untuk tahap R&D, tiga komposisi dapat dibandingkan:
M1: 100 persen cocopeat
M2: 70 persen cocopeat + 30 persen arang sekam
M3: 60 persen cocopeat + 40 persen arang sekam
Penelitian Universitas Tanjungpura sebelumnya menemukan kombinasi 40 persen arang sekam dan 60 persen cocopeat memberikan hasil terbaik dalam penelitian mereka. Namun hasil tersebut tidak otomatis menjadi formula mutlak untuk semua lokasi dan sistem budidaya.
Justru perbedaan hasil penelitian tersebut menjadi alasan mengapa model bisnis perlu mempunyai tahap pengujian sendiri.
Formula yang dipilih nantinya adalah formula yang memberikan hasil umbi layak jual paling tinggi dengan biaya produksi paling efisien.
Begitu Juga dengan Pengujian Nutrisi
Penelitian Indonesia menunjukkan respons bawang terhadap AB Mix dapat berbeda.
Ada penelitian yang mendapatkan hasil baik pada sekitar 1.000 ppm.
Penelitian lain mendapatkan hasil terbaik pada 750 ppm.
Karena itu, bisnis tidak perlu mengunci satu angka sejak awal.
Pengembangan SOP sebaiknya menggunakan:
pH + EC + umur tanaman + kondisi media + respons tanaman.
Dengan pendekatan tersebut, nutrisi dapat dikembangkan berdasarkan fase pertumbuhan.
Ini juga memungkinkan data produksi dari setiap batch dibandingkan secara objektif.
Dari Penyiraman Manual Menuju Irigasi Tetes
Pada skala sangat kecil, nutrisi dapat diberikan secara manual.
Namun ketika tanaman mencapai ratusan atau ribuan, penyiraman satu per satu akan menghabiskan tenaga.
Karena itu, model komersial dapat menggunakan drip irrigation atau irigasi tetes.
Sistemnya sederhana:
Tangki AB Mix
↓
Pompa
↓
Selang utama
↓
Selang drip
↓
Tanaman
↓
Media cocopeat + arang sekam
↓
Drainase
Dengan sistem tersebut, setiap tanaman memperoleh larutan nutrisi dari jaringan irigasi.
Jumlah dan frekuensi pemberian dapat diatur berdasarkan fase pertumbuhan, kondisi cuaca, kelembapan media dan hasil pengukuran EC serta pH.
Setelah Ribuan Tanaman, Bentuknya Bisa Berubah
Polybag sangat cocok untuk tahap eksperimen.
Tetapi ketika jumlah tanaman mencapai ribuan, penggunaan terlalu banyak polybag kecil dapat membuat pekerjaan semakin tidak efisien.
Pada tahap komersial, media dapat ditempatkan dalam bed produksi atau grow bed berukuran lebih besar.
Bed tersebut dapat dibuat menggunakan bahan seperti kayu, galvanis, talang atau struktur khusus.
Bentuknya kurang lebih seperti petak panjang berisi media:
cocopeat + arang sekam
Kemudian tanaman ditanam dengan jarak teratur dan mendapatkan nutrisi dari sistem irigasi tetes.
Model tersebut memungkinkan satu jaringan irigasi melayani satu baris atau satu bed produksi.
Kebun Dapat Diletakkan di Bawah Naungan
Budidaya tidak harus dilakukan di lahan pertanian luas.
Model ini dapat dikembangkan dalam rumah naungan atau greenhouse dengan rak maupun bed produksi.
Untuk pilot 500–1.000 tanaman, struktur sederhana yang melindungi tanaman dari hujan berlebihan dan membantu mengendalikan lingkungan sudah dapat menjadi titik awal.
Ketika produksi meningkat, struktur dapat dikembangkan menjadi greenhouse dengan sistem irigasi yang lebih terkontrol.
Inilah salah satu alasan model substrat menarik untuk lahan terbatas.
Yang diperbesar bukan hanya luas tanah, tetapi efisiensi penggunaan ruang dan pengelolaan produksi.
Gambaran Sederhana Model Bisnisnya
Jika diterapkan dalam tahap awal, bentuk produksinya dapat dibayangkan seperti ini:
500–1.000 tanaman
↓
polybag/grow bag
↓
cocopeat atau cocopeat + arang sekam
↓
AB Mix melalui penyiraman/irigasi
↓
pencatatan pertumbuhan
↓
panen dan curing
↓
sortasi
↓
kemasan 250 gram / 500 gram / 1 kilogram
↓
konsumen rumah tangga, restoran, katering dan toko pangan
Model tersebut membuat kebun bukan sekadar tempat menanam.
Kebun menjadi unit produksi pangan yang seluruh prosesnya dapat diukur.
