Sawah Betapus Samatinda Utara Retak di Tengah Kemarau, 70 Hektare Lahan Samarinda Butuh Air

Ahla Najwa • Dipublikasikan Rabu, 9 September 2026 | 12:24 WIB
ILUSTRASI Sawah milik Arlan di Betapus, Lempake, Samarinda Utara, mengalami kekeringan hingga seperempat hektare terdampak. (DOK. HAFIZ/KALTIM POST)
ILUSTRASI Sawah milik Arlan di Betapus, Lempake, Samarinda Utara, mengalami kekeringan hingga seperempat hektare terdampak. (DOK. HAFIZ/KALTIM POST)

Durasi Baca: 5 menit

Ikhtisar: Kemarau panjang membuat sawah Betapus kekurangan air, tanaman padi terancam gagal panen, dan petani menunggu bantuan pengairan.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Kemarau panjang membuat lahan pertanian di Betapus, Kelurahan Lempake, Samarinda Utara, kekurangan air dan mengancam hasil panen petani.

Tanah yang mulai retak menjadi tanda paling nyata. Tanaman padi yang baru berusia sekitar satu bulan pun mulai kesulitan tumbuh karena sumber pengairan dari parit ikut mengering.

Bagi Arlan, petani yang mengelola sawah sekitar seperempat hektare, kondisi ini membuat harapan panen ikut menyusut. Sawah yang biasanya mampu menghasilkan sekitar satu ton gabah dalam sekali musim tanam, kali ini diperkirakan hanya menghasilkan sekitar satu kuintal.

Saat sawah mulai kehilangan air

Arlan sudah lama mengelola lahan pertanian di kawasan Betapus. Luas sawah yang kini digarap sekitar seperempat hektare, setelah lahan keluarganya yang sebelumnya mencapai satu hektare terbagi kepada anak dan cucu serta terdampak pembangunan jalan.

Dalam kondisi normal, lahan tersebut dapat menghasilkan sekitar satu ton gabah setiap musim tanam. Namun, kemarau membuat tanaman padi yang baru berusia sekitar satu bulan tidak mendapatkan pasokan air yang cukup.

“Ya mungkin panen, ya kecil-kecil saja. Sebagian kayak mengering. Kalau kayak begini enggak ada harapan sudah,” ujarnya.

Padi yang ditanam merupakan varietas unggul dengan masa panen sekitar tiga bulan lebih. Pada kondisi normal, tanaman berusia satu bulan seharusnya mulai memasuki fase bunting.

Kondisi di lapangan membuat pertumbuhan tanaman tidak maksimal. Bahkan, Arlan menghentikan pemupukan karena tanah terlalu kering.

Air yang selama ini diandalkan dari parit bendungan juga tidak lagi tersedia. Pada musim hujan, saluran tersebut cukup membantu mengairi sawah. Ketika kemarau datang, petani biasanya menggunakan pompa untuk memasukkan air ke lahan.

Kini, pilihan tersebut ikut terbatas karena sumber airnya menyusut.

Baca Juga: 1.885 Perempuan Ramaikan Parade Perempuan Samarinda Bersatu di Samarinda

Dari satu ton gabah menjadi sekitar satu kuintal

Penurunan perkiraan hasil panen menjadi gambaran langsung dampak kekeringan bagi petani.

Dengan luas sekitar seperempat hektare, Arlan biasanya dapat memperoleh sekitar satu ton gabah. Kali ini, ia memperkirakan hasilnya hanya sekitar satu kuintal atau sekitar 10 persen dari produksi normal.

Bagi petani, persoalannya bukan hanya kehilangan hasil pertanian. Biaya dan tenaga yang sudah dikeluarkan selama masa tanam juga berisiko tidak sebanding dengan hasil yang diperoleh.

Arlan bahkan mulai mempertimbangkan untuk mengurangi aktivitas perawatan tanaman karena khawatir tenaga yang dikeluarkan tidak menghasilkan panen berarti.

“Ya gimana lagi, ya pasrah saja sudah. Ini saja sudah ambang-ambang saya mau merumput rasanya sudah malas. Karena nanti kalau merumput buang-buang waktu juga, percuma kalau enggak panen,” ungkapnya.

Meski begitu, masih ada sedikit harapan bagi Arlan selama tanaman belum sepenuhnya mati.

“Ya dikit-dikit masih ada harapan lah untuk makan,” tuturnya.

Masalah Arlan bukan terjadi sendirian

Kondisi yang dialami Arlan menjadi bagian dari persoalan yang lebih luas di kawasan pertanian Samarinda.

Pemerintah Kota Samarinda sebelumnya menetapkan status tanggap darurat kekeringan selama 25 Agustus hingga 7 September 2026. Dampaknya tercatat menyentuh 654,5 hektare lahan pertanian di lima kecamatan.

Di kawasan Betapus sendiri, sedikitnya 70 hektare lahan persawahan dan hortikultura membutuhkan pasokan air untuk menjaga tanaman dari risiko gagal panen.

