Ikhtisar: Kisah dua perempuan pada masa Rasulullah memberi pelajaran penting tentang puasa Ramadhan. Puasa bukan sekadar menahan makan minum, tapi juga menjaga lisan dari gosip, caci maki, dan ucapan yang dilarang.
Balikpapan TV - Hai Cess! Puasa Ramadhan sering dipahami sekadar menahan lapar dan haus dari pagi sampai magrib. Padahal ada pelajaran lain yang jauh pang. Sebuah kisah yang diriwayatkan Imam Ahmad, Ibnu Abid Dunya, dan Abu Ya'la menunjukkan bahwa menjaga lisan sama pentingnya dengan menahan makan dan minum saat puasa.
Cerita ini menarik disimak sampai tuntas. Kenapa? Karena ada dua perempuan yang tetap berpuasa, tapi justru mendapat teguran keras dari Rasulullah. Penasaran apa yang sebenarnya terjadi dan apa pelajaran besar dari kisah itu? Baca terus sampai habis Cess!
Kenapa kisah dua perempuan yang berpuasa ini jadi perhatian Rasulullah?
Peristiwa ini bermula ketika seseorang datang kepada Rasulullah dan melaporkan kondisi dua perempuan yang sedang berpuasa. Ia berkata bahwa keduanya hampir mati karena kehausan. Rasulullah sempat diam ketika mendengar laporan tersebut.
Namun orang itu kembali menyampaikan kabar serupa pada waktu Dzuhur. Ia berkata lagi bahwa kedua perempuan tersebut hampir meninggal karena kehausan. Mendengar laporan itu, Rasulullah kemudian bersabda agar keduanya dipanggil.
Kedua perempuan itu akhirnya datang menghadap. Lalu sebuah wadah besar dibawa. Rasulullah kemudian berkata kepada salah satu dari mereka, “Muntahlah!”. Perempuan tersebut muntah hingga keluar nanah, darah, dan daging sampai memenuhi setengah wadah.
Setelah itu Rasulullah meminta perempuan satunya melakukan hal yang sama. Perempuan tersebut juga muntah nanah, darah, dan daging hingga memenuhi wadah besar tersebut.
Peristiwa ini membuat banyak orang terkejut. Apa sebenarnya yang terjadi?
Apa maksud Rasulullah ketika menjelaskan kejadian itu?
Setelah kedua perempuan tersebut muntah, Rasulullah menjelaskan makna di balik kejadian tersebut. Beliau bersabda bahwa keduanya memang menahan diri dari sesuatu yang dihalalkan Allah, yaitu makan dan minum.
Namun pada saat yang sama, mereka justru berbuka dengan sesuatu yang diharamkan. Rasulullah menjelaskan bahwa keduanya duduk bersama lalu memakan daging manusia.
Maksud dari “memakan daging manusia” di sini adalah menggosipkan orang lain atau ghibah.
Artinya, walaupun secara fisik keduanya berpuasa, lisan mereka tetap melakukan perbuatan yang dilarang. Kisah ini kemudian dikutip dalam kitab Ghayatul Ihsan fi Fadhli Zakatil Fitri wa Fadhli Ramadhan karya Abdullah bin Muhammad bin As-Shiddiq Al-Ghumari.
Pesannya jelas. Puasa bukan hanya urusan perut, tetapi juga urusan lisan.
Kenapa menjaga lisan saat puasa dianggap sangat penting?
Dari kisah tersebut dapat dipahami bahwa puasa Ramadhan tidak cukup hanya meninggalkan makan dan minum. Ada kewajiban lain yang sama pentingnya, yaitu menjaga lisan dari perkataan yang diharamkan.
Perkataan yang termasuk dalam hal ini misalnya berbohong, mencaci maki, mengumpat, atau bergosip.
Sebenarnya menjaga lisan adalah kewajiban setiap waktu. Bukan hanya saat Ramadhan. Namun ketika seseorang sedang berpuasa, kewajiban ini mendapat penekanan yang lebih kuat.
Kenapa? Karena puasa bukan sekadar ibadah fisik. Puasa juga melatih pengendalian diri.
Nah, di sinilah ujian sebenarnya pang. Menahan lapar mungkin terasa berat. Tapi menahan ucapan sering kali jauh lebih sulit.
Pahamlah ikam.
Apakah bergosip bisa membatalkan puasa Ramadhan?
Pertanyaan ini sering muncul ketika membahas ghibah saat puasa. Para ulama memiliki perbedaan pendapat mengenai hal tersebut.
