Durasi Baca: 4 Menit
Ikhtisar: Sekitar 800 lapak Pasar Pagi Samarinda belum aktif, Pemkot memilih dialog dan evaluasi sebelum menentukan nasib SKTUB pedagang.
Balikpapan TV - Hai Ces! Sekitar 800 dari 2.500 lapak Pasar Pagi Samarinda belum kembali digunakan berdagang hingga akhir Agustus 2026, sehingga Pemkot Samarinda menyiapkan evaluasi dan dialog bersama pedagang.
Persoalannya bukan hanya soal lapak yang kosong. Pedagang juga menyampaikan berbagai keluhan terkait akses, fasilitas, hingga penataan lokasi jualan. Karena itu, pemerintah memilih menyelesaikannya bertahap, Ces!
Lapak Kosong Masih Jadi Pekerjaan Rumah Pasar Pagi
Pasar Pagi Samarinda memiliki sekitar 2.500 lapak yang disiapkan untuk aktivitas perdagangan. Namun, hingga akhir Agustus, sekitar 800 lapak masih belum digunakan oleh pemiliknya.
Kondisi tersebut membuat Pemkot Samarinda harus mencari cara agar fasilitas yang sudah tersedia benar-benar kembali menjadi ruang perdagangan aktif.
Kepala Dinas Perdagangan Samarinda Nurrahmani sebelumnya memberikan batas waktu kepada pemilik lapak agar kembali berjualan paling lambat Agustus.
Kebijakan itu disertai konsekuensi. Lapak yang tidak digunakan dapat dievaluasi dan Surat Keterangan Tempat Usaha Berdagang atau SKTUB berpotensi dicabut untuk diberikan kepada pedagang lain yang siap berjualan.
Namun, pemerintah tidak langsung menjalankan pencabutan tersebut.
Nurrahmani mengatakan pedagang masih diberikan ruang untuk menyampaikan kendala yang membuat mereka belum kembali berjualan.
“Kami tidak akan serta-merta mencabut, dan memberikan ruang bagi pedagang untuk menyampaikan kendala sekaligus menunjukkan komitmen kembali berjualan.”
Pilihan tersebut membuat persoalan lapak kosong tidak hanya dilihat sebagai masalah kepatuhan pedagang, tetapi juga berkaitan dengan kondisi pasar dan fasilitas yang mendukung aktivitas jual beli.
Baca Juga: Erupsi Anak Krakatau Ganggu Penerbangan Samarinda-Jakarta, Penumpang Diminta Cek Opsi Perjalanan
Pedagang Punya Sejumlah Catatan soal Fasilitas
Dalam pertemuan bersama DPRD Samarinda, pedagang menyampaikan sejumlah tuntutan terkait kondisi Pasar Pagi.
Keluhan yang muncul antara lain berkaitan dengan akses menuju lantai atas, listrik, serta posisi kios yang dianggap kurang mendukung aktivitas perdagangan.
Pertemuan dengan pedagang pada awal September juga menunjukkan bahwa persoalan akses menjadi salah satu perhatian. Pedagang lantai dua, misalnya, menyoroti keterbatasan akses karena menuju lantai tersebut harus menggunakan lift atau tangga.
Kondisi ini penting karena keberadaan lapak saja belum otomatis membuat aktivitas perdagangan berjalan. Pedagang juga membutuhkan akses yang mudah agar pembeli bersedia menjangkau lokasi jualan.
Di sinilah persoalan 800 lapak kosong menjadi lebih kompleks. Pemerintah ingin lapak digunakan, sementara sebagian pedagang masih menyampaikan kendala yang menurut mereka memengaruhi aktivitas usaha.
Pemkot Samarinda Pilih Penyelesaian Bertahap
Dinas Perdagangan Samarinda kemudian memilih memilah berbagai tuntutan pedagang berdasarkan tingkat kebutuhan dan kemungkinan realisasinya.
Pembahasan dilakukan secara bertahap, termasuk melalui dialog mengenai pengaturan pedagang grosir dan eceran.
Pada Senin, 7 September 2026, Pemerintah Kota Samarinda menjadwalkan dialog mengenai pengaturan grosir dan eceran Pasar Pagi di rooftop lantai 8 Pasar Pagi Baru Samarinda.
Agenda tersebut melibatkan sejumlah unsur pemerintah, termasuk Kepala Dinas Perdagangan, Camat Samarinda Kota, Lurah Pasar Pagi, serta jajaran kepolisian.
Forum ini menjadi bagian dari upaya menata aktivitas perdagangan tanpa langsung mengambil langkah paling tegas terhadap pemilik lapak yang belum aktif.
Bagi pedagang, ruang dialog juga memberikan kesempatan untuk menyampaikan kendala secara langsung. Bagi pemerintah, forum tersebut menjadi cara untuk melihat mana persoalan yang dapat segera ditangani dan mana yang membutuhkan proses lebih panjang.
Pasar Pagi Tak Cukup Hanya Punya Gedung Baru
Upaya menghidupkan Pasar Pagi juga tidak berhenti pada persoalan lapak. Dinas Perdagangan Samarinda sebelumnya menyiapkan sejumlah kegiatan untuk menarik masyarakat datang dan meningkatkan aktivitas transaksi.
