Info Lokal InfoScope Gaya Hidup Infotainment Iptek Bisnis & UMKM Religi

Dari Sedekah Hingga I’tikaf, Inilah Cara Rasulullah Menghidupkan Sepuluh Malam Terakhir Ramadhan yang Penuh Makna

Nazwa Deriska Noviyanti • Selasa, 17 Maret 2026 | 12:09 WIB

Ilustrasi suasana masjid pada malam Ramadhan yang menggambarkan ibadah malam umat Islam.
Ilustrasi suasana masjid pada malam Ramadhan yang menggambarkan ibadah malam umat Islam.

Ikhtisar: Sepuluh malam terakhir Ramadhan memiliki makna khusus dalam tradisi Islam. Rasulullah memperbanyak ibadah, membaca Al-Qur’an, bersedekah, hingga i’tikaf. Teladan ini menjadi panduan spiritual umat Islam menyambut penghujung Ramadhan.

Balikpapan TV - Hai Cess! Bulan Ramadhan sering disebut sebagai madrasah ruhani bagi umat Islam. Di dalamnya, banyak pelajaran spiritual yang dipraktikkan langsung oleh Rasulullah saw. Salah satu yang paling mencolok terlihat pada pola ibadah beliau sepanjang Ramadhan, terutama saat memasuki sepuluh malam terakhir.

Bila diperhatikan dari berbagai riwayat hadits, ritme ibadah Nabi meningkat signifikan menjelang akhir bulan suci. Nah, di bagian inilah banyak ulama menjelaskan bahwa sepuluh malam terakhir Ramadhan menjadi momentum penting untuk meningkatkan ibadah. Ikuti pembahasan sampai tuntan Cess!

Mengapa Ramadhan disebut madrasah ruhani bagi umat Islam?

Ramadhan dikenal sebagai periode pembinaan spiritual. Dalam bulan ini, Rasulullah menunjukkan bagaimana seorang hamba menjalani kehidupan dengan penuh ketaatan. Keseharian beliau dipenuhi dengan ibadah, sedekah, dan interaksi yang intens dengan Al-Qur’an.

Riwayat dari Ibnu Abbas menjelaskan bahwa Rasulullah merupakan manusia paling dermawan. Kedermawanan tersebut semakin tampak pada bulan Ramadhan ketika malaikat Jibril datang setiap malam untuk mempelajari Al-Qur’an bersama beliau.

Dalam hadits yang diriwayatkan Al-Bukhari disebutkan bahwa kebaikan Rasulullah di bulan Ramadhan digambarkan melebihi angin yang berhembus. Gambaran ini menunjukkan betapa ringan tangan beliau dalam berbagi kepada sesama.

Ritme ibadah seperti ini kemudian menjadi teladan penting bagi umat Islam. Ramadhan bukan sekadar waktu menahan lapar dan dahaga, tetapi juga masa memperkuat hubungan spiritual dengan Allah.

Baca Juga: 6 Bentuk Mangkok yang Bikin Sajian Buras Terasa Pas di Meja Makan

Apa yang berubah ketika memasuki sepuluh malam terakhir Ramadhan?

Riwayat hadits menunjukkan adanya peningkatan ibadah Rasulullah ketika memasuki sepuluh malam terakhir Ramadhan. Jika pada dua puluh hari pertama beliau masih menyeimbangkan antara puasa, shalat, dan istirahat, maka pola tersebut berubah di penghujung bulan.

Dalam hadits riwayat Muslim disebutkan bahwa Rasulullah bersungguh-sungguh dalam sepuluh malam terakhir melebihi kesungguhan pada malam lainnya. Intensitas ibadah meningkat secara nyata.

Riwayat lain dari Aisyah menjelaskan bahwa pada dua puluh hari pertama Ramadhan, Nabi mengombinasikan shalat, puasa, dan tidur. Namun ketika memasuki sepuluh hari terakhir, beliau memperkuat ibadahnya dan menjauhi hubungan suami istri.

Perubahan ini menunjukkan bahwa penghujung Ramadhan dipandang sebagai fase penting. Banyak ulama kemudian menjadikannya sebagai momentum meningkatkan kualitas ibadah.

Bagaimana Rasulullah menghidupkan malam-malam terakhir Ramadhan?

Kesungguhan Rasulullah pada akhir Ramadhan tidak hanya terlihat dari intensitas ibadah pribadi. Beliau juga menghidupkan malam dengan berbagai amalan dan mengajak keluarga untuk ikut serta.

Dalam riwayat hadits disebutkan bahwa ketika sepuluh malam terakhir tiba, Rasulullah menghidupkan malam dengan shalat dan ibadah lainnya. Beliau juga membangunkan anggota keluarganya agar ikut beribadah.

Hadits tersebut menggambarkan bahwa kesungguhan spiritual Nabi tidak bersifat individual. Beliau memperhatikan kondisi ruhani keluarga agar mendapatkan keberkahan yang sama.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa Ramadhan juga memiliki dimensi sosial dalam keluarga. Menghidupkan malam dengan ibadah bersama menjadi bagian dari teladan Rasulullah.

