Durasi Baca: 7 Menit
Topik: Makna hijrah dalam Islam melalui sejarah, keteladanan Rasulullah, dan tantangan kehidupan masa kini.
Ikhtisar: Ceramah Ustaz Abdul Somad mengulas asal-usul kalender Hijriah, makna hijrah, pentingnya tobat, penanganan penyalahgunaan narkoba, serta strategi Rasulullah SAW saat berhijrah yang sarat hikmah bagi kehidupan modern.
Balikpapan TV - Hai Ces! Peringatan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah di Masjid Madinatul Iman Balikpapan Islamic Center menjadi momentum mengingat kembali makna hijrah melalui tausiah Ustaz Abdul Somad. Ceramah yang berlangsung Sabtu (4/7/2026) itu tidak hanya mengulas sejarah Islam, tetapi juga mengaitkannya dengan persoalan yang dihadapi masyarakat saat ini.
Masih banyak yang menganggap hijrah sekadar perpindahan tempat. Padahal maknanya jauh lebih luas. Simak sampai tuntas, banyak pesan yang relevan untuk kehidupan sekarang, Ces!
Mengapa Kalender Hijriah Baru Disusun pada Masa Umar bin Khattab?
Perjalanan sejarah kalender Islam menjadi pembuka ceramah Ustaz Abdul Somad. Ia menjelaskan bahwa ketika Nabi Muhammad SAW lahir hingga masa awal dakwah, masyarakat Arab memang telah mengenal nama-nama bulan seperti Muharram, Safar, Rabiul Awal, hingga Zulhijah. Namun, belum ada sistem penomoran tahun sebagaimana digunakan sekarang.
Pada masa itu, masyarakat lebih mudah mengingat sebuah peristiwa berdasarkan kejadian besar. Salah satu contoh yang dikenal luas adalah Tahun Gajah, yaitu tahun ketika pasukan bergajah pimpinan Abrahah menyerang Ka'bah.
Menurut Ustaz Abdul Somad, kebutuhan akan sistem penanggalan baru muncul pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab. Saat itu, Gubernur Basrah, Abu Musa al-As'ari, mengirimkan surat kepada Khalifah Umar karena sering menerima surat resmi tanpa keterangan tahun sehingga berpotensi menimbulkan kebingungan dalam administrasi pemerintahan.
Permintaan tersebut kemudian menjadi awal lahirnya kalender Hijriah yang hingga kini digunakan umat Islam di berbagai belahan dunia.
Mengapa Hijrah Dipilih Sebagai Awal Perhitungan Tahun Islam?
Penentuan Tahun 1 Hijriah ternyata melalui proses musyawarah para sahabat Nabi. Ustaz Abdul Somad menceritakan bahwa terdapat beberapa usulan sebelum akhirnya dipilih peristiwa hijrah sebagai awal penanggalan Islam.
Usulan pertama adalah menjadikan tahun kelahiran Nabi Muhammad SAW sebagai permulaan kalender Islam. Namun usulan itu tidak diterima karena kondisi masyarakat saat itu masih dipenuhi penyembahan berhala dan berbagai bentuk kemaksiatan.
Pilihan berikutnya adalah dimulainya wahyu pertama di Gua Hira. Momen tersebut memang sangat penting karena menjadi awal kerasulan Nabi Muhammad SAW. Akan tetapi, para sahabat menilai kondisi umat saat itu juga belum menunjukkan perubahan sosial secara menyeluruh.
Ada pula usulan menjadikan wafatnya Rasulullah SAW sebagai Tahun 1 Islam. Pendapat tersebut juga tidak disepakati karena dikhawatirkan setiap pergantian tahun justru akan identik dengan suasana duka.
Hingga akhirnya, Ali bin Abi Thalib mengusulkan agar peristiwa hijrah dari Makkah menuju Madinah dijadikan awal penanggalan Islam. Usulan itu diterima oleh Khalifah Umar bin Khattab beserta para sahabat.
Dalam ceramahnya, Ustaz Abdul Somad mengutip pernyataan Sayyidina Ali bin Abi Thalib mengenai alasan dipilihnya hijrah sebagai tonggak sejarah Islam.
"Hijrah yang memisahkan antara yang hak dengan yang batil, yang pura-pura masuk Islam dengan yang betul-betul serius, yang cinta Nabi dengan yang basa-basi."
