DAD Kaltim Minta Pemerintah Dengarkan Aspirasi di Balik Bendera Borneo Raya

Ahla Najwa • Dipublikasikan Rabu, 19 Agustus 2026 | 22:30 WIB
Ketua Umum DAD Kaltim Viktor Yuan menyoroti bendera Borneo Raya sebagai simbol kekecewaan masyarakat terhadap pembangunan daerah. (DOK. HAFIZ/KP)
Ketua Umum DAD Kaltim Viktor Yuan menyoroti bendera Borneo Raya sebagai simbol kekecewaan masyarakat terhadap pembangunan daerah. (DOK. HAFIZ/KP)

Durasi Baca: 5 menit

Ikhtisar: Bendera Borneo Raya dipandang sebagai ekspresi kekecewaan masyarakat terkait pembangunan, fiskal, infrastruktur, dan perhatian pemerintah.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Kemunculan bendera Borneo Raya di flyover Samarinda saat HUT ke-81 RI menjadi perhatian DAD Kaltim yang meminta pemerintah membuka ruang dialog.

Simbol tersebut memunculkan perdebatan soal aspirasi daerah. DAD Kaltim mendorong pemerintah meresponsnya melalui komunikasi, pembangunan, dan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat.

Bendera Borneo Raya Dibaca sebagai Ekspresi Kekecewaan

Kemunculan bendera Borneo Raya berdampingan dengan Merah Putih terjadi di kawasan flyover Samarinda, Senin (17/8/2026).

Peristiwa itu berlangsung bertepatan dengan peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Kehadirannya kemudian mendapat perhatian sejumlah pihak di Kalimantan Timur.

Ketua Umum DAD Kaltim Viktor Yuan menilai fenomena tersebut tidak serta-merta menunjukkan keinginan masyarakat Dayak untuk keluar dari NKRI.

Menurut Viktor, persoalan tersebut lebih tepat dibaca sebagai ekspresi kekecewaan yang perlu direspons pemerintah melalui komunikasi dan perhatian terhadap kebutuhan daerah.

“Kami melihat itu sebagai fenomena. Kalau yang saya pahami, masyarakat Kalimantan pada umumnya, khususnya masyarakat Dayak, tidak ada keinginan untuk memisahkan diri dari NKRI,” ujarnya, Selasa (18/8).

Sikap tersebut menempatkan persoalan pada ruang dialog. Bagi DAD Kaltim, aspirasi masyarakat perlu didengar sebelum berkembang menjadi persoalan yang lebih luas.

Baca Juga: HUT ke-81 RI di Samarinda, Pangdam VI Mulawarman Tekankan Persatuan dan Peran Generasi Muda

Mengapa Infrastruktur Menjadi Sorotan DAD Kaltim?

Viktor menilai pembangunan infrastruktur masih menjadi kebutuhan mendasar masyarakat Kaltim, terutama kawasan yang memiliki tantangan geografis dan akses terbatas.

Ia menyebut Mahakam Ulu, Kutai Barat, Berau, Kutai Timur, Paser, dan Penajam Paser Utara sebagai sejumlah wilayah yang masih membutuhkan perhatian pembangunan.

Menurutnya, tekanan anggaran membuat pemerintah harus semakin cermat menentukan prioritas belanja. Komunikasi dengan masyarakat menjadi penting agar kebutuhan lapangan dapat masuk dalam perencanaan.

“Perhatian itu tentu lewat berbagai macam cara, terutama diskusi-diskusi. Kami lebih memilih narasi diskusi. Pemerintah juga harus cerdas mengelola anggaran, terutama saat anggaran mengalami turbulensi,” ujarnya.

Data fiskal regional menunjukkan Transfer ke Daerah (TKD) Kaltim hingga 31 Mei 2026 telah mencapai Rp8,82 triliun atau 39,96 persen dari pagu. Penyaluran tersebut mencakup DAU, DAK, DBH, dan Dana Desa.

Angka tersebut memperlihatkan bahwa persoalan fiskal daerah bukan sekadar soal besarnya anggaran, tetapi juga bagaimana dana tersedia diterjemahkan menjadi layanan dan pembangunan yang dirasakan masyarakat.

Ruang Aspirasi Adat Dinilai Perlu Diperkuat

DAD Kaltim meminta masyarakat adat dilibatkan dalam proses penyusunan kebijakan dan anggaran daerah.

Viktor menyebut DAD di tingkat provinsi maupun kabupaten dan kota dapat menjadi ruang untuk menyerap kebutuhan masyarakat lokal, termasuk persoalan adat dan budaya.

“Bagaimana komunikasi, menjalin komunikasi, kemudian menyerap aspirasi ketika menyusun APBD, terutama dalam Musrenbang,” katanya.

Menurutnya, kebutuhan masyarakat adat juga perlu masuk dalam pembahasan pembangunan. Salah satu persoalan yang disorot adalah rencana pembangunan Lamin Besar sebagai ruang interaksi masyarakat adat Dayak Kaltim.

Viktor menyebut rencana tersebut telah dimulai sejak era Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak, tetapi pembangunan belum terealisasi sepenuhnya.

Ia juga mengatakan DAD Kaltim telah mengajukan permohonan audiensi dengan Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud. Hingga pernyataan tersebut disampaikan, pertemuan langsung belum terlaksana.

“Jangan dianggap sepele. Kami tidak membawa nama pribadi maupun nama sub-suku. Ini kebutuhan dasar masyarakat lokal, tempat kami berinteraksi dan bermusyawarah,” tegasnya.

