Pria Paruh Baya di Kutim Tewas Diterkam Buaya, Begini Kronologinya!
Rizkiyan Akbar• Senin, 22 Desember 2025 | 16:27 WIB
Koneksi Informasi Sehari-hari, Teman Update Setia
Balikpapan TV - Hai Cess! Seorang pria berinisial BB (45) ditemukan tewas pada Senin pagi (22 Desember 2025) di tepian Sungai Bengalon, Kutai Timur (Kutim), tak jauh dari lokasi awal ia dilaporkan hilang sehari sebelumnya. Sungai yang lebar, pepohonan rimbun, serta aliran air yang tenang di permukaan namun menyimpan bahaya, membuat peristiwa ini menyisakan duka mendalam bagi bubuhan warga Bengalon.
Temuan jenazah ini langsung menyita perhatian, apalagi proses pencarian dilakukan sejak malam sebelumnya. Nah, biar ikam lebih paham alurnya, yuk lanjut baca sampai habis Cess!
Apa yang Terjadi Saat Korban Terakhir Kali Terlihat di Sungai Bengalon?
Peristiwa ini bermula pada Minggu sore sekitar pukul 18.00 Wita. Korban bersama dua rekannya sedang memasang jaring ikan di Sungai Bengalon RT 01. Korban turun langsung ke air untuk membentangkan jaring, sementara dua rekannya tetap berada di atas pematang. Aktivitas memancing seperti ini memang lazim dilakukan warga setempat, apalagi sungai menjadi tumpuan banyak kebutuhan sehari-hari.
Tak lama setelah kaki korban menyentuh air, seekor buaya tiba-tiba muncul dan langsung menerkamnya. Situasi berubah cepat, membuat dua rekannya panik dan tak dapat berbuat banyak. Korban sempat berteriak meminta pertolongan, namun kondisi sekitar gelap dan aliran sungai yang luas membuat upaya penyelamatan tidak memungkinkan. Pahamlah ikam, di suasana genting begitu, bubuhan yang melihat pun pasti kebingungan.
Setelah korban tak lagi terlihat di permukaan air, saksi segera melaporkan kejadian tersebut kepada keluarga dan warga sekitar. Informasi itu diteruskan ke Polsek Bengalon yang langsung datang ke lokasi, mencatat keterangan saksi, dan mengaktifkan koordinasi pencarian dengan pihak terkait.
Bagaimana Upaya Pencarian Dilakukan Hingga Korban Ditemukan?
Malam itu, upaya pencarian terhambat minimnya pencahayaan dan kondisi sungai yang cukup membatasi pergerakan tim di lapangan. Petugas dan warga tetap mencoba melakukan pemantauan, namun gelapnya suasana membuat pergerakan sangat terbatas. Di kawasan sungai yang tenang tetapi dalam, setiap langkah harus ekstra hati-hati Cess.
Keesokan paginya, pencarian dilanjutkan dengan lebih terarah. Sekitar pukul 08.45 Wita, jenazah korban akhirnya ditemukan tak jauh dari lokasi awal kejadian. Kondisinya membuat bubuhan keluarga langsung larut dalam kesedihan. Korban kemudian dievakuasi menuju Puskesmas 110 Desa Tepian Baru sebelum diserahkan ke pihak keluarga untuk proses pemulasaraan.
Kapolsek Bengalon AKP Asriadi menyampaikan bahwa laporan saksi menjadi kunci awal pencarian. Ia menjelaskan proses kejadian secara apa adanya dan memastikan bahwa seluruh langkah penanganan dilakukan sesuai prosedur untuk memastikan keluarga menerima informasi yang jelas dan pasti.
Mengapa Konflik Manusia dan Satwa Liar Sering Terjadi di Wilayah Ini?
Peristiwa ini kembali menambah daftar kasus konflik manusia dengan satwa liar di kawasan sungai Bengalon. Wilayah Kutai Timur, terutama area perairan dan bantaran sungai, diketahui menjadi habitat alami buaya. Ketika warga melakukan aktivitas harian seperti memasang jaring, mandi, atau melintas dengan perahu, potensi pertemuan dengan satwa liar ini selalu ada.
Kapolres Kutai Timur AKBP Fauzan Arianto menunjukkan keprihatinan mendalam atas musibah menimpa Beddu Bolong.
“Kami menyampaikan duka cita yang mendalam atas peristiwa ini. Semoga keluarga korban diberi ketabahan dan kekuatan dalam menghadapi musibah yang menimpa,” ucapnya.
Ia juga menegaskan perlunya peningkatan kewaspadaan masyarakat saat beraktivitas di wilayah sungai yang diketahui masih menjadi habitat buaya. Faktor geografi dan lingkungan menjadi alasan utama mengapa interaksi manusia dan satwa kerap terjadi, dan hal ini perlu dipahami bersama.
Apa Imbauan Penting untuk Warga Agar Lebih Waspada?
Kapolres Kutai Timur menjelaskan bahwa masyarakat perlu memahami risiko yang ada di wilayah perairan.
“Kami mengimbau masyarakat agar menjauhi aktivitas di sungai, khususnya pada sore hingga malam hari, serta segera melapor kepada kepolisian atau aparat desa jika melihat tanda-tanda keberadaan satwa buas,” pungkasnya.
Imbauan ini menjadi pengingat penting bagi bubuhan warga di sekitar Bengalon dan wilayah Kutim lainnya, terutama yang masih menggantungkan aktivitas harian di sungai. Menghindari waktu-waktu rawan, memperhatikan tanda-tanda pergerakan satwa, dan segera melapor adalah langkah sederhana namun sangat menentukan keselamatan.
Yuk, bagikan artikel ini ke bubuhan ikam supaya makin banyak yang waspada Cess!
Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapan TV teman update setia, 'Bukan Sekadar Info Biasa!'
FAQ
1. Apakah Sungai Bengalon memang habitat buaya?
Ya. Berdasarkan informasi dari kepolisian, beberapa wilayah perairan di Kutai Timur masih merupakan habitat alami buaya.
2. Kenapa korban sulit diselamatkan saat kejadian?
Karena situasi gelap, panik, dan kondisi sungai tidak memungkinkan upaya penyelamatan cepat.
3. Kapan warga disarankan menghindari aktivitas di sungai?
Terutama pada sore hingga malam hari sesuai imbauan kepolisian.
DISCLAIMER
Artikel ini menggunakan bantuan AI secara terbatas untuk menghasilkan tulisan bebas typo dan kalimat tidak efektif, menghindari pengulangan kata dan paralelisme yang tidak tepat. Artikel ini telah melalui verifikasi dan validasi ketat oleh Manusia (Redaksi). Teknologi AI digunakan semata-mata sebagai alat bantu produktivitas dan efisiensi kerja redaksi — bukan sebagai pengganti peran jurnalis manusia.
Warga mengevakuasi jasad korban di tepian Sungai Bengalon, Kutai Timur, Senin (22 Desember 2025). Editor : Arya Kusuma