Menurut Ustaz Abdul Somad, keputusan tersebut bukan sekadar menentukan angka tahun, melainkan memilih sebuah peristiwa yang menjadi titik perubahan besar dalam perjalanan dakwah Islam.
Baca Juga: Muharam Jadi Pengingat Integritas, Ini Pesan Pangdam VI/Mulawarman
Hijrah Bukan Sekadar Pindah Tempat, Tetapi Berani Meninggalkan Maksiat
Memasuki bagian inti ceramah, Ustaz Abdul Somad mengajak jemaah memahami makna hijrah dalam konteks kehidupan sekarang.
Ia menegaskan bahwa sebagian besar umat Islam saat ini tidak lagi dituntut berpindah dari satu wilayah ke wilayah lain sebagaimana dilakukan Rasulullah SAW. Yang jauh lebih penting adalah keberanian meninggalkan segala sesuatu yang dilarang Allah SWT.
Dalam penjelasannya, hijrah berbeda dengan tobat meskipun keduanya saling berkaitan.
Tobat dimaknai sebagai kembalinya seseorang ke jalan Allah setelah sempat menyimpang. Sementara hijrah lebih menitikberatkan pada keputusan meninggalkan perbuatan yang haram dan menggantinya dengan kehidupan yang lebih baik.
Pesan tersebut disampaikan dengan bahasa yang sederhana sehingga mudah dipahami oleh ribuan jemaah yang memenuhi Masjid Madinatul Iman Balikpapan Islamic Center.
Ceramah kemudian memasuki contoh nyata yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat. Ustaz Abdul Somad menceritakan pengalamannya saat didatangi seorang jemaah secara pribadi usai mengisi pengajian di daerah lain.
Orang tua tersebut meminta doa agar anaknya terbebas dari kecanduan narkoba.
Namun respons Ustaz Abdul Somad justru cukup berbeda dari dugaan banyak orang.
Ia menjelaskan bahwa dirinya tidak menemukan doa khusus dalam Al-Qur'an maupun hadis yang secara spesifik ditujukan untuk menyembuhkan kecanduan narkotika.
Karena itu, langkah yang ia lakukan adalah memberikan nomor telepon Badan Narkotika Nasional (BNN) agar anak tersebut segera memperoleh rehabilitasi medis yang tepat.
Menurutnya, penyalahguna narkoba merupakan orang yang sedang mengalami gangguan kesehatan sehingga membutuhkan penanganan profesional. Rasa malu keluarga justru sering membuat proses penyembuhan menjadi terlambat.
Pesan tersebut menjadi salah satu bagian ceramah yang paling mendapat perhatian jemaah karena menghubungkan nilai-nilai agama dengan pendekatan medis dan rehabilitasi yang selama ini juga didorong pemerintah dalam penanganan penyalahgunaan narkotika.
Bagaimana Tobat yang Benar Menurut Ustaz Abdul Somad?
Setelah menegaskan pentingnya meninggalkan kemaksiatan, Ustaz Abdul Somad menjelaskan bahwa hijrah tidak akan sempurna tanpa diawali dengan tobat yang sungguh-sungguh. Ia mengingatkan bahwa setiap orang memiliki kesempatan memperbaiki diri selama hayat masih dikandung badan.
Sebagai langkah awal, UAS memaparkan tata cara mandi tobat yang dilanjutkan dengan salat sunah tobat dua rakaat. Menurutnya, amalan tersebut bukan sekadar ritual, melainkan bentuk kesungguhan seorang hamba untuk memulai lembaran kehidupan yang baru.
Dalam tausiahnya, ia menyebutkan tiga syarat utama diterimanya tobat. Pertama, adanya penyesalan yang lahir dari hati. Kedua, mengakui kesalahan yang telah dilakukan. Ketiga, memiliki tekad kuat untuk tidak mengulangi perbuatan tersebut pada masa mendatang.
Pesan itu menjadi pengingat bahwa perubahan tidak cukup berhenti pada niat. Hijrah membutuhkan komitmen yang terus dijaga dalam kehidupan sehari-hari.
Baca Juga: Muharam Jadi Pengingat Integritas, Ini Pesan Pangdam VI/Mulawarman
Bagaimana Strategi Rasulullah SAW Saat Hijrah ke Madinah?
