Secukupnya Hindia: Lagu yang Mengubah Rasa Gagal Jadi Ruang untuk Bernapas

Wafiq Azizah Amru • Dipublikasikan Sabtu, 5 September 2026 | 18:30 WIB
Potret santai Hindia (Baskara Putra) berjaket hitam yang tampil kasual dengan senyuman hangatnya. (BTV/Ai)
Potret santai Hindia (Baskara Putra) berjaket hitam yang tampil kasual dengan senyuman hangatnya. (BTV/Ai)

Durasi Baca: 8 Menit

Ikhtisar: Secukupnya karya Hindia membingkai kegagalan, tekanan, dan kesedihan sebagai pengalaman manusia yang layak dirasakan tanpa berlebihan.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! “Secukupnya” karya Hindia menjadi salah satu lagu Indonesia yang kuat mengangkat kegagalan, tekanan hidup, dan kebutuhan manusia untuk memberi ruang bagi dirinya sendiri. Lagu ini dirilis sebagai singel pada 3 Mei 2019 dan kemudian menjadi bagian dari album Menari Dengan Bayangan.

Yang membuat lagu ini bertahan bukan sekadar melodinya yang mudah diingat. Ada gagasan sederhana tetapi dekat dengan kehidupan banyak orang: ketika masalah terasa terlalu banyak, seseorang tidak selalu membutuhkan jawaban; terkadang ia hanya membutuhkan izin untuk merasa sedih.

Dari Baskara Putra ke Hindia, Ada Cerita yang Lebih Personal

Hindia merupakan nama panggung Daniel Baskara Putra, yang sebelumnya dikenal sebagai vokalis grup .Feast. Proyek solonya kemudian menjadi ruang bagi Baskara untuk menyampaikan cerita dan kegelisahan dengan pendekatan yang berbeda dari karya-karya bandnya.

“Secukupnya” hadir setelah “Evaluasi”, yang juga menjadi bagian penting dari fase awal perjalanan Hindia. Keduanya memiliki kedekatan tema karena sama-sama berbicara mengenai manusia yang berhadapan dengan tekanan dan kenyataan hidup.

Namun, “Secukupnya” tidak ditempatkan sebagai lagu yang menawarkan solusi instan. Justru kekuatannya terletak pada pengakuan bahwa manusia bisa gagal, kecewa, kehilangan arah, dan tetap membutuhkan waktu untuk memproses semuanya.

Kredit lagu mencatat Baskara Putra dan Adhe Arrio sebagai pencipta, dengan Adhe Arrio terlibat sebagai produser. Petra Sihombing juga tercatat dalam kredit komposisi dan berkontribusi pada permainan gitar, sementara Wisnu Ikhsantama W. menangani bagian teknis audio pada versi album.

Mengapa “Secukupnya” Dibuat?

Ada satu konteks penting dalam kelahiran lagu ini: Baskara tidak ingin ditempatkan sebagai sosok yang selalu mampu menyelamatkan orang lain dari kesedihan.

Setelah “Evaluasi” mendapat respons dari pendengar yang merasa dikuatkan, muncul kesadaran bahwa dirinya juga manusia biasa. Ia pun dapat mengalami kegagalan dan kesulitan.

Dari titik itulah “Secukupnya” terasa berbeda. Lagu ini tidak berbicara dari posisi seseorang yang sudah menemukan seluruh jawaban, melainkan dari seseorang yang sama-sama sedang menjalani kehidupan.

Pesannya kemudian menjadi lebih manusiawi. Kesedihan tidak harus segera diperbaiki. Kegagalan tidak selalu harus segera diberi makna. Ada fase ketika seseorang cukup mengakui bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja.

Baca Juga: “Say No” Tasya Kamila Viral Lagi, Dari Lagu Remaja 2011 hingga Tren Musik 2026

Musik Modern untuk Membicarakan Kesedihan

Secara musikal, “Secukupnya” tercatat dalam wilayah indie pop dan memiliki tempo sekitar 101 BPM. Kredit musik mencatat Adhe Arrio sebagai produser, dengan Petra Sihombing pada gitar serta Adhe Arrio pada synthesizer.

