Harga Rumah Terus Naik! Survei PUPR Ungkap Fakta Rumah Masih Jadi Mimpi Anak Muda
AdminBTV• Selasa, 27 Januari 2026 | 15:52 WIB
Hunian modern mencerminkan tantangan kepemilikan rumah bagi generasi muda.
Ikhtisar: Milenial dan Gen Z menghadapi tantangan membeli rumah akibat faktor finansial, kenaikan harga properti, serta kesiapan hidup di usia muda.
Balikpapan TV - Hai Cess! Fakta soal kepemilikan rumah di kalangan anak muda kembali jadi sorotan. Data menunjukkan milenial dan Gen Z masih kesulitan punya rumah di usia produktif. Bukan karena malas, tapi ada realitas ekonomi dan kondisi pasar properti yang ikut memengaruhi. Survei Kementerian PUPR tahun 2019 mencatat, sebanyak 81 juta generasi milenial belum memiliki rumah hingga saat ini.
Angka ini terasa dekat dengan keseharian bubuhan sekitar. Penasaran kenapa kondisi ini bisa terjadi dan apa saja langkah realistis yang bisa disiapkan dari sekarang? Baca terus sampai akhir, karena pembahasan ini diramu padat, relevan, dan membumi, Cess!.
Mengapa milenial dan Gen Z masih kesulitan membeli rumah?
Kesulitan membeli rumah bukan isu tunggal, tapi gabungan beberapa faktor yang saling berkaitan. Berdasarkan survei Kementerian PUPR, alasan paling banyak muncul adalah belum menemukan rumah yang dirasa cocok. Sebanyak 28,69 persen responden menyebut belum menemukan hunian sesuai harapan, baik dari sisi lokasi, harga, maupun spesifikasi.
Faktor finansial juga memegang peranan besar. Sebanyak 24,9 persen generasi muda menyatakan kondisi keuangan belum memungkinkan untuk membeli rumah. Penghasilan yang ada masih difokuskan untuk kebutuhan harian dan stabilitas hidup. Di sisi lain, 10,49 persen responden mengaku belum sanggup membayar cicilan KPR.
Masih adanya cicilan lain juga menjadi ganjalan. Sekitar 10,44 persen menyebut masih memiliki kewajiban kredit lain, sehingga rumah belum menjadi prioritas. Sisanya merasa belum memerlukan rumah atau bahkan belum terpikirkan sama sekali. Ya’kalo melihat kondisi sekarang, pahamlah ikam kenapa keputusan ini terasa berat.
HARGA RUMAH TRUS MENAIK
Apa penyebab harga rumah terus naik setiap tahun?
Kenaikan harga rumah bukan terjadi tanpa sebab. Laporan Media Keuangan Kementerian Keuangan RI mencatat inflasi sebagai faktor utama. Saat inflasi meningkat, harga bahan bangunan ikut naik. Dampaknya langsung terasa pada biaya pembangunan rumah, lalu berujung ke harga jual properti.
Faktor lain datang dari meningkatnya angka harapan hidup masyarakat. Data BPS menunjukkan angka harapan hidup naik dari 73,4 pada 2020 menjadi 73,5 di 2021. Kesejahteraan yang membaik mendorong kebutuhan dasar, termasuk papan, ikut meningkat. Permintaan naik, harga pun ikut terdorong.
Pembangunan infrastruktur juga memberi efek lanjutan. Sarana dan prasarana yang terus berkembang membuat kawasan tertentu semakin diminati. Di sisi lain, lahan semakin terbatas. Kombinasi ini membuat harga rumah di area strategis terus bergerak naik. Nah’ itu sudah, hukum pasar berjalan apa adanya.
nerasi muda perlu mulai memikirkan rumah lebih awal
Mengapa generasi muda perlu mulai memikirkan rumah lebih awal?