Menurut Imam Auza’i, berdasarkan hadits tersebut, bergosip dapat membatalkan puasa dan orang yang melakukannya wajib mengqadha puasanya. Pendapat serupa juga disampaikan oleh Ibrahim An-Nakha’i dan Ibnu Hazm.
Namun Jumhur Ulama memiliki pandangan berbeda. Mereka berpendapat bahwa maksiat seperti bergosip tidak membatalkan puasa secara hukum.
Meski begitu, perbuatan tersebut dapat menghilangkan pahala puasa dan mengurangi faedah dari ibadah tersebut. Misalnya hilangnya keberkahan puasa, berkurangnya peluang doa dikabulkan, dan berkurangnya pengampunan dosa.
Nah, di titik ini pahamlah ikam. Puasa mungkin sah secara hukum, tapi nilai ibadahnya bisa berkurang.
Apa pelajaran penting tentang puasa menurut para ulama?
Beberapa ulama memberikan penjelasan menarik tentang makna puasa. Salah satunya Syekh Bakri Syatha dalam kitab I’anatut Thalibin.
Beliau menjelaskan bahwa orang yang menjaga lisannya saat puasa akan mendapatkan dua pahala sekaligus.
Pertama adalah pahala wajib, karena menjaga lisan dari perbuatan haram memang kewajiban bagi setiap muslim. Kedua adalah pahala sunnah dari ibadah puasanya.
Artinya ada dua nilai ibadah dalam satu tindakan.
Sementara itu Maimun bin Mahran memberikan ungkapan yang cukup terkenal:
“Derajat puasa yang paling rendah adalah meninggalkan makan dan minum.”
Kalimat ini sederhana. Tapi maknanya dalam pang. Artinya puasa yang hanya menahan lapar dan haus tanpa menjaga perilaku lainnya hanyalah tingkatan paling dasar.
Tips sederhana menjaga lisan saat puasa:
1. Hindari obrolan yang berpotensi membahas keburukan orang lain
2. Alihkan percakapan ke topik yang bermanfaat
3. Ingat bahwa pahala puasa bisa berkurang karena ucapan
Kadapapa pang kalau kadang lupa. Yang penting berusaha menjaga diri setiap hari.
Poin Penting dari Kisah Ini:
1. Puasa bukan hanya menahan makan dan minum
2. Gosip atau ghibah termasuk perbuatan yang dilarang saat puasa
3. Beberapa ulama menganggap ghibah dapat membatalkan puasa
4. Jumhur Ulama menyatakan ghibah tidak membatalkan puasa tetapi menghilangkan pahala
5. Menjaga lisan saat puasa bisa memberikan dua pahala
Baca Juga: 6 Inspirasi Ayunan Teras Rumah Minimalis yang Nyaman dan Estetik, Cocok Jadi Spot Relaksasi
Insight: Puasa sering dipahami sebatas urusan lapar dan haus. Padahal inti latihannya ada pada pengendalian diri. Lisan jadi titik paling sering terlewat. Gosip terasa ringan, padahal dampaknya besar bagi nilai ibadah. Nah di Ramadhan ini, ukuran puasa bukan cuma kuat menahan makan. Tapi juga kuat menahan ucapan. Nah itu sudah, pahamlah ikam.
Bagikan artikel ini ke bubuhan ikam supaya semakin banyak yang memahami makna puasa secara utuh Cess!
Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapan Tv teman update setia, 'Bukan Sekadar Info Biasa!'
FAQ
Apakah gosip otomatis membatalkan puasa?
Terdapat perbedaan pendapat ulama. Sebagian menyatakan membatalkan puasa, sementara jumhur ulama menyebutkan hanya menghilangkan pahala puasa.
Mengapa menjaga lisan saat puasa sangat ditekankan?
Karena puasa bukan hanya ibadah fisik, tetapi juga latihan pengendalian diri dari ucapan dan perilaku yang dilarang.
Apa makna ungkapan “derajat puasa paling rendah adalah meninggalkan makan dan minum”?
Ungkapan ini menegaskan bahwa puasa yang hanya menahan lapar dan haus tanpa menjaga perilaku merupakan tingkat puasa paling dasar.
DISCLAIMER
Artikel ini menggunakan bantuan AI secara terbatas untuk menghasilkan tulisan bebas typo dan kalimat tidak efektif. Artikel ini telah melalui verifikasi dan validasi ketat oleh Manusia (Redaksi). Gambar dapat saja dihasilkan AI di artikel ini hanya sebagai ilustrasi pendukung yang membantu pembaca memahami konteks informasi bukan sebagai bukti realistis. Teknologi AI digunakan semata-mata sebagai alat bantu produktivitas dan efisiensi kerja redaksi — bukan sebagai pengganti peran jurnalis manusia.