Waduk Lempake Surut, Air Waduk Dayung Disiapkan untuk Jaga Pasokan Samarinda

Arya Kusuma • Dipublikasikan Minggu, 27 September 2026 | 16:20 WIB
Sistem suplai Waduk Dayung disiapkan untuk membantu menjaga ketersediaan air baku Samarinda.
Sistem suplai Waduk Dayung disiapkan untuk membantu menjaga ketersediaan air baku Samarinda.

Durasi Baca: 6 menit

Ikhtisar: Waduk Lempake menyusut, sementara suplai Waduk Dayung dan opsi void disiapkan untuk menjaga air baku Samarinda.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Ketersediaan air baku Samarinda dijaga BWS Kaltim melalui suplai Waduk Dayung ke Waduk Lempake yang menyusut akibat kemarau, agar kebutuhan air masyarakat terlayani selama musim kering.

Saat muka air terus turun, pertanyaannya bukan cuma sampai kapan cadangan bertahan, tetapi sumber mana yang bisa menjaga layanan ketika hujan belum stabil.

Waduk Lempake menyusut, layanan air perlu ruang cadangan

Waduk Benanga di kawasan Lempake, Kecamatan Samarinda Utara, menjadi salah satu sumber air baku Perumda Tirta Kencana Samarinda. Pada 26 September 2026, elevasi airnya berada di sekitar 6,4 meter dan dilaporkan turun sekitar 5 sentimeter per hari karena air terus dimanfaatkan untuk produksi air bersih.

Batas 6 meter menjadi angka penting dalam pengelolaan sumber ini. Menurut Kepala BWS Kalimantan IV Andri Rachmanto Wibowo, ketika elevasi mencapai angka tersebut, air waduk tidak lagi dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan PDAM secara optimal. Kondisi itu membuat pasokan dari sumber lain perlu disiapkan sebelum cadangan Lempake mencapai batas tersebut.

Bagi warga yang mengandalkan layanan air perpipaan, persoalan ini tidak berhenti pada angka elevasi. Setiap perubahan debit sumber dapat berkaitan dengan kemampuan sistem penyediaan air dalam menjaga produksi dan distribusi. Karena itu, pemindahan air dari waduk lain menjadi langkah yang langsung menyentuh kebutuhan harian masyarakat.

Baca Juga: RAPBD Samarinda 2027 Rp3,46 Triliun, Transfer Masih Jadi Penopang Pendapatan

Waduk Dayung disiapkan sebagai penyangga

BWS Kalimantan IV menyiapkan pemompaan air dari Waduk Dayung menuju Waduk Benanga. Kedua lokasi tersebut berjarak sekitar 10 meter, sedangkan Pemerintah Kota Samarinda sudah membuat jalur yang memungkinkan air dari Waduk Dayung diarahkan menuju sistem intake Perumda Tirta Kencana.

Kapasitas Waduk Dayung disebut sekitar 340 ribu meter kubik. Dengan kebutuhan pemanfaatan sekitar 5.200 meter kubik per hari, cadangan itu secara hitungan dapat menopang kebutuhan sekitar 65 hari. BWS juga menyiapkan dua pompa dengan kapasitas masing-masing 250 liter per detik, sementara BPBD Kota Samarinda memiliki satu pompa berkapasitas 54 liter per detik.

Skema ini penting karena sumber cadangan tidak hanya disimpan, tetapi harus bisa dipindahkan menuju titik yang membutuhkan. Jalur yang sudah dibuat menjadi bagian dari pekerjaan teknis tersebut, lalu pompa digunakan untuk membantu mengalirkan air menuju Waduk Benanga.

BWS sebelumnya juga menyampaikan bahwa masyarakat tidak perlu panik, namun penggunaan air perlu dihemat. Alasannya sederhana: pasokan dari waduk bergantung pada air hujan, sementara konsumsi berjalan setiap hari.

Baca Juga: Dua Pria Diamankan Polisi Usai Bakar Lahan di Sambutan untuk Tanam Padi

Masalahnya bukan cuma volume, tetapi juga kualitas air

Cadangan air alternatif tidak otomatis dapat langsung masuk ke sistem air baku. Hal itu terlihat dari rencana pemanfaatan void bekas tambang di sekitar kawasan Lempake dan Waduk Dayung.

BWS menyebut terdapat dua void yang sudah berusia di atas 10 tahun. Pemeriksaan kualitas air oleh Dinas Lingkungan Hidup menunjukkan air tidak bersifat asam dan sudah memiliki ekosistem. Namun, kandungan koliform masih ditemukan sehingga air perlu melalui proses pengolahan sebelum digunakan sebagai air baku.

Keterangan tersebut sejalan dengan informasi mengenai rencana pemanfaatan void di sekitar Benanga dan Dayung. Air dari void diproyeksikan dialirkan melalui saluran atau pipa dengan bantuan pompa, lalu masuk ke sistem waduk. Untuk kebutuhan air minum, air tetap membutuhkan pengolahan agar memenuhi standar.

Artinya, void bukan sumber yang tinggal dipompa lalu selesai. Ada pekerjaan teknis berupa jalur perpipaan, pemompaan, pemeriksaan kualitas, dan pengolahan. Bagi sistem penyediaan air, tahapan tersebut justru menjadi bagian penting agar sumber alternatif tidak menambah persoalan baru.

Void bekas tambang diarahkan menjadi cadangan jangka menengah

Pemanfaatan void diposisikan sebagai opsi jangka menengah, bukan pengganti darurat yang bisa langsung mengambil alih fungsi Waduk Benanga.

