Dua Kali Diduga Didiagnosis Maag, Bocah Samarinda Akhirnya Dioperasi karena Usus Buntu Pecah

AdminBTV • Dipublikasikan Rabu, 29 Juli 2026 | 09:04 WIB
BTV/AI
Ilustrasi 

Durasi Baca: 6 Menit

Topik: Dugaan Keterlambatan Diagnosis Nyeri Perut Anak Berujung Operasi Darurat Usus Buntu

Ikhtisar: Artikel ini membahas kronologi dugaan keterlambatan diagnosis seorang bocah di Samarinda, respons keluarga, penanganan rumah sakit, serta langkah investigasi yang akan dilakukan pihak terkait.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Dugaan keterlambatan diagnosis terhadap seorang bocah berusia enam tahun di Puskesmas Lempake, Samarinda Utara, berujung pada operasi darurat setelah usus buntunya dinyatakan pecah. Kasus ini kini menjadi perhatian karena keluarga menilai penanganan awal belum dilakukan secara maksimal.

Peristiwa ini memantik pertanyaan penting mengenai penanganan nyeri perut pada anak. Simak sampai tuntas, Ces! Informasi seperti ini penting dipahami setiap keluarga.

Baca Juga: Warga Cari Kayu, Malah Temukan Jenazah Lansia di Tanah Merah Samarinda, Polisi Masih Selidiki

Bagaimana Kronologi Dugaan Salah Diagnosis Itu Terjadi?

Perjalanan kasus ini bermula pada 7 Juli 2026 ketika putra Sulung Nugroho mengeluhkan nyeri di bagian perut. Saat itu Sulung sedang berada di Kutai Barat sehingga meminta istrinya membawa sang anak berobat ke Puskesmas Lempake.

Keesokan harinya, 8 Juli, dokter yang memeriksa menyampaikan bahwa anak tersebut mengalami gangguan lambung. Berdasarkan hasil pemeriksaan saat itu, pasien diberi obat maag dan dipersilakan menjalani pengobatan di rumah.

Keluarga mengikuti seluruh anjuran tenaga kesehatan karena meyakini diagnosis tersebut. Mereka berharap kondisi anak segera membaik setelah mengonsumsi obat yang diberikan.

Harapan itu ternyata belum terwujud. Selama beberapa hari berikutnya, keluhan nyeri perut masih terus muncul bahkan semakin mengganggu aktivitas anak.

Pada 11 Juli, Sulung kembali membawa putranya ke puskesmas yang sama. Menurut pengakuannya, diagnosis yang diterima kembali mengarah pada sakit lambung disertai diare.

Obat yang diberikan pun disebut masih serupa dengan kunjungan sebelumnya. Di titik inilah keluarga mulai merasa ada sesuatu yang belum terjawab dari penyebab sakit yang dialami anak mereka.

"Kami sudah beberapa kali datang berobat karena anak terus mengeluh sakit perut. Tapi diagnosisnya tetap maag dan obatnya juga sama. Baru setelah dirujuk ke RS Dirgahayu diketahui ternyata usus buntunya sudah pecah dan bernanah," ungkap Sulung, Senin (27/7/2026).

Baca Juga: DPRD Samarinda Dorong Layanan IKD Dipermudah, Banyak Pendatang Masih Gunakan KTP Daerah Asal

Kondisi Anak Memburuk Hingga Harus Menjalani Operasi Besar

Memasuki 12 Juli, kondisi pasien semakin mengkhawatirkan. Keluarga akhirnya membawa sang anak ke Instalasi Gawat Darurat untuk mendapatkan penanganan lanjutan.

Di IGD, pasien memperoleh surat rujukan menuju rumah sakit. Namun surat tersebut baru dapat digunakan pada hari berikutnya karena bertepatan dengan hari libur.

Setelah tiba di RS Dirgahayu pada 13 Juli, dokter segera melakukan pemeriksaan ultrasonografi (USG). Hasil pemeriksaan menunjukkan kondisi yang jauh berbeda dibanding diagnosis sebelumnya.

Tim medis menyatakan pasien mengalami radang usus buntu yang telah pecah. Kondisi itu membuat tindakan operasi harus segera dilakukan agar infeksi tidak berkembang semakin luas.

Menurut Sulung, dokter yang menangani anaknya sempat menyampaikan bahwa pasien datang dalam kondisi yang sudah terlambat untuk kasus usus buntu.

