Info Lokal InfoScope Gaya Hidup Infotainment Iptek Bisnis & UMKM Religi

Cadangan Mineral Indonesia Melimpah, Indonesia Naik Kelas Dimulai dari Hilirisasi dan Riset, Saatnya Kejar Pertumbuhan 8 Persen

Arya Kusuma • Kamis, 12 Februari 2026 | 10:41 WIB

Dany Amrul Ichdan saat Studium Generale di ITB membahas strategi Indonesia Naik Kelas dan target pertumbuhan 8 persen.
Dany Amrul Ichdan saat Studium Generale di ITB membahas strategi Indonesia Naik Kelas dan target pertumbuhan 8 persen.

Ikhtisar: Indonesia didorong keluar dari jebakan pendapatan menengah lewat hilirisasi, penguatan riset, dan strategi DAI. Target pertumbuhan 8 persen dinilai realistis jika sumber daya dikelola optimal dan inklusif.

Balikpapan TV - Hai Cess! Indonesia diminta berhenti nyaman di angka pertumbuhan 5 persen. Wakil Direktur Utama MIND ID, Dany Amrul Ichdan, menegaskan saatnya ekonomi nasional “naik kelas” dan membidik pertumbuhan 8 persen lewat hilirisasi dan penguatan industri dalam negeri.

Pernyataan itu ia sampaikan dalam Studium Generale bertajuk Ekonomi Inklusif untuk Indonesia Naik Kelas di Aula Barat ITB Bandung, Rabu, 11 Februari 2026. Penasaran kenapa target 8 persen ini disebut realistis dan bukan sekadar wacana? Baca terus sampai habis Cess!

Mengapa Indonesia Disebut Terjebak di Pertumbuhan 5 Persen?

Indonesia dinilai terlalu lama berada di zona nyaman pertumbuhan 5 persen. Dany menyebut, selama lebih dari satu dekade, ekonomi nasional cenderung bertumpu pada ekspor komoditas mentah dengan nilai tambah terbatas.

"Selama lebih dari satu dekade, ekonomi Indonesia seolah nyaman di angka 5%. Padahal, dengan modal yang kita miliki, Indonesia seharusnya mampu melompat ke tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi," kata Dany.

Struktur ekonomi berbasis bahan mentah membuat penerimaan pajak dan royalti terhadap PDB masih di kisaran 9 hingga 10 persen. Angka ini jauh dibanding negara maju yang mencapai 30 hingga 40 persen. Artinya, nilai tambah terbesar justru dinikmati di luar negeri. Nah, itu sudah, gimana mau lompat tinggi kalau bahan mentah terus yang dilepas, pahamlah ikam.

Seberapa Besar Potensi Cadangan Mineral Indonesia?

Indonesia memiliki cadangan mineral strategis kelas dunia. Timah, nikel, emas, bauksit hingga batubara tercatat memiliki usia cadangan puluhan tahun dan menempati peringkat teratas global.

“Indonesia sesungguhnya memiliki keunggulan. Cadangan mineral strategis Indonesia menempati peringkat teratas dunia, mulai dari timah, nikel, emas, bauksit hingga batubara, dengan usia cadangan puluhan tahun,” terang Dany.

Namun potensi besar ini belum dimanfaatkan optimal. Dany menegaskan rendahnya penerimaan negara mencerminkan dominasi ekspor mentah dan lemahnya hilirisasi. "Angka penerimaan negara yang rendah menunjukkan bahwa kita masih menjual bahan mentah. Nilai tambah terbesar justru dinikmati di luar negeri," ujarnya.

Ilustrasi Kawasan smelter industri yang menunjukkan dampak hilirisasi terhadap penciptaan ekosistem industri.
Ilustrasi Kawasan smelter industri yang menunjukkan dampak hilirisasi terhadap penciptaan ekosistem industri.

Apa Itu Secondary Resources dan Mengapa Penting?

Selain tambang utama, Indonesia juga punya peluang dari secondary resources dan limbah industri tambang. Potensi ini dinilai mampu memperpanjang umur ekonomi sumber daya alam.

“Bukan hanya tambang potensi juga ada di industri lain seperti perikanan dan lain-lain, yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal," jelas Dany.

Monetisasi sumber daya sekunder bisa memperkuat posisi Indonesia dalam rantai nilai global. Artinya, bukan cuma gali dan kirim. Tetapi olah, inovasi, lalu tingkatkan daya saing. Konsep ini menjadi bagian dari strategi industrialisasi yang lebih komprehensif.

Mengapa Penguatan Riset dan Teknologi Jadi Kunci?

Transformasi ekonomi tidak bisa berjalan tanpa riset dan teknologi. Dany menilai anggaran riset Indonesia yang sekitar 0,3 persen dari PDB masih belum cukup untuk mendorong lompatan inovasi.