Pilihan musik tersebut menarik karena tema yang dibawa sebenarnya berat. Ada kegagalan, tekanan ekonomi, hubungan yang menjauh, persoalan keluarga, sampai rasa kehilangan arah.

Namun, Hindia tidak membungkusnya sebagai balada yang sepenuhnya muram.

Ada energi dalam aransemen yang membuat kesedihan terasa bergerak. Pendengar tidak hanya diajak duduk di dalam masalah, tetapi seperti diajak melewati masalah tersebut bersama-sama.

Di sinilah salah satu kekuatan artistik “Secukupnya” muncul. Musik dan gagasannya tidak berjalan sebagai dua elemen terpisah.

Kesedihan tetap ada, tetapi musik memberikan ruang agar pendengar tidak tenggelam terlalu lama di dalamnya.

Liriknya Tidak Menjanjikan Hidup Akan Mudah

Tema terbesar “Secukupnya” bukanlah kebahagiaan instan.

Lagu ini berbicara mengenai batas dalam merasakan sesuatu. Kesedihan boleh hadir, tetapi tidak harus mengambil alih seluruh kehidupan.

Gagasan tersebut terasa dari cara lagu menggambarkan tekanan yang sangat dekat dengan keseharian: pekerjaan, kebutuhan ekonomi, validasi, keluarga, hubungan, kenangan masa lalu, hingga kegagalan.

Karena itu, “Secukupnya” tidak terasa seperti motivasi yang datang dari luar.

Ia justru terdengar seperti percakapan dengan seseorang yang sedang mengalami hal serupa.

Kalimat-kalimat dalam lagu mengingatkan bahwa manusia tidak selalu harus terlihat kuat. Ada saat ketika menangis, kecewa, atau mengambil jeda merupakan bagian dari proses menghadapi keadaan.

Baca Juga: “Right There” Ariana Grande dan Big Sean: Kisah Romantis, R&B 90-an, dan Referensi Romeo-Juliet

Kenapa kata “secukupnya” terasa begitu kuat?

Kata tersebut bekerja sebagai gagasan utama sekaligus batas emosional.

Bukan berarti seseorang harus mengabaikan masalah. Sebaliknya, masalah tetap perlu dirasakan dan dihadapi, tetapi manusia juga perlu mengenali kapan dirinya sudah terlalu jauh terseret oleh kesedihan.

Itulah yang membuat judulnya sederhana tetapi memiliki ruang tafsir luas.

“Secukupnya” dapat berarti bersedih secukupnya, berharap secukupnya, mengingat masa lalu secukupnya, bahkan menuntut diri sendiri secukupnya.

Pesan seperti ini terasa relevan bagi generasi yang hidup dengan tekanan untuk terus produktif, berhasil, terlihat baik-baik saja, dan mendapatkan validasi.

Ketika “Secukupnya” Masuk ke Film NKCTHI

Perjalanan lagu ini berubah ketika “Secukupnya” digunakan sebagai salah satu soundtrack film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini atau NKCTHI.

ANTARA melaporkan bahwa sutradara Angga Dwimas Sasongko memilih lagu tersebut untuk menggambarkan karakter Awan yang mulai mengalami dinamika kehidupan, termasuk jatuh, bangun, dan menghadapi kegagalan sebagai bagian dari proses pendewasaan.

Konteks film membuat makna lagu memperoleh lapisan baru.

Jika didengarkan sebagai karya mandiri, “Secukupnya” berbicara kepada pendengar secara personal. Ketika ditempatkan dalam cerita NKCTHI, pesan tersebut mendapatkan visual dan karakter yang membuat persoalan keluarga serta proses pendewasaan terasa semakin konkret.

Video lirik untuk kebutuhan soundtrack film tersebut dirilis melalui kanal YouTube Visinema Pictures pada 1 Januari 2020. Video itu menggabungkan foto-foto adegan film dengan animasi karya Arief Khoirul Alim.

Penempatan lagu dalam film juga menunjukkan bahwa kekuatan “Secukupnya” bukan hanya pada pesan individual. Tema yang dibawanya dapat masuk ke cerita keluarga, hubungan, dan fase kehidupan yang lebih luas.

