Info Lokal InfoScope Gaya Hidup Infotainment Iptek Bisnis & UMKM Religi

Melihat Dekat Derita Korban Banjir Sumatera yang Terisolasi Berhari Hari, Kondisi Terkini Bencana Sumatera

Arya Kusuma • Jumat, 5 Desember 2025 | 12:44 WIB

Korban banjir bandang Sumatera, rumah rusak parah, visual lumpur tebal, dan relawan menembus akses terputus  gambaran nyata darurat kemanusiaan.
Korban banjir bandang Sumatera, rumah rusak parah, visual lumpur tebal, dan relawan menembus akses terputus gambaran nyata darurat kemanusiaan.

Balikpapan TV – Jumat, 5 Desember 2025, Hai Cess! Gelombang duka kembali menyelimuti Aceh, Sumatera Barat, hingga Sumatera Utara setelah banjir bandang dan tanah longsor melanda tiga provinsi tersebut. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan data terkini: 836 warga meninggal, 518 hilang, dan 2.700 terluka.

Di tengah angka yang terus bertambah, muncul pula cerita memilukan dari Desa Simataniari, Tapanuli Selatan, tempat ratusan warga masih bertahan hidup dengan ubi dan jagung karena distribusi bantuan belum menjangkau mereka secara layak Cess!

Kondisi ini membuat publik bertanya besar: kenapa masih ada daerah terdampak yang belum tersentuh bantuan sesuai kebutuhan paling dasar? Baca terus sampai akhir Cess!

Apa yang membuat jumlah korban di Sumatera terus bertambah

Lonjakan jumlah korban tewas di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara menunjukkan betapa beratnya dampak bencana ini. Abdul Muhari, Kapusdatinkom BNPB, dalam konferensi pers Kamis sore, menyatakan bahwa “Cut off per pukul 16.00 WIB saya laporkan bahwa hingga sore ini untuk jumlah korban meninggal dunia bertambah menjadi 836 jiwa.” Angka ini mencerminkan situasi lapangan yang jauh dari stabil, terutama karena banyak wilayah masih sulit dijangkau.

BNPB juga merinci dampak kerusakan fisik yang tidak kalah masif. Sebanyak 10.500 rumah rusak, 536 fasilitas umum, 326 sekolah, 25 fasilitas kesehatan, 185 rumah ibadah, serta 295 jembatan ikut terdampak. Kerusakan ini menjadi penyebab utama mengapa evakuasi dan pencarian korban masih terhambat. Di banyak titik, akses darat tertutup lumpur, jalan terputus, hingga membawa relawan harus berjalan kaki berkilometer menuju lokasi terpencil.

Akses Jalan Dipenuhi Lumpur
Akses Jalan Dipenuhi Lumpur

Mengapa Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara mengalami dampak berbeda

Meski bencana terjadi serentak, tingkat dampak di tiap provinsi berbeda. Aceh mencatat 325 korban meninggal dan 170 hilang, sementara Sumatera Utara—terutama kawasan lereng dan bantaran sungai—melaporkan 311 korban jiwa. Di Sumatera Barat, angka korban mencapai 200 jiwa. Perbedaan ini muncul dari kondisi geografis, intensitas hujan, serta seberapa berat material banjir bandang yang membawa lumpur hingga potongan kayu besar.

Akses menuju desa-desa terpencil menjadi tantangan terbesar. Banyak wilayah masih tertutup material lumpur setebal 50–60 sentimeter. Pengiriman logistik pun membutuhkan waktu lebih lama karena jembatan dan jalur utama rusak. Di beberapa daerah, warga terisolasi hingga lebih dari sepekan. Kondisi alam seperti kontur bukit terjal juga membuat alat berat tidak bisa langsung turun. Situasi ini membuat perbedaan dampak kian mencolok antarwilayah.

Apa yang sebenarnya terjadi di Desa Simataniari Tapanuli Selatan

Lebih dari tujuh hari pascabencana, warga Desa Simataniari masih menghadapi kondisi memprihatinkan. Kepala Desa, Hasian Harahap, menyampaikan bahwa bantuan yang masuk sangat terbatas, hanya dari PLTA Batang Toru sebesar 500 kilogram beras dan tambahan 250 kilogram dari kelompok masyarakat.
Selain itu belum ada bantuan lain yang masuk ke desa kami,” ungkap Hasian, Jumat (5/12/2025).
Warga dari dua dusun—Dusun Sibara-bara dan Dusun Setia Baru—sebanyak 187 kepala keluarga atau lebih dari 700 jiwa, terpaksa mengungsi ke tempat aman setelah permukiman mereka terendam lumpur tebal. Minimnya bantuan membuat sebagian warga hanya mengonsumsi ubi dan jagung sebagai makanan harian. Hasian menambahkan, “Sebagian warga terpaksa makan campuran ubi dan jagung supaya tetap bisa bertahan.” Kondisi ini mencerminkan betapa lambannya alur bantuan memasuki desa tersebut.