Rencana penghubung melalui saluran atau pipa akan membuat air dari sumber alternatif dapat masuk ke jaringan tampungan yang sudah digunakan. Dengan cara itu, sumber air tidak hanya bertumpu pada satu waduk ketika musim kering berlangsung.

BWS juga telah memiliki pengalaman memanfaatkan air void untuk kebutuhan tertentu di wilayah Kutai Kartanegara. Untuk Samarinda, pendekatannya diarahkan sebagai cadangan yang perlu disiapkan dengan pengolahan sesuai peruntukan.

Pilihan ini punya arti penting bagi kawasan Lempake. Ketika satu sumber mengalami penyusutan, sistem penyediaan air membutuhkan sumber tambahan yang secara teknis dapat dihubungkan dan kualitasnya dapat dikendalikan. Jadi, cadangan air bukan hanya soal mencari volume, tetapi juga memastikan air tersebut bisa masuk ke sistem dengan aman.

Hujan menjadi faktor yang masih menentukan

Dalam beberapa waktu terakhir, hujan mulai turun di sejumlah wilayah Samarinda. Kondisi itu dapat membantu mengurangi tekanan pada sumber air apabila curah hujan kembali cukup untuk menambah tampungan.

Namun, hujan tidak bisa diperlakukan sebagai satu-satunya rencana. Pengalaman penurunan elevasi Waduk Benanga menunjukkan konsumsi air terus berjalan ketika pemasukan dari hujan terbatas. Karena itu, suplai Waduk Dayung dan kajian void menjadi dua lapisan antisipasi dengan fungsi berbeda.

Cadangan Dayung berfungsi sebagai penyangga jangka pendek melalui pemompaan. Void disiapkan sebagai opsi jangka menengah yang membutuhkan pekerjaan teknis dan pengolahan. Pembagian fungsi tersebut membuat respons terhadap kemarau tidak berhenti pada menunggu hujan.

Baca Juga: Razia Samarinda Sisir 15 Warung, Miras Ditemukan dan Oknum Aparat Sempat Protes

Sedimentasi ikut menentukan kapasitas waduk

Ada persoalan lain yang berjalan bersamaan dengan penyusutan air, yakni sedimentasi. BWS Kaltim disebut rutin melakukan pengerukan di Waduk Lempake dengan volume sekitar 20 ribu hingga 30 ribu meter kubik dalam setahun.

Sedimen yang menumpuk dapat mengambil ruang tampungan. Ketika ruang tampungan berkurang, kemampuan waduk menahan air saat hujan juga ikut terpengaruh. Karena itu, pengerukan bukan sekadar pekerjaan pemeliharaan, melainkan bagian dari upaya menjaga fungsi waduk dalam jangka panjang.

Dokumen pengelolaan sumber daya air untuk wilayah Mahakam juga mencatat Bendungan Lempake sebagai infrastruktur penyedia air baku masyarakat Samarinda sekaligus memiliki persoalan sedimentasi yang memerlukan pengerukan.

Persoalan air baku Samarinda akhirnya bertemu pada tiga pekerjaan sekaligus: menjaga volume air saat kemarau, menyiapkan sumber alternatif, dan mempertahankan kapasitas tampungan. Ketiganya saling berkaitan.

Poin Penting

Insight Redaksi

Cadangan 340 ribu meter kubik memberi ruang bernapas, tetapi hitungan hari menunjukkan pasokan air Samarinda masih bergantung pada hujan dan pengelolaan sumber. Opsi void penting karena menawarkan lapisan cadangan, bukan pengganti instan. Kuncinya ada pada pengolahan dan koneksi antarsumber. Urusan air kada bisa menunggu sampai kondisi makin kritis sebelum musim hujan datang.

Gunakan air seperlunya nah, terutama saat pasokan sedang dijaga dari cadangan waduk dan sumber alternatif.

Bagikan artikel ini ke bubuhan yang sedang memantau kondisi pasokan air Samarinda, supaya informasi pentingnya tidak berhenti di satu layar.

Pantau kabar di Balikpapan TV, ikam jangan lengah soal air baku, Balikpapan Tv teman update setia, bukan sekadar info biasa!

FAQ

1. Mengapa Waduk Lempake mengalami penyusutan?

Penyusutan terjadi saat pemasukan air terbatas akibat kemarau, sementara air terus digunakan untuk kebutuhan produksi air bersih.

2. Berapa kapasitas cadangan Waduk Dayung?

Kapasitas yang disiapkan sekitar 340 ribu meter kubik, dengan pemanfaatan sekitar 5.200 meter kubik per hari.

3. Apakah air void bekas tambang bisa langsung menjadi air baku?

Tidak. Air perlu diperiksa dan diolah sesuai kualitas serta peruntukannya sebelum digunakan sebagai air baku.

4. Mengapa sedimentasi perlu dikeruk?

Sedimen mengambil ruang tampungan waduk. Pengerukan membantu menjaga kapasitas tampungan agar fungsi waduk dapat berjalan.

Sumber: Kaltim Post, LAPSUS: Waduk Lempake Menyusut akibat Kemarau, Samarinda Siapkan 340 Ribu Meter Kubik Cadangan Air
Oleh: Ainur Rofiah, Muhammad Taufik, Muhammad Ridhuan

Editor : Arya Kusuma
Air baku Waduk Lempake Waduk Dayung samarinda