“Titik Nadir” Kahitna dan Monita Tahalea, Kisah Cinta yang Harus Direlakan

Tania Putri Nuraini • Dipublikasikan Kamis, 10 September 2026 | 21:34 WIB
Kahitna bersama Monita Tahalea membawakan “Titik Nadir” dalam perjalanan 40 tahun musik mereka. (BTV/AI)
Kahitna bersama Monita Tahalea membawakan “Titik Nadir” dalam perjalanan 40 tahun musik mereka. (BTV/AI)

Durasi Baca: 7 menit

Ikhtisar: Kahitna dan Monita Tahalea menghadirkan balada tentang kehilangan, cinta yang tertinggal, dan arti ikhlas setelah perpisahan.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Kahitna bersama Monita Tahalea menghadirkan “Titik Nadir”, single yang dirilis pada 24 Juni 2025 dan kembali mendapat perhatian lewat penampilan mereka di konser 40 tahun Kahitna di NICE PIK 2, Tangerang, 5 September 2026.

Ada jenis patah hati yang tidak selesai ketika hubungan berakhir. Justru ketika orang yang pernah dicintai benar-benar melangkah bersama orang lain, proses merelakan terasa jauh lebih rumit. Di ruang emosional itulah “Titik Nadir” bekerja.

Bukan sekadar lagu patah hati

“Titik Nadir” bercerita tentang seseorang yang menyaksikan cinta masa lalunya menikah dengan orang lain. Hubungan itu sudah tidak mungkin kembali, tetapi perasaan yang tertinggal belum ikut berakhir.

Kisah tersebut membuat lagu ini berbeda dari gambaran patah hati yang hanya berhenti pada kehilangan. Ada pertentangan antara apa yang harus dilakukan dan apa yang masih dirasakan.

Secara sederhana, tokohnya tahu bahwa ia harus pergi. Masalahnya, hati belum sepenuhnya bersedia.

Kahitna sendiri memperkenalkan lagu ini sebagai gambaran tentang the next level of ikhlas—sebuah bentuk penerimaan yang tidak lahir karena perasaan sudah hilang, melainkan karena keadaan memaksa seseorang belajar melepaskan.

Yovie Widianto menjelaskan gagasan lagu ini bukan tentang putus cinta yang dramatis, melainkan tentang mencintai dalam diam dan merelakan dengan anggun.

Mengapa Kahitna memilih Monita Tahalea?

Kolaborasi ini mempertemukan dua karakter yang punya kekuatan berbeda.

Kahitna membawa identitas sebagai grup musik yang selama puluhan tahun lekat dengan lagu-lagu bertema cinta. Sementara Monita Tahalea memberikan warna vokal yang lembut, intim, dan reflektif.

Dalam “Titik Nadir”, karakter tersebut tidak terasa seperti tempelan. Kehadiran Monita justru memperkuat suasana lagu yang membutuhkan kelembutan sekaligus luka yang tertahan.

Musica Studios menyebut kolaborasi itu lahir dari kedekatan musikal dan kesesuaian visi. Karakter vokal Monita dinilai cocok untuk menyuarakan kesenyapan dan kepedihan dalam cerita lagu.

Karena itu, formatnya juga penting untuk dipahami: Kahitna adalah grup musik, sedangkan Monita Tahalea merupakan penyanyi solo yang menjadi kolaborator dalam single ini.

Dibangun dari cerita cinta yang sudah tidak punya jalan pulang

Judul “Titik Nadir” menggambarkan posisi emosional paling rendah yang dicapai tokoh dalam lagu.

Cerita dimulai ketika cinta semakin tidak mungkin diraih. Pernikahan orang yang pernah dicintai menjadi batas yang konkret: hubungan masa lalu bukan lagi sekadar sesuatu yang harus dilupakan, tetapi sudah berubah menjadi kehidupan baru bagi orang lain.

Yang membuat ceritanya semakin kuat adalah adanya pertemuan visual di momen pernikahan tersebut. Tokoh dalam lagu masih menyimpan kenangan, bahkan masih membaca adanya perasaan yang belum sepenuhnya selesai.

Di sinilah konflik utamanya muncul.

Bertemu kembali bukan menjadi solusi. Justru pertemuan dapat membuka kembali perasaan yang sedang berusaha ditutup.

Pesan tersebut membuat “Titik Nadir” lebih dekat dengan pengalaman kehilangan yang matang: terkadang seseorang tidak pergi karena sudah tidak mencintai, tetapi karena menyadari bahwa cinta itu tidak lagi bisa dimiliki.

Siapa saja yang berada di balik produksinya?

Komposisi “Titik Nadir” dibuat oleh Yovie Widianto, sementara liriknya ditulis oleh Yovie Widianto dan Arsy Widianto.

