Ikhtisar: Menjelang mudik Idul Fitri, umat Muslim dianjurkan membaca doa perjalanan dari kitab Al-Adzkar karya Imam Nawawi agar perjalanan aman, penuh berkah, serta dilindungi hingga sampai tujuan.
Balikpapan TV - Hai Cess! Tradisi mudik jelang Idul Fitri kembali jadi momen yang dinanti banyak orang. Perjalanan jauh menuju kampung halaman ini bukan sekadar soal pulang, tapi juga bagian dari ibadah. Dalam praktiknya, ada doa-doa khusus yang dianjurkan dibaca agar perjalanan berjalan lancar dan selamat sampai tujuan.
Penasaran doa apa saja yang bisa diamalkan saat mudik? Simak terus sampai habis, karena pembahasan ini kada cuma soal bacaan, tapi juga panduan lengkap yang bersumber dari kitab klasik dan ijazah ulama, Cess!
Apa saja doa mudik yang dianjurkan dalam Islam?
Doa perjalanan mudik sudah lama diajarkan dalam literatur Islam klasik. Ustadz Alhafiz Kurniawan melalui NU Online mengutip dari kitab Al-Adzkar karya Imam an-Nawawi yang memuat doa berkendara berdasarkan hadits riwayat Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan An-Nasai dari Sayyidina Ali ra.
Urutannya dimulai dari basmalah, lalu membaca doa:
"Alhamdulillāhilladzī/subhānalladzī sakhkhara lanā hādzā wa mā kunnā lahū muqrinīna, wa innā ilā rabbinā lamunqalibūna."
Artinya, “Segala puji bagi Allah yang telah menundukkan semua ini bagi kami. Padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. Sungguh, kami akan kembali kepada Tuhan kami.”
Setelah itu dilanjutkan dengan membaca Alhamdulillah tiga kali, Allahu akbar tiga kali, lalu doa memohon ampun. Nah, ini jadi rangkaian yang dianjurkan sebelum memulai perjalanan, pahamlah ikam...
Kenapa doa perjalanan mudik ini penting dibaca?
Doa mudik bukan sekadar rutinitas, tapi bentuk pengakuan bahwa perjalanan berada dalam kuasa Allah. Kalimat yang dibaca menunjukkan rasa syukur sekaligus permohonan perlindungan.
Dalam doa tersebut ada pengakuan bahwa manusia kada punya kuasa atas kendaraan atau perjalanan tanpa izin Allah. Ini jadi pengingat penting, apalagi saat menempuh perjalanan jauh yang penuh risiko.
Selain itu, doa juga berisi permohonan ampun, yang menunjukkan bahwa perjalanan bukan hanya fisik, tapi juga spiritual. Jadi bukan cuma sampai tujuan, tapi juga membawa nilai ibadah di dalamnya.
Nah, ikam pasti pahamlah, perjalanan aman itu kada hanya soal kendaraan, tapi juga soal doa yang mengiringi.
Apakah doa mudik bisa disingkat saat perjalanan?
Dalam praktik sehari-hari, banyak orang membaca versi singkat dari doa tersebut. Biasanya cukup membaca basmalah dan doa utama saja.
Hal ini juga disebutkan dalam penjelasan bahwa sebagian orang memang menyederhanakan bacaan, terutama saat kondisi perjalanan yang terburu-buru. Namun, inti dari doa tetap terjaga.
Selain itu, pemudik juga dianjurkan membaca Surat Al-Ikhlash sepanjang perjalanan. Bacaan ini sederhana, tapi punya makna tauhid yang kuat.
Qul huwallāhu aḥad. Allāhush shamad. Lam yalid wa lam yūlad. Wa lam yakun lahu kufuwan aḥad.
Artinya menegaskan keesaan Allah sebagai tempat bergantung. Singkat, tapi dalam maknanya. Nah, itu sudah, sederhana tapi penuh arti.
Bagaimana amalan tambahan dari ulama untuk perjalanan mudik?
