Durasi Baca: 3 Menit
Ikhtisar: GPS, sensor BBM, RFID, dan CCTV mengawal operasional 73 dump truck DLH Samarinda.
Balikpapan TV - Hai Ces! Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Samarinda mencatat efisiensi konsumsi BBM 8 persen pada semester pertama 2026 setelah memperketat pengawasan armada pengangkut sampah operasional di lapangan.
Namun, perangkat GPS dan sensor BBM baru terpasang pada 30 dari 73 dump truck yang beroperasi saat ini. Bagaimana perjalanan sopir, penggunaan bahan bakar, hingga ritase kendaraan kini dipantau?
Setiap Perjalanan Truk Sampah Mulai Tercatat Digital
Pengawasan armada pengangkut sampah di Samarinda kini tidak hanya mengandalkan pencatatan pengisian bahan bakar. DLH menerapkan enam mekanisme untuk memantau penggunaan BBM sekaligus aktivitas kendaraan ketika menjalankan tugas.
Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 (PSLB3) DLH Kota Samarinda Muhammad Taufiq Fajar menjelaskan, langkah pertama dimulai dari pengaturan waktu pengangkutan pada malam hari.
"Pertama kami mengoptimalkan waktu pengangkutan sampah di malam hari. Tujuannya adalah mengurangi kemacetan, memotong waktu tempuh sehingga dengan efisiensi waktu tempuh tadi otomatis penggunaan BBM akan berkurang," ujar Taufiq.
Pengaturan tersebut ditujukan untuk mengurangi waktu perjalanan kendaraan ketika melintasi jalan yang padat pada jam aktivitas masyarakat.
Selain jadwal operasional, DLH memasang GPS Tracker yang terhubung dengan sensor BBM pada 30 unit dump truck. Perangkat tersebut mengirimkan informasi pergerakan kendaraan dan perubahan volume bahan bakar melalui dashboard pemantauan.
Baca Juga: Tiga Kali Mediasi Tidak Sepakat, Hak Mantan Pekerja Olympic Group di Samarinda Menunggu Kepastian
Sensor BBM Bisa Mendeteksi Penurunan Volume Mendadak
Sensor BBM menjadi salah satu perangkat yang digunakan untuk mengamati pola konsumsi bahan bakar kendaraan.
Menurut Taufiq, pemakaian normal memperlihatkan penurunan volume BBM secara bertahap pada grafik pemantauan. Sementara itu, penurunan mendadak menjadi indikator dugaan pengurasan atau pengetapan bahan bakar.
"Contohnya ketika pemakaian rutin, grafiknya akan bergerak melandai. Jadi ketika ada indikasi pengurasan atau pengetapan BBM, grafik langsung turun lurus ke bawah. Itu sudah dipastikan terjadi pengurasan BBM," tambahnya.
Informasi dari sensor tersebut menjadi bagian dari pemantauan operasional kendaraan. Indikasi yang muncul pada grafik dapat diperiksa melalui sistem pengawasan yang digunakan DLH.
Pengendalian juga diterapkan ketika sopir melakukan pengisian bahan bakar di SPBU. DLH menggunakan kartu Radio Frequency Identification (RFID) untuk menggantikan mekanisme pembayaran tunai.
Melalui kartu tersebut, pengisian BBM tercatat secara digital sesuai ketentuan kuota dan penggunaan kendaraan dinas.
Pemkot Samarinda mulai memberlakukan kartu RFID pada 19 Januari 2026. Wakil Wali Kota Samarinda Saefuddin Zuhri menyerahkan kartu tersebut kepada perwakilan pengemudi armada DLH dalam apel di kantor dinas.
Baca Juga: Chindy Tewas dalam Kecelakaan Truk Tangki, Warga Pertanyakan Jam Operasional Truk di Samarinda
Dua hingga Empat Ritase Sopir Dipantau di TPA Sambutan
Pengawasan tidak berhenti ketika kendaraan selesai mengisi BBM atau menjalankan perjalanan. DLH juga memasang kamera CCTV dan mesin absensi berbasis pengenalan wajah di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Sambutan.
Kedua fasilitas tersebut digunakan untuk memantau aktivitas kendaraan ketika tiba di lokasi pemrosesan sampah.
Setiap sopir memiliki kewajiban ritase atau jumlah perjalanan yang berbeda. Penentuannya mengikuti jenis kendaraan dan jarak tempuh menuju TPA.
"Satu hari ada yang dua rit, ada yang tiga rit, ada yang empat rit, tergantung jenis kendaraan dan jarak tempuhnya ke TPA," jelas Taufiq.
Setiap kali menyelesaikan ritase, sopir wajib melakukan pemindaian wajah. Pencatatan tersebut digunakan untuk memverifikasi penyelesaian perjalanan sesuai penugasan.
CCTV juga digunakan untuk memantau kondisi kendaraan ketika tiba di TPA, termasuk aktivitas pengangkutan dan muatan sampah yang dibawa.