Memasuki pembahasan sejarah hijrah, Ustaz Abdul Somad membawa jemaah memahami bahwa perpindahan Rasulullah SAW dari Makkah menuju Madinah bukanlah perjalanan spontan.
Menurutnya, hijrah merupakan contoh nyata bagaimana keimanan berjalan seiring dengan ikhtiar, perencanaan, dan strategi yang matang.
Saat itu Rasulullah SAW telah berusia sekitar 53 tahun. Dakwah Islam berkembang pesat hingga memunculkan kekhawatiran para pemuka Quraisy. Mereka kemudian mengadakan pertemuan rahasia di Darun Nadwah yang dipimpin Abu Jahl.
Dalam musyawarah tersebut muncul beberapa usulan. Ada yang mengusulkan agar Nabi Muhammad SAW diasingkan, ada pula yang mengusulkan dipenjara. Kedua gagasan itu akhirnya ditolak karena dikhawatirkan justru memperbesar pengaruh beliau di tengah masyarakat.
Rencana yang kemudian disepakati jauh lebih berbahaya. Setiap kabilah diminta mengirim seorang pemuda bersenjata untuk menyerang Rasulullah SAW secara bersamaan pada malam hari. Cara ini dipilih agar tanggung jawab atas pembunuhan tidak dibebankan kepada satu suku tertentu.
Menurut Ustaz Abdul Somad, rencana tersebut akhirnya diketahui Rasulullah SAW setelah Malaikat Jibril menyampaikan wahyu mengenai ancaman yang sedang disusun kaum Quraisy.
Di sinilah strategi hijrah mulai dijalankan.
Ali bin Abi Thalib diminta tidur di tempat tidur Rasulullah SAW dengan mengenakan selimut hijau milik beliau. Tugas itu sangat berisiko karena Ali siap menghadapi kemungkinan terburuk apabila para pengepung tetap menyerang rumah Rasulullah.
Sementara itu Rasulullah SAW meninggalkan rumah tanpa diketahui para pengepung. Dalam ceramahnya, UAS menyampaikan bahwa Rasulullah membaca Surah Yasin ayat 9 ketika keluar sehingga para pengepung tidak menyadari kepergian beliau.
Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju rumah Abu Bakar Ash-Shiddiq sebelum keduanya bersembunyi di Gua Tsur selama tiga malam untuk menghindari pengejaran.
Baca Juga: Puasa Tasu’a 9 Muharram 1448 H, Ini 4 Keutamaan yang Dianjurkan Rasulullah
Hijrah Rasulullah Mengajarkan Pentingnya Pembagian Peran
Menurut Ustaz Abdul Somad, salah satu pelajaran terbesar dari hijrah adalah pentingnya kerja sama dan pembagian tugas yang tepat.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan hijrah bukan hanya karena keberanian Rasulullah SAW, tetapi juga karena setiap orang menjalankan amanah sesuai kemampuan masing-masing.
Asma binti Abu Bakar mendapat tugas mengantarkan makanan ke Gua Tsur meskipun sedang mengandung. Pengorbanannya menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan persembunyian Rasulullah SAW dan Abu Bakar.
Sementara Abdullah bin Abu Bakar bertugas mengumpulkan informasi di Kota Makkah pada siang hari. Ketika malam tiba, ia mendatangi Gua Tsur untuk menyampaikan perkembangan terbaru mengenai pergerakan kaum Quraisy.
Ada pula Amir bin Fuhairah yang menggembalakan kambing di jalur menuju gua. Langkah itu dilakukan untuk menghilangkan jejak kaki Abdullah sehingga keberadaan Rasulullah SAW tetap dirahasiakan.
Yang menarik, Ustaz Abdul Somad juga menyoroti peran Abdullah bin Uraiqit. Meski belum memeluk Islam, ia dipercaya menjadi penunjuk jalan karena memiliki kemampuan mengenal jalur gurun menuju Madinah.
Menurut UAS, keputusan tersebut menunjukkan bahwa profesionalisme dan keahlian tetap dihargai selama seseorang dapat dipercaya menjalankan amanah.
Ia kemudian menyimpulkan pelajaran itu dengan istilah yang akrab dalam dunia manajemen modern, yakni the right man on the right place atau menempatkan orang yang tepat pada tugas yang tepat.
