deja vu Olivia Rodrigo dan Kisah Mantan yang Berubah Jadi Pop Penuh Sindiran

Tania Putri Nuraini • Dipublikasikan Jumat, 4 September 2026 | 12:34 WIB
Olivia Rodrigo tampil dalam era musik “deja vu” dengan nuansa pop yang menggambarkan nostalgia dan kecemburuan. (BTV/AI)
Olivia Rodrigo tampil dalam era musik “deja vu” dengan nuansa pop yang menggambarkan nostalgia dan kecemburuan. (BTV/AI)

Durasi Baca: 8 menit

Ikhtisar: deja vu Olivia Rodrigo memadukan kisah mantan, kecemburuan, pop cerah, kontroversi kredit, dan perjalanan karier hingga 2026.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! “deja vu” Olivia Rodrigo dirilis pada 1 April 2021 sebagai single kedua SOUR, membawa kisah mantan dan kecemburuan dengan kemasan pop yang ringan.

Yang bikin lagu ini masih menarik dibahas bukan cuma kisah mantan, tetapi cara Olivia mengubah rasa tidak nyaman menjadi pop yang catchy, sinis, dan punya identitas kuat.

Ketika kenangan lama muncul dalam hubungan baru

“deja vu” menggambarkan situasi ketika seseorang melihat mantannya melakukan kebiasaan yang dulu terasa khusus, tetapi kini dilakukan bersama pasangan baru.

Konsep déjà vu dipakai Olivia sebagai metafora untuk mempertanyakan apakah pengalaman romantis mereka benar-benar unik.

Alih-alih sekadar meratapi kehilangan, tokoh dalam lagu justru mempertanyakan orisinalitas sang mantan.

Ada kecemburuan di sana. Namun, sindirannya diarahkan kepada mantan yang dianggap mengulang pola hubungan, bukan menjadikan perempuan baru sebagai musuh. Pitchfork membaca pilihan tersebut sebagai salah satu kekuatan naratif lagu.

Karena itu, “deja vu” terasa seperti kombinasi nostalgia, sakit hati, ego, dan humor tipis.

Kalimat sumber yang menarik untuk menggambarkan karakter lagu ini adalah “patah hati yang dinyanyikan dengan nada yang tak segera terasa sedih.”

Olivia Rodrigo tidak berhenti pada formula “drivers license”

“deja vu” hadir setelah “drivers license” menciptakan ledakan besar pada awal 2021.

Pada saat itu, Olivia baru berusia 18 tahun dan masih dikenal luas sebagai aktris melalui produksi Disney, termasuk Bizaardvark serta High School Musical: The Musical: The Series.

Tekanan terhadap single kedua cukup besar karena publik sedang bertanya apakah keberhasilan “drivers license” hanya fenomena sesaat.

Pitchfork justru menilai “deja vu” memberi tanda bahwa Olivia memiliki kemampuan membangun karakter musikal sendiri, bukan sekadar mengulang formula lagu sebelumnya.

Secara artistik, perbedaannya terasa jelas. “drivers license” tampil sebagai curahan patah hati, sedangkan “deja vu” membawa sikap yang lebih sarkastis dan bermain-main.

Kontras itu menjadi penting dalam membentuk identitas Olivia sebagai singer-songwriter pop yang mampu berpindah dari kerentanan menuju sindiran tanpa kehilangan sisi personal.

Dari catatan pribadi menjadi lagu yang direkam

“deja vu” ditulis Olivia Rodrigo bersama Dan Nigro dan kemudian diproduksi Nigro.

Data kredit mencatat Rodrigo sebagai vokalis sekaligus penulis, sedangkan Nigro menangani produksi serta sejumlah instrumen dan vokal latar. Jam City, Ryan Linvill, dan Sterling Mitchell Laws juga tercatat berkontribusi pada bagian instrumental.

