Info Lokal InfoScope Gaya Hidup Infotainment Bisnis & UMKM Iptek Mimbar Opini

Urban Farming Makin Populer, Benarkah Lebih Efisien daripada Berkebun Konvensional?

Ahla Najwa • Selasa, 7 Juli 2026 | 10:31 WIB
Perbandingan kedua metode mencakup lahan, biaya, produktivitas, dan aspek keberlanjutan lingkungan. (BTV/AI)
Perbandingan kedua metode mencakup lahan, biaya, produktivitas, dan aspek keberlanjutan lingkungan. (BTV/AI)

Durasi Baca: ±9 menit

Topik: Perbandingan efisiensi urban farming dan berkebun konvensional berdasarkan lahan, biaya, produktivitas, serta keberlanjutan.

Ikhtisar: Artikel ini membahas perbedaan mendasar urban farming dan berkebun konvensional, keunggulan, keterbatasan, biaya, serta kondisi terbaik untuk menerapkan masing-masing metode secara efektif.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Urban farming semakin populer di kota-kota besar karena keterbatasan lahan dan meningkatnya kebutuhan pangan segar. Di sisi lain, berkebun konvensional masih menjadi pilihan utama bagi masyarakat yang memiliki lahan luas karena mampu menghasilkan panen dalam jumlah besar.

Penasaran metode mana yang paling cocok diterapkan? Simak sampai selesai. Ada banyak fakta menarik yang mungkin belum terpikirkan. Ces!

Apakah Urban Farming Selalu Lebih Efisien?

Banyak orang menganggap urban farming otomatis lebih unggul karena terlihat modern. Kenyataannya, efisiensi sangat bergantung pada tujuan, luas lahan, jenis tanaman, hingga biaya operasional.

Hidroponik dan irigasi tetes membantu urban farming menghemat penggunaan air harian. (BTV/AI)
Hidroponik dan irigasi tetes membantu urban farming menghemat penggunaan air harian. (BTV/AI)

1. Efisiensi penggunaan lahan

Urban farming memanfaatkan ruang yang sebelumnya kurang produktif, seperti balkon, atap rumah, halaman sempit, bahkan dinding bangunan menggunakan sistem vertikal. Cara ini membuat lahan beberapa meter persegi tetap mampu menghasilkan sayuran segar.

Sebaliknya, berkebun konvensional memerlukan area tanah yang lebih luas. Namun untuk tanaman pangan dalam jumlah besar, metode ini masih jauh lebih efisien dibanding sistem skala rumahan.

Baca Juga: Tren Tanaman Hias Indoor 2026 untuk Rumah Segar dan Estetis

2. Efisiensi penggunaan air

Banyak sistem urban farming modern memakai hidroponik atau irigasi tetes sehingga konsumsi air dapat ditekan secara signifikan dibanding penyiraman tradisional. Air yang digunakan bahkan dapat didaur ulang dalam satu sistem tertutup.

Pada kebun konvensional, kebutuhan air biasanya lebih besar karena sebagian menguap atau meresap ke tanah.

3. Efisiensi hasil panen

Untuk tanaman daun seperti selada, pakcoy, kangkung, bayam, dan berbagai herba, urban farming mampu menghasilkan panen yang sangat kompetitif, bahkan pada beberapa sistem hidroponik hasilnya dapat menyamai atau melampaui pertanian konvensional.

Namun untuk padi, jagung, singkong, atau tanaman pangan berskala besar, kebun konvensional tetap jauh lebih unggul.

4. Efisiensi distribusi

Salah satu kelebihan urban farming adalah lokasi produksi sangat dekat dengan konsumen. Sayuran dapat dipanen pada hari yang sama tanpa perjalanan distribusi yang panjang sehingga kualitas tetap segar dan kehilangan pascapanen berkurang.

5. Efisiensi jangka panjang

Jika dikelola dengan baik, kedua metode sama-sama efisien. Urban farming unggul untuk kebutuhan rumah tangga dan komunitas, sedangkan pertanian konvensional tetap menjadi tulang punggung produksi pangan nasional.

Perbandingan Langsung Urban Farming dan Berkebun Konvensional

Aspek Urban Farming Berkebun Konvensional
Kebutuhan lahan Sangat kecil Luas
Investasi awal Sedang hingga tinggi Rendah hingga sedang
Penggunaan air Lebih hemat Lebih banyak
Jenis tanaman Sayuran, herba, buah tertentu Hampir semua komoditas
Produksi massal Terbatas Sangat baik
Dekat konsumen Ya Tidak selalu
Fleksibilitas Tinggi Bergantung lokasi

Baca Juga: Rumah Makin Cantik, Sayur dan Ikan Panen Sekaligus Lewat Aquaponik Minimalis yang Instagrammable

Apa Saja Tantangan Urban Farming?

