Durasi Baca: 8 Menit
Ikhtisar: Asmalibrasi Soegi Bornean lahir dari proses kreatif unik, viral, lalu membawa kisah cinta dan polemik royalti.
Balikpapan TV - Hai Ces! Lagu “Asmalibrasi” milik Soegi Bornean menjadi salah satu karya folk-pop Indonesia yang bertahan melewati gelombang viral media sosial.
Yang membuat lagu ini menarik bukan hanya liriknya yang puitis, tetapi perjalanan panjangnya dari karya 2019 hingga menjadi pembicaraan publik bertahun-tahun kemudian.
Bukan Lagu Baru, tetapi Baru Kemudian Meledak
“Asmalibrasi” pertama kali dirilis pada Juli 2019 melalui kanal YouTube Soegi Bornean. Saat itu, lagu tersebut belum menjadi fenomena nasional seperti beberapa tahun setelahnya.
Soegi Bornean sendiri dikenal sebagai grup musik asal Semarang yang membawa warna folk-pop dengan pendekatan lirik yang tidak biasa. Dalam “Asmalibrasi”, mereka memadukan bahasa Indonesia dengan unsur bahasa Jawa dan istilah yang disebut berkaitan dengan Sanskerta.
Judulnya pun lahir dari permainan kata “asmara” dan “terkalibrasi”. Gagasan tersebut menggambarkan hubungan dua orang yang dianggap sudah menemukan kesesuaian atau berada pada “frekuensi” yang sama.
Pada 2022 hingga 2023, lagu ini mengalami gelombang popularitas baru. Media sosial membuat “Asmalibrasi” kembali terdengar di berbagai konten, sementara video musiknya ikut mengalami lonjakan penonton. Pada Februari 2023, detikJateng mencatat video tersebut telah mencapai sekitar 47 juta tayangan.
Menariknya, popularitas itu tidak hanya datang dari musiknya. Lirik yang menggunakan diksi tidak umum justru menjadi bahan perbincangan.
Ada pendengar yang menganggap pilihan katanya indah, sementara sebagian lain merasa beberapa bagian terdengar asing atau sulit dipahami. Perdebatan itu justru ikut membuat lagu semakin sering dibicarakan.
Dari Gagasan Dimec Tirta hingga Menjadi Karya Soegi Bornean
Di balik “Asmalibrasi” terdapat proses kreatif yang melibatkan beberapa orang.
Dalam wawancara dengan detikJateng, manajer Soegi Bornean, Erick, menjelaskan bahwa gagasan awal lirik berasal dari Dimec Tirta. Materi tersebut kemudian dikembangkan dan digarap bersama Erick, Fanny Soegi, Aditya Ilyas, dan Damar.
Keterangan pada video musik resmi Soegi Bornean juga mencantumkan Dimec Tirta sebagai composer, sementara kredit lirik mencantumkan Dimec Tirta, Erick, dan Soegi Bornean. Aransemen dikerjakan Soegi Bornean, sedangkan proses mixing dilakukan Erwin Hadinata di GME Studio.
Proses tersebut menunjukkan bahwa “Asmalibrasi” tidak muncul sebagai satu gagasan yang langsung selesai. Ada proses pengembangan materi, penggabungan ide, aransemen, hingga produksi sebelum akhirnya menjadi rekaman yang dikenal pendengar.
Erick juga menyebut latar belakang anggota Soegi Bornean yang menyukai buku, sastra, dan teater ikut memengaruhi karakter lirik mereka.
Karakter tersebut terasa dalam pemilihan kata “Asmalibrasi”. Alih-alih menggunakan bahasa cinta yang sederhana, lagu ini memilih metafora dan kosakata yang memberi kesan seperti puisi.
Baca Juga: Resident Evil Reboot 2026, Cerita Baru tapi Jiwa Game Masih Terasa Kuat
Mengapa Liriknya Terasa Tidak Biasa?
Inilah salah satu daya tarik terbesar “Asmalibrasi”.
Lagu tersebut tidak menggunakan bahasa percakapan sehari-hari secara dominan. Ada istilah seperti “garwa”, “pambage”, “taksu”, “kalbu”, “renjana”, dan sejumlah pilihan kata lain yang membuat pendengar harus berhenti sejenak untuk memahami konteksnya.
Erick menjelaskan bahwa penggunaan bahasa Jawa dan unsur Sanskerta memang menjadi bagian dari pendekatan mereka. Salah satu istilah yang dijelaskan adalah “taksu”, yang berkaitan dengan mata atau penglihatan serta dapat digunakan untuk menggambarkan pancaran kekuatan atau aura.