Proses rekamannya berlangsung di Amusement Studios, Los Angeles, sementara bagian drum direkam di Heavy Duty Studios, Burbank. Mixing dilakukan Mitch McCarthy dan mastering oleh Randy Merrill.

Secara musikal, lagu tersebut tidak dibangun sebagai balada patah hati konvensional. Produksinya menggabungkan elemen pop dengan tekstur yang memberi ruang bagi vokal Olivia untuk terdengar ringan sekaligus menyimpan ketegangan.

Pilihan itu penting karena emosi lagunya bukan hanya sedih. Ada rasa ingin tahu, kesal, malu, cemburu, dan sedikit kemenangan ketika Olivia menyadari sang mantan mungkin hanya mengulang kebiasaan lama.

Ada pengaruh Taylor Swift di balik bagian lagu

Satu drama kreatif muncul setelah Olivia menjelaskan bahwa bagian tertentu dari “deja vu” terinspirasi oleh “Cruel Summer” milik Taylor Swift.

Olivia secara terbuka menyebut dirinya menyukai karakter vokal pada bagian tersebut. Setelah itu, Taylor Swift, Jack Antonoff, dan Annie Clark alias St. Vincent masuk ke kredit penulisan “deja vu” pada Juli 2021.

Peristiwa tersebut bukan berarti Olivia tidak menjadi penulis utama lagu. Kredit resmi justru memperlihatkan bagaimana pengaruh musikal dapat berujung pada persoalan atribusi dalam industri rekaman.

Kasus ini menarik karena memperlihatkan bahwa proses membuat lagu pop modern tidak berhenti ketika rekaman selesai. Kredit, hak cipta, interpolasi, dan pengakuan terhadap sumber inspirasi juga bisa menjadi bagian dari perjalanan sebuah lagu.

Rilis 2021 langsung mengubah posisi Olivia

“deja vu” dirilis pada 1 April 2021 melalui Geffen Records dan Interscope Records sebagai single kedua dari SOUR. Album tersebut kemudian resmi keluar pada 21 Mei 2021 dengan 11 lagu.

Respons awal menunjukkan bahwa pendengar tidak melihat “deja vu” sebagai pengulangan “drivers license”.

Lagu tersebut justru membawa warna berbeda, terutama melalui produksi yang lebih psychedelic dan karakter vokal yang terasa santai namun menyengat.

Penampilan live juga segera menjadi bagian dari promosi. Vevo LIFT menerbitkan penampilan “deja vu” pada Mei 2021, sementara MTV Push kemudian menampilkan versi live lagu tersebut.

Momentum itu membantu memperkuat Olivia sebagai penyanyi yang mampu menerjemahkan lagu studio ke panggung.

Performa komersialnya bukan sekadar numpang lewat

“deja vu” debut di posisi kedelapan Billboard Hot 100 dan kemudian mencapai posisi ketiga setelah SOUR dirilis. Pencapaian tersebut menjadikan Olivia artis pertama yang dua single pertamanya masuk 10 besar Hot 100.

Aspek Catatan
Rilis single 1 April 2021
Album SOUR
Posisi debut Billboard Hot 100 No. 8
Puncak Billboard Hot 100 No. 3
Produser Dan Nigro
Penulis utama Olivia Rodrigo dan Dan Nigro
Kredit tambahan Taylor Swift, Jack Antonoff, St. Vincent
Durasi lagu Sekitar 3 menit 35 detik

Performa tersebut menunjukkan bahwa kekuatan “deja vu” bukan hanya berasal dari cerita personal.

Lagu ini berhasil menemukan titik temu antara pengalaman patah hati yang mudah dikenali dan produksi pop yang cukup khas untuk membedakannya dari single sebelumnya.

Kontroversi kredit justru menambah cerita di belakang lagu

Masuknya Taylor Swift, Jack Antonoff, dan St. Vincent ke kredit penulisan menjadi salah satu episode paling banyak dibicarakan setelah lagu dirilis.