"Dokter bilang kami terlambat membawa anak. Saya jelaskan kalau kami sebenarnya sudah beberapa kali berobat ke fasilitas kesehatan pertama, tetapi selalu didiagnosis maag," ujarnya.

Selama operasi berlangsung, Sulung mengaku diperlihatkan kondisi usus anaknya yang telah mengalami perlengketan dan dipenuhi nanah. Keadaan tersebut membuat tindakan operasi menjadi lebih kompleks dibanding operasi usus buntu yang masih berada pada tahap awal.

Akibat kondisi tersebut, putranya harus menjalani perawatan intensif selama sekitar sepuluh hari. Setelah dinilai stabil oleh tim medis, pasien akhirnya diperbolehkan pulang pada 23 Juli.

Mengapa Keluarga Menilai Penanganan Awal Belum Maksimal?

Bagi Sulung Nugroho, persoalan utama bukan semata dugaan salah diagnosis. Yang paling disesalkannya adalah tidak adanya pemeriksaan lanjutan ketika keluhan nyeri perut anaknya terus berlanjut selama beberapa hari.

Menurutnya, kondisi pasien yang tidak menunjukkan perbaikan semestinya menjadi dasar untuk mempertimbangkan pemeriksaan penunjang ataupun rujukan ke rumah sakit agar penyebab sakit dapat dipastikan lebih cepat.

"Yang kami sesalkan bukan semata-mata salah diagnosis, tetapi tidak adanya upaya pemeriksaan lebih lanjut saat kondisi anak terus memburuk. Kalau sejak awal dilakukan pemeriksaan tambahan, mungkin kondisinya tidak sampai separah itu," katanya.

Sulung juga mengaku baru mengetahui bahwa dokter yang menangani putranya merupakan dokter internship. Baginya, apabila tenaga medis masih memiliki keraguan terhadap diagnosis, pemeriksaan laboratorium maupun rujukan ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap menjadi langkah yang patut dipertimbangkan.

Ia menilai proses tersebut berpotensi mencegah kondisi pasien berkembang menjadi lebih berat. Apalagi, nyeri perut pada anak dapat dipicu berbagai penyebab sehingga memerlukan pemantauan apabila gejala tidak kunjung mereda.

Dalam dunia medis, keluhan nyeri perut memang dapat memiliki gejala yang menyerupai gangguan lambung, infeksi saluran cerna, maupun radang usus buntu. Karena itu, perkembangan kondisi pasien dari hari ke hari menjadi salah satu pertimbangan penting dalam menentukan langkah pemeriksaan berikutnya.

Baca Juga: Diskusi RUU LGBTQ di Samarinda Bahas Regulasi dan Pencegahan HIV, Ini Datanya

Klarifikasi ke Puskesmas Berujung Audit Internal

Merasa masih memiliki banyak pertanyaan, Sulung mendatangi Puskesmas Lempake pada 25 Juli 2026 untuk meminta penjelasan sekaligus bertemu dokter yang menangani putranya.

Namun, menurutnya, dokter tersebut sedang menjalani cuti sehingga pertemuan belum dapat dilakukan.

Mediasi lanjutan kembali digelar pada Senin, 27 Juli 2026. Akan tetapi, Sulung menyebut dokter yang dimaksud kembali tidak hadir dalam pertemuan tersebut.

Pada kesempatan itu, pihak puskesmas menyerahkan hasil audit internal mengenai pelayanan yang telah diberikan kepada pasien.

Dalam dokumen tersebut dijelaskan bahwa pelayanan terhadap pasien telah dilakukan sesuai prosedur berdasarkan hasil anamnesis, pemeriksaan fisik, serta rekam medis yang tersedia saat pasien datang berobat.

Meski demikian, Sulung menyatakan belum dapat menerima hasil audit tersebut. Menurutnya, persoalan yang dipersoalkan keluarga bukan hanya mengenai hasil diagnosis awal, melainkan keputusan untuk tidak melakukan pemeriksaan tambahan ketika kondisi pasien tidak mengalami perubahan.

"Kami hanya ingin ada pengakuan apabila memang terjadi kekeliruan dalam penanganan. Harapan kami sederhana, ada evaluasi dan pengakuan bila memang ada kesalahan prosedur. Kami tidak ingin anak-anak lain mengalami keterlambatan penanganan seperti yang dialami anak kami," tegasnya.

Di sisi lain, Sulung tetap memberikan apresiasi kepada tim medis RS Dirgahayu. Ia menilai seluruh tenaga kesehatan di rumah sakit tersebut telah memberikan penanganan maksimal setelah putranya dirujuk sehingga kondisi anaknya berangsur membaik selama masa perawatan.