Produksi musik ditangani Yovie Widianto dan Adrian Kitut. Aransemen string dikerjakan Ari Renaldi dengan Budapest Scoring Orchestra. Kredit resmi juga mencatat sejumlah musisi tambahan dan tim vokal, rekaman, penyuntingan, mixing, serta mastering dalam proses produksinya.

Kehadiran string orchestra menjadi bagian penting dari warna lagu. Apple Music bahkan mendeskripsikan single ini melalui karakter harmoninya yang kaya unsur orkestral dan menggambarkan rasa sakit dua orang yang dipaksa untuk tetap terpisah.

Dengan demikian, kesan sendu “Titik Nadir” bukan hanya datang dari lirik. Produksi musiknya memang dibangun untuk memperbesar ruang emosional cerita.

24 Juni 2025 menjadi titik awal perjalanan “Titik Nadir”

“Titik Nadir” resmi dirilis pada 24 Juni 2025 melalui Musica Studios. Single tersebut berisi satu lagu berdurasi sekitar empat menit lima detik.

Tanggal tersebut juga menjadi bagian penting dari perjalanan Kahitna karena perilisan lagu bertepatan dengan momentum ulang tahun ke-39 grup tersebut.

Video musik resminya dirilis melalui kanal Musica Studios pada hari yang sama. Sementara video lirik resmi tersedia melalui kanal Kahitna.

Artinya, “Titik Nadir” sejak awal memang diposisikan sebagai karya baru Kahitna bersama Monita Tahalea, bukan lagu lama yang kemudian direkam ulang.

Respons pendengar menunjukkan lagu ini punya umur yang panjang

Setelah dirilis, “Titik Nadir” memperoleh perhatian dari pendengar dan media karena tema kehilangan yang relatif universal.

RRI menggambarkan lagu ini sebagai balada tentang cinta, kehilangan, dan penerimaan, sementara karakter vokal Monita disebut memberikan warna baru dalam musik Kahitna.

Performa digitalnya juga menunjukkan bahwa lagu ini tidak berhenti sebagai rilisan sesaat.

Data yang tampil di Spotify pada September 2026 menunjukkan “Titik Nadir” berada di antara lagu teratas Kahitna, dengan jumlah pemutaran yang tercatat lebih dari 153 juta pada halaman track Spotify yang diakses saat ini.

Di kanal YouTube resmi Musica Studios, video musik “Titik Nadir” juga telah mencapai sekitar 29,8 juta penayangan, sedangkan video lirik resmi Kahitna mencatat sekitar 19,4 juta penayangan.

Angka-angka tersebut memberi gambaran bahwa lagu ini memiliki jangkauan digital yang besar, meskipun popularitas sebuah lagu tidak cukup dinilai hanya dari satu metrik.

Dari rekaman studio kembali ke panggung besar

Momen penting berikutnya datang lebih dari setahun setelah perilisan.

Pada 5 September 2026, Kahitna menggelar konser 40 tahun di NICE PIK 2, Tangerang. Sekitar 18.000 penonton hadir dalam konser tersebut.

Monita Tahalea menjadi salah satu tamu yang tampil dalam konser tersebut.

Yang menarik, “Titik Nadir” tidak sekadar masuk daftar lagu konser. Lagu itu dibawakan langsung oleh Kahitna bersama Monita, di tengah repertoar lagu-lagu yang telah menemani perjalanan panjang grup tersebut.

IDN Times mencatat suasana konser ketika “Titik Nadir” dibawakan bersama Monita sebelum Kahitna melanjutkan pertunjukan dengan “Mantan Terindah”.

Momen tersebut memberi arti baru bagi lagu yang sebelumnya dikenal terutama sebagai rilisan digital.

“Titik Nadir” kini punya pengalaman panggung yang terhubung langsung dengan perjalanan empat dekade Kahitna.

Apa arti lagu ini bagi perjalanan Kahitna?

Kahitna dibentuk pada 1986. Selama empat dekade, identitas mereka sangat kuat pada musik yang berbicara tentang hubungan, cinta, perpisahan, dan perasaan manusia.

“Titik Nadir” menarik karena tidak mencoba meninggalkan identitas tersebut.

Sebaliknya, lagu ini menunjukkan bahwa tema cinta masih dapat diceritakan dari sudut yang lebih dewasa.

Tidak ada kebutuhan untuk membuat patah hati terdengar meledak-ledak. Konfliknya justru terletak pada sesuatu yang lebih sederhana dan lebih sulit: mengetahui bahwa seseorang masih dicintai, tetapi tidak lagi bisa menjadi bagian dari hidup kita.

