Durasi Baca: 6 menit
Topik: Dugaan keterlambatan diagnosis usus buntu pada anak di fasilitas kesehatan tingkat pertama
Ikhtisar: Kasus dugaan salah diagnosis pada anak di Samarinda memunculkan perhatian terhadap pentingnya evaluasi medis, rujukan cepat, dan keselamatan pasien.
Balikpapan TV - Hai Ces! Seorang anak berusia enam tahun di Samarinda harus menjalani operasi darurat dan perawatan intensif setelah usus buntunya pecah. Keluarga menduga kondisi tersebut dipicu keterlambatan diagnosis saat korban lebih dulu berobat ke Puskesmas Lempake sebagai fasilitas kesehatan tingkat pertama.
Perut yang terus terasa nyeri ternyata bisa menyimpan kondisi serius. Ikuti kronologi kasusnya sampai tuntas. Penting dipahami sejak awal, Ces!
Mengapa kasus ini menjadi perhatian publik?
Peristiwa ini bermula ketika bocah tersebut mengeluhkan sakit perut hebat pada Rabu, 8 Juli 2026. Sang ayah, Sulung Nugroho, segera membawanya ke Puskesmas Lempake yang menjadi fasilitas kesehatan pertama dalam layanan BPJS.
Pada pemeriksaan awal maupun kunjungan berikutnya, anak itu didiagnosis mengalami diare dan gangguan lambung. Menurut keluarga, pengobatan yang diberikan tidak banyak berubah meski kondisi pasien terus menurun.
"Saat penanganan kedua, kondisi anak saya sudah sangat lemas dan sulit berdiri, tapi obat yang diberikan tetap sama dan tidak dilakukan pemeriksaan laboratorium sama sekali," ungkap Sulung kepada awak media, Senin (27/7/2026).
Kondisi yang terus memburuk membuat keluarga meminta agar diterbitkan surat rujukan ke rumah sakit. Permintaan tersebut akhirnya dipenuhi sehingga pasien dibawa ke Unit Gawat Darurat RS Dirgahayu pada Senin, 13 Juli 2026.
Baca Juga: Warga Cari Kayu, Malah Temukan Jenazah Lansia di Tanah Merah Samarinda, Polisi Masih Selidiki
Apa yang ditemukan tim medis rumah sakit?
Setibanya di RS Dirgahayu, tim medis melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kondisi pasien. Hasil pemeriksaan menunjukkan usus buntu anak tersebut sudah berada dalam kondisi kritis hingga bernanah.
Sehari kemudian, pasien langsung menjalani operasi darurat. Setelah tindakan pembedahan, ia harus dirawat di ruang ICU selama hampir satu pekan karena kondisinya memerlukan pengawasan intensif.
Menurut Sulung, dokter yang menangani anaknya di rumah sakit sempat mempertanyakan mengapa pasien baru dirujuk ketika kondisinya sudah sangat berat.
"Dokter RS Dirgahayu sempat heran kenapa baru dibawa, padahal kondisinya sudah mau pecah. Bagi kami ini miris, sebab sejak hari pertama sakit anak kami langsung dibawa berobat," ujarnya.
Kasus tersebut kemudian memunculkan dugaan adanya keterlambatan penanganan pada fase awal pemeriksaan di fasilitas kesehatan pertama.
Bagaimana tanggapan pihak puskesmas?
Kekecewaan keluarga bertambah setelah mengetahui tenaga medis yang pertama kali menangani anak mereka diduga merupakan dokter internship.
Hingga kini, menurut pihak keluarga, belum ada kesempatan untuk melakukan mediasi langsung dengan dokter yang bersangkutan guna memperoleh penjelasan mengenai proses pemeriksaan yang dilakukan.
Di sisi lain, Pelaksana Tugas Kepala Puskesmas Lempake, Komang Ayu Indah Ardhani, membantah adanya tindakan di luar prosedur.
"Saya hanya bisa menyampaikan bahwa kami puskesmas sudah melayani sesuai prosedur," ujar Komang saat dikonfirmasi secara terpisah.
