Close to Me: Kisah di Balik Kolaborasi Ellie Goulding, Diplo, dan Swae Lee yang Jadi Hit Global

Wafiq Azizah Amru • Dipublikasikan Selasa, 15 September 2026 | 12:37 WIB
Potret hitam putih penuh gaya dari kolaborasi Ellie Goulding, Diplo, dan Swae Lee. (BTV/Ai)
Potret hitam putih penuh gaya dari kolaborasi Ellie Goulding, Diplo, dan Swae Lee. (BTV/Ai)

Durasi Baca: 7 menit

Ikhtisar: Close to Me mempertemukan Ellie Goulding, Diplo, dan Swae Lee dalam kolaborasi pop-dance yang berawal dari ide sederhana hingga menjadi salah satu hit global Goulding.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Di balik lagu Close to Me ternyata ada proses kreatif yang cukup menarik. Berawal dari sesi sederhana Ellie Goulding dan Savan Kotecha, lagu ini kemudian berkembang setelah sentuhan produksi Diplo dan kehadiran Swae Lee. Hasilnya, sebuah lagu tentang hubungan yang rumit justru berubah menjadi hit yang memperkuat langkah comeback Goulding di panggung musik global.

Siapa di Balik “Close to Me”?

Di pusat lagu ini adalah Ellie Goulding, penyanyi dan penulis lagu Inggris yang pada 2018 sudah memiliki rekam jejak kuat lewat lagu seperti “Lights”, “Burn”, dan “Love Me Like You Do”. Close to Me menjadi musik baru pertamanya setelah album Delirium pada 2015.

Diplo, nama panggung Thomas Wesley Pentz, membawa pengalaman panjangnya sebagai produser dan DJ elektronik. Ia sebelumnya sudah bekerja bersama Goulding dalam “Powerful”, yang dirilis Major Lazer pada 2015.

Sementara itu, Swae Lee hadir sebagai vokalis tamu. Ia dikenal sebagai separuh dari duo Rae Sremmurd dan pada periode yang sama sedang berada dalam fase karier yang sangat aktif.

Komposisi penulis lagunya juga cukup besar. Kredit penulisan mencantumkan Goulding, Savan Kotecha, Peter Svensson, Ilya Salmanzadeh, Thomas Wesley Pentz/Diplo, dan Khalif Brown/Swae Lee. Produksi dikreditkan kepada Diplo dan Ilya.

Dengan demikian, Close to Me bukan produk satu sosok kreatif. Ia merupakan hasil pertemuan penulis pop, produser elektronik, vokalis pop, dan rapper dalam satu proses yang berkembang secara bertahap.

Latar: Lagu yang Lahir untuk “Melupakan Dunia”

Menurut Goulding dalam wawancara yang dikutip Billboard, ia dan Savan Kotecha sedang berada di studio Los Angeles ketika mulai memainkan bagian gitar yang sederhana.

Pada masa itu, menurut Goulding, banyak hal terjadi di dunia yang ingin mereka lupakan. Kotecha juga merasa kewalahan dengan situasi, khususnya yang terjadi di Amerika Serikat. Dari suasana tersebut, mereka memilih membuat sesuatu yang lebih ringan: lagu mengenai hubungan yang turbulen dan kemungkinan besar tidak akan bertahan lama—sebuah hubungan yang menjadi tempat pelarian dari dunia luar.

Pilihan tema itu penting karena Close to Me tidak dibangun sebagai balada romantis konvensional.

Hubungan dalam lagu justru digambarkan penuh kontradiksi. Dua orang di dalamnya sama-sama tahu mereka punya masalah, sama-sama keras kepala, tetapi tetap merasa tidak ingin kehilangan satu sama lain.

Secara tematik, itulah yang membuat judul Close to Me terasa sederhana tetapi efektif: kebutuhan akan kedekatan muncul justru ketika hubungan tersebut tidak sepenuhnya sehat atau stabil.

