Info Lokal InfoScope Gaya Hidup Infotainment Iptek Bisnis & UMKM Religi

Ranam Banua 2025 Digelar di Samarinda, Angkat Kisah Budaya dan Alam Kalimantan Timur

Rizkiyan Akbar • Kamis, 6 November 2025 | 14:59 WIB

Koneksi Informasi Sehari-hari, Teman Update Setia
Koneksi Informasi Sehari-hari, Teman Update Setia

Balikpapan TV - Hai Cess! Pertunjukan drama musikal kolosal “Ranam Banua” berhasil menyedot perhatian publik di Gedung Rinjani Asnawi, UPTD Taman Budaya Kalimantan Timur, Samarinda, Rabu (5 November 2025).

Karya ini memadukan musik sapeq, tari tradisional, teater, dan puisi untuk mengajak penonton merenungkan hubungan manusia dengan alam, budaya, serta akar leluhur yang perlahan mulai menjauh dari kehidupan modern.

Di balik panggung yang megah, ada pesan mendalam soal siapa diri kita sebagai manusia, dari mana kita berasal, dan sejauh apa kita menjaga bumi yang kita pijak.

Pertunjukan ini bukan hanya tontonan, tapi pengalaman batin yang mengajak penonton “berhenti sejenak” dari riuh rutinitas. Yuk lanjut baca, sebab cerita di balik Ranam Banua ini penuh makna dan sayang dilewatkan, Cess!

Baca Juga: Wujudkan Rumah Layak Huni, Pemprov Kaltim dan Kementerian PKP Percepat Program BSPS

Apa Makna Besar di Balik Ranam Banua?

Salah satu adegan dalam drama musikal kolosal Ranam Banua yang dipentaskan di Gedung Rinjani Asnawi, UPTD Taman Budaya Kaltim, Samarinda, Rabu (5 November 2025).
Salah satu adegan dalam drama musikal kolosal Ranam Banua yang dipentaskan di Gedung Rinjani Asnawi, UPTD Taman Budaya Kaltim, Samarinda, Rabu (5 November 2025).

Ranam Banua tidak sekadar pertunjukan estetika. Ceritanya menggambarkan manusia yang semakin jauh dari alam dan budaya warisan leluhurnya.

Melalui seni lintas disiplin, penonton diajak melihat refleksi diri—apakah kita masih menjaga hubungan dengan alam, atau justru mengabaikannya?

Kepala LPP RRI Samarinda, Siti Saraswulan, menegaskan tujuan utama pagelaran ini ialah merawat nilai kearifan lokal Kalimantan Timur.

“Ranam Banua bukan hanya sebuah pertunjukan, tapi juga menjadi cermin semangat kolaborasi antara Lembaga Penyiaran Republik Indonesia dan para pelaku seni dalam merawat identitas budaya bangsa, khususnya di Kalimantan Timur,” ujarnya.

Mengapa Pertunjukan Ini Relevan dengan Hari Puspa dan Satwa Nasional?

Pagelaran ini dilangsungkan bertepatan dengan Hari Puspa dan Satwa Nasional, momen yang mengingatkan masyarakat akan pentingnya kelestarian flora dan fauna.

Melalui cerita yang ditampilkan, Ranam Banua mengajak penonton memahami bahwa alam bukan sekadar latar kehidupan, tetapi bagian dari identitas manusia.

Selain itu, pesan pelestarian ini diharapkan dapat menyebar lebih luas. “Pesan pelestarian alam dan budaya Kalimantan Timur diharapkan mampu menginspirasi pendengar di seluruh penjuru Nusantara,” kata Saraswulan.

Siapa Saja yang Terlibat dalam Karya Kolaboratif Ini?

Pagelaran ini merupakan hasil kerja sama antara LPP RRI Samarinda dan Tirto Negoro Foundation. Seniman lokal, komunitas lingkungan, serta pelaku budaya turut mengambil peran, menjadikannya karya kolosal yang hidup dan bernyawa.

Founder Tirto Negoro Foundation, Rahmad Azazi Rhomantoro, memberi gambaran filosofis Ranam Banua.

