Balikpapan TV - Hai Cess! Banjir kembali merendam wilayah Kabupaten Serang, Banten. Sejak Rabu malam, 17 Desember 2025, air menggenangi 21 desa di sembilan kecamatan, dipicu hujan berintensitas tinggi yang turun beberapa hari berturut-turut. Sungai meluap, permukiman warga tergenang, dan aktivitas harian ikut terhenti. Rumah-rumah sederhana, fasilitas umum, hingga sekolah terdampak. Situasi di lapangan terasa berat, namun penanganan terus bergerak.
Terus ikuti cerita ini sampai akhir, Cess! Ada banyak hal penting yang perlu ikam pahami, mulai dari langkah pemerintah daerah, kondisi warga di lokasi banjir, sampai upaya memastikan kebutuhan dasar tetap aman dan tersalurkan dengan baik. Nah’ itu sudah, kita simak mendalam biar jelas, pahamlah ikam.
Baca Juga: Direksi dan Relawan PLN Turun Langsung Pastikan Percepatan Pemulihan Listrik di Aceh
Apa yang Memicu Banjir di Kabupaten Serang Kali Ini?
Hujan deras dengan intensitas tinggi menjadi pemicu utama banjir di Kabupaten Serang. Curah hujan yang turun selama beberapa hari membuat debit air sungai meningkat drastis hingga meluap ke permukiman warga. Air merendam rumah, jalan lingkungan, dan fasilitas umum di berbagai titik. Kondisi ini berlangsung sejak Rabu malam dan terus berdampak hingga hari-hari berikutnya.
Luapan sungai terjadi karena aliran air tidak mampu menampung volume hujan yang terus bertambah. Permukiman yang berada di sekitar aliran sungai menjadi wilayah paling terdampak. Di beberapa desa, genangan mencapai ketinggian lutut orang dewasa. Aktivitas warga pun terhenti, mulai dari bekerja, sekolah, hingga ibadah harian.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Serang mencatat 1.295 kepala keluarga atau 4.449 jiwa terdampak. Ratusan rumah mengalami kerusakan, begitu pula sejumlah fasilitas umum seperti rumah ibadah dan bangunan sekolah. Meski demikian, tidak ada laporan korban jiwa dalam peristiwa ini, dan itu menjadi perhatian utama dalam penanganan.
Bagaimana Langkah Pemerintah Menangani Luapan Sungai?
Pemerintah Kabupaten Serang langsung menyiapkan langkah penanganan dengan menggandeng berbagai pihak. Salah satu fokus utama adalah normalisasi sungai agar aliran air kembali lancar. Bupati Serang, Ratu Rachmatuzakiyah, menyampaikan bahwa peninjauan teknis telah dilakukan untuk menentukan titik pengerukan tahap awal.
“Normalisasi sungai menjadi langkah awal agar aliran air kembali lancar,” kata Ratu saat meninjau lokasi banjir di Kecamatan Cinangka, Minggu, 21 Desember 2025. Peninjauan ini melibatkan Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau, Ciujung, Cidurian (BBWSC3) serta Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA).
Dalam kunjungan ke Kampung Kajeroan, Desa Ranca Sanggal, Ratu menyebutkan kemungkinan penurunan alat ekskavator untuk tahap pertama normalisasi. Wilayah ini tercatat sekitar 250 rumah warga terendam akibat meluapnya air Rawa Danau. Pemerintah daerah bergerak cepat untuk memastikan langkah teknis di lapangan berjalan terarah.
Apa Kondisi Warga di Lokasi Banjir Saat Ini?
Di tengah genangan air, banyak warga memilih bertahan di rumah masing-masing. Sebagian tidak mau dievakuasi karena khawatir terhadap keamanan harta benda. Situasi ini membuat aktivitas harian praktis berhenti. Jalan tergenang, ruang gerak terbatas, dan kebutuhan dasar menjadi perhatian utama.
“Sangat prihatin, kasihan aktivitas warga semua berhenti karena kondisi banjir. Kami sudah melihat situasinya, ada yang tidak mau dievakuasi karena khawatir harta bendanya hilang,” ujar Ratu Rachmatuzakiyah saat menyusuri genangan air setinggi lutut orang dewasa bersama jajaran terkait.
Kehadiran pemerintah daerah di lokasi banjir menjadi bentuk dukungan moral bagi warga. Peninjauan langsung dilakukan untuk memantau kondisi nyata di lapangan, terutama bagi warga lansia dan mereka yang sedang sakit. Bubuhan di lokasi berharap air cepat surut agar kehidupan bisa kembali berjalan normal.
Bagaimana Pemenuhan Logistik dan Antisipasi Cuaca Ekstrem?
Selain penanganan fisik sungai, pemenuhan kebutuhan dasar warga menjadi prioritas. Pemerintah daerah memastikan logistik tersalurkan langsung ke rumah warga yang bertahan. Aparat desa, relawan, dan BPBD diinstruksikan mengantarkan makanan, terutama bagi lansia dan warga sakit yang sulit bergerak.
“Saya sampaikan kepada pihak desa dan BPBD, kita harus memastikan bahwa warga mendapatkan makanan yang cukup. Nanti minta diantar ke lokasi atau ke rumah warga tersebut,” tegas Ratu. Dapur umum juga telah dioperasikan untuk melayani kebutuhan makan seluruh warga terdampak.
Pemerintah Kabupaten Serang menyiapkan anggaran darurat sebagai langkah antisipasi jika cuaca ekstrem masih berlanjut dalam beberapa hari ke depan. Dinas Sosial diminta menyusun Rencana Anggaran Biaya agar penanganan tetap berkelanjutan. Harapannya, hujan mereda dan genangan segera surut, pahamlah ikam.
Banjir di Kabupaten Serang merendam 21 desa di sembilan kecamatan akibat hujan intensitas tinggi dan luapan sungai. Pemerintah daerah bergerak dengan normalisasi sungai, penyaluran logistik langsung ke warga, serta pengoperasian dapur umum.
Tidak ada korban jiwa, namun ribuan warga terdampak dan aktivitas harian terhenti. Bagikan jua info ini ke bubuhan ikam supaya makin banyak yang paham kondisi di lapangan, Cess!
Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapan Tv teman update setia, “Bukan Sekadar Info Biasa!” (Shifa)
FAQ
Apa penyebab utama banjir di Kabupaten Serang?
Hujan berintensitas tinggi selama beberapa hari yang menyebabkan sungai meluap ke permukiman warga.
Berapa jumlah warga yang terdampak banjir?
Sebanyak 1.295 kepala keluarga atau 4.449 jiwa terdampak berdasarkan catatan BPBD Kabupaten Serang.
Langkah apa yang dilakukan pemerintah daerah?
Pemerintah melakukan normalisasi sungai, menyalurkan logistik langsung ke warga, mengoperasikan dapur umum, dan menyiapkan anggaran darurat.
DISCLAIMER
Artikel ini menggunakan bantuan AI secara terbatas untuk menghasilkan tulisan bebas typo dan kalimat tidak efektif, menghindari pengulangan kata dan paralelisme yang tidak tepat. Artikel ini telah melalui verifikasi dan validasi ketat oleh Manusia (Redaksi). Teknologi AI digunakan semata-mata sebagai alat bantu produktivitas dan efisiensi kerja redaksi — bukan sebagai pengganti peran jurnalis manusia.