Topik: Rencana PSEL Samarinda di TPA Sambutan mulai dimatangkan hadapi tantangan kapasitas sampah
Durasi Baca: 5 menit
Baca Ringkas 30 Detik: Upaya pengolahan sampah di Samarinda mulai mengarah pada sistem energi listrik melalui pembangunan fasilitas PSEL di TPA Sambutan. Proyek ini masih dalam tahap pendalaman teknis bersama sejumlah instansi, dengan tantangan utama berupa kebutuhan pasokan sampah harian yang belum terpenuhi. Optimalisasi fasilitas sementara menjadi langkah awal sambil menunggu realisasi proyek besar ini berjalan. Scroll Kebawah Lanjut Baca Selengkapnya, Cess!...
Balikpapan TV - Hai Cess! Samarinda lagi nyusun langkah baru buat urusan sampah. Rencana pembangunan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik alias PSEL di TPA Sambutan mulai digodok serius, walau masih ada tantangan teknis yang harus dibereskan dulu.
Penasaran gimana strategi kota ini mengubah sampah jadi energi listrik dan kenapa prosesnya kada bisa instan? Simak terus sampai habis, banyak detail menarik yang bikin ikam pahamlah arah kebijakan ini ke depan Cess!
Baca Juga: Juknis SPMB Samarinda Hampir Rampung, Jadwal Pendaftaran SD dan SMP Mulai Awal Juni
Kenapa lokasi PSEL dipilih di zona III TPA Sambutan?
Penentuan lokasi pembangunan PSEL bukan asal pilih. Zona III di TPA Sambutan jadi titik yang direncanakan karena kondisi zona lain sudah kada memungkinkan dipakai lagi. Zona I sudah penuh, sedangkan zona II sudah selesai dibangun dan masuk tahap persiapan.
Keputusan ini disampaikan langsung oleh Anggota Pansus LKPj Tahun Anggaran 2025 M Andriyansyah. Ia menjelaskan bahwa ruang aktivitas baru memang tinggal tersisa di zona III. Nah, ini jadi langkah realistis supaya pembangunan tetap bisa jalan tanpa harus nabrak keterbatasan lahan yang sudah ada. Singkatnya, pilihan ini bukan soal ideal, tapi soal yang masih memungkinkan dipakai.
Sejauh mana kesiapan teknis pembangunan PSEL ini?
Saat ini, rencana pembangunan PSEL masih dalam tahap pendalaman bersama beberapa OPD. Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas Pekerjaan Umum serta Penataan Ruang ikut terlibat untuk memastikan semuanya siap dari sisi teknis.
Pendalaman ini penting, karena PSEL harus terintegrasi dengan sistem pengolahan sampah yang sudah berjalan. Kada bisa berdiri sendiri. Harus nyambung, harus sinkron. Jadi bukan cuma bangun fasilitas baru, tapi juga memastikan semua sistem lama tetap nyatu dengan yang baru.
Kalau asal jalan tanpa perhitungan matang, risiko gangguan operasional bisa terjadi. Nah, itu yang lagi dihindari sejak awal.
Bagaimana peran insinerator yang sudah ada saat ini?
Sambil nunggu PSEL benar-benar terbangun, Samarinda kada tinggal diam. Kota ini sudah punya 10 unit insinerator yang bisa dimanfaatkan sebagai solusi jangka pendek.
Menurut Andriyansyah, fasilitas ini bisa membantu percepatan pengurangan sampah. Jadi, sambil proyek besar disiapkan, solusi yang sudah ada tetap dimaksimalkan.
Ini strategi yang cukup masuk akal. Daripada nunggu lama tanpa aksi, lebih baik pakai yang ada dulu. Nah, itu sudah langkah taktis pang, supaya penanganan sampah tetap berjalan meski proyek utama belum rampung.
Baca Juga: Kasus Sabu di Samarinda Kembali Terbongkar, 2 Pelaku Ditangkap di Lokasi Berbeda
Apa tantangan terbesar pembangunan PSEL di Samarinda?
Masalah utama ternyata bukan di teknologi atau lahan, tapi di kapasitas sampah. PSEL membutuhkan sekitar 1.000 ton sampah per hari agar bisa beroperasi optimal.
Sementara itu, produksi sampah di Samarinda saat ini masih di angka sekitar 660 ton per hari. Artinya, masih ada selisih cukup besar yang harus dipenuhi.
Ini jadi tantangan serius. Karena tanpa pasokan yang cukup, fasilitas PSEL kada bisa berjalan maksimal. Jadi bukan sekadar bangun, tapi juga memastikan bahan bakunya tersedia setiap hari.
Apakah kerja sama antar daerah jadi solusi?
Untuk mengejar kebutuhan kapasitas, Samarinda mulai menjajaki kerja sama dengan daerah lain, salah satunya Kutai Kartanegara. Dari komunikasi awal, kontribusi sampah dari Kukar baru sekitar 50 ton per hari.
Angka ini jelas masih jauh dari target. Tapi langkah ini menunjukkan arah solusi yang sedang dicoba. Artinya, kolaborasi antar daerah mulai dilirik sebagai bagian dari strategi.
Selain itu, proyek ini juga mendapat dukungan pembiayaan dari pemerintah pusat melalui Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara. Dukungan ini jadi peluang besar yang sayang kalau dilewatkan. Tapi tetap, kesiapan harus matang. Kada bisa asal gas.
Poin Penting
1. PSEL direncanakan dibangun di zona III TPA Sambutan karena zona lain sudah penuh atau selesai.
2. Proyek masih dalam tahap pendalaman teknis bersama DLH dan PUPR.
3. Samarinda sudah memiliki 10 insinerator sebagai solusi sementara.
4. Kebutuhan sampah PSEL mencapai 1.000 ton per hari, sementara saat ini baru 660 ton.
5. Kerja sama dengan Kutai Kartanegara masih belum mencukupi kebutuhan kapasitas.
Insight: Langkah Samarinda ini menunjukkan bahwa pengelolaan sampah modern kada cuma soal teknologi, tapi juga soal konsistensi pasokan dan kolaborasi wilayah. Di Kalimantan, tantangan geografis dan distribusi jadi faktor penting. Nah, di sini keliatan bahwa solusi jangka panjang harus dibarengi strategi jangka pendek yang realistis. Kada bisa lompat jauh tanpa pijakan yang kuat, pahamlah ikam.
Kalau menurut ikam ini penting, bagikan artikel ini ke bubuhan ikam supaya makin banyak yang ngerti arah pengelolaan sampah ke depan di daerah kita Cess!
Tetap update info terbaru seputar pembangunan dan isu daerah yang lagi ramai dibahas, hanya di Balikpapan Tv teman update setia, bukan sekadar info biasa!
FAQ
1. Apa itu PSEL yang direncanakan di Samarinda?
PSEL adalah fasilitas yang mengolah sampah menjadi energi listrik melalui sistem pengolahan tertentu.
2. Kenapa pembangunan PSEL belum langsung berjalan?
Karena masih dalam tahap pendalaman teknis dan menghadapi tantangan kapasitas sampah.
3. Berapa kebutuhan sampah untuk PSEL?
Sekitar 1.000 ton per hari agar bisa beroperasi optimal.
4. Apa solusi sementara yang digunakan saat ini?
Samarinda memanfaatkan 10 unit insinerator untuk membantu mengurangi sampah.