“Kalau istilah ranam itu berarti akar, sementara banua bisa dimaknai sebagai tanah atau wilayah. Jadi ini bukan sekadar metafora, tapi konsepsi estetika yang menempatkan budaya sebagai entitas hidup yang tumbuh dari sejarah dan jiwa manusia,” jelasnya.

Seperti Apa Alur Cerita di Atas Panggung?

Ceritanya berpusat pada seorang manusia modern yang kehilangan rasa terhadap seni dan alam.

Ia kemudian mengalami perjalanan spiritual dengan bertemu hewan-hewan endemik Kalimantan. Melalui interaksi ini, ia dipaksa menyadari dampak ketidakpedulian manusia terhadap lingkungan.

Dalam cerita itu juga muncul sosok pemburu—simbol kerusakan yang akhirnya berujung pada konflik tragis. Di Ranam Banua, manusia kembali pada akar dan bertemu konsekuensi dari tindakannya sendiri.

Pertunjukan ini dihadiri perwakilan Gubernur Kaltim, sejumlah kepala OPD, mitra RRI, hingga komunitas seni. Masyarakat Samarinda dapat menonton langsung tanpa biaya masuk.

Sementara itu, publik luar daerah dapat menyimak melalui siaran Pro 1, Pro 2, Pro 4 RRI, RRI Regional, hingga kanal Youtube RRI Samarinda. Aksesnya terbuka luas agar pesan pelestarian budaya dapat menyebar lebih jauh.

Baca Juga: UMKM Naik Kelas! Kaltim Paradise of The East x Summer Fest 2025 Resmi Dibuka

Tips Menonton Seni Tradisi:

1. Datang lebih awal agar mendapat sudut pandang terbaik.

2. Perhatikan detail gerakan, musik, dan dialog—di sanalah makna tersembunyi.

3. Bawa pulang rasa, bukan hanya visual. Pengalaman batin sering muncul setelah pertunjukan selesai.

Pada akhirnya, Ranam Banua mengingatkan satu hal: budaya dan alam bukan peninggalan masa lalu. Keduanya hidup, tumbuh, dan menunggu untuk dirawat bersama. Jangan sampai kita baru sadar nilai akar, ketika semuanya sudah berjarak.

Yuk, bagikan cerita ini ke temanmu, Cess! Siapa tau makin banyak yang peduli dengan budaya dan alam Benua Etam.

Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapan Tv teman update setia, “Bukan Sekadar Info Biasa!”

 

FAQ

1. Apakah pertunjukan Ranam Banua berbayar?

Tidak, masyarakat dapat hadir tanpa dipungut biaya.

2. Di mana pertunjukan ini dapat disaksikan selain secara langsung?

Melalui Pro 1, Pro 2, Pro 4, serta Youtube RRI Samarinda.

3. Apa pesan utama Ranam Banua?

Kesadaran menjaga alam, budaya, dan akar leluhur dalam kehidupan modern.

 

DISCLAIMER

Artikel ini menggunakan bantuan AI secara terbatas untuk menghasilkan tulisan bebas typo dan kalimat tidak efektif, menghindari pengulangan kata dan paralelisme yang tidak tepat berdasarkan PUEBI. Artikel ini telah melalui verifikasi dan validasi ketat oleh Manusia (Redaksi). Teknologi AI digunakan semata-mata sebagai alat bantu produktivitas dan efisiensi kerja redaksi — bukan sebagai pengganti peran jurnalis manusia.

 

Sejumlah adegan dalam drama musikal kolosal Ranam Banua yang dipentaskan di Gedung Rinjani Asnawi, UPTD Taman Budaya Kaltim, Samarinda, Rabu (5 November 2025).
Sejumlah adegan dalam drama musikal kolosal Ranam Banua yang dipentaskan di Gedung Rinjani Asnawi, UPTD Taman Budaya Kaltim, Samarinda, Rabu (5 November 2025).

Editor : Arya Kusuma
#Ranam Banua #samarinda #kalimantan timur #drama musikal #budaya