Durasi Baca: 6 Menit
Ikhtisar: EVAN membuka karier solonya lewat RIDE OR DIE, karya dua lagu yang memperlihatkan identitas musik dan emosinya.
Balikpapan TV - Hai Ces! EVAN resmi membuka perjalanan solo pada 22 Juni 2026 lewat digital single RIDE OR DIE, setelah sebelumnya dikenal sebagai Heeseung ENHYPEN.
Peralihan ini bukan sekadar pergantian nama panggung, tetapi menjadi kesempatan EVAN memperkenalkan arah musikal yang ingin dibangunnya sendiri.
Dari Heeseung ENHYPEN Menuju EVAN
EVAN sebelumnya beraktivitas sebagai Heeseung bersama ENHYPEN sejak debut grup tersebut pada 2020.
Pada Maret 2026, ia meninggalkan grup untuk mengejar perjalanan musik sebagai solois dan tetap berada di bawah BELIFT LAB.
Nama EVAN kemudian menjadi identitas baru yang digunakan ketika ia memulai babak karier solonya pada tahun yang sama.
Perubahan tersebut membuat RIDE OR DIE memiliki konteks penting karena menjadi karya pertama yang memperkenalkan EVAN secara mandiri.
Bagi pendengar lama, rilisan ini sekaligus menjadi kesempatan melihat sisi musikal yang sebelumnya hadir dalam format grup.
Namun, proyek tersebut tidak diarahkan sekadar untuk mempertahankan identitas masa lalu sebagai anggota boy group.
BELIFT LAB menggambarkan RIDE OR DIE sebagai awal perjalanan musikal EVAN sekaligus gambaran dunia musik yang ingin dibangunnya.
Baca Juga: Film Danur, The Last Chapter Tembus 3,6 Juta Penonton, Puncaki Box Office 2026
Mengapa Judulnya “Ride or Die”?
Istilah ride or die dalam penggunaan bahasa Inggris menggambarkan kesetiaan untuk tetap bersama seseorang hingga akhir.
Makna tersebut dipakai EVAN sebagai bagian dari arah artistiknya ketika memasuki perjalanan sebagai penyanyi solo.
Menariknya, gagasan lagu tersebut berawal dari pengalaman sederhana ketika EVAN melihat video pertunjukan sebuah band rock melalui media sosial.
Dari pertunjukan itu muncul keinginannya mencoba musik yang terasa lebih mentah, bebas, dan tidak terlalu dibatasi.
Dalam wawancara dengan ORICON, EVAN menjelaskan bahwa ia ingin membuang kecemasan serta keraguan ketika mengerjakan lagu tersebut.
Pilihan itu kemudian menghasilkan lagu dengan energi rock yang cukup berbeda dari citra idol pop yang melekat pada perjalanan sebelumnya.
Di titik ini, judul Ride or Die terasa seperti pernyataan artistik tentang keberanian mengikuti arah yang benar-benar ingin dijalani.
Bukan hanya tentang hubungan dengan orang lain, judul tersebut juga dapat dibaca sebagai simbol komitmen terhadap perjalanan musikal barunya.
Dua Lagu, Dua Sisi Emosi EVAN
Digital single RIDE OR DIE berisi dua lagu, yaitu Ride or Die sebagai title track dan Overflow sebagai B-side.
Keduanya sengaja membawa atmosfer berbeda sehingga pendengar tidak hanya mendapatkan satu warna musikal dari debut EVAN.
Ride or Die bergerak dalam wilayah alternative rock dengan fondasi pop-rock dan tambahan elemen hyperpop.
Karakter tersebut diperkuat riff gitar elektrik, dentuman drum, melodi bertekstur kasar, serta vokal EVAN yang terdengar tajam.
Lagu ini membawa emosi cinta yang intens dan sulit dikendalikan, sekaligus menyimpan pesan personal untuk penggemarnya.
Sementara itu, Overflow mengambil arah yang lebih lembut melalui easy-listening indie pop dengan tekstur lo-fi.
Kontras kedua lagu membuat rilisan ini terasa seperti pengenalan terhadap dua sisi emosional EVAN dalam satu proyek singkat.
Spotify mencatat rilisan tersebut berisi dua lagu dengan durasi keseluruhan sekitar lima menit.
| Lagu | Posisi | Karakter Musik | Durasi |
|---|---|---|---|
| Ride or Die | Title track | Alternative rock, pop-rock, hyperpop | 2:15 |
| Overflow | B-side | Indie pop, easy listening | 2:52 |
Perbedaan tersebut menjadi salah satu kekuatan utama rilisan karena EVAN tidak mengunci debutnya pada satu formula suara.