Pernyataan tersebut menjadi respons resmi dari pihak puskesmas terhadap dugaan kelalaian yang disampaikan keluarga pasien.
Mengapa diagnosis usus buntu pada anak bisa menjadi tantangan?
Apendisitis atau radang usus buntu merupakan salah satu penyebab nyeri perut akut yang paling sering memerlukan operasi darurat. Pada anak-anak, gejalanya kadang menyerupai gangguan pencernaan lain seperti diare atau infeksi lambung sehingga proses diagnosis dapat menjadi lebih kompleks.
Dalam praktik medis, dokter biasanya mempertimbangkan riwayat keluhan, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium, hingga pemeriksaan penunjang seperti USG atau CT scan bila diperlukan untuk memastikan diagnosis.
Bila penanganan terlambat dan peradangan terus berkembang, usus buntu berisiko pecah sehingga infeksi dapat menyebar ke rongga perut. Kondisi tersebut umumnya membutuhkan operasi segera dan masa perawatan yang lebih panjang dibandingkan kasus yang ditangani lebih dini.
Baca Juga: DPRD Samarinda Dorong Layanan IKD Dipermudah, Banyak Pendatang Masih Gunakan KTP Daerah Asal
Poin Penting:
- • Bocah enam tahun di Samarinda menjalani operasi darurat setelah usus buntunya pecah.
- • Keluarga menduga diagnosis awal di Puskesmas Lempake kurang tepat.
- • Pasien sebelumnya didiagnosis mengalami diare dan gangguan lambung.
- • RS Dirgahayu menemukan kondisi usus buntu telah bernanah dan memerlukan operasi segera.
- • Puskesmas Lempake menyatakan seluruh pelayanan telah dilakukan sesuai prosedur.
- • Kasus ini kembali mengingatkan pentingnya evaluasi cepat terhadap nyeri perut berat pada anak.
Insight Redaksi: Kasus seperti ini pang menjadi pengingat bahwa komunikasi antara tenaga kesehatan dan keluarga pasien sama pentingnya dengan tindakan medis. Bila keluhan terus memburuk, evaluasi lanjutan serta penilaian ulang memang perlu dipertimbangkan agar peluang penanganan tepat waktu semakin besar. Bubuhan masyarakat juga berhak memperoleh penjelasan medis yang terbuka. Keterbukaan membangun kepercayaan. Kada cukup hanya mengandalkan prosedur di atas kertas, Ces.
Bagikan informasi ini ke bubuhan ikam agar semakin banyak yang memahami pentingnya memperhatikan gejala nyeri perut berat pada anak. Terus ikuti perkembangan informasi kesehatan dan berita daerah hanya di Balikpapan TV, teman update setia, bukan sekadar info biasa!
FAQ
1. Mengapa bocah tersebut harus menjalani operasi darurat?
Karena setelah diperiksa di RS Dirgahayu, usus buntunya ditemukan sudah pecah dan bernanah sehingga membutuhkan tindakan operasi segera.
2. Apa dugaan yang disampaikan keluarga pasien?
Keluarga menduga terjadi keterlambatan diagnosis ketika anak pertama kali diperiksa di Puskesmas Lempake.
3. Apa respons Puskesmas Lempake?
Plt Kepala Puskesmas menyatakan seluruh pelayanan kepada pasien telah dilakukan sesuai prosedur.
4. Mengapa usus buntu perlu ditangani cepat?
Karena bila terlambat, usus buntu dapat pecah dan meningkatkan risiko komplikasi serta memperpanjang masa perawatan.
Sumber Informasi: Artikel ini sudah tayang sebelumnya di Media Kaltim Post, dengan judul "Bocah 6 Tahun Harus Masuk ICU Usai Operasi Usus Buntu, Didiganostik Diare Saat Berobat di Puskesmas", oleh penulis Ari Arief. Di-update kembali dengan angle dan style Balikpapantv.id.