Salah satunya bazar yang direncanakan berlangsung secara rutin sekitar sebulan sekali. Pasar murah juga disiapkan beberapa kali dalam setahun.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa tantangan Pasar Pagi bukan hanya bagaimana membuat pedagang menempati lapak, tetapi juga bagaimana menciptakan arus pengunjung yang membuat aktivitas usaha kembali bergerak.
Sebab, lapak yang terbuka tetap membutuhkan pembeli.
Jika jumlah pengunjung rendah, pedagang bisa menghadapi persoalan lain meskipun seluruh tempat usaha sudah terisi. Karena itu, penataan ruang, akses, fasilitas, kegiatan pendukung, dan aktivitas perdagangan perlu berjalan beriringan.
Baca Juga: 1.885 Perempuan Ramaikan Parade Perempuan Samarinda Bersatu di Samarinda
Apa yang Akan Terjadi pada 800 Lapak?
Untuk sementara, Pemkot Samarinda belum langsung mencabut seluruh SKTUB pemilik lapak yang belum berjualan.
Pemerintah memberikan ruang kepada pedagang untuk menunjukkan kendala sekaligus komitmen kembali menjalankan usaha. Jika memang tidak sanggup melanjutkan aktivitas perdagangan, pemerintah berharap lapak dapat dikembalikan agar bisa diberikan kepada pedagang lain yang siap berjualan.
Langkah tersebut membuat nasib ratusan lapak akan sangat bergantung pada hasil evaluasi dan komunikasi antara pemerintah dengan pedagang.
Pasar Pagi sendiri tetap menjadi bagian penting dari aktivitas perdagangan Samarinda. Karena itu, persoalan lapak kosong perlu diselesaikan bersama dengan persoalan akses dan fasilitas agar bangunan pasar tidak hanya terisi secara administratif, tetapi benar-benar hidup sebagai pusat perdagangan.
Poin Penting:
- Sekitar 800 dari 2.500 lapak Pasar Pagi belum aktif hingga akhir Agustus 2026.
- Pemkot Samarinda sebelumnya memberikan batas waktu aktivasi sampai Agustus.
- SKTUB tidak langsung dicabut karena pedagang masih diberi ruang menyampaikan kendala.
- Pedagang menyampaikan persoalan akses, listrik, dan penempatan kios.
- Pemkot menyiapkan dialog bertahap untuk mengatur aktivitas grosir dan eceran.
- Pemerintah juga menyiapkan kegiatan seperti bazar dan pasar murah untuk menggerakkan aktivitas perdagangan.
Insight Redaksi
Masalah Pasar Pagi Samarinda kini bukan sekadar soal berapa banyak lapak yang kosong. Tantangan berikutnya adalah memastikan fasilitas, akses, penataan pedagang, dan aktivitas pengunjung bisa berjalan bersama. Jika pedagang kembali masuk tetapi pembeli tidak datang, persoalan belum benar-benar selesai. Karena itu, dialog dan evaluasi menjadi penting agar kebijakan tidak hanya mengejar keterisian lapak, tetapi juga menghidupkan kembali fungsi Pasar Pagi sebagai pusat perdagangan.
Kalau informasi Pasar Pagi Samarinda ini terasa relevan, bagikan artikel ini dan ikuti terus Balikpapan TV untuk informasi Kaltim yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari, Ces!
FAQ
1. Berapa lapak Pasar Pagi Samarinda yang belum aktif?
Sekitar 800 lapak dari total sekitar 2.500 lapak masih belum digunakan untuk berjualan hingga akhir Agustus 2026.
2. Apakah lapak yang kosong langsung dicabut Pemkot Samarinda?
Tidak. Pemkot masih memberikan ruang kepada pedagang untuk menjelaskan kendala dan menunjukkan komitmen kembali berjualan.
3. Apa keluhan pedagang Pasar Pagi Samarinda?
Pedagang menyampaikan sejumlah persoalan, termasuk akses menuju lantai atas, listrik, dan penempatan kios yang terpencar.
4. Apa langkah Pemkot Samarinda untuk menghidupkan Pasar Pagi?
Pemkot menyiapkan dialog mengenai pengaturan grosir dan eceran serta sejumlah kegiatan seperti bazar dan pasar murah untuk mendorong aktivitas perdagangan.
5. Apa yang terjadi jika pedagang tidak sanggup berjualan?
Pemkot berharap lapak dapat dikembalikan sehingga bisa diberikan kepada pedagang lain yang memiliki komitmen untuk berjualan.
Sumber Informasi
KALTIMPOST.ID, artikel “Disdag Catat 800 Lapak Pasar Pagi Samarinda Belum Aktif, Ini yang Dilakukan Pemkot Terhadap Pedagang”, ditulis Denny Saputra; dilengkapi konteks dari Portal Resmi Pemerintah Kota Samarinda mengenai agenda dialog pengaturan grosir dan eceran Pasar Pagi pada 7 September 2026.