Karena itu, “Asmalibrasi” lebih tepat dibaca sebagai karya dengan bahasa puitis daripada lagu yang seluruh pesannya disampaikan secara langsung.
Penelitian akademik yang terbit pada 2025 juga menemukan bahwa lagu ini menarik dari sisi penggunaan diksi dan makna yang dibangun melalui susunan kalimatnya.
Dengan kata lain, bagian yang bagi sebagian pendengar terdengar “aneh” justru merupakan salah satu identitas artistik lagu tersebut.
Baca Juga: The One That Got Away Katy Perry Kembali Jadi Lagu Musim Panas 2026
Makna Besarnya: Cinta yang Sudah Menemukan Kesetaraan
Di balik kata-kata yang rumit, gagasan utama “Asmalibrasi” sebenarnya cukup dekat dengan kehidupan banyak pasangan.
Lagu ini berbicara tentang hubungan yang telah sampai pada tahap keyakinan, komitmen, dan keinginan untuk menyatukan kehidupan.
Erick pernah menjelaskan bahwa “Asmalibrasi” membawa tema cinta yang besar, tetapi juga berbicara tentang komitmen dan kompromi dalam hubungan. Pujian terhadap pasangan menjadi bagian dari cara lagu tersebut menggambarkan relasi romantis.
Pesan itu membuat “Asmalibrasi” kemudian mudah ditempatkan dalam konteks pernikahan.
Bukan semata karena terdengar romantis, tetapi karena inti ceritanya bergerak dari rasa saling cocok menuju keputusan untuk mengikat janji dan menjalani kehidupan bersama.
Kajian akademik lain mengenai makna lagu tersebut juga menempatkannya sebagai gambaran kehidupan menuju pernikahan dan harapan setelah pasangan menjalani kehidupan rumah tangga.
Jadi, ketika pendengar menggunakan lagu ini untuk konten pasangan atau pernikahan, konteksnya sebenarnya sejalan dengan tema utama yang dibangun dalam karya.
Musiknya Tidak Sekadar Mengandalkan Lirik
Ada alasan lain mengapa lagu ini tetap terasa kuat meski liriknya menggunakan banyak istilah yang tidak umum.
Sebuah penelitian musik yang diterbitkan Universitas Negeri Surabaya pada Januari 2026 menganalisis “Asmalibrasi” dari sisi bentuk musik dan estetika. Penelitian tersebut mengidentifikasi bentuk tiga bagian A–B–A' dengan bagian intro, verse, chorus, bridge, interlude, dan coda.
Kajian itu juga mencatat tempo sekitar 80 ketukan per menit dan penggunaan perubahan dinamika, progresi akor, serta struktur frase untuk membangun perjalanan emosional lagu.
Perjalanan tersebut bergerak dari suasana yang relatif tenang menuju bagian yang lebih kuat, kemudian kembali menuju suasana yang lebih lembut.
Artinya, daya tarik “Asmalibrasi” bukan hanya pada kalimat-kalimat romantisnya. Struktur musikal ikut membantu membangun suasana yang membuat pesan cinta dalam lagu terasa lebih utuh.
Baca Juga: The Odyssey Jadi Film Terbaik 2026 Sejauh Ini, Ini Alasan Nolan Dipuji
Ketika Lagu Lama Menemukan Pendengar Baru
Perjalanan “Asmalibrasi” menjadi contoh bagaimana sebuah lagu tidak selalu langsung menemukan puncak popularitas ketika pertama kali dirilis.
Setelah dirilis pada 2019, Soegi Bornean mempromosikannya secara independen. Grup tersebut kemudian menjalani tur delapan kota di Pulau Jawa dalam rangka memperkenalkan “Asmalibrasi” dan sejumlah karya lain. Kota yang disebut antara lain Jakarta, Bogor, Bandung, Purwokerto, Solo, Yogyakarta, Surabaya, dan Malang.
Popularitas yang lebih besar kemudian datang melalui ekosistem digital.
TikTok dan media sosial lainnya membuat potongan lagu dapat digunakan ulang dalam berbagai konteks. Dari sana, lagu yang semula merupakan bagian dari perjalanan musik Soegi Bornean berubah menjadi salah satu karya yang dikenal jauh lebih luas.