Baca Juga: When I Was Your Man Bruno Mars Ternyata Sangat Personal, Ini Kisah di Balik Lagu Penuh Penyesalan
EVAN Ikut Membentuk Musik dan Visualnya
Salah satu aspek penting RIDE OR DIE berada di balik proses pembuatannya.
EVAN tidak hanya tampil sebagai vokalis, tetapi ikut terlibat dalam penulisan, komposisi, produksi, dan arah kreatif visual proyek tersebut.
Keterlibatan tersebut membuat single ini memiliki posisi berbeda dibanding proyek yang hanya menempatkan penyanyi sebagai performer.
BELIFT LAB menyebut EVAN turut berperan dalam keseluruhan proses kreatif, termasuk produksi rekaman dan visual creative direction.
Pada Ride or Die, keputusan memilih alternative rock juga berkaitan dengan keinginan EVAN mengeksplorasi musik yang terasa lebih spontan.
Ia mengatakan proses tersebut dimulai setelah melihat penampilan band rock dan merasakan dorongan untuk mencoba pendekatan serupa.
Sementara itu, konsep visual memperlihatkan ruang studio atau atelier sebagai tempat yang merepresentasikan proses kreatif dan sisi personal seorang musisi.
Konsep tersebut menempatkan EVAN di antara instrumen dan perangkat audio, memperkuat gambaran bahwa musik menjadi pusat identitas barunya.
Dengan demikian, RIDE OR DIE tidak berhenti sebagai debut vokal, tetapi juga memperkenalkan EVAN sebagai kreator.
Baca Juga: All Too Well Taylor Swift: Dari Patah Hati Jadi Lagu 10 Menit yang Tak Lekang oleh Waktu
Pesan EVAN Bukan Sekadar Soal Cinta
Secara permukaan, Ride or Die memang membawa emosi tentang keinginan kuat terhadap seseorang.
Namun, materi resmi BELIFT LAB juga menempatkan pesan untuk penggemar sebagai bagian penting dari lagu tersebut.
EVAN sendiri mengatakan musik yang ia buat diharapkan dapat memberikan harapan dan penghiburan kepada banyak orang.
Ia bahkan berharap musiknya bisa menjadi sesuatu yang memberi kekuatan bagi seseorang yang sedang menjalani masa sulit.
Pernyataan tersebut memberi konteks tambahan ketika pendengar membaca tema kesetiaan dalam Ride or Die.
Ada hubungan antara pesan lagu, hubungan artis dengan penggemar, dan perjalanan pribadi EVAN memasuki fase karier baru.
Karena itu, single ini dapat dipahami sebagai pengenalan diri sekaligus komunikasi emosional kepada orang-orang yang mengikuti perjalanannya.
EVAN juga menggambarkan kehidupan sebagai proses menemukan diri sendiri melalui perjalanan yang terus berjalan.
Dalam konteks debut solo, gagasan tersebut terasa relevan karena ia sedang membangun identitas yang tidak lagi bergantung pada format grup.
Baca Juga: “the cure” , Olivia Rodrigo Ketika Cinta Tak Lagi Dianggap Sebagai Obat untuk Semua Luka
Setelah Rilis, EVAN Langsung Membawa Musiknya ke Panggung
RIDE OR DIE dirilis pada 22 Juni 2026 pukul 18.00 waktu Korea Selatan melalui platform streaming digital.
Pada hari yang sama, video musik Ride or Die juga diperkenalkan kepada publik bersama perilisan single.
Perjalanan lagunya kemudian berlanjut ke panggung langsung, bukan hanya berhenti pada distribusi digital.
Pada 26 Juni, EVAN menggelar The Fillin’ Live with EVAN di kawasan Yeouido Hangang Park, Seoul.
Penampilan tersebut memperlihatkan dua wajah rilisan melalui Ride or Die yang agresif dan Overflow yang lebih emosional.
ORICON melaporkan area pertunjukan dipenuhi penggemar dan warga yang berhenti menyaksikan penampilannya.
Pertunjukan tersebut juga disiarkan melalui kanal YouTube musik it's Live dan ditonton sekitar 10 ribu orang secara daring.
Momentum panggung tersebut penting karena memberikan kesempatan EVAN menguji identitas solonya secara langsung di hadapan pendengar.
Dari studio menuju panggung, RIDE OR DIE mulai berfungsi sebagai fondasi untuk membangun hubungan baru antara EVAN dan audiensnya.
