Info Lokal InfoScope Gaya Hidup Infotainment Bisnis & UMKM Iptek Mimbar Opini

Bukan Sekadar Berkebun, Urban Farming Kini Membantu Membangun Smart City!

Ahla Najwa • Rabu, 8 Juli 2026 | 00:26 WIB
Integrasi teknologi membantu meningkatkan efisiensi pengelolaan pertanian di kawasan perkotaan. (BTV/AI)
Integrasi teknologi membantu meningkatkan efisiensi pengelolaan pertanian di kawasan perkotaan. (BTV/AI) 

Durasi Baca: 8 Menit

Topik: Integrasi pertanian perkotaan dan teknologi cerdas menuju kota berkelanjutan masa depan

Ikhtisar: Artikel ini membahas hubungan urban farming dan smart city, manfaat integrasi teknologi, tantangan penerapan, serta peluang membangun kota yang lebih hijau, efisien, dan tangguh menghadapi perubahan.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Urban farming kini berkembang menjadi bagian penting dalam pembangunan smart city di berbagai kota dunia. Pemanfaatan teknologi, ruang perkotaan, dan sistem produksi pangan lokal dinilai mampu memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kualitas lingkungan bagi masyarakat.

Pola pembangunan kota mulai berubah. Ruang kosong bukan lagi sekadar lahan yang menunggu pembangunan, tetapi dapat menjadi sumber pangan yang produktif. Ikuti sampai akhir, ada banyak inspirasi yang bisa diterapkan. Mantap, Ces!

Mengapa Urban Farming Kini Menjadi Salah Satu Pilar Smart City?

Smart city tidak hanya berbicara mengenai lampu jalan pintar, transportasi digital, atau layanan publik berbasis aplikasi. Dalam beberapa tahun terakhir, konsep kota cerdas juga mulai memasukkan sistem produksi pangan sebagai bagian dari infrastruktur perkotaan.

Pertumbuhan penduduk perkotaan membuat kebutuhan pangan terus meningkat, sementara lahan pertanian semakin terbatas. Urban farming hadir sebagai solusi dengan memanfaatkan ruang yang sebelumnya tidak produktif tanpa harus membuka kawasan baru.

Berikut beberapa alasan mengapa urban farming semakin erat dengan konsep smart city.

1. Produksi pangan semakin dekat dengan masyarakat

Sayuran yang dipanen di dalam kota dapat langsung didistribusikan ke rumah tangga, restoran, maupun pasar modern. Jalur distribusi yang pendek membantu menjaga kualitas hasil panen sekaligus mengurangi biaya logistik.

Selain lebih segar, proses ini juga membantu mengurangi kehilangan hasil panen yang sering terjadi selama pengiriman jarak jauh.

2. Memanfaatkan ruang kota secara maksimal

Banyak area perkotaan sebenarnya masih memiliki potensi besar.

Mulai dari atap gedung, balkon apartemen, halaman sempit, dinding bangunan, gudang kosong, hingga lahan tidur dapat diubah menjadi kebun produktif menggunakan sistem hidroponik, vertikal, maupun rooftop farming.

Pendekatan ini membuat ruang yang sebelumnya pasif berubah menjadi bagian dari ekosistem pangan kota.

3. Teknologi membantu pekerjaan menjadi lebih efisien

Urban farming modern memanfaatkan berbagai perangkat digital.

Sensor mampu membaca kelembapan udara, suhu, intensitas cahaya, kadar nutrisi, hingga kondisi air secara real time. Data tersebut memudahkan pengelola kebun mengambil keputusan dengan cepat ketika kondisi tanaman berubah.

Baca Juga: 6 Inspirasi Mini Garden untuk Dekorasi Ruangan yang Bikin Rumah Terasa Segar

Bagaimana IoT dan AI Membuat Urban Farming Semakin Modern?

Perubahan terbesar dalam urban farming bukan hanya pada cara menanam, tetapi pada cara mengelola tanaman.