Baca Juga: Tak Ingin Pisah Lagi Marion Jola dan Rizky Febian, Kisah Cinta yang Berujung Kolaborasi

Proses Kreatif: Dari Gitar Sederhana ke Produksi Diplo

Awalnya, Goulding dan Kotecha menemukan bagian gitar yang sangat sederhana. Goulding kemudian menyanyikan potongan yang akhirnya menjadi bagian awal pre-chorus.

Potongan “don't let me down” tersebut dipertahankan dan menjadi salah satu elemen penting dalam struktur lagu.

Namun Goulding merasa lagu itu masih belum lengkap.

Di titik inilah Diplo masuk.

Goulding mengirim lagu tersebut kepada Diplo. Menurut cerita Goulding kepada Billboard, Diplo mengembalikan versinya dalam waktu relatif singkat. Produksi tersebut memberikan bentuk baru kepada lagu yang sebelumnya berangkat dari gitar dan vokal.

Diplo kemudian mengusulkan Swae Lee sebagai vokalis tamu. Kehadiran Swae Lee membuat lagu tersebut memiliki kontras yang jelas: Goulding membawa bagian pop yang melodis, sedangkan Swae Lee mengisi bagian yang lebih ritmis dan rap-oriented.

Kredit rekaman juga menunjukkan bahwa proses produksinya melibatkan beberapa lokasi, termasuk MXM Studios dan SremmLife Studios di Los Angeles serta Wolf Cousins Studios di Stockholm. Proses mixing dilakukan di MixStar Studios, Virginia Beach.

Hasil akhirnya berdurasi sekitar tiga menit—cukup singkat untuk format radio dan streaming, tetapi tetap memiliki struktur yang memberi ruang bagi dua karakter vokal utama.

Apakah Ada Drama di Balik Pembuatannya?

Untuk bagian ini, penting membedakan antara drama yang terverifikasi dan rumor.

Tidak ditemukan bukti kuat mengenai konflik besar antara Goulding, Diplo, Swae Lee, atau label yang hampir membatalkan Close to Me. Justru cerita pembuatan yang tersedia dari wawancara Goulding menggambarkan proses yang relatif cepat: ide awal dibuat bersama Kotecha, kemudian diberikan kepada Diplo, lalu berkembang dengan masuknya Swae Lee.

Karena itu, tidak tepat menggambarkan lagu ini sebagai karya yang “nyaris gagal dirilis” atau lahir dari pertengkaran antarartis.

Drama yang paling nyata justru berada di dalam cerita lagu itu sendiri: hubungan yang tidak stabil, dua orang yang sama-sama bermasalah, tetapi tetap membutuhkan kedekatan.

Dengan kata lain, konflik utama Close to Me lebih merupakan materi artistik, bukan konflik produksi yang terdokumentasi.

Baca Juga: “That’s So True” Gracie Abrams Meledak, Begini Perjalanan Kariernya hingga 2026

Rilis: Kembalinya Ellie Goulding

Close to Me dirilis pada 24 Oktober 2018 melalui Polydor dan Interscope. Lagu tersebut menjadi musik baru Goulding setelah periode panjang tanpa album baru sejak Delirium pada 2015.

Perkenalannya juga dibuat cukup mencolok. Goulding lebih dulu melakukan aktivitas promosi di media sosial menjelang perilisan, kemudian lagu tersebut diperkenalkan melalui BBC Radio 1 sebagai “Hottest Record in the World” oleh Annie Mac.

Video musiknya menyusul pada 14 November 2018. Disutradarai Diane Martel, video tersebut direkam di Budapest, Hungaria, dan menampilkan Goulding bersama Swae Lee dengan visual yang menggabungkan lanskap, warna kuat, siluet, serta pendekatan fashion-forward.

Pada saat video dirilis, Universal Music Canada menyebut lagu tersebut sudah mencapai sekitar 20 juta stream Spotify dan rata-rata memperoleh sekitar 1,1 juta stream per hari.

Respons dan Performa: Bukan Sekadar Lagu Comeback

Perjalanan Close to Me di tangga lagu menunjukkan bahwa lagu ini tidak hanya mengandalkan nama besar ketiga artis.

Di Inggris, lagu tersebut mencapai posisi 17 di Official Singles Chart dan bertahan selama 16 minggu dalam chart tersebut.

