Durasi Baca: 6 menit
Ikhtisar: Kabut asap membuat kualitas udara Samarinda memburuk, sehingga sekolah beralih ke PJJ sambil menunggu kondisi kembali aman.
Balikpapan TV - Hai Ces! Langit Samarinda berubah kelabu akibat kabut asap karhutla. Kondisi ini mendorong Pemkot Samarinda menghentikan sementara pembelajaran tatap muka dan mengalihkannya ke Pembelajaran Jarak Jauh atau PJJ.
Bukan cuma pemandangan kota yang berubah. Aktivitas siswa, guru, dan orang tua ikut bergeser karena ruang kelas sementara berpindah ke rumah, Ces!
Seberapa buruk kualitas udara Samarinda?
Kualitas udara Samarinda memburuk pada Kamis, 17 September 2026. Pemantauan Laboratorium Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur di Jalan Ahmad Dahlan mencatat ISPU mencapai 357 pada pukul 07.00 WITA.
Angka tersebut masuk kategori Sangat Buruk (Very Poor). Pada saat yang sama, konsentrasi PM2.5 mencapai 194,42 mikrogram per meter kubik dan PM10 mencapai 306,65 mikrogram per meter kubik.
PM2.5 merupakan partikel berukuran sangat kecil yang dapat masuk jauh ke saluran pernapasan. Tingginya konsentrasi partikulat menjadi salah satu alasan aktivitas luar ruangan perlu dibatasi ketika kualitas udara memburuk.
Kondisi itu tidak muncul secara tiba-tiba. Pemantauan sejak 14 September menunjukkan pola peningkatan polusi, terutama pada dini hari hingga pagi. Labkes Kaltim mengaitkan pola tersebut dengan dampak siklikal kebakaran hutan dan lahan di sekitar Samarinda.
Kenapa sekolah Samarinda sampai menghentikan KBM tatap muka?
Pemkot Samarinda mengalihkan kegiatan belajar mengajar tatap muka menjadi PJJ pada 17 hingga 19 September 2026.
Kebijakan tersebut berlaku untuk satuan pendidikan mulai dari PAUD, TK, SD hingga SMP. Keputusan diambil setelah adanya rekomendasi Dinas Kesehatan dan koordinasi dengan BPBD, Dinas Lingkungan Hidup, serta BMKG.
Untuk jenjang SMA, SMK, dan SLB di Kota Samarinda, Disdikbud Provinsi Kaltim juga memberikan ruang bagi satuan pendidikan untuk menggelar pembelajaran daring berdasarkan kondisi kualitas udara dan potensi risiko kesehatan.
Kebijakan provinsi tersebut tertuang dalam Surat Edaran Nomor 100.3.4.1/2076/Disdikbud.III/SRK/2026. Pelaksana Tugas Kepala Disdikbud Kaltim Armin menegaskan keselamatan dan kesehatan murid, pendidik, serta tenaga kependidikan menjadi pertimbangan utama.
Artinya, penghentian sementara KBM tatap muka bukan sekadar perubahan jadwal sekolah. Pemerintah sedang menyesuaikan aktivitas pendidikan dengan kondisi lingkungan yang dinilai tidak aman untuk pembelajaran langsung.
Baca Juga: Drainase Juanda Samarinda Diperbesar, Proyek Rp25,19 Miliar Capai 28 Persen
Apa yang berubah bagi siswa dan orang tua?
Bagi siswa, PJJ berarti kegiatan belajar berpindah dari ruang kelas ke rumah. Materi, tugas, komunikasi dengan guru, hingga kehadiran harus dikelola melalui sistem pembelajaran yang digunakan masing-masing sekolah.
Perubahan ini juga membuat kondisi rumah menjadi bagian dari proses belajar. Ketersediaan perangkat, jaringan internet, ruang belajar, serta pendampingan keluarga dapat memengaruhi kelancaran kegiatan siswa.
Orang tua pun mendapat peran tambahan. Disdikbud Kaltim meminta kepala satuan pendidikan berkoordinasi dengan orang tua atau wali murid agar pengawasan selama pembelajaran daring berjalan.
Namun, PJJ bukan berarti seluruh aktivitas pendidikan berhenti. Pemerintah menekankan keberlangsungan proses pembelajaran tetap harus diperhatikan selama kondisi udara belum memungkinkan kegiatan tatap muka.
Program Makanan Bergizi Gratis atau MBG yang berjalan di sekolah juga menjadi bagian yang perlu dikoordinasikan. Disdikbud Kaltim menyatakan mekanisme pembagian MBG selama PJJ disesuaikan dengan ketentuan dan koordinasi pihak terkait.
Mengapa kabut asap bisa sampai mengganggu aktivitas sekolah?
Kabut asap yang menyelimuti Samarinda berkaitan dengan kondisi karhutla dan musim kering yang masih berlangsung.
BPBD Kaltim pada Kamis memantau 134 titik panas di wilayah Kalimantan Timur. Sebaran asap dapat berubah mengikuti arah angin dan kondisi atmosfer sehingga dampaknya tidak selalu mengikuti batas administrasi daerah.
Sebelumnya, kebakaran lahan juga terjadi di sejumlah kawasan Samarinda. Operasi pemadaman dari udara bahkan telah dilakukan di Bantuas, Palaran. Dalam satu operasi pada 8 September, helikopter menjatuhkan 33 ribu liter air melalui 33 kali water bombing, meski lokasi masih menyisakan asap setelah operasi.