Baca Juga: Longlegs Hadirkan Misteri FBI dan Okultisme dalam Thriller Psikologis Hollywood
Apa Arti “RIDE OR DIE” bagi Karier EVAN?
Debut solo selalu membawa tantangan tersendiri, terutama ketika seorang artis sudah memiliki sejarah kuat bersama grup besar.
EVAN memasuki fase tersebut dengan membawa pengalaman sebagai Heeseung sekaligus mencoba melepaskan batasan identitas sebelumnya.
RIDE OR DIE menunjukkan bahwa ia memilih memperkenalkan diri melalui keterlibatan kreatif dan eksplorasi genre.
Alternative rock pada title track memberikan warna keras, sedangkan Overflow menunjukkan bahwa sisi lembut tetap menjadi bagian dari identitasnya.
Kontras tersebut membuat single ini lebih berfungsi sebagai pernyataan awal daripada kesimpulan tentang gaya musik EVAN.
Bahkan, EVAN sendiri meminta pendengar membayangkan sosoknya di masa depan melalui dua lagu yang terdapat dalam single tersebut.
Artinya, proyek ini sengaja membuka ruang untuk perkembangan berikutnya.
Dan perkembangan itu memang berlanjut ketika EVAN kemudian dijadwalkan merilis mini album pertama bertajuk DEATH OF ME pada 7 September 2026.
Jika RIDE OR DIE adalah pintu masuk, maka proyek berikutnya menjadi kesempatan untuk melihat seberapa jauh identitas musikal tersebut berkembang.
Poin Penting
-
EVAN merupakan nama panggung baru Heeseung setelah keluar dari ENHYPEN.
-
RIDE OR DIE menjadi digital single debut solo EVAN pada 22 Juni 2026.
-
Single tersebut berisi dua lagu, Ride or Die dan Overflow.
-
Ride or Die memadukan alternative rock, pop-rock, dan elemen hyperpop.
-
Overflow menghadirkan warna indie pop yang lebih lembut.
-
EVAN terlibat dalam penulisan, komposisi, produksi, dan kreativitas visual.
-
Pesan rilisan berkaitan dengan ekspresi diri, harapan, penghiburan, dan hubungan dengan penggemar.
-
Debut tersebut kemudian dibawa ke panggung melalui The Fillin’ Live with EVAN.
Insight Redaksi
RIDE OR DIE menarik bukan karena sekadar menandai perpindahan Heeseung menjadi EVAN, melainkan karena memperlihatkan keberanian mengambil kendali kreatif. Dua lagu dengan karakter kontras menjadi semacam kartu nama pertama. Nah, di sinilah menariknya: EVAN tidak buru-buru mengunci dirinya pada satu genre, tetapi membuka ruang eksplorasi yang bisa menentukan wajah solonya ke depan.
Kalau ingin mengenal EVAN, jangan cuma dengarkan bagian yang paling keras. Coba bandingkan Ride or Die dengan Overflow, lalu rasakan dua sisi musikalnya.
Bagikan artikel ini ke kawalan yang lagi mengikuti perjalanan solo EVAN, biar sama-sama tahu bagaimana babak barunya dimulai.
Kalau penasaran sejauh mana EVAN bakal membawa warna musiknya setelah debut ini, jangan ketinggalan update musik terbaru hanya di Balikpapan TV teman update setia, bukan sekadar info biasa!
FAQ
1. Kapan EVAN merilis “Ride or Die”?
EVAN merilis digital single RIDE OR DIE pada 22 Juni 2026 pukul 18.00 KST.
2. Siapa EVAN sebelum menjadi solois?
EVAN sebelumnya dikenal sebagai Heeseung, anggota ENHYPEN yang debut bersama grup tersebut pada 2020.
3. Berapa lagu dalam single “RIDE OR DIE”?
Single tersebut berisi dua lagu, yaitu Ride or Die dan Overflow.
4. Genre apa yang digunakan EVAN dalam “Ride or Die”?
Title track tersebut menggabungkan alternative rock dengan fondasi pop-rock dan elemen hyperpop.
5. Apakah EVAN terlibat dalam pembuatan lagunya?
Ya. EVAN terlibat dalam penulisan, komposisi, produksi, serta arah kreatif visual proyek tersebut.
6. Apa pesan utama yang ingin disampaikan EVAN?
EVAN berharap musiknya dapat memberikan harapan dan penghiburan, sekaligus menjadi bagian dari proses menemukan dirinya sebagai artis.