Ilustrasi Sawah di Betapus, Lempake, Samarinda Utara mengalami kekeringan dengan tanah retak dan tanaman padi terancam gagal panen. (BTV/AI)
Ilustrasi Sawah di Betapus, Lempake, Samarinda Utara mengalami kekeringan dengan tanah retak dan tanaman padi terancam gagal panen. (BTV/AI)

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Samarinda menyiapkan dua unit pompa berkapasitas besar. Air akan diambil dari anak Sungai Karang Mumus untuk dialirkan menuju kawasan pertanian.

Upaya mencari sumber air alternatif menjadi penting karena prakiraan BMKG untuk dasarian pertama September 2026 menunjukkan sebagian besar wilayah Kalimantan Timur diprediksi mengalami curah hujan kategori rendah, yakni 0–50 milimeter.

Artinya, mengandalkan hujan dalam waktu dekat belum menjadi satu-satunya pilihan yang aman bagi lahan pertanian yang sudah mengalami kekeringan.

Air alternatif jadi harapan petani

Rencana pengaliran air dari anak Sungai Karang Mumus menjadi harapan baru bagi petani Betapus dan kawasan pertanian di sekitarnya.

Perkembangan terbaru menunjukkan pemerintah kota mulai menyiapkan langkah penyelamatan lahan dengan memompa air menuju area persawahan. Kondisi ini menjadi semakin mendesak karena sebagian besar tanaman masih berada pada fase awal pertumbuhan dan membutuhkan air untuk melanjutkan siklus tanam.

Bagi Arlan, keberadaan pasokan air berarti kesempatan mempertahankan tanaman yang masih tersisa.

Selama ini, ia dapat menanam padi dua kali dalam setahun. Saat hujan turun, air parit cukup untuk mendukung masa tanam. Ketika kemarau berlangsung panjang, kebutuhan pompa meningkat karena sumber air alami tidak lagi mencukupi.

Harapan tersebut kini kembali ia sampaikan kepada pemerintah.

“Ya, mudah-mudahan bisa terlaksana secepatnya dan bisa mengaliri. Ya bisa panen, dikit-dikit masih ada harapan untuk makan,” pungkasnya.

Baca Juga: Perjalanan Wisnas Kaltim ke Luar Negeri Anjlok 42 Persen pada Juli 2026

Kenapa pengairan menjadi penentu?

Kekeringan di Betapus memperlihatkan bahwa persoalan air tidak berhenti pada kebutuhan rumah tangga. Ketika sumber air pertanian menyusut, dampaknya langsung masuk ke produksi pangan dan pendapatan petani.

Sawah yang gagal mempertahankan tanaman berarti kehilangan potensi gabah pada satu musim tanam. Bagi petani dengan lahan terbatas, penurunan produksi dari sekitar satu ton menjadi perkiraan satu kuintal menunjukkan besarnya dampak ketika air tidak tersedia.

Karena itu, penyediaan air alternatif menjadi lebih dari sekadar bantuan teknis. Pengairan menentukan apakah tanaman yang sudah ditanam masih memiliki kesempatan untuk bertahan hingga masa panen.

Kondisi Betapus juga memperlihatkan pentingnya kesiapan sistem irigasi ketika periode kering berlangsung lebih lama. Selama sumber air utama masih tersedia, petani dapat menjaga pola tanam. Begitu saluran mengering, pilihan mereka menjadi jauh lebih terbatas.

Poin Penting:

Insight Redaksi

Krisis air di Betapus menunjukkan bahwa musim kemarau dapat langsung menyentuh produksi pangan ketika sumber pengairan petani ikut mengering. Bagi petani dengan lahan terbatas, selisih hasil panen bukan sekadar angka, tetapi menentukan seberapa jauh hasil musim tanam dapat menopang kebutuhan sehari-hari. Karena itu, percepatan distribusi air menjadi faktor penting untuk menyelamatkan tanaman yang masih berada dalam fase pertumbuhan.

Jangan lewatkan informasi lokal lainnya dari Balikpapan TV. Bagikan artikel ini kepada keluarga atau kerabat yang perlu mengetahui perkembangan kondisi pertanian di Samarinda, Ces!

FAQ

1. Di mana sawah yang terdampak kekeringan?
Salah satu kawasan yang terdampak berada di Betapus, Kelurahan Lempake, Kecamatan Samarinda Utara.

2. Berapa luas lahan pertanian yang membutuhkan air di Betapus?
Sekitar 70 hektare lahan persawahan dan hortikultura membutuhkan pasokan air untuk mempertahankan tanaman.

3. Berapa perkiraan hasil panen Arlan akibat kemarau?
Dari kondisi normal sekitar satu ton gabah, Arlan memperkirakan hasil panennya kali ini hanya sekitar satu kuintal.

4. Dari mana pemerintah menyiapkan sumber air alternatif?
Air akan dipompa dari anak Sungai Karang Mumus untuk dialirkan menuju kawasan pertanian.

5. Mengapa hujan belum menjadi solusi yang pasti?
BMKG memprakirakan sebagian besar wilayah Kalimantan Timur mengalami curah hujan kategori rendah pada dasarian pertama September 2026.

Sumber Informasi

Media Kaltim Post, dengan judul “Kemarau Panjang Bikin Sawah Betapus Retak, Panen Petani Terancam Anjlok”, ditulis M Hafiz Alfaruqi.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates
Editor : Arya Kusuma
kemarau panjang Lempake Samarinda Utara kekeringan