Kajian mengenai video musik dan popularitas “Asmalibrasi” mencatat bahwa lagu tersebut bahkan sempat mencapai posisi kedua Weekly Top Songs Indonesia di Spotify pada Oktober 2022.
Fenomena ini memperlihatkan perubahan cara sebuah karya musik menemukan pendengar.
Dulu, radio, televisi, dan promosi label memiliki peran besar. Sekarang, satu potongan lagu yang dianggap cocok dengan sebuah tren dapat membuka pintu menuju pendengar baru dalam jumlah besar.
Popularitas Membawa Lagu ke Babak Baru
Kesuksesan “Asmalibrasi” akhirnya tidak hanya mengubah cara publik melihat lagu tersebut, tetapi juga membawa nama Soegi Bornean semakin dikenal.
Video musik resmi yang saat ini tercantum di kanal YouTube Soegi Bornean telah melewati 98 juta penayangan. Kredit resmi video juga mencantumkan Nino Barkah Indarto sebagai sutradara, produsernya Soegi Bornean, serta sejumlah pihak lain yang terlibat dalam produksi visual.
Popularitas seperti itu membuat sebuah lagu memiliki umur yang lebih panjang daripada sekadar periode promosi awal.
Namun, semakin besar sebuah karya, semakin besar pula perhatian terhadap orang-orang yang berada di belakangnya.
Dan pada 2024, perjalanan “Asmalibrasi” memasuki babak yang berbeda.
Baca Juga: Paket Santet Tayang di Bioskop, Debut Horor Dinna Jasanti Bawa Teror dari Kiriman Misterius
Polemik Royalti di Balik Lagu yang Sangat Populer
Pada September 2024, mantan vokalis Soegi Bornean, Fanny Soegi, mengungkap persoalan royalti melalui media sosial.
Fanny menyatakan bahwa distribusi royalti “Asmalibrasi” tidak transparan dan menyinggung kondisi salah satu pencipta lagu, Dhimas Tirta Frananta atau Dimec Tirta. Ia juga menyebut nilai royalti lagu tersebut telah mencapai lebih dari Rp500 juta. Pernyataan tersebut merupakan klaim Fanny dan menjadi pemicu polemik publik.
Pihak Soegi Bornean kemudian memberikan klarifikasi.
Band tersebut menyatakan pembagian royalti dilakukan berdasarkan nominal yang telah disepakati dan menyebut Fanny selalu dilibatkan dalam keputusan terkait pembagian royalti. Mereka juga menyatakan siap melakukan rekonsiliasi dengan bantuan ahli apabila diperlukan.
Dengan demikian, polemik tersebut perlu ditempatkan sebagai perselisihan mengenai distribusi royalti, bukan sebagai kesimpulan bahwa telah terjadi pelanggaran yang terbukti.
Perbedaan pernyataan kedua pihak menjadi bagian dari perjalanan “Asmalibrasi” setelah lagu tersebut sukses secara komersial.
Menariknya, persoalan itu juga menunjukkan sisi lain industri musik yang sering tidak terlihat oleh pendengar: kesuksesan sebuah lagu tidak hanya berkaitan dengan jumlah pendengar, tetapi juga menyangkut hak ekonomi dan hubungan antara pencipta, performer, serta manajemen.
Baca Juga: the cure Olivia Rodrigo, Makna Cinta yang Tak Bisa Menyelesaikan Semua Luka
Dari Lagu Viral Menjadi Bagian dari Perjalanan Musik Indonesia
Ada ironi kecil dalam perjalanan “Asmalibrasi”.
Lagu yang berbicara tentang kesetaraan, komitmen, dan menyatukan ego justru kemudian hadir dalam perdebatan mengenai pembagian hak ekonomi di balik karya tersebut.
Namun, kontroversi itu tidak menghapus posisi lagu sebagai karya yang telah memiliki perjalanan panjang.
“Asmalibrasi” sudah melewati beberapa fase: lahir dari proses kreatif pada 2019, dirilis secara independen, menemukan pendengar melalui pertunjukan dan promosi, kembali meledak melalui media sosial, menjadi bagian dari budaya pernikahan, kemudian memasuki perdebatan tentang royalti.
Perjalanan tersebut membuat lagu ini lebih menarik daripada sekadar “lagu viral TikTok”.
Ia menjadi contoh bagaimana sebuah karya dapat memiliki kehidupan kedua setelah bertahun-tahun dirilis.
Mengapa Asmalibrasi Masih Dibicarakan?