Walaupun terlihat sederhana, urban farming bukan tanpa hambatan.

Investasi awal untuk hidroponik, rak vertikal, pompa air, lampu tanam, hingga nutrisi relatif lebih tinggi dibanding berkebun biasa.

Selain itu, pemilik kebun harus memahami pengaturan nutrisi, pH air, pencahayaan, hingga sirkulasi udara. Kesalahan kecil dapat memengaruhi kualitas panen.

Penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa beberapa sistem urban farming memiliki jejak karbon lebih tinggi apabila menggunakan infrastruktur dan energi yang tidak efisien. Karena itu, keberlanjutan sangat dipengaruhi oleh desain sistem, umur peralatan, dan penggunaan energi terbarukan.

Peralatan hidroponik umumnya membutuhkan biaya lebih tinggi dibanding berkebun konvensional sederhana. (BTV/AI)
Peralatan hidroponik umumnya membutuhkan biaya lebih tinggi dibanding berkebun konvensional sederhana. (BTV/AI)

Mengapa Berkebun Konvensional Masih Sulit Tergantikan?

Meski urban farming semakin berkembang, berkebun konvensional tetap menjadi metode utama dalam menghasilkan pangan skala besar. Lahan pertanian yang luas memungkinkan petani membudidayakan berbagai komoditas, mulai dari padi, jagung, cabai, bawang, hingga buah-buahan dengan kapasitas panen yang sulit ditandingi oleh kebun perkotaan.

Keunggulan lainnya terletak pada fleksibilitas jenis tanaman. Tidak semua komoditas cocok dibudidayakan menggunakan sistem hidroponik atau vertikal. Tanaman umbi, serealia, dan tanaman perkebunan masih membutuhkan media tanah yang luas agar dapat tumbuh optimal dan menghasilkan panen berkualitas.

Dari sisi biaya, berkebun konvensional juga lebih efisien untuk produksi dalam jumlah besar. Penggunaan alat mekanisasi, seperti traktor, mesin tanam, dan mesin panen, mampu mempercepat proses budidaya sekaligus menekan biaya operasional per kilogram hasil panen. Hal ini membuat metode konvensional tetap menjadi pilihan utama bagi petani komersial.

 
Sektor perkebunan mengandalkan sistem konvensional untuk menjaga kapasitas produksi tinggi. (BTV/AI)
Sektor perkebunan mengandalkan sistem konvensional untuk menjaga kapasitas produksi tinggi. (BTV/AI)

Menurut Norman Ernest Borlaug, agronom dan peraih Hadiah Nobel Perdamaian, peningkatan produktivitas pertanian merupakan salah satu kunci menjaga ketahanan pangan dunia. Pendapat tersebut masih relevan karena kebutuhan pangan terus meningkat setiap tahun.

Meski begitu, berkebun konvensional juga terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Banyak petani kini memanfaatkan irigasi hemat air, pemupukan presisi, hingga pemantauan cuaca berbasis digital. Dengan dukungan inovasi tersebut, pertanian konvensional tetap menjadi fondasi utama produksi pangan, sementara urban farming berperan sebagai solusi pelengkap, terutama di kawasan perkotaan.

Baca Juga: Tak Banyak yang Tahu, Tanaman Hias Unik Ini Membuat Ruangan Terasa Berkarakter

Mana yang Lebih Cocok untuk Masyarakat Indonesia?

Pilihan terbaik sebenarnya bergantung pada kebutuhan.

Urban farming cocok apabila:

Sementara berkebun konvensional lebih sesuai apabila:

Organisasi seperti Food and Agriculture Organization menilai pertanian perkotaan berperan penting dalam memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan akses terhadap pangan segar, sekaligus mendukung sistem pangan yang lebih tangguh. Namun pendekatan ini diposisikan sebagai pelengkap, bukan pengganti pertanian konvensional.

Poin Penting

FAQ

1. Apakah urban farming bisa menggantikan pertanian biasa?
Belum. Urban farming lebih tepat sebagai pelengkap sistem pangan.

2. Tanaman apa yang paling cocok untuk urban farming?
Sayuran daun, herba, stroberi, cabai, dan tomat merupakan pilihan yang umum.

3. Apakah urban farming lebih hemat air?
Ya, terutama pada sistem hidroponik dan irigasi tertutup.

4. Apakah biaya urban farming mahal?
Investasi awal bisa lebih tinggi, tetapi biaya operasional dapat ditekan jika sistem dikelola dengan baik.

5. Mana yang paling efisien?
Untuk kebutuhan rumah tangga dan lahan sempit, urban farming unggul. Untuk produksi pangan massal, berkebun konvensional tetap menjadi pilihan utama.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates
Editor : Arya Kusuma
#urban farming #Perkotaan #petani