Hubungannya berkaitan dengan pengakuan Olivia mengenai inspirasi dari “Cruel Summer”, terutama karakter vokal pada bagian tertentu. Kredit tersebut kemudian tercatat secara resmi pada platform musik.

Namun, perlu membedakan antara inspirasi musikal, interpolasi, dan tuduhan plagiarisme. Ketiganya bukan istilah yang otomatis memiliki arti sama.

Dalam konteks “deja vu”, sumber yang tersedia secara jelas mendukung adanya pengaruh “Cruel Summer” dan perubahan kredit penulisan. Menyebutnya sebagai plagiarisme sebagai fakta akan terlalu jauh tanpa dasar hukum atau pernyataan resmi yang mendukung.

Kasus ini justru memberi pelajaran menarik bagi pendengar muda: lagu pop yang terdengar sederhana dapat mempunyai persoalan kreatif dan legal yang cukup rumit di belakangnya.

Dari SOUR ke GUTS, karakter Olivia makin terbentuk

Setelah SOUR, Olivia merilis album kedua, GUTS, pada 2023.

Periode tersebut membawa perkembangan musikal yang terasa melalui pendekatan pop-rock, energi panggung, dan tema tentang proses tumbuh sebagai anak muda.

Perjalanan GUTS kemudian dibawa ke panggung melalui GUTS World Tour pada 2024–2025.

Jika “deja vu” memperkenalkan Olivia sebagai penyanyi dengan kemampuan bercerita tentang hubungan, era GUTS memperlihatkan bahwa identitasnya tidak bergantung pada satu tema atau satu formula musik.

Perubahan tersebut menjadi bagian penting dalam membaca posisi Olivia pada 2026.

2026 membawa Olivia ke fase musikal baru

Pada 12 Juni 2026, Olivia merilis album studio ketiganya, you seem pretty sad for a girl so in love, melalui Geffen Records. Album regulernya berisi 13 lagu.

Daftar lagunya mencakup “drop dead”, “stupid song”, “honeybee”, “maggots for brains”, “u + me = <3”, “my way”, “purple”, “the cure”, “begged”, “what’s wrong with me”, “less”, “expectations”, dan “cigarette smoke”. Versi tertentu juga menghadirkan “never do” sebagai bonus track.

Album tersebut memperlihatkan bahwa perjalanan Olivia sudah bergerak jauh dari fase SOUR.

Pada September 2026, ia juga tampil di Grammy Museum Los Angeles dalam rangkaian kegiatan terkait album baru dan pameran “Olivia Rodrigo: the cure unraveled.”

Perubahan ini menarik jika dibandingkan dengan “deja vu”. Lagu 2021 berbicara tentang seseorang yang melihat masa lalunya muncul dalam kehidupan mantan. Pada 2026, Olivia sudah mempunyai katalog, panggung, dan dunia kreatif yang jauh luas.

Daisy Chain Fields menunjukkan pengaruh Olivia sudah bergeser

Pada 29 Agustus 2026, Olivia menyelenggarakan Daisy Chain Fields di Great Park, Irvine, California.

Festival tersebut menghadirkan jajaran artis perempuan lintas generasi, termasuk Chappell Roan, Doechii, Bikini Kill, Garbage, Mitski, Sarah McLachlan, Alanis Morissette, dan Stevie Nicks.

Festival itu juga mempunyai misi sosial. Associated Press melaporkan kegiatan tersebut mengumpulkan sekitar US$20 juta untuk organisasi yang mendukung kesehatan, hak, dan perlindungan perempuan.

Di titik ini, perkembangan karier Olivia terasa cukup jelas.

Ia bukan lagi hanya artis yang mendapatkan panggung dari festival atau promotor lain. Ia mulai membangun ruang pertunjukannya sendiri sekaligus menghubungkan musik dengan kegiatan sosial.

Itu menjadi salah satu perbedaan paling mencolok antara Olivia era “deja vu” dan Olivia pada 2026.

