Balikpapan TV - Hai Cess! Aksi 15 tahanan kabur dari Polsek Samarinda Kota ternyata bukan peristiwa spontan, melainkan rencana yang disusun dengan teliti oleh sekelompok tahanan kasus pencurian.
Tiga nama berada di balik ide tersebut: Kahar, Edy Ramlan alias Melang, dan Irfan. Mereka memanfaatkan besi jemuran dan paku di dalam sel untuk membobol kloset, membuat lubang pada dinding beton, hingga akhirnya membantu 12 tahanan lain ikut melarikan diri.
Peristiwa ini berlangsung sejak Jumat (17 Oktober 2025) hingga Minggu (19 Oktober 2025), sebelum akhirnya pelarian massal itu terungkap saat petugas melakukan pengecekan jumlah tahanan.
Suasananya tegang, terukur, dan jelas terencana. Tapi cerita tidak berhenti di situ. Operasi pengejaran besar-besaran kemudian dilakukan hingga seluruh tahanan kembali berhasil diamankan secara bertahap mulai 20-28 Oktober 2025.
Yuk, kita telusuri runtutan aksinya, strategi yang digunakan, sampai langkah evaluasi Polresta Samarinda, Cess!
Baca Juga: SMAN 10 Samarinda Resmi Jadi Sekolah Garuda, Terapkan Kurikulum Global Setara S1
Apa yang Menjadi Awal Rencana Pelarian Ini?
Rencana dimulai dari keinginan tiga tahanan kasus pencurian untuk keluar dari ruang tahanan. Kahar, Melang, dan Irfan menjadi motor penggeraknya.
Mereka mematahkan besi tiang jemuran yang ada di dalam sel, kemudian menggunakannya untuk membongkar kloset. Selain itu, mereka juga mencabut paku yang awalnya digunakan untuk menggantung pakaian, lalu memanfaatkannya untuk mengikis plester dinding.
Kapolresta Samarinda, Kombes Pol Hendri Umar, menjelaskan hal tersebut secara lugas tanpa penambahan dramatis.
“Mereka mematahkan besi tiang jemuran untuk membongkar kloset dan membuat lubang pada dinding beton. Paku-paku di dalam sel juga dimanfaatkan untuk mengikis dinding,” ujarnya dalam konferensi pers Polresta Samarinda, Rabu (29 Oktober 2025).
Siapa yang Pertama Kali Mencoba Lubang Pelarian Itu?
Lubang yang awalnya kecil itu tidak langsung bisa digunakan semua tahanan. Yohanes Dorianto, tahanan bertubuh paling kecil, menjadi orang pertama yang keluar mencoba jalur tersebut.
Setelah ia berhasil lolos, Yohanes memperlebar lubang dari sisi luar agar teman-temannya bisa menyusul. Gerakan ini berlangsung cepat, terukur, dan berpindah dari satu tahanan ke tahanan lain.
“Setelah Yohanes keluar, disusul Kahar dan Melang. Dua tahanan itu kemudian mengubah posisi kamera CCTV menggunakan kayu panjang sehingga CCTV tertutup dan membuka jalan bagi tahanan lain untuk kabur,” kata Hendri.
Bagaimana Cara Mereka Keluar dari Area Polsek?
Setelah 15 tahanan berhasil keluar dari lubang, mereka masih harus melewati rute tertentu untuk mencapai jalan raya.
Mereka melompati pagar tembok rendah di sisi sel kosong (bekas ruang tahanan perempuan), lalu menembus celah-celah rumah warga di belakang markas Polsek.
Rute pelariannya tidak jauh dari kantor Satpol PP di Jalan Cempaka. Di sana, mereka berpencar. Ada yang bergerak menuju Gunung Steling, ada yang ke pusat kota, dan sebagian lagi menuju Samarinda Seberang.
Pergerakan mereka dilakukan secara cepat, memanfaatkan kondisi gelap dan area jalan yang relatif lengang pada jam tersebut.
Baca Juga: Puncak Bukit Dinding Samarinda Tawarkan Panorama Kota dari Atas Awan
Bagaimana Proses Penangkapan dan Evaluasi Setelahnya?
Pelarian ini tidak berlangsung lama. Tim gabungan Polresta Samarinda melakukan pengejaran intensif selama sembilan hari. Rekaman CCTV kota, koordinasi dengan daerah sekitar, hingga pelacakan lintas wilayah dilakukan.
“Seluruh tahanan akhirnya berhasil diamankan kembali. Operasi melibatkan koordinasi lintas wilayah, termasuk hingga Palangka Raya,” tegas Hendri.
Setelah seluruh tahanan ditangkap kembali, enam di antaranya langsung dilimpahkan ke Jaksa Penuntut Umum (JPU), sementara sembilan lainnya masih menunggu proses pelimpahan.
Selain itu, semua tahanan dikenai hukuman tambahan sesuai ketentuan hukum yang berlaku. “Peristiwa ini menjadi pelajaran penting untuk memperkuat pengawasan dan fasilitas ruang tahanan,” tutup Hendri.
Peristiwa pelarian 15 tahanan ini menunjukkan bagaimana benda sederhana seperti besi jemuran dan paku dapat berubah menjadi alat pembobolan jika kecermatan pengawasan lengah.
Kepolisian telah bergerak cepat untuk menangkap seluruh tahanan kembali, sekaligus melakukan evaluasi keamanan agar tidak terjadi kejadian serupa.
Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapan TV teman update setia, 'Bukan Sekadar Info Biasa!'
FAQ
1. Apa motif utama pelarian para tahanan?
Pelarian dilakukan karena tiga tahanan ingin keluar dari sel dan mengajak tahanan lain mengikuti jejak mereka.
2. Bagaimana polisi menemukan mereka kembali?
Melalui pengecekan rekaman CCTV dan koordinasi lintas wilayah dalam operasi gabungan.
3. Apakah para tahanan mendapatkan sanksi tambahan?
Ya. Mereka dikenai tambahan hukuman sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
DISKLAIMER
Artikel ini menggunakan bantuan AI secara terbatas dalam menganalisa struktur artikel untuk menghasilkan tulisan bebas typo dan kalimat tidak efektif, menghindari pengulangan kata dan paralelisme yang tidak tepat berdasarkan pedoman umum ejaan bahasa Indonesia (PUEBI). Artikel ini telah melalui verifikasi dan validasi ketat oleh Manusia (Redaksi). Teknologi AI digunakan semata-mata sebagai alat bantu produktivitas dan efisiensi kerja redaksi — bukan sebagai pengganti peran jurnalis manusia.