Situasi tersebut menjelaskan mengapa persoalan udara tidak bisa hanya dilihat dari kondisi langit di pusat kota. Sumber asap, titik api, angin, dan kondisi atmosfer saling memengaruhi kualitas udara yang dirasakan warga.
Apa yang harus diperhatikan keluarga selama PJJ?
Dinas Kesehatan Samarinda sebelumnya merekomendasikan pembatasan aktivitas luar ruangan ketika kualitas udara berada pada kategori tidak sehat atau lebih buruk.
Sekolah juga diminta memperhatikan ventilasi agar asap tidak mudah masuk ke ruang belajar. Penggunaan masker sesuai standar dianjurkan ketika seseorang terpaksa beraktivitas di luar ruangan.
Orang tua juga diminta memperhatikan kondisi anak. Batuk, sesak napas, atau iritasi mata merupakan gejala yang perlu diwaspadai setelah paparan asap. Jika keluhan memburuk, pemeriksaan ke fasilitas kesehatan menjadi langkah yang disarankan Dinas Kesehatan.
Bagi keluarga, PJJ dalam kondisi seperti ini juga berarti menjaga keseimbangan antara kebutuhan belajar dan perlindungan kesehatan. Jadwal belajar tetap perlu berjalan, tetapi aktivitas luar ruangan dapat disesuaikan dengan kondisi udara.
Baca Juga: Kebakaran Lahan Lempake Mengarah ke Gunung Lingai, Api 500 Meter dari Permukiman
Apakah sekolah akan kembali tatap muka setelah Sabtu?
PJJ Samarinda ditetapkan sementara pada 17–19 September 2026. Kelanjutan kegiatan tatap muka bergantung pada perkembangan kualitas udara dan kondisi lingkungan.
Disdikbud Kaltim menyebut kegiatan sekolah dapat kembali dilaksanakan secara langsung setelah kualitas udara membaik dan dinyatakan aman oleh instansi berwenang.
Pemerintah juga menjalankan penanganan karhutla secara paralel. BNPB mengintensifkan Operasi Modifikasi Cuaca pada 15–19 September dengan menyiapkan tiga ton natrium klorida untuk membantu memicu hujan di wilayah Kaltim yang mengalami kekeringan dan karhutla.
Dengan begitu, pemulihan aktivitas sekolah tidak hanya bergantung pada keputusan pendidikan. Kondisi udara, penanganan titik api, cuaca, serta hasil pemantauan instansi terkait menjadi faktor yang menentukan.
Poin Penting:
- ISPU Samarinda mencapai 357 dan masuk kategori Sangat Buruk pada 17 September 2026.
- PM2.5 tercatat 194,42 µg/m³, sedangkan PM10 mencapai 306,65 µg/m³.
- KBM tatap muka PAUD hingga SMP dialihkan ke PJJ pada 17–19 September 2026.
- SMA, SMK, dan SLB di Samarinda juga diperbolehkan menerapkan pembelajaran daring sesuai kondisi udara.
- Orang tua diminta ikut mengawasi proses belajar sekaligus memperhatikan kondisi kesehatan anak.
- Pemerintah masih menangani karhutla dan menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca di Kaltim.
Insight Redaksi
Kabut asap di Samarinda kini terasa sampai ke ruang belajar keluarga. Ketika ISPU menyentuh 357, PJJ bukan lagi sekadar urusan sekolah, tetapi bagian dari cara warga menyesuaikan rutinitas dengan kondisi lingkungan. Di Kota Tepian, udara yang kada bersahabat membuat aktivitas harian ikut berubah, Ces.
Selama PJJ berjalan, keluarga sebaiknya menjaga jadwal belajar tetap teratur sambil membatasi aktivitas anak di luar rumah, pang.
Kalau informasi ini berguna, bagikan ke bubuhan yang punya anak sekolah di Samarinda supaya sama-sama waspada.
Pantau terus kondisi Kaltim bersama Balikpapan TV, karena Balikpapan TV teman update setia, bukan sekadar info biasa!
FAQ
1. Berapa lama PJJ Samarinda diberlakukan?
PJJ untuk satuan pendidikan PAUD hingga SMP diberlakukan pada 17–19 September 2026. Kelanjutan tatap muka menyesuaikan kondisi kualitas udara.
2. Mengapa sekolah dialihkan ke pembelajaran jarak jauh?
Keputusan tersebut diambil karena kualitas udara Samarinda memburuk akibat kabut asap dan dinilai berisiko bagi kesehatan warga sekolah.
3. Bagaimana kondisi ISPU Samarinda?
Pemantauan Labkes Kaltim pada 17 September pukul 07.00 WITA mencatat ISPU 357 atau kategori Sangat Buruk.
4. Apakah siswa SMA dan SMK juga bisa belajar dari rumah?
Ya. Disdikbud Kaltim mengizinkan satuan pendidikan SMA, SMK, dan SLB di Samarinda melaksanakan pembelajaran daring dengan mempertimbangkan kondisi kualitas udara.
5. Apa yang perlu dilakukan orang tua selama PJJ?
Orang tua perlu membantu mengawasi pembelajaran, memantau kondisi kesehatan anak, dan membatasi aktivitas luar ruangan ketika kualitas udara memburuk.
Sumber Informasi
Media Sapos, dengan judul “Langit Kota Tepian Menguning, KBM Tatap Muka Stop Sampai Sabtu”, Redaksi Sapos. Diolah kembali dengan angle, konteks, data, dan gaya Balikpapantv.id.