Baca Juga: The One That Got Away Katy Perry Kembali Jadi Lagu Musim Panas 2026

The Unraveled Tour membawa era baru ke panggung

Setelah periode GUTS World Tour, Olivia memasuki tur berikutnya, The Unraveled Tour, untuk mendukung album ketiganya.

Live Nation mengumumkan tur tersebut pada 30 April 2026 dengan 65 tanggal di Amerika Utara, Eropa, dan Inggris. Tur dijadwalkan dimulai pada 25 September 2026 di Hartford, Connecticut.

Jadwal tersebut juga mencakup beberapa pertunjukan dalam satu kota, termasuk rangkaian konser di Los Angeles, Brooklyn, dan London.

Artinya, per 3 September 2026, tur tersebut belum dimulai. Informasi yang menyebutnya sebagai konser yang sudah dijalankan perlu dibedakan dari pertunjukan dan kegiatan promosi Olivia sepanjang musim panas 2026.

Apa arti perjalanan ini bagi pendengar?

Bagi pendengar yang mengenal Olivia dari “deja vu”, perubahan tersebut memperlihatkan satu hal penting: lagu lama tidak harus menjadi batas identitas seorang musisi.

“deja vu” tetap menjadi bagian penting dari katalog Olivia karena memperlihatkan kemampuan menulis tentang rasa sakit dengan cara yang tidak sepenuhnya murung.

Sementara itu, perkembangan hingga 2026 menunjukkan bagaimana keberhasilan sebuah lagu dapat menjadi pintu menuju album, tur, panggung festival, dan proyek budaya yang jauh luas.

Poin Penting

Insight Redaksi

“deja vu” menarik bukan karena kisah mantannya semata, melainkan karena Olivia mengubah pengalaman personal menjadi bahasa pop yang gampang dikenali. Dari Balikpapan, pelajar sampai pekerja muda bisa memahami sensasi ketika kenangan terasa diulang orang lain. Karya ini menunjukkan satu hal: lagu patah hati bisa punya humor, karakter, dan daya tahan budaya.

Kalau pernah merasa kisah lama seperti diputar ulang orang lain, lagu ini masih enak dibaca sebagai cermin, bukan sekadar soundtrack.

Bagikan artikel ini ke teman yang masih suka membedah makna lagu Olivia, siapa tahu obrolannya jadi panjang sampai malam.

Mau terus ngikutin cerita musik, artis, tren pop, dan kabar terbaru yang lagi ramai dibahas? Update terus hanya di Balikpapan TV teman update setia, bukan sekadar info biasa!

FAQ

1. Kapan “deja vu” Olivia Rodrigo dirilis?

“deja vu” dirilis pada 1 April 2021 dan menjadi single kedua dari album SOUR.

2. Siapa penulis dan produser “deja vu”?

Olivia Rodrigo dan Dan Nigro merupakan penulis utama, dengan Nigro sebagai produser. Kredit kemudian mencantumkan Taylor Swift, Jack Antonoff, dan St. Vincent.

3. Apakah “deja vu” bercerita tentang mantan?

Ya. Intinya adalah rasa cemburu ketika mantan melakukan kebiasaan romantis yang dahulu dilakukan bersama Olivia dengan pasangan barunya.

4. Mengapa Taylor Swift mendapat kredit di “deja vu”?

Olivia menyatakan bahwa bagian tertentu terinspirasi oleh “Cruel Summer”. Kredit Swift, Antonoff, dan St. Vincent kemudian ditambahkan secara resmi.

5. Apakah Olivia masih aktif bermusik pada 2026?

Ya. Album ketiganya dirilis pada 12 Juni 2026 dan The Unraveled Tour dijadwalkan mulai 25 September 2026.

6. Apa proyek besar Olivia pada Agustus 2026?

Ia menyelenggarakan Daisy Chain Fields di Irvine, California, festival musik yang menggabungkan pertunjukan dengan dukungan terhadap organisasi perempuan.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates
Editor : Support
Olivia Rodrigo deja vu SOUR Dan Nigro