Pesan tersebut dinilai relevan diterapkan dalam kehidupan saat ini, baik dalam keluarga, organisasi, pemerintahan, dunia pendidikan, maupun lingkungan kerja. Sebuah tujuan besar akan lebih mudah dicapai ketika setiap individu memahami tanggung jawabnya dan saling mendukung sesuai kapasitas masing-masing.
Pada bagian akhir tausiahnya, Ustaz Abdul Somad menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh jemaah apabila terdapat ucapan maupun candaan yang kurang berkenan selama menyampaikan ceramah.
Setelah itu, beliau memimpin doa bersama untuk Kota Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur, serta Indonesia agar senantiasa diberikan keamanan, kesejahteraan, keberkahan, dijauhkan dari narkoba, zina, dan berbagai bentuk kemaksiatan. UAS juga mendoakan para pemimpin agar mampu menjalankan amanah dengan adil serta seluruh masyarakat memperoleh akhir kehidupan yang baik atau husnul khatimah.
Pembawa acara kemudian menutup rangkaian Peringatan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah di Masjid Madinatul Iman Balikpapan Islamic Center dengan mengimbau seluruh jemaah meninggalkan lokasi secara tertib.
Poin Penting:
- Kalender Hijriah mulai ditetapkan pada masa Khalifah Umar bin Khattab melalui musyawarah para sahabat.
- Peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dipilih sebagai awal penanggalan Islam karena menjadi titik perubahan besar dalam sejarah dakwah.
- Ustaz Abdul Somad menegaskan bahwa hijrah masa kini berarti meninggalkan segala bentuk kemaksiatan.
- Penyalahguna narkoba memerlukan rehabilitasi dan penanganan medis, bukan hanya hukuman.
- Strategi hijrah Rasulullah SAW menunjukkan pentingnya perencanaan, pembagian tugas, dan kerja sama.
- Tausiah ditutup dengan doa untuk Balikpapan, Kalimantan Timur, Indonesia, para pemimpin, serta seluruh umat Islam.
Insight Redaksi: Ceramah ini menunjukkan bahwa hijrah bukan hanya dikenang sebagai peristiwa sejarah, melainkan pelajaran tentang perubahan yang dibangun melalui ilmu, strategi, dan keberanian mengambil keputusan. Bagi masyarakat Balikpapan yang hidup di kota dengan keberagaman tinggi, pesan tentang kerja sama, profesionalisme, serta kepedulian terhadap persoalan sosial seperti penyalahgunaan narkoba terasa sangat relevan. Kada cukup hanya mengingat sejarah, pang yang jauh lebih penting adalah menghadirkan nilai hijrah dalam tindakan nyata. Kaitu pang hikmah yang patut dijaga, Ces.
Bagikan artikel ini ke bubuhan ikam supaya semakin banyak yang memahami makna hijrah dari sudut pandang yang utuh dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Update informasi inspiratif dan berita pilihan lainnya hanya di Balikpapan TV, teman update setia, bukan sekadar info biasa!
FAQ
1. Mengapa kalender Hijriah dimulai dari peristiwa hijrah?
Karena para sahabat pada masa Khalifah Umar bin Khattab sepakat bahwa hijrah menjadi titik perubahan besar dalam perjalanan dakwah Islam.
2. Apa perbedaan hijrah dan tobat menurut Ustaz Abdul Somad?
Hijrah adalah meninggalkan perbuatan yang dilarang Allah SWT, sedangkan tobat merupakan kembali ke jalan Allah disertai penyesalan dan tekad untuk berubah.
3. Apa pesan UAS mengenai penyalahguna narkoba?
Pecandu narkoba perlu memperoleh rehabilitasi dan penanganan medis melalui lembaga yang berwenang, bukan disembunyikan karena rasa malu.
4. Apa pelajaran utama dari strategi hijrah Rasulullah SAW?
Hijrah mengajarkan pentingnya perencanaan yang matang, kerja sama, pembagian tugas, dan menempatkan orang sesuai keahlian masing-masing.
Sumber Informasi: Artikel ini disusun berdasarkan siaran langsung Balikpapantv_Official berjudul LIVE || PERINGATAN TAHUN BARU ISLAM, 1 MUHARRAM 1448 HIJRIAH, kemudian dikembangkan kembali dengan sudut pandang dan gaya Balikpapantv.id tanpa mengubah substansi fakta utama.
Editor : Arya Kusuma