Baca Juga: The Boy Is Mine Ariana Grande: Makna Lagu, Fantasi Cinta, dan Sisi “Bad Girl” yang Mengejutkan

Ada Dua Perjalanan Visual yang Membuat Lagu Ini Makin Dikenal

“Secukupnya” memiliki perjalanan visual yang tidak berhenti pada satu bentuk.

Video musiknya diarahkan oleh Val Edgina dan menggunakan material visual yang berkaitan dengan rekaman keluarga serta cerita penggemar. Versi video lirik yang kemudian dikaitkan dengan NKCTHI menghadirkan pendekatan visual berbeda melalui potongan adegan film dan animasi.

Perbedaan tersebut menarik karena lagu yang sama dapat memperoleh pengalaman emosional berbeda melalui medium visual.

Versi pertama lebih dekat dengan pengalaman personal dan keseharian.

Sementara versi soundtrack mempertemukan lagu dengan karakter serta konflik dalam sebuah film keluarga.

Keduanya memperluas cara pendengar memahami karya tanpa harus mengubah inti pesannya.

Dari Singel 2019, Masuk ke Album Menari Dengan Bayangan

“Secukupnya” pertama kali hadir sebagai singel pada 3 Mei 2019 melalui Sun Eater. Beberapa bulan kemudian, lagu tersebut masuk ke album perdana Hindia, Menari Dengan Bayangan, yang dirilis pada 29 November 2019.

Album tersebut berisi 15 lagu dan menempatkan “Secukupnya” sebagai salah satu bagian dari rangkaian cerita musikal Hindia mengenai kehidupan manusia.

Posisinya menjadi menarik jika dilihat bersama lagu-lagu lain dalam album. “Secukupnya” bukan karya yang berdiri sendirian dari gagasan besar Hindia tentang kehidupan, tekanan, hubungan, dan pencarian makna.

Ia menjadi salah satu potongan dari dunia yang sedang dibangun Baskara melalui proyek solonya.

Baca Juga: Die On This Hill Mengantar Sienna Spiro dari Viral Menuju Panggung Dunia

Respons Pendengar Membawa Lagu Ini ke Perjalanan Panjang

Dampak “Secukupnya” dapat terlihat dari keberadaannya dalam berbagai platform dan playlist musik Indonesia.

Spotify saat ini mencatat lagu tersebut telah melewati 490 juta pemutaran, sebuah angka yang menunjukkan umur panjang karya sejak pertama kali dirilis pada 2019.

Lagu ini juga tercatat pernah mencapai posisi ke-11 dalam Billboard Indonesia Top 100.

Angka streaming memang tidak sepenuhnya menjelaskan mengapa sebuah lagu bertahan. Namun, ketika sebuah lagu dari 2019 masih memperoleh ratusan juta pemutaran bertahun-tahun kemudian, ada indikasi bahwa relevansinya tidak berhenti pada momentum awal.

“Secukupnya” bahkan terus muncul dalam playlist pendengar dan daftar lagu yang digunakan untuk berbagai kegiatan musik hingga 2026.

Artinya, karya tersebut tidak hanya memiliki umur popularitas yang pendek.

Baca Juga: Aku Jeje Rilis “Ceritanya Jatuh Cinta”, Lagu tentang Berani Membuka Hati Setelah Patah Hati

Mengapa Lagu Ini Begitu Dekat dengan Anak Muda?

Ada satu alasan sederhana: persoalan yang dibicarakan tidak terasa jauh.

Tekanan ekonomi, kebutuhan mencari pekerjaan, keinginan mendapatkan pengakuan, masalah keluarga, hubungan yang berubah, dan kegagalan merupakan pengalaman yang dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.

Namun, “Secukupnya” tidak mencoba mengklaim bahwa semua orang mengalami persoalan yang sama.

Kekuatan lagu justru berada pada ruang yang diberikannya kepada pendengar untuk menemukan pengalaman masing-masing.

Bagi seseorang, lagu ini mungkin berbicara tentang pekerjaan.

Bagi orang lain, tentang keluarga.

Bagi yang lain lagi, tentang hubungan yang berakhir atau masa lalu yang belum sepenuhnya selesai.