Di titik itu, “Titik Nadir” terasa seperti kelanjutan alami dari tradisi musikal Kahitna sekaligus memperkenalkan warna baru melalui Monita.

Baca Juga: Teh Hijau Tulus dan Maknanya, Saat Rasa Hampa Tak Perlu Dipaksa Hilang

Mengapa “Titik Nadir” masih relevan pada 2026?

Ada alasan mengapa cerita seperti ini mudah bertahan.

Kehilangan tidak selalu berarti berhenti mencintai. Dalam kehidupan nyata, seseorang bisa menerima kenyataan jauh sebelum perasaannya benar-benar menyusul.

Itulah wilayah emosional yang disentuh “Titik Nadir”.

Lagu ini tidak menawarkan penyelesaian instan. Ia justru mengakui bahwa proses menerima kenyataan dapat berjalan bersamaan dengan sisa perasaan yang belum selesai.

Karena itu, ketika lagu tersebut kembali dinyanyikan pada konser 40 tahun Kahitna, konteksnya menjadi lebih luas. Lagu baru dari 2025 tersebut berdiri berdampingan dengan katalog karya yang telah membentuk perjalanan Kahitna selama puluhan tahun.

Spotify juga masih menempatkan “Titik Nadir” sebagai salah satu track teratas Kahitna pada September 2026.

Poin Penting 

Insight Redaksi

Yang membuat “Titik Nadir” menarik bukan karena Kahitna kembali membuat lagu cinta. Mereka sudah melakukannya berkali-kali.

Nilai penting lagu ini justru terletak pada cara Kahitna mengubah tema lama menjadi pengalaman yang lebih matang. Cinta di sini bukan tentang mendapatkan seseorang, melainkan tentang memahami batas antara masih mencintai dan tetap harus melepaskan.

Itulah sebabnya lagu ini dapat berdiri sebagai karya baru, bukan sekadar nostalgia.

Empat puluh tahun perjalanan Kahitna juga memberi konteks penting: ketika sebuah grup yang dibentuk pada 1986 masih mampu menghasilkan lagu baru yang kemudian dibawakan di panggung perayaan empat dekadenya, katalog lama bukan satu-satunya sumber relevansi mereka.

Mereka masih menciptakan cerita baru.

Dan “Titik Nadir” menjadi salah satu ceritanya.

Kalau pernah berada pada posisi harus merelakan seseorang yang masih dicintai, mungkin kekuatan lagu ini terasa bukan karena ceritanya rumit, tetapi karena perasaannya sangat mudah dikenali.

Bagikan artikel ini jika ada teman yang perlu membaca kisah di balik lagu tersebut.

Kisah musik Indonesia selalu punya cerita lain di balik sebuah lagu. Di balik nada, lirik, dan panggung, ada perjalanan manusia yang membuat sebuah karya akhirnya berarti.

FAQ

Apa itu “Titik Nadir” Kahitna?

“Titik Nadir” adalah single Kahitna yang berkolaborasi dengan Monita Tahalea dan dirilis pada 24 Juni 2025. Lagu ini bercerita tentang kehilangan, cinta yang tidak lagi dapat dimiliki, dan proses mengikhlaskan.

Siapa pencipta “Titik Nadir”?

Musiknya dibuat Yovie Widianto, sedangkan liriknya ditulis Yovie Widianto dan Arsy Widianto. Produksi musik ditangani Yovie Widianto dan Adrian Kitut.

Apakah Kahitna penyanyi solo?

Bukan. Kahitna merupakan grup musik Indonesia, sedangkan Monita Tahalea adalah penyanyi solo yang berkolaborasi dalam “Titik Nadir”.

Kapan “Titik Nadir” pertama kali dirilis?

Single tersebut dirilis pada 24 Juni 2025 melalui Musica Studios.

Apakah Monita Tahalea pernah membawakan “Titik Nadir” bersama Kahitna?

Ya. Monita tampil bersama Kahitna membawakan “Titik Nadir” dalam konser 40 tahun Kahitna di NICE PIK 2, Tangerang, pada 5 September 2026.

Mengapa judulnya “Titik Nadir”?

“Nadir” secara umum merujuk pada titik terendah. Dalam konteks lagu, istilah tersebut menggambarkan kondisi emosional ketika tokohnya menghadapi kenyataan bahwa cinta yang masih dirasakan sudah tidak mungkin dimiliki.

Bagaimana performa digital “Titik Nadir”?

Pada data Spotify yang tampil pada September 2026, track tersebut tercatat telah melampaui 153 juta pemutaran. Video musik resminya di kanal Musica Studios juga telah mencapai sekitar 29,8 juta penayangan.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates
Editor : Arya Kusuma
Kahitna Monita Tahalea Titik Nadir musik indonesia