Balikpapan TV - Hai Cess! Penerapan sistem parkir progresif di Pasar Pagi Samarinda lagi jadi buah bibir. Bukan soal teknis semata, tapi soal beban harian pedagang yang dari pagi sampai sore menggantungkan hidup di lapak pasar. Kebijakan ini memicu keluhan karena pedagang dan karyawan diperlakukan sama dengan pengunjung, padahal durasi parkir jelas beda kelas.
Isunya sederhana tapi berdampak panjang. Pedagang merasa kebijakan ini kurang pas sasaran. Nah, sebelum geser ke poin berikutnya, simak terus sampai tuntas karena cerita dari lapangan ini menyimpan detail penting yang patut dipahami bersama Cess!.
Apakah parkir progresif di Pasar Pagi memberatkan pedagang?
Sistem parkir progresif dinilai memberatkan karena pedagang harus parkir lama untuk bekerja, bukan sekadar belanja lalu pulang. Keluhan ini datang langsung dari pelaku pasar yang merasakan dampaknya setiap hari. Mereka datang sejak pagi, pulang menjelang pasar tutup, dan kendaraan tetap terparkir sepanjang jam kerja.
Ernawati, pedagang aksesoris di Pasar Pagi Samarinda, menyampaikan keberatan karena pedagang disamakan dengan pengunjung. “Harapan kami sebagai pedagang itu ada tarif parkir member. Jangan disamakan dengan pengunjung, karena kami dari pagi sampai sore bahkan sampai pasar tutup di sini cari uang,” ujarnya saat ditemui, Senin (12/1).
Bagi pedagang kecil dan karyawan, beban ini terasa nyata. Mayoritas menggunakan motor. Dengan tarif progresif, parkir bisa tembus sekitar Rp10 ribu per hari. Kalau dihitung sebulan, angkanya bisa mencapai Rp300 ribu. Angka segitu jelas bikin napas usaha kecil jadi sesak, pahamlah ikam.
Kenapa alasan turn over kendaraan dianggap tidak relevan?
Dishub Samarinda menyebut parkir progresif bertujuan mempercepat perputaran kendaraan karena lahan terbatas. Logikanya, kendaraan tidak terlalu lama parkir sehingga ruang bisa bergantian. Untuk pengunjung, alasan ini masih masuk akal. Datang, belanja, lalu pulang.
Masalah muncul saat konsep ini diterapkan ke pedagang. Mereka memang datang untuk bekerja, bukan singgah sebentar. “Kalau pembeli disuruh cepat pulang itu wajar. Tapi kalau pedagang bagaimana? Kami memang datang untuk bekerja, bukan sebentar,” tegas Ernawati.
Di titik ini, pedagang menilai alasan tersebut tidak nyambung dengan realitas kerja di pasar. Aktivitas berdagang menuntut keberadaan seharian penuh. Jadi, kebijakan yang sama rata justru terasa timpang, nah’ itu sudah, logikanya begitu.
Berapa tarif parkir progresif yang berlaku saat ini?
Tarif parkir progresif di Pasar Pagi Samarinda sudah ditetapkan rinci. Untuk kendaraan roda dua, biaya Rp2.000 berlaku pada dua jam pertama. Setelah itu, tarif naik Rp1.000 setiap jam berikutnya hingga maksimal Rp10.000 per hari.
Untuk kendaraan roda empat, tarif maksimal dipatok Rp25.000. Sementara truk dikenakan hingga Rp35.000. Skema ini berlaku untuk semua pengguna parkir, tanpa pengecualian antara pengunjung dan pedagang.
Dishub juga menyarankan pedagang yang hanya bongkar muat memanfaatkan sistem drop off. Pembayaran parkir tetap tersedia secara tunai, namun langsung dikenakan tarif maksimal. Skema ini menambah catatan tersendiri di kalangan pedagang yang merasa opsi tersebut belum menjawab kebutuhan kerja harian.
Apa solusi yang diharapkan pedagang Pasar Pagi Samarinda?
Pedagang berharap ada kebijakan khusus berupa tarif member atau langganan, terutama untuk kendaraan roda dua. Skema ini dianggap lebih adil karena menyesuaikan fungsi kendaraan sebagai alat penunjang kerja, bukan sekadar transportasi singkat.
Ernawati menilai contoh sudah ada di kawasan lain. “Di SGS dan Mesra Indah itu ada parkir member untuk pedagang. Masa di Pasar Pagi tidak bisa dipertimbangkan,” tuturnya. Perbandingan ini menunjukkan kebijakan serupa pernah diterapkan dan berjalan.
Bagi pedagang, solusi ini bukan soal keringanan semata, tapi soal keberlanjutan usaha. Dengan tarif yang lebih ramah, beban harian bisa ditekan tanpa mengorbankan tujuan pengaturan parkir kota. Ya’kalo dipikir-pikir, pahamlah ikam.
Ikhtisar
Penerapan parkir progresif di Pasar Pagi Samarinda menuai keluhan karena pedagang disamakan dengan pengunjung. Beban biaya parkir dinilai berat bagi pedagang dan karyawan yang parkir seharian. Pedagang berharap ada tarif member seperti di kawasan lain, sementara Dishub tetap menerapkan sistem ini demi perputaran kendaraan dan keterbatasan lahan.
Bagikan artikel ini ke kawalan ikam supaya makin banyak yang paham duduk persoalannya di lapangan Cess!.
Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapan Tv teman update setia, “Bukan Sekadar Info Biasa!”
FAQ
Apa itu sistem parkir progresif di Pasar Pagi Samarinda?
Sistem parkir dengan tarif bertambah sesuai durasi parkir hingga batas maksimal per hari.
Siapa saja yang terkena kebijakan parkir progresif?
Seluruh pengguna parkir, baik pengunjung maupun pedagang dan karyawan pasar.
Apa harapan utama pedagang terkait kebijakan ini?
Penerapan tarif parkir member atau langganan khusus bagi pedagang dan karyawan.
DISCLAIMER
Artikel ini menggunakan bantuan AI secara terbatas untuk menghasilkan tulisan bebas typo dan kalimat tidak efektif. Artikel ini telah melalui verifikasi dan validasi ketat oleh Manusia (Redaksi). Gambar dapat saja dihasilkan AI di artikel ini hanya sebagai ilustrasi pendukung yang membantu pembaca memahami konteks informasi bukan sebagai bukti realistis. Teknologi AI digunakan semata-mata sebagai alat bantu produktivitas dan efisiensi kerja redaksi — bukan sebagai pengganti peran jurnalis manusia.