Jalan Terputus akibat longsor dan banjir
Jalan Terputus akibat longsor dan banjir

Mengapa distribusi bantuan di Simataniari terhambat Cess

Akses jalan menjadi penyebab utama distribusi bantuan tersendat. Material banjir menutup hampir seluruh ruas jalan utama desa. Lumpur setinggi hingga 60 sentimeter menutupi jalur sepanjang tiga kilometer, membuat kendaraan tidak bisa masuk. Proses pembersihan dilakukan secara gotong royong oleh warga, namun kelelahan dan minimnya alat membuat ritme kerja sangat lambat.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Tapsel, Idam Halid Pulungan, menjelaskan, “Apakah distribusinya sudah sampai ke seluruh warga, nanti akan kami cek kembali.” Sementara itu, Camat Angkola Sangkunur, Daniel, menegaskan bahwa beberapa bantuan sudah masuk ke sebagian dusun, namun distribusi ke Dusun Setia Baru masih menunggu laporan lanjutan. “Memang ada informasi bantuan belum terbagi merata. Itu akan kami pastikan segera,” ujarnya. Hal ini membuat warga mempertanyakan koordinasi antarinstansi yang dinilai belum optimal.

Baca Juga: Hadiah Rp100 Juta! Festival Dayung Manggar 2025 di Balikpapan Dibuka, Buruan Daftar!

Bagaimana perjuangan warga bertahan hidup sambil menunggu bantuan masuk

Warga melakukan berbagai cara untuk bertahan. Ada yang membangun tenda darurat di area perbukitan, ada pula yang menumpang di rumah kerabat. Aktivitas pemulihan berjalan pelan karena halaman rumah masih tertimbun lumpur dan drainase tersumbat. Di tengah segala keterbatasan, semangat gotong royong tetap menyala.

Selain memasak ubi dan jagung, warga yang masih memiliki persediaan berusaha membantu bubuhan lainnya agar semua tetap bisa makan. Mereka membersihkan jalan setapak demi setapak. Beberapa warga bahkan rela membawa logistik dengan memikul beras dari titik distribusi kecamatan. Kisah seperti ini memperlihatkan ketangguhan masyarakat desa sekaligus betapa pentingnya percepatan distribusi logistik.

Bencana banjir bandang dan longsor di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara menelan 836 korban jiwa, 518 hilang, dan 2.700 luka-luka. Kerusakan fisik meliputi 10.500 rumah, ratusan fasilitas umum, sekolah, rumah ibadah, dan jembatan. Di Desa Simataniari, ratusan warga masih belum mendapatkan bantuan layak dan bertahan hidup dengan ubi serta jagung. Akses jalan tertutup lumpur menjadi penghambat utama penyaluran logistik.

Bagikan artikel ini ke bubuhan ikam supaya makin banyak yang paham kondisi terkini dan bisa tergerak membantu Cess!

Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapan Tv teman update setia, 'Bukan Sekadar Info Biasa!'

 

FAQ

1. Mengapa banyak desa belum menerima bantuan penuh?
Karena akses jalan rusak, jembatan putus, dan distribusi masih menunggu verifikasi wilayah yang sulit dijangkau.

2. Berapa total rumah yang rusak akibat bencana di tiga provinsi tersebut?
BNPB mencatat 10.500 rumah rusak beserta ratusan fasilitas lainnya.

3. Apa makanan utama warga Simataniari selama bantuan belum merata?
Sebagian warga hanya mengonsumsi campuran ubi dan jagung untuk bertahan.

 

DISCLAIMER

Artikel ini menggunakan bantuan AI secara terbatas untuk menghasilkan tulisan bebas typo dan kalimat tidak efektif, menghindari pengulangan kata dan paralelisme yang tidak tepat berdasarkan PUEBI. Artikel ini telah melalui verifikasi dan validasi ketat oleh Manusia (Redaksi). Teknologi AI digunakan semata-mata sebagai alat bantu produktivitas dan efisiensi kerja redaksi — bukan sebagai pengganti peran jurnalis manusia.

Editor : Arya Kusuma
#banjir sumatera #Simataniari #tapanuli selatan #bnpb