Mengapa Model Ini Menarik untuk Bisnis?
Ada satu keuntungan penting dari sistem wadah.
Ketika formula pertama belum menghasilkan performa yang ideal, seluruh kebun tidak perlu dibongkar.
Kita dapat menguji:
media A vs media B
varietas A vs varietas B
nutrisi A vs nutrisi B
frekuensi irigasi A vs B
Kemudian hasilnya dibandingkan.
Dengan cara tersebut, pengembangan bisnis berjalan seperti proses R&D.
Tujuan akhirnya bukan mencari tanaman yang sekadar tumbuh subur.
Tujuan akhirnya adalah menemukan kombinasi:
hasil tinggi + kualitas bagus + biaya terkendali + siklus konsisten + pasar tersedia.
Itulah fondasi yang diperlukan sebelum kebun diperbesar dari ratusan menjadi ribuan tanaman.
Jangan Menjual "Bawang Hidroponik" Saja
Ini bagian yang sangat penting.
Jika produk hanya diberi label:
"Bawang Merah Hidroponik"
lalu dijual dengan harga yang hampir sama dengan bawang konvensional, keunggulan bisnisnya menjadi tipis.
Biaya hidroponik bisa berada di atas budidaya lahan terbuka.
Karena itu, model bisnis yang disarankan bukan perang harga.
Produk harus memiliki positioning:
Bawang Merah Premium Lokal
dengan cerita:
- ditanam menggunakan sistem terkontrol;
- menggunakan media cocopeat;
- nutrisi terukur;
- produksi lokal;
- proses budidaya terdokumentasi;
- disortir;
- dikemas bersih;
- memiliki informasi asal produksi;
- distribusi jarak pendek.
Nilai tambah tersebut yang harus diuji kepada pasar.
Model Bisnis yang Direkomendasikan
Model paling masuk akal untuk tahap awal adalah Pilot Farm → Commercial Farm → Scale-Up.
Tahap 1: Pilot Farm
Mulai dari sekitar 500–1.000 tanaman.
Tujuannya bukan mengejar omzet.
Tujuannya mencari jawaban terhadap lima pertanyaan:
- Berapa biaya menghasilkan satu tanaman?
- Berapa gram umbi yang bisa diperoleh?
- Berapa persentase umbi layak jual?
- Berapa lama satu siklus produksi?
- Berapa HPP per kilogram?
Pada tahap ini, setiap biaya harus dicatat.
Bibit.
Cocopeat.
Wadah.
AB Mix.
Air.
Listrik.
Tenaga kerja.
Kemasan.
Penyusutan alat.
Bahkan tanaman mati juga harus dicatat.
Karena tanaman yang mati tetap mempunyai kemampuan luar biasa untuk menghabiskan uang.
Tahap 2: Commercial Pilot
Setelah SOP ditemukan, kapasitas dapat dinaikkan menjadi sekitar 3.000–5.000 tanaman.
Pada tahap ini fokus bergeser.
Bukan lagi sekadar:
"Bisa tumbuh?"
Tetapi:
"Bisa dijual secara rutin?"
Mulai cari pelanggan tetap dari:
- restoran;
- katering;
- hotel;
- toko bahan pangan;
- konsumen rumah tangga;
- komunitas urban farming.
Tahap 3: Scale-Up
Jika hasil produksi dan penjualan sudah konsisten, kapasitas dapat dinaikkan.
Barulah investasi pada:
- greenhouse;
- sistem irigasi;
- otomatisasi;
- gudang;
- ruang curing;
- packaging;
- tenaga kerja;
- distribusi.
Dengan urutan ini, modal besar masuk setelah modelnya terbukti.
Bukan sebaliknya.
Produk Tidak Harus Dijual dalam Bentuk Kiloan
Model pemasaran dapat dibagi menjadi beberapa segmen.
Rumah Tangga
Kemasan:
250 gram, 500 gram dan 1 kilogram.
Kelebihannya adalah produk dapat diposisikan sebagai bahan pangan lokal premium.
Restoran dan Katering
Penjualan dalam jumlah lebih besar dapat dilakukan dengan kontrak pasokan.
Yang dijual bukan hanya bawang.
Yang dijual adalah:
kepastian pasokan.
Toko Pangan Premium
Produk dapat dikemas dan diberi identitas produksi.
Misalnya:
Bawang Merah Hidroponik Balikpapan
dengan informasi tanggal panen dan batch produksi.
Produk Turunan
Umbi yang tidak masuk grade premium dapat diarahkan ke produk lain, misalnya bawang merah goreng.
Dengan demikian, hasil panen tidak seluruhnya bergantung pada pasar bawang segar.
