Balikpapantv.id - Hai Cess! Kalau kamu pikir yang raksasa cuma ada di dongeng, ternyata di Kutai Timur ada juga yang bikin mata melotot. Yup, pohon ulin raksasa ini ukurannya nggak main-main! Udah berdiri gagah lebih dari seribu tahun, diameternya aja sampai 2,47 meter. Tapi, anehnya, wisatawan lokal malah adem ayem. Lho, kenapa ya?
Sejarah Penemuan Ulin Raksasa yang Bikin Dunia Terpana
Pohon ulin raksasa ini pertama kali ditemukan oleh peneliti flora asal Jepang, Watanabe, pada tahun 1993. Bareng Rektor Universitas Ujung Pandang kala itu, Nengah Wirawan, mereka mendokumentasikan pohon ini sebagai salah satu pohon terbesar di dunia. Eits, bukan lebay ya, soalnya ulin seukuran ini emang cuma ada di Indonesia, Malaysia, dan Thailand.
Lokasinya di Tengah Hutan, Tapi Worth It Banget! Kalau kamu mau lihat langsung pohon ulin super ini, perjalananmu dimulai dari Kantor Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Sangata. Dari situ, kamu harus trekking santai sejauh 800 meter masuk ke hutan hujan tropis. Tapi jangan khawatir, petugas dari TNK bakal menemani kamu sampai ke spotnya. Jadi, aman dan berasa petualangan banget!
Ukuran yang Bikin Melongo: Tinggi 30 Meter, Diameter 2,47 Meter!
Bayangin aja, batang pohonnya gede banget sampai bisa jadi background foto rame-rame. Nggak heran kalau wisatawan asing dari Jepang, Inggris, Jerman, Hungaria, Kanada, sampai Amerika Serikat rela datang cuma buat melihat dari dekat si ulin legendaris ini.
"Ini pohon tertua jenis ulin terbesar di dunia. Diameter 2,47 meter dan diperkirakan ada banyak pohon lain sejenis berdiameter besar, dengan usia diperkirakan 1.000 tahun," ujar petugas pengaman Hutan TNK bernama Sarju.
Baca Juga: Rumah Minimalis Anti Stres: Solusi Tenang di Tengah Hiruk Pikuk Kota
Pertumbuhannya Lambat, Tapi Umurnya Panjang Banget
Sarju juga menjelaskan kalau pertumbuhan pohon ulin itu super pelan. Dalam setahun, diameter pohon ini cuma nambah sekitar 0,8 milimeter aja. Jadi nggak heran kalau sampai segede itu butuh waktu ribuan tahun. Benar-benar sabar ya, pohonnya!
Ironis, Wisatawan Asing Semangat, Wisatawan Lokal Malah Malu-Malu Yang bikin miris, justru wisatawan lokal jarang banget yang datang. Padahal, pohon ini bisa dibilang warisan hidup yang harusnya bikin bangga. Sarju bilang:
"Ada turis Jepang, Inggris, Hungaria, Jerman, Kanada sampai Amerika Serikat yang datang ke sini, melihat dari dekat pohon ulin ini. Justru sebaliknya, turis domestik dalam negeri minim kunjungan ke sini."
Ancaman Nyata: Pembalakan Liar dan Nilai Ekonomi yang Tinggi
Sayangnya, keberadaan pohon ini juga jadi incaran para pembalak liar. Kepala Seksi Pengelolaan TNK Wilayah I Sangata, Hernowo Supriyanto, menjelaskan bahwa kayu ulin dihargai sangat tinggi, bisa mencapai Rp 7 juta per kubiknya. Waduh!
"Pohon ulin ini menjadi primadona perambah hutan dan pembalak liar dengan harga jual bisa mencapai Rp 7 juta perkubiknya. Tidak sedikit kita temukan tumpukan kayu ulin yang sudah diolah dan siap jual. Ini benar-benar kondisi yang memprihatinkan tapi fakta ini terjadi di TNK," kata Hernowo.
Langkah Perlindungan yang Terus Diperkuat
Untuk menghadapi ancaman ini, petugas TNK rutin melakukan patroli dan memperkuat pengawasan. Edukasi kepada masyarakat sekitar juga dilakukan supaya mereka sadar betapa pentingnya menjaga pohon langka ini. Tapi tentu aja, peran kita sebagai wisatawan juga nggak kalah penting, ya Cess!
Yuk, Jadi Bagian dari Pelestarian Ulin! Kalau kamu suka traveling, suka alam, dan cinta lingkungan, coba deh masukin Taman Nasional Kutai ke bucket list kamu. Selain bisa lihat langsung pohon ulin yang legendaris, kamu juga ikut menyuarakan pentingnya pelestarian alam Indonesia. Biar nggak cuma bule aja yang peduli!
"Sudah waktunya warisan alam kita nggak cuma dibanggakan oleh orang luar, tapi juga kita sendiri. Jangan nunggu viral dulu, baru bangga!"
Jadi gimana, Cess? Yuk bagikan artikel ini ke teman-teman kamu biar makin banyak yang tahu dan peduli sama kekayaan alam kita yang luar biasa ini.
Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapantv.id, 'Bukan Sekedar Berita Biasa!'
(maelani)