Info Lokal InfoScope Gaya Hidup Infotainment Iptek Bisnis & UMKM Religi

Harga Cabai Meroket di Samarinda, Pedagang Pasar Merdeka Curhat Jelang Nataru 2025!

Rizkiyan Akbar • Jumat, 12 Desember 2025 | 09:37 WIB

Seorang pedagang cabai di Pasar Merdeka Samarinda.
Seorang pedagang cabai di Pasar Merdeka Samarinda.

Balikpapan TV - Hai Cess! Harga cabai di Pasar Merdeka Samarinda kembali bikin kening berkerut. Para pedagang, pembeli, sampai bubuhan ibu rumah tangga merasakan langsung panasnya kenaikan harga jelang Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025.

Di lapak cabai, angka yang terpampang di timbangan bukan sekadar nominal—itu sudah jadi cerita panjang tentang pasokan, permintaan, dan realita pasar yang bergerak tanpa kompromi.

Nah, kalau ikam penasaran kenapa harga cabai terus merangkak naik sejak beberapa bulan lalu, yuk baca sampai tuntas Cess!

Baca Juga: Cicilan Rumah Subsidi di Kaltim Mulai Rp1 Jutaan, Buruan Cek Sekarang!

Kenapa harga cabai rawit melonjak terus sejak beberapa bulan terakhir?

Kenaikan harga cabai rawit memang terasa makin tinggi memasuki momen akhir tahun. Namun faktanya, lonjakan ini bukan hanya karena suasana Nataru. Dalam beberapa bulan terakhir, harga sudah menanjak perlahan.

JA (40), pedagang cabai di Pasar Merdeka, menyampaikan kalau harga kini menembus Rp65 ribu per kilogram—angka yang bisa berubah kapan saja.

“Besok harganya bisa berubah lagi, bahkan berpeluang naik lagi.” ujarnya.

Penjelasan JA menunjukkan bahwa pola kenaikan ini bergerak bertahap: dari Rp18 ribu naik ke Rp25 ribu, lalu Rp30 ribu, Rp35 ribu, dan naik terus tanpa sempat turun. Pedagang seperti JA pun harus menyesuaikan modal harian. Kondisi ini membuat pembeli makin berhitung sebelum memasukkan cabai ke dalam kantong belanja. Situasi pasar yang dinamis inilah yang membuat banyak orang mulai mengurangi jumlah belanja.

Jika dicermati, harga cabai rawit memang sensitif terhadap pasokan. Ketika jalur distribusi terganggu atau stok menipis, harga cepat merespons. Kombinasi antara tingginya permintaan jelang Nataru dan pasokan yang tidak stabil membuat harga kian melejit. Pembeli tetap beli, tapi porsinya mengecil Cess.

Apa penyebab cabai merah keriting ikut naik beriringan?

Kenaikan tidak hanya terjadi pada cabai rawit. Cabai merah keriting juga ikut merangkak naik. Saat ini, komoditas tersebut mencapai Rp60 ribu per kilogram. Jika menengok sebulan ke belakang, harganya masih berada di kisaran Rp45 ribu.

“Naiknya bertahap dari Rp45 ribu jadi Rp50 ribu, Rp55 ribu, hingga mencapai angka yang berlaku saat ini,” jelas JA.

Lonjakan harga ini erat kaitannya dengan sumber pasokan. Cabai merah keriting dan cabai rawit sebagian besar didatangkan dari luar daerah melalui tengkulak di Pasar Segiri. Ketika di Pasar Segiri harga sudah tinggi, otomatis pasar lain mengikuti pola tersebut.

Pasar lokal di Samarinda yang sangat bergantung pada pasokan luar kota menjadikan harga mudah naik jika terjadi perubahan—baik pada distribusi, cuaca, maupun volume panen. Alurnya sederhana: pasokan naik, harga turun; pasokan turun, harga naik. Sesederhana itu sudah, tapi dampaknya berlapis.

Mengapa harga komoditas lain seperti tomat dan timun tetap stabil?

Meski cabai meroket, beberapa komoditas hortikultura lain tetap aman di kantong. Tomat dan timun, misalnya, masih dijual di kisaran Rp8 ribu per kilogram. Stabilnya harga ini bukan kebetulan. Komoditas tersebut sebagian besar dipasok oleh petani lokal.

Dengan pasokan lokal, jalur distribusi lebih pendek, biaya angkut lebih terkendali, dan stok lebih mudah dipantau. Hal ini membuat harga tidak mudah fluktuatif meski permintaan meningkat. Berbeda dengan cabai yang bergantung pada pasokan lintas daerah, komoditas lokal cenderung lebih aman dari guncangan harga.