Memikirkan rumah sejak usia muda memberi ruang persiapan yang lebih panjang. Harga properti yang terus meningkat membuat penundaan justru berisiko. Saat persiapan finansial sudah matang, memulai lebih awal bisa menjadi langkah strategis yang masuk akal.
Rumah juga berfungsi sebagai aset investasi. Selain ditempati, hunian bisa disewakan saat tidak digunakan. Dengan tren kenaikan harga properti, nilai aset cenderung bertambah dari waktu ke waktu. Ini menjadi salah satu cara menjaga nilai kekayaan jangka panjang.
Usia produktif juga menjadi keuntungan tersendiri. Di fase ini, kemampuan menghasilkan pendapatan masih optimal. Seiring bertambahnya usia, tenaga dan kesempatan bisa menurun. Karena itu, masa muda memberi peluang lebih luas untuk menabung dan menyusun rencana kepemilikan rumah secara bertahap.
membeli rumah pertama bagi milenial dan Gen Z
Bagaimana tips realistis membeli rumah pertama bagi milenial dan Gen Z?
Meski tantangannya nyata, peluang tetap ada. Dilansir dari CNN, ada beberapa langkah yang bisa disiapkan secara bertahap. Langkah awal adalah menetapkan target harga rumah dan target tabungan. Dengan begitu, perencanaan keuangan menjadi lebih terarah.
Menabung sejak awal penghasilan diterima juga penting. Dana tabungan sebaiknya dipisahkan ke rekening berbeda agar pengeluaran lebih terkontrol. Selain itu, melunasi seluruh utang sebelum fokus menabung rumah akan meringankan beban keuangan jangka panjang.
Pola hidup konsumtif juga perlu ditekan. Setiap pengeluaran dicatat agar dana tidak terbuang sia-sia. Jika memungkinkan, mencari penghasilan tambahan bisa mempercepat tercapainya target. Tips singkat yang bisa diterapkan: 1. Tentukan target harga rumah sejak awal 2. Pisahkan rekening tabungan dan harian 3. Lunasi cicilan sebelum fokus KPR 4. Kendalikan gaya hidup konsumtif 5. Cari sumber pendapatan tambahan
Insight: Kepemilikan rumah bagi milenial dan Gen Z bukan sekadar mimpi yang tertunda, melainkan proses panjang yang dipengaruhi banyak faktor. Data menunjukkan tantangan datang dari finansial, harga properti, hingga kesiapan hidup. Dengan perencanaan sejak dini, pengelolaan keuangan yang disiplin, serta pemahaman kondisi pasar, peluang memiliki rumah tetap terbuka dan relevan bagi generasi muda.
Bagikan artikel ini ke bubuhan ikam supaya makin banyak yang paham kondisi nyata kepemilikan rumah anak muda. Ajak jua kawalan sekitar berdiskusi sehat soal rencana masa depan.
Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapan Tv teman update setia, “Bukan Sekadar Info Biasa!” (KAILA)
FAQ Mengapa milenial dan Gen Z belum banyak memiliki rumah? Karena faktor finansial, kenaikan harga properti, serta prioritas hidup yang masih beragam.
Apakah KPR masih relevan untuk generasi muda? Masih relevan, namun perlu kesiapan finansial dan pengelolaan cicilan yang matang.
Kapan waktu ideal mulai menyiapkan rumah pertama? Sejak usia produktif, saat kemampuan menabung dan pendapatan masih optimal.
DISCLAIMER Artikel ini menggunakan bantuan AI secara terbatas untuk menghasilkan tulisan bebas typo dan kalimat tidak efektif. Artikel ini telah melalui verifikasi dan validasi ketat oleh Manusia (Redaksi). Gambar dapat saja dihasilkan AI di artikel ini hanya sebagai ilustrasi pendukung yang membantu pembaca memahami konteks informasi bukan sebagai bukti realistis. Teknologi AI digunakan semata-mata sebagai alat bantu produktivitas dan efisiensi kerja redaksi — bukan sebagai pengganti peran jurnalis manusia.