Baca Juga: 148 Tersangka 3C Dibekuk Polda Kaltim, Samarinda Jadi Perhatian Kejahatan Jalanan

Persoalan Fiskal Kaltim Tidak Hanya soal Jumlah Penduduk

Sorotan berikutnya berkaitan dengan posisi Kalimantan Timur sebagai daerah penghasil sumber daya alam.

Viktor meminta pemerintah pusat mempertimbangkan luas wilayah dan dampak aktivitas eksploitasi sumber daya alam ketika menentukan kebijakan transfer kepada daerah.

Pandangan tersebut berkaitan dengan kebutuhan pembiayaan pembangunan di wilayah yang memiliki aktivitas pertambangan dan perkebunan.

Secara regulasi, Dana Bagi Hasil dari sumber daya alam memang mencakup penerimaan dari sektor kehutanan, pertambangan mineral dan batu bara, minyak bumi, gas bumi, panas bumi, hingga perikanan.

Pada 2025, realisasi TKD Kaltim tercatat Rp40,20 triliun atau 95,05 persen dari pagu Rp42,30 triliun. Dana Bagi Hasil menjadi komponen terbesar dengan realisasi Rp30,74 triliun.

Konteks tersebut membuat pembahasan mengenai hubungan sumber daya alam dan pembiayaan pembangunan Kaltim menjadi isu yang relevan.

“Jangan dilihat dari jumlah penduduknya saja, tetapi harus dilihat juga dari luasan Kalimantan Timur yang sangat luas. Kemampuan finansial Kalimantan Timur untuk membangun daerahnya harus seimbang dengan sumber daya alam yang diambil,” ungkap Viktor.

Kebutuhan Dasar Masyarakat Diminta Jadi Prioritas

Selain infrastruktur dan fiskal, DAD Kaltim menyoroti kebutuhan dasar seperti pangan, pertanian, dan bahan bakar minyak.

Viktor menilai pemerintah perlu memastikan persoalan tersebut mendapat perhatian, terutama ketika masyarakat menghadapi tekanan ekonomi dan kondisi kemarau panjang.

“Pada saat-saat sulit seperti sekarang, pemerintah harus hadir di tengah masyarakat. Kelangkaan pangan, kelangkaan BBM, itu harus ditangani dan diberi solusi,” pungkasnya.

Pernyataan tersebut memperluas pembahasan dari simbol politik menuju persoalan keseharian masyarakat. Aspirasi daerah akhirnya berkaitan langsung dengan akses layanan, pembangunan, dan kebutuhan ekonomi.

Di sisi lain, Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud saat peringatan HUT ke-81 RI mengajak seluruh elemen masyarakat mengisi kemerdekaan melalui pembangunan agar kesejahteraan, keadilan, dan pemerataan dapat dirasakan masyarakat.

Artinya, ruang dialog menjadi titik penting untuk mempertemukan aspirasi masyarakat dengan agenda pembangunan pemerintah daerah.

Baca Juga: URC Polda Kaltim Siaga 24 Jam, Laporan Kejahatan Ditargetkan Cepat Ditangani

Poin Penting:

Insight Redaksi

Fenomena Borneo Raya menunjukkan ada ruang aspirasi yang perlu dikelola dengan kepala dingin. Kaltim punya sumber daya besar, tetapi ukuran keberhasilan pembangunan tetap terasa di kampung-kampung. Pemerintah dan masyarakat adat perlu duduk bersama, bukan saling menunggu. Kada cukup bicara angka. Aspirasi lokal harus masuk perencanaan dan terlihat hasilnya di lapangan.

Bagikan informasi ini ke kawalan ikam supaya pembahasan soal pembangunan Kaltim semakin dipahami dari berbagai sisi.

Ikuti terus perkembangan isu daerah dan informasi terbaru hanya di Balikpapan TV teman update setia, bukan sekadar info biasa!

FAQ

1. Apa yang terjadi di flyover Samarinda pada 17 Agustus 2026?

Bendera Borneo Raya terlihat berdampingan dengan Merah Putih di kawasan flyover Samarinda saat peringatan HUT ke-81 RI.

2. Bagaimana sikap DAD Kaltim terhadap kemunculan bendera tersebut?

DAD Kaltim menilai fenomena tersebut sebagai ekspresi kekecewaan masyarakat dan mendorong pemerintah merespons melalui dialog.

3. Apa kebutuhan daerah yang disoroti DAD Kaltim?

Sorotan mencakup pembangunan infrastruktur, keterlibatan masyarakat adat, keseimbangan fiskal, pangan, pertanian, dan BBM.

4. Mengapa persoalan fiskal menjadi perhatian?

DAD Kaltim menilai luas wilayah serta aktivitas sumber daya alam perlu ikut diperhitungkan dalam kebijakan pembiayaan pembangunan daerah.

Sumber Informasi

Media Kaltimpost.id, dengan judul “DAD Kaltim Soroti Bendera Borneo Raya, Minta Pemerintah Respons Kekecewaan”, oleh M Hafiz Alfaruqi. Di-update kembali dengan angle dan style Balikpapantv.id. Data fiskal diperkuat melalui publikasi resmi DJPb Kementerian Keuangan dan regulasi pengelolaan keuangan daerah.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates
Editor : Arya Kusuma
Viktor Yuan Bendera Borneo Raya samarinda