Di Amerika Serikat, performanya juga cukup kuat. Lagu ini akhirnya mencapai posisi 24 di Billboard Hot 100, sementara di Billboard Adult Pop Songs lagu tersebut bahkan berhasil mencapai posisi nomor satu.

Secara tahunan, Close to Me berada di posisi 58 Billboard Hot 100 Year-End 2019. Di Hot Dance/Electronic Songs, lagu tersebut mencapai posisi nomor tiga pada performa tahunannya dan menempati posisi 17 dalam daftar dekade 2010–2019 untuk chart tersebut.

Beberapa capaian penting

Indikator Pencapaian
UK Official Singles Chart #17
Billboard Hot 100 #24
Billboard Adult Pop Songs #1
Billboard Hot Dance/Electronic Songs #3
Billboard Hot 100 Year-End 2019 #58
Hot Dance/Electronic Songs Decade-End 2010–2019 #17

Yang menarik, performa lagu ini juga berlangsung lintas format. Ia bekerja sebagai lagu pop, tetapi tetap kuat di wilayah dance/electronic dan radio dewasa. Ini membantu menjelaskan mengapa kolaborasi tiga nama tersebut mampu menjangkau beberapa segmen pendengar sekaligus.

Baca Juga: 10.000 Hours Dan + Shay dan Justin Bieber: Kisah Cinta yang Berawal dari Ide 10 Ribu Jam

Sertifikasi: Popularitas yang Bertahan Setelah Masa Rilis

Performa Close to Me tidak berhenti pada chart mingguan.

Lagu ini kemudian memperoleh sejumlah sertifikasi internasional, termasuk 2× Platinum di Amerika Serikat, Platinum di Inggris, serta sertifikasi multi-platinum di Australia dan Kanada.

Artinya, keberhasilan lagu tersebut tidak hanya terlihat dari posisi chart ketika dirilis, tetapi juga dari akumulasi konsumsi musik dalam jangka lebih panjang.

Di Amerika Serikat, status 2× Platinum RIAA merepresentasikan dua juta unit tersertifikasi berdasarkan sistem penilaian yang mencakup penjualan dan konsumsi streaming.

Kontroversi Setelah Rilis: Ada atau Tidak?

Tidak ada kontroversi besar yang terverifikasi yang mengubah status Close to Me setelah dirilis.

Tidak terdapat bukti kuat mengenai sengketa hak cipta besar, konflik label yang berujung perubahan lagu, atau penarikan lagu dari pasar yang menjadi bagian utama sejarah single ini.

Sebaliknya, perkembangan pascarilis lebih banyak berhubungan dengan versi alternatif dan remix. Pada 2019, lagu ini memperoleh sejumlah remix, termasuk versi yang kemudian melibatkan girl group Korea Selatan Red Velvet, yang menggantikan bagian Swae Lee.

Jadi, jika Close to Me dibahas dari perspektif drama industri, kisahnya relatif tenang dibanding sejumlah hit pop lain yang memiliki sengketa atau kontroversi besar.

Baca Juga: Now I Know Kaleb J: Saat Penyesalan Datang Setelah Semuanya Terlambat

Dampak bagi Karier Ellie Goulding

Bagi Goulding, arti penting Close to Me berada pada timing-nya.

Lagu ini muncul setelah tiga tahun sejak Delirium. Dengan demikian, single tersebut berfungsi sebagai pintu masuk kembali ke lanskap pop global sebelum album Brightest Blue akhirnya dirilis pada 2020.

Lebih dari itu, Close to Me menunjukkan bahwa Goulding masih mampu menggabungkan identitas vokalnya dengan produksi dance kontemporer tanpa harus mengulang formula lagu-lagu lamanya.

Kolaborasi dengan Diplo juga memperkuat kesinambungan antara masa lalu dan fase baru. Mereka sudah pernah bekerja bersama lewat “Powerful”, tetapi Close to Me menempatkan Goulding sebagai pusat lagu, dengan Diplo sebagai partner produksi dan Swae Lee sebagai elemen baru.