Salah satu alasan terbesarnya adalah karena lagu ini menawarkan beberapa pintu masuk sekaligus.
Pendengar pertama mungkin datang karena melodinya. Pendengar lain tertarik karena liriknya. Ada yang menemukan lagu ini melalui TikTok, ada yang mengenalnya dari konten pernikahan, sementara sebagian lainnya baru memperhatikannya setelah polemik mengenai royalti.
Di sisi akademik, karya ini bahkan masih menjadi objek penelitian. Studi yang terbit pada 2026 menunjukkan bahwa “Asmalibrasi” masih relevan untuk dibaca dari sisi struktur musikal dan estetika.
Itulah salah satu ciri karya yang memiliki umur panjang.
Sebuah lagu tidak harus selalu berada di puncak tangga popularitas untuk tetap hidup. Selama pendengar masih menemukan alasan untuk mendengarkannya, menafsirkannya, menggunakan konteksnya, atau memperdebatkan maknanya, karya tersebut masih memiliki ruang dalam ingatan publik.
Poin Penting
-
“Asmalibrasi” dirilis Soegi Bornean pada 2019 dan kemudian mengalami lonjakan popularitas beberapa tahun setelahnya.
-
Gagasan awal lirik berasal dari Dimec Tirta dan kemudian dikembangkan bersama sejumlah personel serta pihak Soegi Bornean.
-
Judul “Asmalibrasi” berkaitan dengan gagasan “asmara” yang telah “terkalibrasi” atau menemukan kesesuaian.
-
Tema utamanya berkaitan dengan cinta, komitmen, kompromi, kesetiaan, dan perjalanan menuju kehidupan bersama.
-
Popularitas lagu meningkat melalui media sosial dan platform digital.
-
“Asmalibrasi” kemudian menjadi bagian dari perdebatan mengenai royalti pada 2024, dengan pernyataan berbeda dari Fanny Soegi dan pihak Soegi Bornean.
-
Kajian musik terbaru pada 2026 menunjukkan karya ini masih menarik diteliti dari sisi struktur, dinamika, harmoni, dan estetika.
Insight Redaksi
“Asmalibrasi” menunjukkan bahwa perjalanan sebuah lagu tidak berhenti ketika tombol rilis ditekan.
Sebuah karya bisa tumbuh perlahan, menemukan pendengar bertahun-tahun kemudian, menjadi bagian dari kebiasaan budaya populer, lalu membuka pembicaraan yang lebih besar tentang pencipta dan industri musik.
Di situlah nilai sebuah lagu mulai melampaui melodinya.
Bagikan artikel ini kepada teman yang masih sering memutar “Asmalibrasi”, dan ikuti terus informasi terbaru dari balikpapantv.id sebagai teman update setia Ces!
FAQ
1. Apa arti Asmalibrasi?
“Asmalibrasi” merupakan permainan kata yang berasal dari gagasan “asmara telah terkalibrasi”, menggambarkan hubungan yang telah menemukan kesesuaian atau berada pada frekuensi yang sama.
2. Kapan Asmalibrasi dirilis?
“Asmalibrasi” dirilis pada 2019. Sumber resmi Soegi Bornean mencantumkan video musiknya pada Juli 2019, sementara sejumlah pemberitaan mencatat 21 Juli 2019 sebagai tanggal rilis digital.
3. Siapa pencipta Asmalibrasi?
Kredit resmi video musik mencantumkan Dimec Tirta sebagai composer dan Dimec Tirta, Erick, serta Soegi Bornean pada kredit lirik.
4. Mengapa Asmalibrasi viral?
Popularitasnya berkembang melalui platform digital dan media sosial, terutama ketika lagu tersebut kembali ditemukan dan digunakan dalam berbagai konten setelah beberapa tahun sejak dirilis.
5. Apakah Asmalibrasi lagu tentang pernikahan?
Tema lagunya berkaitan erat dengan pasangan yang telah menemukan kesesuaian, komitmen, kesetiaan, dan keinginan menuju kehidupan bersama. Karena itu, lagu ini kemudian banyak diasosiasikan dengan momen pernikahan.
6. Apa polemik yang pernah muncul terkait Asmalibrasi?
Pada 2024 muncul polemik mengenai distribusi royalti. Fanny Soegi menyampaikan keberatan mengenai transparansi pembagian royalti, sedangkan Soegi Bornean menyatakan pembagian telah dilakukan sesuai kesepakatan dan membuka kemungkinan rekonsiliasi dengan bantuan ahli.