Ia merangkum strategi dalam konsep DAI: Distinctive, Adaptive, dan Inclusive. Distinctive berarti industrialisasi berbasis keunggulan nasional seperti bioenergi dan ekonomi halal. Adaptive berarti responsif terhadap dinamika global seperti CBAM, geopolitik multipolar, integrasi AI, hingga transisi energi hijau. Inclusive berarti melibatkan UMKM, startup, BUMN, dan perguruan tinggi dalam satu rantai nilai.

Tanpa penguasaan teknologi dan R&D yang kuat, Indonesia hanya akan menjadi pengadopsi, bukan pencipta inovasi. Padahal targetnya jelas, naik kelas dengan daya saing global.

Wakil Direktur Utama (Wadirut) MIND ID sekaligus penulis Indonesia Naik Kelas, Dany Amrul Ichdan dalam Studium Generale dan Bedah Buku Indonesia Naik Kelas di Institut Teknologi Bandung (ITB)
Wakil Direktur Utama (Wadirut) MIND ID sekaligus penulis Indonesia Naik Kelas, Dany Amrul Ichdan dalam Studium Generale dan Bedah Buku Indonesia Naik Kelas di Institut Teknologi Bandung (ITB)

Bagaimana Hilirisasi Bisa Tekan Kemiskinan dan Ciptakan Lapangan Kerja?

Hilirisasi disebut bukan sekadar membangun smelter. Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar, menegaskan hilirisasi harus berjalan beriringan dengan pemberdayaan masyarakat.

“Program hilirisasi dan industrialisasi harus beriringan dengan program pemberdayaan masyarakat, sehingga tercipta berbagai program peningkatan kualitas sumber daya manusia yang sangat penting untuk mewujudkan ekonomi tanpa ketimpangan,” ujarnya.

Ia menambahkan, hilirisasi mendorong peningkatan keterampilan tenaga kerja, kewirausahaan, dan perluasan kesempatan kerja produktif. Bahkan sektor pendidikan terdorong menyiapkan SDM sesuai kebutuhan industri.

Dany juga mencontohkan pembangunan smelter oleh Grup MIND ID. “Satu smelter bisa melahirkan 10 sampai 12 industri hilir. Ekosistemnya harus dirancang sejak awal,” ujarnya. Artinya, dampaknya bukan cuma ekspor naik, tetapi juga serapan tenaga kerja dan pertumbuhan ekonomi daerah.

Insight: Konsep Indonesia Naik Kelas menekankan pertumbuhan yang inklusif, bukan sekadar angka tinggi. Hilirisasi, penguatan riset, dan orkestrasi kebijakan menjadi instrumen mengubah keunggulan komparatif menjadi kompetitif. Jika dijalankan konsisten, pertumbuhan 8 persen bukan ambisi kosong, melainkan strategi terukur yang berdampak pada industri, tenaga kerja, dan pemerataan ekonomi nasional.

Bagikan artikel ini ke bubuhan ikam supaya makin banyak yang paham arah strategi ekonomi nasional ke depan, Cess.

Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapan Tv teman update setia, "Bukan Sekadar Info Biasa!"

FAQ

1. Apa yang dimaksud jebakan negara berpendapatan menengah?
Kondisi ketika pertumbuhan ekonomi stagnan di level tertentu karena struktur ekonomi masih bertumpu pada komoditas mentah dengan nilai tambah rendah.

2. Mengapa hilirisasi dianggap penting?
Hilirisasi mengubah bahan mentah menjadi produk bernilai tambah di dalam negeri sehingga meningkatkan penerimaan negara, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat industri nasional.

3. Apa itu konsep DAI yang disampaikan Dany Amrul Ichdan?
DAI adalah Distinctive, Adaptive, dan Inclusive, yaitu strategi industrialisasi berbasis keunggulan nasional, responsif terhadap dinamika global, serta melibatkan seluruh ekosistem industri.

DISCLAIMER
Artikel ini menggunakan bantuan AI secara terbatas untuk menghasilkan tulisan bebas typo dan kalimat tidak efektif. Artikel ini telah melalui verifikasi dan validasi ketat oleh Manusia (Redaksi). Gambar dapat saja dihasilkan AI di artikel ini hanya sebagai ilustrasi pendukung yang membantu pembaca memahami konteks informasi bukan sebagai bukti realistis. Teknologi AI digunakan semata-mata sebagai alat bantu produktivitas dan efisiensi kerja redaksi — bukan sebagai pengganti peran jurnalis manusia.

Koneksi Informasi Terkini
Koneksi Informasi Terkini

Editor : Arya Kusuma
#pertumbuhan ekonomi 8 persen #MIND ID #Dany Amrul Ichdan #Itb bandung #hilirisasi industri