Jangan Menjual Bawang Hidroponik Sebagai Komoditas Biasa
Jika produk hanya dijual sebagai bawang merah per kilogram, bisnis akan berhadapan langsung dengan harga komoditas.
Padahal biaya produksinya berpotensi berbeda dari budidaya konvensional.
Positioning yang layak diuji adalah bawang merah lokal dengan proses budidaya terkontrol.
Nilai produknya dapat dibangun melalui:
- produksi lokal;
- media tanam terukur;
- nutrisi terkontrol;
- sortasi;
- curing;
- kemasan bersih;
- informasi batch;
- tanggal panen;
- distribusi jarak pendek.
Konsep tersebut memberi alasan bagi konsumen untuk melihat produk sebagai pangan dengan nilai tambah.
Model Pendapatan Bisa Dibuat Bertingkat
Produk utama tentu bawang merah segar.
Untuk konsumen rumah tangga, kemasan dapat dibuat dalam ukuran 250 gram, 500 gram, dan 1 kilogram.
Segmen restoran dan katering dapat dilayani melalui pasokan rutin dengan volume sesuai kebutuhan.
Sementara hasil panen yang secara fisik masih layak namun gagal masuk grade premium dapat diarahkan ke produk olahan.
Salah satu pilihan adalah bawang merah goreng.
Dengan model tersebut, bisnis mempunyai peluang mengurangi susut dan memanfaatkan hasil panen berdasarkan kelas kualitas.
Contoh Bisnisnya Sudah Ada
Salah satu contoh penting berasal dari Fresh Hidroponik di Kedamean, Gresik.
Penelitian Universitas Wijaya Putra pada 2022 mencatat Fresh Hidroponik membudidayakan bawang merah menggunakan sistem NFT dalam skala usaha kecil.
Studi kelayakan tersebut memperoleh R/C ratio 1,337449228, dengan produksi yang melampaui BEP sebesar 35 kilogram dan harga BEP Rp28.000 per kilogram pada periode penelitian.
Penelitian lain mengenai sistem usahanya menemukan dua jalur pemasaran, yakni penjualan langsung kepada konsumen serta penjualan melalui pedagang pengepul.
Menariknya, penelitian tersebut mencatat konsumen bersedia membeli bawang hidroponik meskipun harganya berada di atas bawang merah konvensional.
Temuan itu penting karena menunjukkan pasar premium bukan sekadar teori.
Namun hasil dari Gresik juga belum bisa ditempel begitu saja pada Balikpapan.
Harga input, biaya tenaga kerja, produktivitas, distribusi, varietas, sistem hidroponik, dan perilaku konsumen dapat berbeda.
Karena itu, Balikpapan membutuhkan pilot sendiri.
Data Panen Menjadi Aset Bisnis
Keunggulan bisnis ini bukan hanya pada cocopeat.
Aset yang jauh lebih penting adalah data produksi.
Setiap batch dapat menyimpan informasi mengenai varietas, media, nutrisi, umur panen, bobot, kualitas, kebutuhan air, dan biaya.
Setelah beberapa siklus, data tersebut dapat digunakan untuk menemukan kombinasi produksi yang paling efisien.
Di sinilah bisnis mulai memiliki SOP sendiri.
Bukan sekadar mengikuti resep dari penelitian orang lain.
Poin Penting
Pertama, bawang merah hidroponik sudah mempunyai dasar penelitian di Indonesia.
Kedua, cocopeat sudah terbukti dapat digunakan sebagai media dalam berbagai penelitian hidroponik bawang merah.
Ketiga, AB Mix telah diuji pada berbagai konsentrasi dan hasilnya berbeda antarpenelitian. Ini menunjukkan perlunya pengembangan SOP spesifik.
Keempat, sudah ada contoh usaha bawang merah hidroponik skala kecil yang dianalisis secara ekonomi.
Kelima, peluang bisnis tidak sebaiknya dibangun melalui perang harga dengan bawang konvensional.
Keenam, positioning sebagai produk lokal premium dengan kualitas, kebersihan, konsistensi dan traceability lebih menarik untuk diuji.
Ketujuh, bisnis sebaiknya dimulai melalui pilot 500–1.000 tanaman sebelum investasi skala besar.
Insight Redaksi
Bawang merah hidroponik sebenarnya bukan cerita tentang mengganti sawah dengan pipa.
Cerita yang jauh lebih menarik adalah bagaimana teknologi produksi dapat digunakan untuk mendekatkan sumber pangan kepada konsumen kota.
Balikpapan bukan sentra utama bawang merah seperti daerah produksi di Pulau Jawa. Distribusi dari daerah sentra menjadi bagian penting dalam rantai pasok pangan Kalimantan.