Apa peran sedekah dan kepedulian sosial dalam Ramadhan?

Kedermawanan merupakan karakter yang selalu menonjol dalam kehidupan Rasulullah. Pada bulan Ramadhan, sifat ini tampak semakin kuat.

Riwayat Ibnu Abbas menggambarkan bahwa Rasulullah merupakan manusia paling dermawan, dan pada bulan Ramadhan kedermawanannya bahkan digambarkan melampaui kecepatan angin yang berhembus.

Teladan ini kemudian dipahami para ulama sebagai dorongan untuk memperbanyak kepedulian sosial. Memberikan bantuan kepada sesama, menyediakan makanan berbuka, serta memperbanyak sedekah menjadi bagian dari semangat Ramadhan.

Ibadah pada bulan suci ini tidak hanya berkaitan dengan hubungan antara hamba dan Tuhan. Kepedulian terhadap sesama juga menjadi bagian penting dalam menjalani Ramadhan.

Mengapa i’tikaf menjadi amalan penting di akhir Ramadhan?

Salah satu bentuk kesungguhan Rasulullah dalam menghidupkan sepuluh malam terakhir adalah dengan melaksanakan i’tikaf. I’tikaf merupakan ibadah berdiam diri di masjid dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah.

Dalam hadits riwayat Aisyah dijelaskan bahwa Rasulullah biasa melaksanakan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadhan hingga beliau wafat. Setelah itu, tradisi tersebut dilanjutkan oleh istri-istri beliau.

I’tikaf bukan hanya aktivitas berdiam di masjid. Praktik ini dipahami sebagai upaya memutus sementara kesibukan dunia agar fokus pada ibadah.

Para ulama menjelaskan bahwa praktik ini mencerminkan kesungguhan Nabi dalam memanfaatkan waktu terakhir Ramadhan sebagai momentum memperkuat hubungan spiritual.

Poin penting dari teladan Rasulullah di akhir Ramadhan

1 Rasulullah dikenal sebagai manusia paling dermawan dan kedermawanannya meningkat pada bulan Ramadhan.
2 Malaikat Jibril datang setiap malam Ramadhan untuk mempelajari Al-Qur’an bersama Nabi.
3 Pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, intensitas ibadah Rasulullah meningkat signifikan.
4 Nabi menghidupkan malam dengan ibadah serta membangunkan keluarga untuk ikut beribadah.
5 I’tikaf menjadi salah satu praktik penting Rasulullah pada sepuluh hari terakhir Ramadhan.

Baca Juga: Malam Ramadhan Bukan Sekadar Waktu Istirahat, Ini 4 Amalan Ibadah yang Dianjurkan dalam Khutbah Jumat agar Keberkahan Ramadhan Makin Terasa

Insight: Sepuluh malam terakhir Ramadhan sering dipahami sebagai garis akhir perjalanan spiritual. Dalam riwayat hadits terlihat jelas perubahan ritme ibadah Rasulullah pada fase ini. Dari keseimbangan aktivitas menuju fokus penuh pada ibadah. Pola ini memberi gambaran bahwa Ramadhan bukan sekadar rutinitas tahunan. Ada momentum yang dimaksimalkan di akhir perjalanan. Nah, pahamlah ikam, bagian inilah yang sering dianggap sebagai puncak latihan ruhani.

Bagikan jua artikel ini ke bubuhan ikam supaya makin banyak yang memahami makna sepuluh malam terakhir Ramadhan Cess.

Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapan Tv teman update setia, “Bukan Sekadar Info Biasa!”

FAQ

1 Mengapa sepuluh malam terakhir Ramadhan dianggap istimewa?
Karena pada periode ini Rasulullah meningkatkan intensitas ibadah dibanding hari-hari sebelumnya.

2 Apa saja amalan yang dilakukan Rasulullah pada akhir Ramadhan?
Rasulullah menghidupkan malam dengan shalat, membaca Al-Qur’an, meningkatkan sedekah, dan melaksanakan i’tikaf.

3 Apakah keluarga juga dilibatkan dalam ibadah malam Ramadhan?
Ya. Rasulullah membangunkan anggota keluarganya agar ikut melaksanakan ibadah malam pada sepuluh hari terakhir.

DISCLAIMER
Artikel ini menggunakan bantuan AI secara terbatas untuk menghasilkan tulisan bebas typo dan kalimat tidak efektif. Artikel ini telah melalui verifikasi dan validasi ketat oleh Manusia (Redaksi). Gambar dapat saja dihasilkan AI di artikel ini hanya sebagai ilustrasi pendukung yang membantu pembaca memahami konteks informasi bukan sebagai bukti realistis. Teknologi AI digunakan semata-mata sebagai alat bantu produktivitas dan efisiensi kerja redaksi — bukan sebagai pengganti peran jurnalis manusia.

Koneksi Informasi Terkini
Koneksi Informasi Terkini

Editor : Arya Kusuma
#Rasulullah #ramadhan #sedekah #ibadah malam #itikaf