Satu lagu dapat menjadi banyak cerita karena pengalaman pendengarnya berbeda.

“Secukupnya” Bukan Ajakan untuk Menyerah

Pesan lagu ini juga penting untuk tidak disalahartikan.

Memberi ruang bagi kesedihan bukan berarti menyerah terhadap kehidupan. Sebaliknya, pengakuan bahwa seseorang sedang terluka dapat menjadi bagian dari proses menghadapi keadaan secara lebih jujur.

Ada perbedaan antara menerima bahwa diri sedang lelah dan berhenti berusaha selamanya.

“Secukupnya” berada pada ruang pertama.

Ia mengingatkan bahwa manusia tidak harus menyelesaikan seluruh persoalan hidup dalam satu waktu.

Dalam konteks inilah judul lagu menjadi semacam prinsip sederhana: rasakan yang perlu dirasakan, tetapi jangan biarkan satu kegagalan mendefinisikan seluruh hidup.

Baca Juga: Red Taylor Swift: Ketika Lagu Cinta Tak Lagi Hitam Putih, tetapi Penuh Ledakan Emosi

Dari Lagu Menjadi Ruang Aman untuk Pendengar

Karya musik yang bertahan biasanya memiliki sesuatu yang bisa dibawa pendengar ke dalam kehidupannya sendiri.

“Secukupnya” memiliki kualitas tersebut.

Ia tidak memberikan resep kehidupan. Tidak pula memosisikan Hindia sebagai orang yang selalu memiliki jawaban.

Justru karena itulah lagu ini terasa dekat.

Pendengar tidak sedang diberi ceramah tentang bagaimana seharusnya menjalani hidup. Mereka seperti sedang ditemani oleh seseorang yang mengakui bahwa hidup memang bisa berantakan.

Dan mungkin, itulah alasan lagu ini masih terdengar relevan bertahun-tahun setelah dirilis.

Ketika dunia menuntut seseorang untuk terus bergerak, “Secukupnya” memberikan izin untuk berhenti sejenak dan mengakui perasaan sendiri.

Poin Penting

Insight Redaksi

“Secukupnya” punya kekuatan justru karena tidak menjual kesempurnaan. Baskara menghadirkan manusia yang bisa gagal, kemudian membiarkan pendengar menentukan sendiri arti kehilangan dan pemulihan. Di tengah budaya yang sering mengukur diri dari pencapaian, pesan seperti ini terasa penting: kada semua persoalan harus selesai hari ini. Kadang, memberi ruang untuk bernapas adalah bentuk keberanian juga.

Kalau lagi capek menghadapi semuanya, dengarkan lagunya tanpa buru-buru mencari jawaban.

Bagikan artikel ini ke kawalan yang mungkin sedang membutuhkan satu pengingat sederhana bahwa merasa sedih bukan berarti gagal.

Kalau satu lagu bisa menemani kita melewati masa sulit tanpa menggurui, mungkin “Secukupnya” memang masih punya tempat; selalu Update info hanya di Balikpapan Tv teman update setia, bukan sekadar info biasa!

FAQ

1. Kapan lagu “Secukupnya” dari Hindia dirilis?

“Secukupnya” dirilis sebagai singel pada 3 Mei 2019 melalui Sun Eater.

2. “Secukupnya” masuk album apa?

Lagu tersebut menjadi bagian dari album perdana Hindia, Menari Dengan Bayangan, yang dirilis pada 29 November 2019.

3. Siapa pencipta lagu “Secukupnya”?

Kredit musik mencatat Baskara Putra dan Adhe Arrio sebagai pencipta, dengan Petra Sihombing juga tercantum dalam kredit penulisan pada sejumlah katalog musik.

4. Mengapa “Secukupnya” digunakan dalam film NKCTHI?

Angga Dwimas Sasongko memilihnya untuk menggambarkan perjalanan Awan ketika menghadapi dinamika hidup, kegagalan, dan proses pendewasaan.

5. Berapa banyak pemutaran “Secukupnya” di Spotify?

Halaman Spotify lagu tersebut mencatat lebih dari 490 juta pemutaran.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates
Editor : Arya Kusuma
Hindia Secukupnya NKCTHI musik indonesia