Info Lokal InfoScope Gaya Hidup Infotainment Iptek Bisnis & UMKM Religi

Data Hilal Idul Fitri 2026 dari PBNU dan BMKG Sudah Dirilis, Begini Penjelasan Posisi Bulan di Indonesia pada 19 Maret

Nazwa Deriska Noviyanti • Senin, 16 Maret 2026 | 11:46 WIB

Ilustrasi pengamatan hilal menjelang Idul Fitri dengan teleskop saat matahari terbenam.
Ilustrasi pengamatan hilal menjelang Idul Fitri dengan teleskop saat matahari terbenam.

Ikhtisar: Lembaga Falakiyah PBNU dan BMKG merilis data hilal awal Syawal 1447 H. Hilal sudah di atas ufuk pada 19 Maret 2026, namun belum memenuhi kriteria imkanur rukyah di Indonesia.

Balikpapan TV - Hai Cess! Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama merilis informasi hilal untuk penentuan awal Syawal 1447 H. Data ini berkaitan dengan posisi bulan pada 29 Ramadhan 1447 H yang bertepatan Kamis Kliwon, 19 Maret 2026.

Perhitungan falak menunjukkan hilal sudah berada di atas ufuk di sejumlah wilayah Indonesia. Namun tinggi dan elongasi hilal yang terpantau masih belum memenuhi kriteria imkanur rukyah yang menjadi acuan pengamatan hilal.

Nah, supaya bubuhan ikam makin paham bagaimana posisi hilal di berbagai wilayah Indonesia serta potensi penentuan Idul Fitri 2026, simak terus sampai tuntan Cess.

Bagaimana data hilal awal Syawal 1447 H menurut Lembaga Falakiyah PBNU?

Lembaga Falakiyah PBNU menyampaikan data hilal melalui informasi falakiyah terkait posisi bulan pada 29 Ramadhan 1447 H. Berdasarkan perhitungan metode falak hisab tahqiqi tadqiki ashri kontemporer khas Nahdlatul Ulama, hilal sudah berada di atas ufuk pada 19 Maret 2026.

Namun posisi tersebut masih berada di bawah kriteria imkanur rukyah. Artinya, meskipun hilal secara matematis sudah muncul, peluang untuk terlihat melalui pengamatan langsung masih sangat terbatas.

Data juga menunjukkan variasi posisi hilal di berbagai wilayah Indonesia. Di Sabang, Aceh, tinggi hilal mar’ie tercatat mencapai 2 derajat 53 menit dengan elongasi hilal haqiqy 6 derajat 09 menit serta lama hilal 14 menit 44 detik.

Sementara di wilayah Merauke, Papua Selatan, tinggi hilal mar’ie hanya 0 derajat 49 menit dengan elongasi hilal haqiqy 4 derajat 36 menit dan lama hilal sekitar 6 menit 36 detik. Nah, dari selisih ini terlihat bahwa posisi hilal di Indonesia memang berbeda antar wilayah.

Baca Juga: 9 Inspirasi Pagar Rumah Minimalis dari Pipa PVC, Murah, Estetik, dan Tetap Aman

Seperti apa posisi hilal di Jakarta menurut data falakiyah PBNU?

Lembaga Falakiyah PBNU juga mencatat data khusus dari markaz Gedung PBNU di Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat.

Pada koordinat 6º 11’ 25” LS dan 106º 50’ 50” BT, tinggi hilal tercatat sekitar 1 derajat 43 menit 54 detik saat matahari terbenam.

Matahari terbenam berada pada posisi 12 derajat 03 menit 24 detik di selatan titik barat. Sementara elongasi hilal tercatat 5 derajat 44 menit 49 detik dengan lama hilal di atas ufuk sekitar 10 menit 51 detik.