Internet of Things (IoT) memungkinkan berbagai sensor saling terhubung sehingga seluruh kondisi kebun dapat dipantau melalui telepon pintar.

IoT menghadirkan sistem pemantauan kebun yang lebih praktis dan terhubung digital. (BTV/AI)
IoT menghadirkan sistem pemantauan kebun yang lebih praktis dan terhubung digital. (BTV/AI)

Beberapa parameter yang dapat dipantau antara lain:

Ketika salah satu parameter berubah di luar batas ideal, sistem akan memberikan notifikasi sehingga penyesuaian dapat segera dilakukan.

Kecerdasan buatan (AI) kemudian membantu mengolah data tersebut menjadi rekomendasi otomatis.

AI mampu memperkirakan kebutuhan air, menentukan waktu penyinaran lampu LED, hingga membantu mendeteksi gejala awal gangguan tanaman berdasarkan perubahan pola pertumbuhan.

Pendekatan ini membuat budidaya menjadi lebih presisi dibanding hanya mengandalkan pengamatan manual.

Baca Juga: Ternyata Begini Cara Menata Tanaman Indoor agar Rumah Terasa Sejuk dan Nyaman Setiap Hari

Apa Dampaknya bagi Ketahanan Pangan dan Lingkungan Kota?

Urban farming bukan ditujukan menggantikan pertanian konvensional.

Perannya adalah melengkapi pasokan pangan, terutama untuk sayuran segar yang memiliki masa simpan relatif pendek.

Ketika produksi dilakukan di dalam kota, distribusi menjadi lebih singkat sehingga konsumsi energi transportasi ikut berkurang.

Pengembangan kebun kota mendukung terciptanya kawasan yang lebih hijau dan sehat. (BTV/AI)
Pengembangan kebun kota mendukung terciptanya kawasan yang lebih hijau dan sehat. (BTV/AI)

Selain mendukung penyediaan pangan lokal, keberadaan ruang hijau produktif juga memberi manfaat lingkungan.

Vegetasi membantu menurunkan suhu permukaan bangunan, meningkatkan kualitas udara, memperlambat limpasan air hujan, serta menciptakan habitat bagi berbagai serangga penyerbuk dalam skala lokal.

Banyak kota mulai memandang kebun perkotaan sebagai investasi lingkungan sekaligus investasi sosial karena mampu memperkuat interaksi masyarakat melalui kebun komunitas.

Inspirasi Kota yang Berhasil Menggabungkan Urban Farming dan Smart City

Berbagai kota di dunia mulai menerapkan konsep ini sesuai karakter wilayah masing-masing.

Di Ho Chi Minh City, sejumlah bangunan memanfaatkan atap dan fasad sebagai kebun produktif yang ditanami sayuran, buah, serta tanaman herbal. Sistem irigasi memanfaatkan air hujan sehingga penggunaan air menjadi lebih efisien.

Urban farming menawarkan pemanfaatan ruang kota yang sebelumnya kurang produktif. (BTV/AI)
Urban farming menawarkan pemanfaatan ruang kota yang sebelumnya kurang produktif. (BTV/AI)

Sementara itu, bangunan hijau Bosco Verticale di Milan menunjukkan bagaimana vegetasi dapat menjadi bagian dari desain arsitektur modern. Pepohonan dan tanaman bukan hanya memperindah bangunan, tetapi juga membantu meningkatkan kualitas lingkungan perkotaan.

Konsep serupa mulai menginspirasi berbagai kota di Asia yang menghadapi keterbatasan lahan dan meningkatnya kebutuhan pangan.

Baca Juga: Konsep Rain Shower Garden 2026 untuk Hunian Tropis dan Apartemen

Apa Tantangan Terbesar yang Masih Harus Diselesaikan?

Meskipun potensinya besar, penerapan urban farming berbasis smart city masih menghadapi sejumlah tantangan.