Di tengah kondisi tersebut, muncul sebuah pertanyaan bisnis yang layak diuji:
Bisakah sebagian kebutuhan bawang merah kota diproduksi secara lokal dengan sistem budidaya terkontrol?
Jawabannya belum boleh disebut "pasti bisa".
Namun penelitian yang sudah ada membuat pertanyaan tersebut cukup kuat untuk diuji.
Dan justru di situlah nilai sebuah bisnis baru.
Bukan dimulai dari keyakinan bahwa produknya pasti berhasil, tetapi dari keberanian membuat eksperimen yang bisa diukur.
Dari 500 Tanaman Menuju Model Bisnis
Balikpapan memiliki pasar bawang merah yang berjalan setiap hari.
Restoran membutuhkan bawang.
Katering membutuhkan bawang.
Rumah tangga membutuhkan bawang.
Pasarnya sudah ada.
Yang perlu dibuktikan adalah apakah sebagian kebutuhan tersebut bisa dipenuhi melalui produksi lokal dengan struktur biaya yang sehat.
Di titik ini, konsep cocopeat + arang sekam + AB Mix + wadah produksi + irigasi terukur menjadi menarik untuk diuji.
Bukan sebagai proyek yang langsung membutuhkan lahan luas.
Melainkan sebagai laboratorium bisnis kecil yang dapat berkembang berdasarkan data.
Mulai dari 500 tanaman.
Kemudian 1.000.
Bayangkan tahap pertamanya sederhana.
Semua biaya dicatat.
Setiap tanaman diberi kode.
Media dicatat.
Nutrisi dicatat.
pH dan EC dicatat.
Jumlah daun dicatat.
Berat umbi dicatat.
Setelah curing, berat akhir dicatat.
Kemudian seluruh biaya dibagi dengan jumlah kilogram bawang yang benar-benar layak dijual.
Dari sana muncul angka paling penting:
HPP per kilogram.
Misalnya hasil akhirnya ternyata Rp30.000/kg dan produk bisa dijual dengan harga efektif Rp45.000/kg.
Ada ruang margin.
Kalau HPP ternyata Rp45.000/kg sementara pasar hanya bersedia membayar Rp40.000/kg, eksperimen harus berhenti atau sistem harus diperbaiki.
Tidak ada alasan mempertahankan model yang secara matematika sudah mengatakan tidak.
Itulah perbedaan antara hobi bercocok tanam dan bisnis pertanian.
Jika produktivitas, HPP, kualitas, dan pembelian pelanggan menunjukkan pola yang sehat, kapasitas dapat dinaikkan menuju ribuan tanaman.
Dan akhirnya untuk Balikpapan, ada satu pertanyaan yang menarik untuk dijawab melalui praktik:
Bisakah bawang merah lokal tumbuh dari media cocopeat dan menghasilkan angka bisnis yang masuk akal?
Riset sudah memberikan alasan untuk mencoba.
Sekarang waktunya data produksi yang menjawab.
FAQ
1. Apakah bawang merah benar-benar bisa ditanam menggunakan cocopeat?
Bisa. Sejumlah penelitian Indonesia telah menggunakan cocopeat sebagai media dalam sistem hidroponik bawang merah dan memperoleh hasil pertumbuhan maupun produksi umbi yang baik pada perlakuan tertentu.
2. Apakah harus menggunakan cocopeat 100 persen?
Tidak. Penelitian menunjukkan komposisi cocopeat dengan arang sekam juga dapat memberikan hasil baik. Karena itu, komposisi media perlu diuji sesuai sistem yang digunakan.
3. Berapa konsentrasi AB Mix yang paling bagus?
Belum ada satu angka universal. Penelitian di Indonesia mendapatkan hasil berbeda, termasuk sekitar 750 ppm dan 1.000 ppm pada kondisi berbeda. Karena itu, EC, pH, varietas, media dan sistem budidaya perlu diperhitungkan.
4. Apakah bawang merah hidroponik sudah menjadi bisnis di Indonesia?
Sudah ada contoh usaha skala kecil yang membudidayakan bawang merah secara hidroponik dan telah dianalisis dari sisi kelayakan ekonominya. Namun, bisnis skala besar yang secara khusus mengusung model bawang merah hidroponik berbasis cocopeat masih belum terlihat dominan.
5. Apakah bisnis ini pasti menguntungkan?
Tidak ada jaminan. Justru kelayakan bisnis harus dibuktikan melalui HPP, produktivitas per meter persegi, harga jual, tingkat susut, siklus produksi dan repeat order. Penelitian yang ada memberikan dasar untuk melakukan eksperimen, bukan jaminan keuntungan.
Editor : Arya Kusuma