Durasi Baca: 6 Menit
Ikhtisar: Keterbatasan listrik dan akses lapak di lantai dua Pasar Pagi Samarinda menghambat penyimpanan ikan laut serta penjualan eceran.
Balikpapan TV – Hai Ces!Pindah ke pasar yang lebih tertata belum tentu langsung membuat usaha pedagang berjalan lebih lancar. Hal itu dirasakan Hartoyo, pedagang ikan di Pasar Pagi Samarinda, yang masih menghadapi kendala listrik dan sepinya pembeli sejak menempati lokasi baru.
Sejak pindah pada Februari 2026, Hartoyo belum bisa mengembangkan penjualan ikan laut seperti ketika berjualan di tempat sebelumnya. Keterbatasan daya listrik membuatnya belum dapat menggunakan freezer untuk menyimpan persediaan ikan dalam jumlah besar.
Akibatnya, ia masih mengandalkan es batu agar ikan tetap segar. Di sisi lain, posisi lapak di lantai dua juga menjadi tantangan tersendiri untuk menjangkau pembeli yang ingin membeli ikan dalam jumlah sedikit.
Freezer Belum Bisa Digunakan, Stok Ikan Laut Terbatas
Persoalan listrik menjadi salah satu hambatan utama bagi Hartoyo. Fasilitas listrik di lokasi dagang saat ini masih dikelola pihak pasar, sementara kepastian mengenai pemasangan meteran mandiri dan kemungkinan biaya tambahan belum diperoleh.
Stopkontak yang tersedia juga terbatas untuk peralatan berdaya kecil. Padahal, freezer membutuhkan pasokan listrik yang lebih besar agar pedagang bisa menyimpan ikan laut dalam jumlah lebih banyak.
Hartoyo menyampaikan kendala tersebut saat ditemui di lantai dua Pasar Pagi Samarinda pada Selasa, 13 Oktober 2026 sore.
“Listriknya tidak cukup, tidak bisa membawa freezer, dan kami juga tidak bisa memasang sendiri. Jadi, tidak bisa menyimpan stok ikan laut dalam jumlah besar,” kata Hartoyo.
Untuk sementara, es batu menjadi pilihan agar ikan tetap terjaga kesegarannya. Namun, cara tersebut belum dapat menggantikan kebutuhan freezer untuk mendukung penyimpanan stok yang lebih besar.
Kondisi ini turut memengaruhi pedagang ikan laut lainnya. Sebagian masih memilih berjualan di kawasan Sungai Dama karena fasilitas di Pasar Pagi belum sesuai dengan kebutuhan usaha mereka.
Baca Juga: Keselamatan di Hotel Mesra Samarinda Disorot Usai Seorang Anak Jatuh dari Lantai Lima
Kepastian Meteran Listrik Masih Ditunggu
Menurut Hartoyo, pedagang yang sebelumnya telah memiliki meteran listrik di Pasar Pagi lama sudah didata. Mereka berharap meteran tersebut dapat dipasang kembali agar kebutuhan listrik untuk kegiatan usaha bisa terpenuhi.
Meski demikian, hingga wawancara berlangsung, belum ada kepastian dari dinas terkait mengenai tindak lanjut pemasangan tersebut.
Hartoyo mengaku tidak keberatan apabila nantinya setiap pedagang harus memasang listrik secara mandiri. Ia memahami bahwa kebutuhan listrik merupakan bagian dari biaya operasional masing-masing usaha.
Persoalannya, opsi pemasangan mandiri belum terlaksana, sedangkan fasilitas yang tersedia sekarang masih terbatas.
Ia juga menilai penggunaan listrik perlu disesuaikan dengan kapasitas jaringan di setiap blok. Masing-masing blok memiliki panel dan daya tersendiri, sehingga penggunaan peralatan berdaya besar dikhawatirkan dapat membebani jaringan.
Gangguan listrik pun disebut sesekali terjadi. Karena itu, kepastian kapasitas dan mekanisme penggunaan listrik menjadi hal penting bagi pedagang yang membutuhkan peralatan penyimpanan.
Penjualan Eceran Belum Seramai Harapan
Selain kendala listrik, Hartoyo menghadapi persoalan lain, yakni jumlah pembeli yang belum ramai. Ia menilai posisi lapak di lantai dua membuat pembeli eceran perlu mengeluarkan usaha tambahan untuk menjangkau pedagang.
Pembeli yang hanya ingin membeli satu kilogram ikan, misalnya, mungkin mempertimbangkan kembali keinginannya karena harus naik ke lantai atas. Jarak dan persoalan parkir juga menjadi faktor yang menurut Hartoyo memengaruhi kenyamanan pembeli.
“Kalau di pasar yang lama, enak untuk jualan eceran karena pembeli bisa langsung datang. Di sini kami berada di atas. Orang mau naik tangga hanya untuk membeli satu kilogram saja mungkin berpikir lagi. Belum lagi parkirnya dan jaraknya yang jauh,” katanya.
Situasi tersebut membuat Hartoyo saat ini lebih banyak melayani pedagang yang membeli ikan untuk dijual kembali. Ia juga mengandalkan pesanan yang diantar kepada pelanggan.
Sementara itu, transaksi eceran yang mengandalkan pembeli datang langsung ke lapak belum menunjukkan keramaian seperti yang diharapkan.
Jumlah pedagang ikan di lokasi tersebut memang bertambah dari dua menjadi empat orang. Namun, Hartoyo menyebut sebagian pedagang masih belum memperoleh penjualan yang stabil.