Menurutnya, pelayanan yang diterima di rumah sakit membuat proses pemulihan berjalan dengan baik hingga sang anak akhirnya diperbolehkan pulang setelah sekitar sepuluh hari menjalani perawatan intensif.

Dinas Kesehatan Siapkan Investigasi Lapangan

Kasus tersebut kini turut menjadi perhatian Dinas Kesehatan Kota Samarinda.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Samarinda, dr Ismid Kosasi, menyatakan pihaknya baru menerima informasi mengenai dugaan keterlambatan diagnosis tersebut.

Ia mengatakan langkah pertama yang akan dilakukan adalah meminta klarifikasi dari Puskesmas Lempake sebelum menentukan tindak lanjut berikutnya.

"Kami baru menerima informasinya. Akan kami konfirmasi dengan Puskesmas Lempake, kemudian kami tindak lanjuti dengan investigasi lapangan," singkat Ismid.

Bagi pihak keluarga, investigasi tersebut diharapkan mampu memberikan jawaban yang objektif mengenai proses pelayanan yang diterima putra mereka.

Apabila nantinya investigasi tidak menemukan titik terang ataupun tidak terdapat pengakuan atas dugaan kekeliruan prosedur, Sulung menyatakan akan mempertimbangkan mengirimkan somasi hingga menempuh jalur hukum sebagai langkah lanjutan untuk mencari kejelasan.

Baca Juga: Diskusi RUU LGBTQ di Samarinda Bahas Regulasi dan Pencegahan HIV, Ini Datanya

Poin Penting:

Insight Redaksi: Kasus ini memperlihatkan pentingnya komunikasi yang terbuka antara tenaga kesehatan dan keluarga pasien, terutama ketika gejala tidak menunjukkan perkembangan positif. Evaluasi pelayanan kesehatan bukan sekadar mencari siapa yang keliru, melainkan memastikan sistem mampu mencegah kejadian serupa terulang. Di Kalimantan Timur, akses layanan kesehatan terus berkembang, namun kualitas pengambilan keputusan klinis juga perlu terus diperkuat. Kada cukup hanya mengandalkan prosedur administratif. Keselamatan pasien harus menjadi prioritas utama.

Apabila keluhan sakit tidak kunjung membaik setelah beberapa kali pemeriksaan, jangan ragu meminta penjelasan lanjutan atau mencari opini medis kedua sesuai kondisi pasien.

Bagikan informasi ini ke bubuhan ikam agar semakin banyak keluarga memahami pentingnya mengenali gejala yang memerlukan pemeriksaan lanjutan.

Ikuti terus perkembangan informasi terpercaya hanya di Balikpapan TV, teman update setia, bukan sekadar info biasa!

FAQ

1. Apa yang dialami pasien dalam kasus ini?
Seorang bocah berusia enam tahun diduga mengalami keterlambatan diagnosis hingga akhirnya diketahui menderita usus buntu yang telah pecah dan harus menjalani operasi.

2. Mengapa keluarga mempersoalkan pelayanan Puskesmas Lempake?
Keluarga menilai tidak ada pemeriksaan lanjutan meski pasien telah beberapa kali datang dengan keluhan nyeri perut yang tidak membaik.

3. Apa hasil audit internal Puskesmas Lempake?
Audit internal menyatakan pelayanan yang diberikan telah sesuai prosedur berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan rekam medis.

4. Bagaimana tanggapan Dinas Kesehatan Kota Samarinda?
Dinas Kesehatan menyatakan akan meminta klarifikasi kepada Puskesmas Lempake dan melakukan investigasi lapangan.

5. Apa langkah yang akan ditempuh keluarga?
Apabila investigasi tidak memberikan kejelasan atau tidak ada pengakuan atas dugaan kesalahan prosedur, keluarga mempertimbangkan mengirimkan somasi hingga menempuh jalur hukum.

Sumber Informasi: Artikel ini sudah tayang sebelumnya di media Sapos.co.id, dengan judul "Diduga Salah Diagnosis, Bocah 6 Tahun Jalani Operasi Usus Buntu Pecah, Keluarga Pertimbangkan Jalur Hukum", oleh penulis Joko. Di-update kembali dengan angle dan gaya jurnalistik Balikpapantv.id.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates
Editor : Arya Kusuma
Sulung Nugroho Puskesmas Lempake Samarinda Usus buntu pecah