Dengan demikian, aktivitas sopir dan kendaraan dapat diperiksa melalui catatan perjalanan, pemantauan bahan bakar, transaksi pengisian, serta dokumentasi di lokasi pemrosesan.
Baca Juga: Ubin amblas di kawasan pedestrian Teras Samarinda, Ini Jawaban Pemkot
Efisiensi BBM Tercatat 8 Persen, Target Akhir Tahun di Atas 10 Persen
Penerapan sistem pengawasan tersebut dilaporkan menghasilkan efisiensi konsumsi BBM sebesar 8 persen berdasarkan volume liter selama semester pertama 2026.
Taufiq menegaskan bahwa angka tersebut mengacu pada jumlah bahan bakar yang digunakan, bukan penghematan anggaran dalam rupiah.
"Kita tidak bicara budget karena ada kenaikan harga Dexlite yang signifikan. Tapi kalau dari liter BBM-nya, itu sudah ada efisiensi di angka 8 persen," ungkapnya.
Saat ini, DLH Samarinda mengoperasikan 73 unit dump truck. Dari jumlah tersebut, 30 kendaraan sudah dilengkapi GPS Tracker dan sensor BBM, sedangkan 43 unit lainnya belum menggunakan kedua perangkat tersebut.
DLH menargetkan efisiensi konsumsi BBM dapat melampaui 10 persen pada akhir 2026.
"Mudah-mudahan bisa di atas 10 persen, tapi nanti tetap kita evaluasi. Kami tunggu datanya di akhir tahun nanti supaya ada gambaran keseluruhannya," pungkas Taufiq.
Target tersebut masih menunggu evaluasi akhir tahun untuk mengetahui capaian penggunaan bahan bakar armada pengangkut sampah secara keseluruhan.
Poin Penting
-
DLH Samarinda menerapkan enam mekanisme pengawasan BBM dan operasional armada.
-
GPS Tracker dan sensor BBM sudah terpasang pada 30 dari 73 dump truck.
-
Pengisian BBM menggunakan kartu RFID untuk pencatatan transaksi.
-
CCTV dan absensi wajah digunakan untuk memantau aktivitas sopir di TPA Sambutan.
-
Efisiensi konsumsi BBM semester pertama 2026 tercatat 8 persen berdasarkan volume liter.
-
Target efisiensi akhir tahun 2026 berada di atas 10 persen.
Insight Redaksi
Pengawasan armada sampah tidak cukup hanya menghitung jumlah kendaraan dan anggaran bahan bakar. Setiap perjalanan, transaksi BBM, dan penyelesaian ritase juga perlu tercatat. Digitalisasi yang dilakukan DLH Samarinda membuka ruang pengelolaan operasional yang lebih terukur. Tantangan berikutnya adalah memastikan cakupan pengawasan dan hasil efisiensinya dapat dievaluasi secara menyeluruh.
Pengalaman Samarinda juga menjadi informasi menarik bagi daerah lain di Kalimantan Timur yang mengelola armada pengangkut sampah.
Setiap liter BBM merupakan bagian dari biaya pelayanan publik. Penggunaannya perlu sejalan dengan pekerjaan yang benar-benar dijalankan.
Balikpapan TV teman update setia, bukan sekadar info biasa!
FAQ
1. Berapa jumlah dump truck DLH Samarinda yang sudah menggunakan GPS Tracker?
Sebanyak 30 unit dari total 73 dump truck telah dilengkapi GPS Tracker dan sensor BBM.
2. Berapa efisiensi BBM yang berhasil dicatat DLH Samarinda?
DLH melaporkan efisiensi konsumsi BBM sebesar 8 persen berdasarkan volume liter pada semester pertama 2026.
3. Apa fungsi kartu RFID pada armada pengangkut sampah?
Kartu RFID digunakan untuk transaksi pengisian BBM di SPBU agar penggunaan bahan bakar kendaraan dinas tercatat secara digital.
Sumber Informasi
-
Media Kaltim Post, dengan judul "Pangkas Konsumsi BBM Armada Sampah hingga 8 Persen, DLH Samarinda Terapkan Enam Lapis Pengawasan", oleh M Hafiz Alfaruqi, 1 November 2026.
-
Media Ekspos Kaltim, dengan judul "Bukan Hanya GPS, DLH Samarinda Terapkan 6 Lapis Pengawasan BBM Truk Sampah", oleh Sintya Alfatika, 1 November 2026.
-
Pemerintah Kota Samarinda, dengan judul "Sistem RFID Mulai Diberlakukan, Wawali Pastikan Operasional Armada Sampah Samarinda Lebih Tertib", 19 Januari 2026.
-
Media Kaltim Post, dengan judul "GPS Tracker Armada DLH Tekan Konsumsi BBM 8 Persen, Bidik Sistem Mandiri Tahun Depan", 14 Juni 2026.
Editor : Arya Kusuma