Dengan fasilitas penyimpanan yang belum memadai dan pembeli yang belum ramai, pedagang ikan laut juga masih banyak bertahan di kawasan Sungai Dama.
Pembenahan Pasar Diharapkan Berjalan Bertahap
Hartoyo berharap pembenahan Pasar Pagi Samarinda dapat dilakukan dalam setahun ke depan. Menurutnya, perbaikan tidak hanya menyangkut fasilitas listrik, tetapi juga penataan lokasi berjualan agar lebih mudah dijangkau pembeli.
Kebutuhan para pedagang, kata dia, telah disampaikan kepada pihak terkait. Namun, realisasinya masih membutuhkan koordinasi dengan dinas yang berwenang.
Bagi pedagang, kepastian fasilitas dasar menjadi bagian penting untuk mengembangkan usaha di lokasi baru. Listrik yang sesuai kebutuhan dapat mendukung penyimpanan ikan, sedangkan akses lapak yang lebih mudah diharapkan membantu pembeli bertransaksi.
Kondisi Hartoyo memperlihatkan bahwa aktivitas perdagangan di pasar tidak hanya bergantung pada keberadaan lapak. Kebutuhan operasional pedagang dan kemudahan akses bagi pembeli juga menjadi faktor yang memengaruhi kelancaran jual beli.
Meski demikian, belum ada keterangan dari pengelola pasar atau dinas terkait dalam bahan sumber mengenai jadwal pemasangan meteran listrik maupun rencana penanganan kendala yang disampaikan pedagang.
Baca Juga: Lima Orang Terkait Pembakaran Lahan Samarinda, Empat Resmi Jadi Tersangka
Poin Penting
-
Hartoyo pindah berjualan ke Pasar Pagi Samarinda sejak Februari 2026.
-
Keterbatasan daya listrik membuatnya belum bisa menggunakan freezer untuk menyimpan stok ikan laut dalam jumlah besar.
-
Pedagang masih mengandalkan es batu untuk menjaga kesegaran ikan.
-
Kepastian pemasangan meteran mandiri atau pemasangan kembali meteran lama belum diperoleh.
-
Posisi lapak di lantai dua dinilai menyulitkan pembeli eceran.
-
Hartoyo berharap pembenahan fasilitas dan akses pasar dapat dilakukan dalam setahun ke depan.
Insight Redaksi
Kendala yang dialami pedagang ikan di Pasar Pagi Samarinda menunjukkan bahwa pemindahan aktivitas perdagangan perlu diikuti dukungan fasilitas yang sesuai kebutuhan usaha. Bagi pedagang ikan, listrik bukan sekadar sarana pendukung, melainkan bagian penting dari penyimpanan produk dan pengelolaan stok.
Pada saat yang sama, kemudahan akses bagi pembeli eceran juga patut menjadi perhatian. Lapak yang sulit dijangkau berpotensi membuat pembeli memilih tempat lain, terutama ketika mereka hanya ingin berbelanja dalam jumlah kecil.
Kepastian mengenai kapasitas listrik, mekanisme pemasangan meteran, dan penataan akses dapat membantu pedagang merencanakan operasional dengan lebih jelas. Namun, langkah penanganan maupun jadwal realisasinya masih perlu dikonfirmasi kepada pihak pengelola pasar dan dinas terkait.
Informasi warga bisa jadi awal pengungkapan kasus dan membantu memperluas perhatian terhadap persoalan publik. Sampaikan informasi yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan, bukan sekadar info biasa!
Ikuti info terbaru hanya di Balikpapan TV, teman update setia, bukan sekadar berita biasa!
FAQ
1. Apa kendala utama pedagang ikan di Pasar Pagi Samarinda?
Kendala utamanya adalah keterbatasan daya listrik yang membuat pedagang belum dapat menggunakan freezer untuk menyimpan ikan laut dalam jumlah besar.
2. Siapa pedagang yang mengalami kendala tersebut?
Hartoyo, pedagang ikan yang pindah berjualan ke Pasar Pagi Samarinda sejak Februari 2026.
3. Bagaimana Hartoyo menjaga kesegaran ikan tanpa freezer?
Untuk sementara, ia mengandalkan es batu agar ikan tetap segar.
4. Mengapa penjualan ikan eceran belum ramai?
Hartoyo menilai posisi lapak di lantai dua menyulitkan pembeli yang ingin membeli ikan dalam jumlah sedikit. Jarak dan persoalan parkir juga disebut menjadi pertimbangan.
5. Apakah pedagang sudah mendapat kepastian pemasangan meteran listrik?
Belum. Menurut Hartoyo, pedagang yang sebelumnya memiliki meteran di Pasar Pagi lama sudah didata, tetapi kepastian dari dinas terkait belum diperoleh saat wawancara berlangsung.
6. Di mana sebagian pedagang ikan laut masih berjualan?
Sebagian pedagang ikan laut masih memilih berjualan di kawasan Sungai Dama karena fasilitas di Pasar Pagi belum memenuhi kebutuhan penyimpanan mereka.
7. Apa harapan Hartoyo terhadap Pasar Pagi Samarinda?
Ia berharap pembenahan pasar dapat dilakukan dalam setahun ke depan, termasuk perbaikan fasilitas listrik dan penataan lokasi berjualan agar lebih mudah dijangkau pembeli.
Sumber Informasi: Artikel ini sudah tayang sebelumnya di Media "Sapos.co.id" Berjudul"Listrik Belum Pasti, Penjualan Eceran Pedagang Ikan Pasar Pagi Samarinda Terhambat",oleh penulis Redaksi Sapos. Di-update kembali dengan angle dan style balikpapantv.id.
Sumber : sapos.co.id