BalikpapanTv.id - Hai Cess! Samarinda baru saja menghadirkan ikon baru di Simpang Empat Mall Lembuswana, yaitu Tugu Pesut.
Tugu ini menggantikan tugu lama yang sudah berdiri sejak 2017, yang awalnya dibangun sebagai simbol penghargaan Parasamya Purnakarya Nugraha.
Namun, banyak warga yang mempertanyakan perubahan tersebut. Apa sih yang sebenarnya terjadi? Yuk, simak ceritanya lebih lanjut!
Tugu Lama Vs. Tugu Baru: Perubahan yang Mengundang Pro dan Kontra
Tugu lama yang didirikan pada masa kepemimpinan Wali Kota Syaharie Jaang merupakan simbol penghargaan untuk prestasi pembangunan kesejahteraan masyarakat.
Namun, pada tahun 2024, dengan anggaran sebesar Rp 1,1 miliar dari APBD, tugu lama digantikan oleh Tugu Pesut yang lebih modern dan minimalis.
Desainnya pun menarik perhatian banyak orang atau lebih tepatnya, bikin banyak orang bingung. Kenapa?
Coba deh liat, bentuknya yang seperti siluet berwarna merah itu agak susah dikenali sebagai pesut, mamalia khas Sungai Mahakam.
Bahan Daur Ulang: Simbol Ramah Lingkungan yang Unik
Yang menarik dari Tugu Pesut ini adalah bahan yang digunakan. Tugu yang memiliki tinggi 8 meter ini dibangun menggunakan kabel plastik daur ulang. Gimana sih cara kerja seniman dari Bali dalam mewujudkan desain ini?
Menurut Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Samarinda, Uwim Mursalim, pembangunan tugu baru ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah untuk mendukung pembangunan ramah lingkungan.
Meskipun begitu, beberapa warga tetap mempertanyakan apakah bahan ini cukup representatif untuk sebuah ikon.
Komentar Warga: Tugu Pesut atau Tugu Ombak?
Salah satu keluhan yang muncul di media sosial adalah kebingungannya banyak orang dalam mengenali bentuk tugu.
Pratama, seorang warga Samarinda, mengungkapkan, “Konsep dan tujuannya gimana ya? Orang awam pasti tidak tahu ini bentuknya apa.”
Tidak hanya dia, Ivan dan Cris juga merasa demikian. Mereka bahkan merasa kalau desain baru ini lebih mirip dengan ombak yang belum selesai dibangun.
“Mungkin maksudnya Samarendah, karena bentuknya seperti menunduk,” ujar Cris. Hmm, ada yang setuju?
Menjaga Identitas, tapi Berbeda
Menurut Uwim, desain tugu ini memang dirancang untuk menonjolkan ikon pesut. Pesut yang kini hampir punah di Sungai Mahakam diharapkan bisa menjadi simbol pelestarian alam.
“Tugu ini dibuat menggunakan kabel plastik daur ulang. Prosesnya tidak mudah karena harus memastikan bahan yang digunakan aman bagi lingkungan,” jelasnya.
Jadi, meskipun bentuknya sedikit kontroversial, Tugu Pesut ini diharapkan bisa menyampaikan pesan yang lebih besar mengenai pelestarian lingkungan.
Dari Sejarah ke Keberlanjutan: Peran Tugu Lama
Tugu lama yang semula menjadi simbol penghargaan atas prestasi pembangunan kini tetap disimpan.
Menurut Uwim, tugu lama tersebut akan tetap dijaga sebagai bagian dari dokumentasi sejarah kota.
“Pembaruan desain ini diharapkan memberikan wajah baru yang lebih modern, sekaligus memperkuat pesan pelestarian alam kepada masyarakat,” tambahnya.
Jadi, meskipun ada perubahan besar, tugu lama tetap dihargai sebagai bagian dari sejarah kota Samarinda.
Tugu Pesut: Harapan Baru atau Justru Bingung?
Kehadiran Tugu Pesut yang baru ini memang menciptakan berbagai reaksi. Bagi sebagian orang, tugu ini bisa menjadi simbol baru yang mempercantik kota, serta mengingatkan masyarakat akan pentingnya menjaga alam dan keberlanjutan lingkungan.
Namun, bagi sebagian lainnya, desain yang minimalis dan bentuknya yang tidak langsung dikenali sebagai pesut justru menjadi pertanyaan besar.
Tentu, ini bisa menjadi tantangan tersendiri bagi pihak pemerintah dalam menyosialisasikan desain ini ke masyarakat.
Pelestarian Alam atau Pencitraan?
Bicara soal pesan yang ingin disampaikan melalui tugu ini, ada satu pertanyaan besar: Apakah ini sekadar pencitraan atau benar-benar sebagai upaya pelestarian alam?
Tentu saja, hal ini menjadi langkah awal dalam menciptakan ikon baru yang bisa mengingatkan kita semua akan pentingnya menjaga alam, khususnya pesut yang hampir punah.
Tugu Baru, Wajah Baru untuk Samarinda
Samarinda kini punya wajah baru lewat Tugu Pesut yang lebih modern dan ramah lingkungan.
Walau desainnya menimbulkan pro dan kontra, harapannya tugu ini akan menjadi simbol kebanggaan yang lebih relevan dengan zaman.
Jika tugu lama menjadi simbol prestasi pembangunan, tugu baru ini diharapkan mampu menambah nilai estetika sekaligus memperkuat komitmen pelestarian alam di kota ini. Apakah kamu setuju dengan perubahan ini?
Samarinda mungkin memang sedang mengganti wajahnya, tapi pertanyaan besar tetap ada: apakah desain Tugu Pesut ini mampu mewakili harapan masyarakat?
Simak terus informasi menarik lainnya hanya di BalikpapanTv.id! Bukan Sekedar Berita Biasa