Info Lokal InfoScope Gaya Hidup Infotainment Iptek Bisnis & UMKM Religi

Isu Dugaan Mafia Sawit Dibalik Tragedi Terbakarnya Kantor Tera Drone yang Menelan Korban Jiwa

Arya Kusuma • Kamis, 11 Desember 2025 | 10:49 WIB

Potret banjir Sumatera dengan potongan sampah kayu-kayu hasil pembabatan hutan, menggambarkan ketegangan antara industri dan lingkungan.
Potret banjir Sumatera dengan potongan sampah kayu-kayu hasil pembabatan hutan, menggambarkan ketegangan antara industri dan lingkungan.

Balikpapan TV - Hai Cess! Di tengah suasana duka pascakebakaran yang merenggut 22 nyawa di gedung Terra Drone, riuh percakapan publik kembali mengarah pada jejak perusahaan itu di sektor agrikultur. 

Riuh lokal pun terasa sampai ke sudut-sudut Balikpapan, sebab isu soal hutan dan lahan selalu punya gema, apalagi bila disangkutkan dengan tragedi. Ikam mungkin juga ikut baca-baca dari bubuhan yang ramai berdiskusi di medsos, nah' itu sudah.

Hook lokal pun bergulir, membawa ikam menelusuri alur cerita yang bercabang antara teknologi, kebijakan, hingga kabar yang bikin hati mengencang. Lanjut baca sampai habis Cess.

Apa yang membuat jejak Terra Drone kembali dipertanyakan publik Cess

Jejak Terra Drone di sektor agrikultur sebenarnya bukan hal baru. Sebelum kebakaran yang merenggut 22 korban itu, perusahaan ini dikenal melalui unit Terra Agri yang memetakan ribuan hektare perkebunan sawit di Sumatera. Laporan mereka mencakup sensus pohon, deteksi hama, analisis kondisi lahan, hingga prediksi panen.

Narasi ini memperlihatkan bagaimana teknologi pemetaan udara dianggap solusi efisiensi bagi perkebunan dalam skala besar. Namun setelah tragedi itu, publik justru menyoroti keterlibatan mereka pada proyek besar yang bertaut dengan kebijakan nasional.

Netizen ramai menghubungkan insiden tersebut dengan kebijakan “Hutankan Kembali Kebun Sawit” yang ditekankan Presiden Prabowo. Kebijakan ini sendiri ingin mengembalikan sebagian kebun sawit berizin menjadi kawasan hutan. Namun konteks politik selalu memberi warna lain pada isu lingkungan.

Beberapa akun media sosial bahkan mengangkat teori tentang motif tersembunyi di balik insiden kebakaran, mengaitkannya dengan agenda industri sawit. Salah satunya akun @chika menulis: “Apa sengaja dibakar ya? Biar nggak ketahuan siapa dalang mafia sawit yang bikin banjir di Sumatera.”

Kolaborasi internasional Terra Drone, termasuk kerja sama dengan IFC untuk memantau petani swadaya di Riau, juga ikut terseret. Publik mempertanyakan apakah data yang mereka hasilkan memiliki kaitan dengan konflik kepentingan politik atau industri.

Sorotan ini memperlihatkan betapa isu agraria di Indonesia sering berada di persimpangan antara kepentingan ekonomi dan kebutuhan menyelamatkan lingkungan. Penasaran bagaimana ini berkembang? Lanjut terus Cess.

Baca Juga: Dinamika Distribusi Bantuan Logistik di Bener Meriah dan Aceh Tengah Jadi Sorotan Setelah Laporan hilangnya 80 ton

Mengapa tragedi di Sumatera memantik evaluasi tata ruang Cess

Setelah rentetan banjir yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, banyak warga menilai pemerintah pusat terlalu lama menunda evaluasi tata ruang. Mereka menyebut alih fungsi lahan sawit turut menutupi risiko bencana yang terus mengintai.

Ketegangan meningkat ketika Menteri Agraria dan Tata Ruang, Nusron Wahid, menegaskan opsi radikal yaitu mengembalikan kebun sawit berizin menjadi kawasan hutan. Sikap ini membawa percakapan publik ke arah yang lebih serius, sebab kebijakan tersebut berimplikasi langsung pada jutaan hektare lahan dan jutaan warga di Sumatera.

Sebagian warga menilai kebijakan tersebut sekadar respons setelah bencana, belum menyentuh akar persoalan. Sebab sejarah panjang alih lahan di Sumatera menunjukkan pola yang sama: industri lebih dulu, keamanan ekologis belakangan.

Banjir besar yang terjadi pada berbagai wilayah bukan hanya menyisakan kerugian material, tetapi juga trauma yang belum selesai. Terlebih, ribuan nyawa telah menjadi korban dalam rentang beberapa tahun terakhir. Data itu memperlihatkan bahwa masalah tata ruang tidak bisa lagi ditunda.

Dinamika ini membuat publik mempertanyakan apakah kebijakan baru akan benar-benar dijalankan secara transparan. Banyak bubuhan dari Sumatera yang bersuara di media sosial, mempertanyakan apakah proyek-proyek besar termasuk sawit, tambang, dan perkebunan akhirnya mendapat pengawasan tegas. Meski tidak ada jawaban pasti, tuntutan evaluasi menyeluruh semakin keras terdengar. Ikam mungkin juga sempat baca komentar-komentar warga yang merasa kondisi kampung halaman mereka makin rapuh Cess.

