Info Lokal InfoScope Gaya Hidup Infotainment Iptek Bisnis & UMKM Religi

Pasar Pagi Masih Tempias! Paranet dan Terpal Inisiatif Pedagang Melindungi Lapak dari Tempias Hujan

Arya Kusuma • Senin, 2 Februari 2026 | 09:09 WIB

Aktivitas pedagang Pasar Pagi Samarinda memasang paranet dan terpal untuk melindungi lapak dari hujan deras.
Aktivitas pedagang Pasar Pagi Samarinda memasang paranet dan terpal untuk melindungi lapak dari hujan deras.

Ikhtisar: Aktivitas pedagang Pasar Pagi Samarinda terganggu hujan deras, inisiatif mandiri muncul sambil menunggu solusi pemerintah.

Balikpapan TV - Hai Cess! Hujan deras yang mengguyur Samarinda, Jumat (30/1/2026), kembali menyingkap persoalan lama di Pasar Pagi. Air hujan menembus bangunan, menimpa lapak pedagang, dan memaksa aktivitas jual beli tersendat. Tanpa penanganan yang segera terealisasi, pedagang memilih bergerak mandiri demi menyelamatkan barang dagangan serta menjaga denyut ekonomi tetap berputar.

Penasaran bagaimana cerita lengkapnya dari lapak ke lapak hingga rencana solusi pemerintah kota? Ikuti terus sampai tuntas, Cess!

Mengapa hujan kembali mengganggu aktivitas pedagang Pasar Pagi?

Hujan deras memicu tempias yang langsung mengenai lapak pedagang, khususnya pedagang pakaian. Air menetes dari bagian bangunan yang belum tertutup sempurna, membuat suasana pasar menjadi tidak kondusif. Aktivitas jual beli pun melambat, pembeli enggan berlama-lama, sementara pedagang sibuk menyelamatkan barang.

Situasi ini bukan kejadian baru. Pedagang sudah beberapa kali merasakan dampaknya, terutama ketika hujan turun tiba-tiba. Kondisi tersebut membuat lapak rawan basah, pakaian berisiko rusak, dan jam operasional terpaksa dipangkas.

Dalam konteks ekonomi harian, gangguan seperti ini terasa berat. Pendapatan harian menjadi taruhan, sementara kebutuhan hidup terus berjalan. Nah’ itu sudah, hujan datang tanpa aba-aba, lapak langsung kena imbasnya Cess!.

Apa langkah mandiri yang diambil pedagang menghadapi tempias hujan?

Sejumlah pedagang memilih memasang paranet dan terpal secara mandiri. Langkah ini diambil sebagai bentuk perlindungan darurat agar aktivitas berdagang tetap berjalan. Kholif, salah satu pedagang pakaian, menyebut keputusan tersebut lahir karena ketidakpastian penanganan, sementara hujan bisa turun kapan saja.

Sebelum paranet terpasang, Kholif mengaku hanya bisa pasrah. Saat tempias pertama terjadi, lapak terpaksa ditutup lebih awal dari jam operasional. Dampaknya langsung terasa pada pendapatan harian yang menurun.

“Makanya kami berinisiatif pasang sendiri dan pakai biaya sendiri. Tidak ada izin. Daripada ekonomi kami terganggu dan tidak bisa berdagang, kami yang repot,” ungkap Kholif. Pahamlah ikam, kondisi ini menuntut gerak cepat di lapangan.

Baca Juga: Lampu gantung ramping di teras kecil menciptakan proporsi seimbang.

Selain hujan, faktor apa lagi yang memengaruhi kualitas dagangan?

Paranet bukan hanya penahan hujan, tetapi juga pelindung dari paparan sinar matahari langsung. Panas berlebih di siang hari dapat memengaruhi kualitas pakaian, terutama warna yang mudah pudar.

“Kalau siang, panas matahari bisa bikin warna pakaian pudar,” ujar Kholif. Bagi pedagang pakaian, kualitas visual menjadi nilai jual utama. Warna yang memudar berarti potensi kerugian.

Upaya perlindungan ini menjadi bentuk adaptasi pedagang menghadapi kondisi pasar yang belum sepenuhnya ramah cuaca. Meski bersifat sementara, langkah ini membantu menjaga barang tetap layak jual dan pembeli tetap nyaman berbelanja.

Bagaimana respons pemerintah dan rencana penanganan ke depan?

Kepala Dinas Perdagangan Kota Samarinda, Nurrahmani, mengakui persoalan tempias hujan telah disampaikan kepada kontraktor Pasar Pagi. Berdasarkan informasi sementara, kontraktor menyatakan kesanggupan melakukan perbaikan, namun masih menunggu kedatangan material di Samarinda.

Perempuan yang akrab disapa Yama itu menjelaskan, material penanganan perlu dilaporkan terlebih dahulu ke Disdag agar solusi sesuai kebutuhan pedagang. Keputusan tidak bisa diambil sepihak.

“Saya tidak bisa langsung memutuskan memilih bahan tertentu. Nanti akan saya bawa ke Pak Wali Kota (Andi Harun) untuk didiskusikan terlebih dahulu,” jelasnya. Rencana penanganan berupa pemasangan kanopi tidak permanen yang dapat dibuka tutup, dengan anggaran dari dana Corporate Social Responsibility.

Insight: Kisah Pasar Pagi Samarinda menunjukkan daya tahan pedagang menghadapi tantangan cuaca dan keterbatasan fasilitas. Inisiatif mandiri menjadi jalan bertahan, namun solusi jangka panjang tetap dibutuhkan. Dengan penanganan yang tepat, pasar dapat kembali optimal, terutama menjelang Ramadan dan Idulfitri, saat perputaran ekonomi meningkat dan harapan pedagang ikut menguat.

Bagikan artikel ini ke bubuhan ikam supaya semakin banyak yang paham kondisi lapangan dan harapan pedagang Cess!.

Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapan Tv teman update setia, "Bukan Sekadar Info Biasa!"

FAQ
1. Mengapa pedagang Pasar Pagi memilih memasang paranet sendiri?
Karena hujan sering datang tiba-tiba dan penanganan belum terealisasi, sementara dagangan perlu perlindungan cepat.

2. Apa dampak tempias hujan terhadap pendapatan pedagang?
Lapak terpaksa tutup lebih awal dan pembeli berkurang, sehingga pendapatan harian menurun.

3. Apa solusi yang direncanakan Pemerintah Kota Samarinda?
Pemasangan kanopi tidak permanen yang dapat dibuka tutup dengan pendanaan CSR.

DISCLAIMER
Artikel ini menggunakan bantuan AI secara terbatas untuk menghasilkan tulisan bebas typo dan kalimat tidak efektif. Artikel ini telah melalui verifikasi dan validasi ketat oleh Manusia (Redaksi). Gambar dapat saja dihasilkan AI di artikel ini hanya sebagai ilustrasi pendukung yang membantu pembaca memahami konteks informasi bukan sebagai bukti realistis. Teknologi AI digunakan semata-mata sebagai alat bantu produktivitas dan efisiensi kerja redaksi — bukan sebagai pengganti peran jurnalis manusia.

Koneksi Informasi Terkini
Koneksi Informasi Terkini

Editor : Arya Kusuma
#samarinda #dinas perdagangan #Kanopi CSR #Paranet #Pedagang Pasar Pagi