Investasi awal untuk membangun sistem hidroponik otomatis, sensor, jaringan IoT, hingga pencahayaan buatan relatif tinggi dibanding kebun konvensional.

Selain itu, sistem pertanian dalam ruangan memerlukan pasokan listrik yang stabil sehingga efisiensi energi menjadi perhatian penting.

Tidak semua jenis tanaman juga cocok dibudidayakan menggunakan teknologi tersebut. Sayuran daun umumnya lebih ekonomis dibanding tanaman umbi atau tanaman pangan berskala besar.

Keberhasilan urban farming juga bergantung pada dukungan kebijakan pemerintah, regulasi pemanfaatan ruang, kemudahan perizinan, serta partisipasi masyarakat.

Karena itu, pendekatan yang paling realistis adalah menjadikan urban farming sebagai pelengkap pertanian konvensional, bukan penggantinya.

Perkembangan hingga 2026 menunjukkan bahwa urban farming telah berevolusi dari aktivitas berkebun skala rumah menjadi bagian dari strategi pembangunan kota berkelanjutan. Integrasi teknologi digital, sensor pintar, Internet of Things, dan kecerdasan buatan membuka peluang baru dalam menghasilkan pangan yang lebih dekat dengan masyarakat sekaligus memanfaatkan ruang kota secara optimal. Ketika dirancang bersama konsep smart city, urban farming tidak hanya menghasilkan sayuran, tetapi juga membantu menciptakan kota yang lebih hijau, efisien, dan tangguh menghadapi tantangan masa depan.

Poin Penting:

Insight Redaksi: Urban farming menunjukkan bahwa pembangunan kota modern kada selalu identik dengan beton dan gedung tinggi. Justru ruang hijau produktif mulai menjadi aset penting yang memberi manfaat ekonomi, lingkungan, sekaligus sosial. Dari sudut pandang Balikpapan, konsep ini layak diterapkan secara bertahap melalui pemanfaatan lahan kosong di permukiman, sekolah, hingga kawasan perkantoran. Langkah kecil sering menjadi awal perubahan besar. Bagikan jua artikel ini ke bubuhan ikam supaya semakin banyak yang memahami peluang urban farming di kota.

Baca Juga: Kenapa Lily Casablanca Banyak Dipilih Penghobi Tanaman? Ini Alasannya

Penasaran dengan berbagai inovasi pertanian, lingkungan, dan teknologi yang semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari? Ikuti terus informasi terbaru hanya di Balikpapan TV teman update setia, bukan sekadar info biasa!

FAQ

1. Apa hubungan utama antara urban farming dan smart city?
Urban farming menjadi bagian dari smart city karena mendukung ketahanan pangan, efisiensi penggunaan lahan, serta memanfaatkan teknologi digital untuk pengelolaan pertanian.

2. Mengapa urban farming dinilai penting bagi kota besar?
Karena mampu menghasilkan pangan lebih dekat dengan konsumen, memanfaatkan ruang kosong, dan membantu menciptakan lingkungan yang lebih hijau.

3. Apa saja teknologi yang banyak digunakan dalam urban farming modern?
Teknologi yang umum digunakan meliputi sensor IoT, sistem hidroponik otomatis, pencahayaan LED, pemantauan berbasis aplikasi, serta kecerdasan buatan (AI).

4. Apakah urban farming dapat menggantikan pertanian konvensional?
Belum. Urban farming lebih tepat berperan sebagai pelengkap untuk menyediakan sayuran segar di kawasan perkotaan.

5. Apa tantangan terbesar dalam penerapan urban farming berbasis smart city?
Tantangannya meliputi biaya investasi awal, kebutuhan energi, pemeliharaan teknologi, keterbatasan jenis tanaman, serta perlunya dukungan kebijakan pemerintah.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates
Editor : Arya Kusuma
#masyarakat perkotaan #urban farming #smart city