Keberadaan pasokan lokal ini juga menjadi penyeimbang bagi pembeli. Ketika cabai naik, orang bisa beralih ke bahan lain yang harganya tetap stabil. Pedagang pun merasa terbantu karena ada komoditas yang perputarannya masih normal.

Ini jadi pengingat penting bahwa ketahanan pangan daerah sangat dipengaruhi oleh seberapa banyak komoditas yang bisa diproduksi sendiri Cess.

Bagaimana kenaikan harga cabai memengaruhi kebiasaan belanja masyarakat?

Kenaikan harga cabai memberikan efek langsung pada pola belanja harian. JA menyebutkan, meski harga jual naik, pendapatannya tidak meningkat.

“Modal terus bertambah, tapi pendapatan tetap saja. Pembeli pun ikut tertekan. Yang biasanya ambil setengah kilogram, sekarang cuma mampu seperempat. Dulu Rp15 ribu masih bisa dapat setengah kilogram, sekarang dengan jumlah itu hanya dapat seperempat,” tuturnya.

Pola ini menunjukkan bahwa kebutuhan cabai tetap ada, namun volume pembelian berkurang. Banyak pembeli kini memilih membeli secukupnya saja agar tetap bisa mengatur pengeluaran harian. Perubahan kebiasaan ini juga mempengaruhi ritme operasional pedagang, terutama terkait modal belanja.

Dalam kondisi seperti ini, pedagang melakukan dua hal: menjaga stok agar tidak menumpuk dan memastikan modal tetap bisa berputar. Bagi masyarakat, trik kecil seperti menggunakan cabai kering, menyimpan cabai dalam freezer, atau mengolah sambal dalam jumlah besar bisa membantu menghemat belanja selama harga tinggi.

Baca Juga: Kebakaran Hebat Menghantam Kukar! 3 Balita Tewas Dalam Kondisi Mengenaskan

Apa harapan pedagang untuk pemerintah terkait kenaikan harga cabai?

Di tengah situasi yang terus bergerak, JA berharap pemerintah mengambil langkah agar harga bisa kembali turun.

“Kalau harganya naik terus, modal buat belanja besok jadi kurang,” pungkasnya.

Pedagang berharap adanya intervensi, entah melalui stabilisasi pasokan, operasi pasar, atau pemeriksaan terhadap rantai distribusi. Yang penting, harga kembali pada level yang memudahkan pedagang dan pembeli.

Bagi pedagang, harga yang stabil jauh lebih penting dibanding harga tinggi. Dengan harga stabil, pembeli tidak keberatan datang rutin, transaksi lancar, dan perputaran modal tetap aman. Ini bukan hanya isu pasar semata, namun juga soal keberlangsungan ekonomi skala kecil di Balikpapan dan daerah sekitar.

Yuk, bantu sebar artikel ini ke bubuhan ikam biar makin banyak yang paham kondisi pasar Cess!

Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapan Tv teman update setia, 'Bukan Sekadar Info Biasa!'

 

FAQ

1. Adakah cara menghemat belanja cabai saat harga naik?

Bisa menyimpan cabai dalam freezer, membeli dalam jumlah kecil tapi sering, atau mencampur cabai segar dengan cabai kering.

2. Mengapa pasokan cabai luar daerah mempengaruhi harga di Samarinda?

Karena sebagian besar cabai dipasok dari luar, perubahan di daerah asal ikut mempengaruhi harga di pasar lokal.

3. Apakah harga cabai bisa turun setelah Nataru?

Potensinya ada, tergantung pasokan dan kondisi distribusi setelah masa permintaan tinggi berakhir.

 

DISCLAIMER

Artikel ini menggunakan bantuan AI secara terbatas untuk menghasilkan tulisan bebas typo dan kalimat tidak efektif, menghindari pengulangan kata dan paralelisme yang tidak tepat berdasarkan PUEBI. Artikel ini telah melalui verifikasi dan validasi ketat oleh Manusia (Redaksi). Teknologi AI digunakan semata-mata sebagai alat bantu produktivitas dan efisiensi kerja redaksi — bukan sebagai pengganti peran jurnalis manusia.

 

Koneksi Informasi Sehari-hari, Teman Update Setia
Koneksi Informasi Sehari-hari, Teman Update Setia

Editor : Arya Kusuma
#samarinda #harga cabai #pasar merdeka #nataru 2025 #pedagang