Dari sisi karier, keberhasilan tersebut menjadi validasi bahwa jeda panjang tidak otomatis menghilangkan daya tarik seorang artis ketika kembali ke pasar pop.

Warisan: Mengapa “Close to Me” Masih Menarik Dibicarakan?

Ada beberapa alasan mengapa Close to Me tetap relevan ketika dilihat bertahun-tahun setelah dirilis.

Pertama, kolaborasinya tidak terasa seperti tempelan nama. Goulding, Diplo, dan Swae Lee masing-masing membawa fungsi yang berbeda dalam lagu.

Kedua, lagu ini menunjukkan bagaimana sebuah ide sederhana dapat berubah total melalui produksi. Fondasinya bermula dari permainan gitar dan vokal di studio Los Angeles, tetapi hasil akhirnya berada di wilayah pop-elektronik dengan energi yang jauh lebih besar.

Ketiga, performanya menunjukkan kemampuan sebuah lagu untuk bergerak di beberapa ekosistem sekaligus: radio pop, dance/electronic, streaming, dan pasar internasional.

Dan keempat, keberhasilannya tidak hanya sesaat. Posisi chart tahunan serta sertifikasi di berbagai negara memperlihatkan bahwa Close to Me memiliki umur komersial yang lebih panjang daripada sekadar momentum perilisan.

Baca Juga: That’s My Girl Fifth Harmony: Kisah di Balik Anthem Pemberdayaan yang Bikin Perempuan Bangkit

Kenapa Lagu Ini Layak Didengar Lagi?

Jika didengarkan sekarang, Close to Me dapat dipandang sebagai potret pop akhir 2010-an: durasi pendek, hook kuat, produksi elektronik, perpaduan penyanyi pop dengan rapper, serta strategi visual yang dirancang untuk pasar global.

Namun kekuatan terbesarnya tetap berada pada kontras.

Liriknya berbicara tentang hubungan yang kacau, sementara produksinya terasa percaya diri dan energik. Ada ketidakstabilan di dalam cerita, tetapi ada kepastian pada chorus: mereka tetap ingin satu sama lain berada dekat.

Itulah paradoks yang membuat Close to Me mudah diingat.

Point Penting

Insight Redaksi

Close to Me menunjukkan bagaimana kolaborasi lintas genre dapat mengubah ide sederhana menjadi hit global. Ellie Goulding membawa karakter popnya, Diplo memperkuat nuansa elektronik, sementara Swae Lee memberi warna vokal yang berbeda. Perpaduan ketiganya membuat lagu ini punya identitas kuat sekaligus mudah diterima pasar musik internasional. Bagi Goulding, lagu ini juga menjadi langkah penting untuk kembali ke pusat perhatian setelah jeda panjang dari album sebelumnya.

FAQ

1. Siapa yang menyanyikan “Close to Me”?

Ellie Goulding menjadi vokal utama, dengan Diplo sebagai kolaborator/produser dan Swae Lee sebagai vokalis tamu.

2. Kapan “Close to Me” dirilis?

24 Oktober 2018.

3. Siapa yang memproduksi lagu ini?

Produksi dikreditkan kepada Diplo dan Ilya Salmanzadeh.

4. Di mana video musiknya dibuat?

Video musik direkam di Budapest, Hungaria, dan disutradarai Diane Martel.

5. Apakah “Close to Me” sukses secara komersial?

Ya. Lagu mencapai No. 24 Billboard Hot 100, No. 1 Adult Pop Songs, No. 17 di UK Official Singles Chart, serta memperoleh berbagai sertifikasi internasional.

6. Apakah ada kontroversi besar di balik pembuatannya?

Tidak ada konflik besar yang terverifikasi yang menjadi bagian utama sejarah produksi lagu ini. Cerita yang terdokumentasi lebih menunjukkan proses kolaboratif yang berkembang dari sesi penulisan Goulding dan Savan Kotecha menuju produksi Diplo dan kontribusi Swae Lee.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates
Editor : Rizkiyan Akbar
Ellie Goulding Diplo Swae Lee Close to Me