Apa yang diungkap Jatam soal konsesi ekstraktif di Sumatera Utara Cess

Juru Kampanye Jatam, Alfarhat Kasman, menggambarkan Sumatera Utara sebagai wilayah yang dijajah industri ekstraktif. Ia menyebut total konsesi kehutanan di provinsi itu mencapai 537.131 hektare, belum termasuk perkebunan sawit dan tambang yang tersebar luas.

Perusahaan seperti PT Toba Pulp Lestari dan Agincourt Resources dituding melanggengkan deforestasi hingga kriminalisasi masyarakat adat. Menurut Alfarhat, ekspansi konsesi dilakukan tanpa transparansi dan memicu emisi karbon mencapai 810 Mt CO₂e sepanjang 2001 hingga 2024.

Tambang seng, timah hitam, dan perkebunan sawit yang mencapai 1,17 juta hektare dinilai menambah beban ekologis dan sosial masyarakat. Setiap tahun ratusan hektare hutan serta lahan gambut hilang. Laju kerusakan semacam ini mengubah wajah Sumatera Utara, menjadikannya wilayah yang seolah terus dikejar bayang-bayang bencana. Bagi warga biasa, dampak itu bukan angka di laporan, tetapi kenyataan harian yang harus dihadapi.

Kondisi serupa terjadi di Sumatera Barat. Wilayah ini menghadapi tekanan ganda dari tambang, kehutanan, hingga sawit. Banjir dan longsor 25 November lalu menelan korban ratusan orang, sementara kerugian ekonomi mencapai Rp2,07 triliun.

Menurut data yang beredar, industri sawit bertanggung jawab atas deforestasi 506 hektare di kawasan hutan dan hampir 10 ribu hektare di lahan non-kawasan. Gambaran ini memperlihatkan bahwa persoalan bukan sekadar salah satu sektor, tetapi jalinan masalah yang menyelimuti seluruh wilayah Cess.

Mengapa politik perizinan dinilai menjadi akar persoalan Cess

Alfarhat menyebut bahwa kebijakan perizinan ekstraktif dikuasai oleh kepentingan ganda. Ia menjelaskan bahwa DPR sebagai lembaga legislator sekaligus memiliki afiliasi bisnis ekstraktif, sehingga sulit bersikap netral dalam proses pengawasan.

Panja Alih Fungsi Lahan yang dibentuk dianggap hanya kosmetik, sebab mereka mengawasi kebijakan yang konon dibuat oleh kelompok yang sama. Pernyataan ini menegaskan bahwa persoalan bukan hanya soal industri atau kebakaran, tetapi juga struktur politik yang memungkinkan perluasan konsesi berjalan terus.

Menurut Alfarhat, “Investasi ekstraktif di Sumatera telah menyebabkan lebih dari 800 korban meninggal.” Jumlah tersebut mencakup korban banjir dan longsor hingga 5 Desember 2025, yang menewaskan 836 orang serta 518 orang dinyatakan hilang. Angka ini membuat publik semakin peka terhadap setiap insiden yang berkaitan dengan industri dan alih fungsi lahan, termasuk tragedi kebakaran gedung Terra Drone. Tak heran berbagai teori, opini, dan kecurigaan bermunculan.

Dalam konteks Balikpapan dan Kalimantan Timur yang juga bersinggungan dengan isu lingkungan, cerita dari Sumatera menjadi pelajaran yang terasa dekat. Bubuhan sering membahas bagaimana tata ruang yang lemah bisa berujung bahaya bagi warga. Maka wajar bila kabar ini menjadi pembicaraan di warung kopi hingga grup pesan. Topiknya berat, tetapi menyentuh hidup sehari-hari ikam, nah' itu sudah. Tetap bijak menyerap kabar, Cess!

Tragedi kebakaran Terra Drone memantik kembali sorotan pada peran mereka di proyek perkebunan sawit Sumatera, bersamaan dengan kritik publik terhadap kebijakan tata ruang dan konsesi ekstraktif yang memperparah bencana. Jatam menyoroti kuatnya cengkeraman industri besar, sementara publik mempertanyakan transparansi politik dalam alih fungsi lahan.

Bagikan artikel ini ke bubuhan ikam supaya makin banyak yang paham persoalan lingkungan dan tata ruang. Biar diskusinya makin nyala Cess.

Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapan Tv teman update setia, 'Bukan Sekadar Info Biasa!'

 

FAQ

Adakah hubungan langsung antara kebakaran Terra Drone dan isu sawit di Sumatera
Belum ada bukti resmi yang mengaitkan keduanya. Perbincangan publik muncul akibat konteks politik dan proyek mereka di sektor perkebunan.

Mengapa isu tata ruang jadi perhatian besar belakangan ini
Karena banjir dan longsor yang terjadi berulang, disertai korban jiwa, membuat warga menuntut evaluasi serius pada alih fungsi lahan.

Siapa pihak yang banyak disorot dalam polemik konsesi ekstraktif
Menurut Jatam, perusahaan besar serta politisi yang memiliki afiliasi bisnis ekstraktif menjadi pihak yang paling sering dikritik.

 

DISCLAIMER
Artikel ini menggunakan bantuan AI secara terbatas untuk menghasilkan tulisan bebas typo dan kalimat tidak efektif, menghindari pengulangan kata dan paralelisme yang tidak tepat berdasarkan PUEBI. Artikel ini telah melalui verifikasi dan validasi ketat oleh Manusia (Redaksi). Teknologi AI digunakan semata-mata sebagai alat bantu produktivitas dan efisiensi kerja redaksi — bukan sebagai pengganti peran jurnalis manusia.

Editor : Arya Kusuma
#bencana banjir #mafia sawit #industri sawit #Sumatera Utara #Terra Drone