Selain doa dari kitab klasik, ada juga ijazah dari Rais 'Ali Jam'iyyah Ahlit Thariqah al-Mu'tabarah an-Nahdliyah, KH Achmad Chalwani. Ia menganjurkan membaca Surat Quraisy sebelum berangkat.
Jumlah bacaannya menyesuaikan jarak perjalanan. Jika dekat cukup sekali atau tiga kali. Jika lebih jauh, bisa tujuh atau sebelas kali. Penjelasan ini disampaikan langsung oleh beliau:
“Pergi dengan jarak dekat membaca sekali, agak jauh sedikit membaca tiga kali, lebih jauh membaca tujuh kali, sangat jauh membaca sebanyak sebelas kali,”
Selain itu, ada juga bacaan:
“Bismillaahi maa syaa`allaah laa quwwata illaa billaah.”
Menurut penjelasannya, bacaan ini menjadi bentuk perlindungan bagi perjalanan dan juga bagi yang ditinggalkan di rumah.
Apa makna membaca doa sebelum dan saat mudik?
Membaca doa sebelum mudik punya makna yang dalam. Ini bukan sekadar ritual, tapi bentuk kesiapan batin sebelum perjalanan.
Doa mengajarkan bahwa perjalanan adalah bagian dari kehidupan yang harus dijalani dengan kesadaran penuh. Ada rasa syukur, ada harapan, dan ada permohonan perlindungan.
Selain itu, doa juga menghubungkan perjalanan fisik dengan nilai spiritual. Dari berangkat sampai tiba, semuanya berada dalam pengawasan Allah.
Nah, di sini terlihat bahwa mudik bukan cuma soal pulang kampung, tapi juga perjalanan yang punya nilai ibadah. Pahamlah ikam...
Poin Penting yang Perlu Diketahui:
1. Doa mudik bersumber dari kitab Al-Adzkar karya Imam Nawawi
2. Rangkaian doa dimulai dari basmalah hingga doa memohon ampun
3. Bacaan bisa disederhanakan sesuai kondisi perjalanan
4. Surat Al-Ikhlash dianjurkan dibaca sepanjang perjalanan
Surat Quraisy dan doa tambahan diijazahkan oleh KH Achmad Chalwani
Insight: Mudik sering dipahami sebagai perjalanan fisik menuju kampung halaman. Tapi dari doa-doa yang diajarkan, terlihat ada dimensi lain yang kada kalah penting. Ada kesadaran bahwa perjalanan ini penuh ketergantungan pada perlindungan Allah. Di sisi lain, ada fleksibilitas dalam praktik, misalnya doa bisa disingkat. Nah, ini menunjukkan keseimbangan antara ideal dan realita. Tradisi jalan, ibadah tetap kuat. Pahamlah ikam, ini yang bikin mudik kada sekadar rutinitas tahunan.
Ayo bagikan artikel ini ke bubuhan ikam supaya makin banyak yang paham doa mudik dan bisa diamalkan saat perjalanan!
Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapan Tv teman update setia, 'Bukan Sekadar Info Biasa!'
FAQ
1. Apakah wajib membaca doa saat mudik?
Tidak wajib, tapi sangat dianjurkan untuk keselamatan dan keberkahan perjalanan.
2. Bolehkah hanya membaca doa singkat saja?
Boleh, selama tetap membaca inti doa seperti basmalah dan doa utama.
3. Apa fungsi membaca Surat Quraisy saat mudik?
Sebagai amalan tambahan untuk perlindungan selama perjalanan sesuai ijazah ulama.
DISCLAIMER
Artikel ini menggunakan bantuan AI secara terbatas untuk menghasilkan tulisan bebas typo dan kalimat tidak efektif. Artikel ini telah melalui verifikasi dan validasi ketat oleh Manusia (Redaksi). Gambar dapat saja dihasilkan AI di artikel ini hanya sebagai ilustrasi pendukung yang membantu pembaca memahami konteks informasi bukan sebagai bukti realistis. Teknologi AI digunakan semata-mata sebagai alat bantu produktivitas dan efisiensi kerja redaksi — bukan sebagai pengganti peran jurnalis manusia.