Dalam data yang sama disebutkan bahwa ijtimak atau konjungsi terjadi pada Kamis Kliwon, 19 Maret 2026 pukul 08:25:58 WIB. Posisi hilal berada sekitar 3 derajat di selatan matahari dengan kondisi miring ke arah utara.

Informasi ini menjadi salah satu dasar dalam analisis penentuan awal bulan Syawal.

Apa yang disampaikan BMKG mengenai prakiraan hilal 1 Syawal 1447 H?

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika juga merilis informasi prakiraan hilal saat matahari terbenam pada 19 Maret 2026.

BMKG mencatat bahwa konjungsi terjadi pada Kamis 19 Maret 2026 pukul 01.23.23 UT atau sekitar pukul 08.23.23 WIB. Pada waktu itu nilai bujur ekliptika matahari dan bulan berada pada posisi yang sama yaitu 358,45 derajat.

Data ini menandakan bahwa konjungsi terjadi sebelum matahari terbenam di seluruh wilayah Indonesia pada tanggal tersebut.

Dari sisi waktu terbenam matahari, wilayah Waris di Papua tercatat paling awal yaitu pukul 17.48.13 WIT. Sedangkan waktu terbenam paling akhir terjadi di Banda Aceh pada pukul 18.49.39 WIB.

Perbedaan waktu ini memengaruhi kondisi pengamatan hilal di berbagai daerah.

Berapa tinggi dan elongasi hilal di berbagai wilayah Indonesia?

BMKG juga memaparkan data ketinggian hilal di Indonesia saat matahari terbenam pada 19 Maret 2026.

Ketinggian hilal tercatat berkisar antara 0.91 derajat di Merauke hingga sekitar 3.13 derajat di Sabang. Nilai ini menggambarkan posisi bulan yang masih rendah di atas ufuk.

Sementara elongasi geosentris atau jarak sudut antara matahari dan bulan berkisar antara 4.54 derajat di Waris, Papua hingga sekitar 6.1 derajat di Banda Aceh.

Data lain juga menunjukkan umur bulan di Indonesia saat matahari terbenam berada pada kisaran 7.41 jam di Waris hingga 10.44 jam di Banda Aceh.

Adapun lama hilal berada di atas ufuk berkisar antara sekitar 5.6 menit di Merauke hingga 15.66 menit di Sabang.

Apakah ada potensi Ramadhan digenapkan menjadi 30 hari?

Berdasarkan data falakiyah PBNU dan informasi prakiraan hilal BMKG, posisi hilal pada 19 Maret 2026 memang sudah berada di atas ufuk. Namun parameter tersebut belum memenuhi kriteria imkanur rukyah.

Kondisi ini menunjukkan potensi besar bulan Ramadhan digenapkan menjadi 30 hari atau dikenal dengan istilah istikmal.

Jika kondisi tersebut terjadi, maka kemungkinan awal Syawal 1447 H atau Idul Fitri diperkirakan jatuh pada Sabtu Pahing, 21 Maret 2026.

Meski demikian, kepastian awal Syawal tetap menunggu hasil rukyah atau pengamatan hilal secara langsung yang dilakukan di berbagai titik di Indonesia.

Keputusan resmi nantinya diumumkan oleh Lembaga Falakiyah PBNU serta melalui sidang isbat pemerintah yang diselenggarakan Kementerian Agama pada malam 19 Maret 2026.

Poin Penting dari Data Hilal Syawal 1447 H

1 Hilal sudah berada di atas ufuk pada 19 Maret 2026 menurut data falakiyah PBNU
2 Tinggi hilal tertinggi berada di Sabang Aceh sekitar 2 derajat 53 menit
3 Ketinggian hilal terendah berada di Merauke sekitar 0.91 derajat
4 Konjungsi terjadi pada Kamis 19 Maret 2026 sebelum matahari terbenam di Indonesia
5 Potensi Ramadhan digenapkan menjadi 30 hari masih terbuka

Baca Juga: Bebek Lebaran Jadi Favorit Keluarga! 6 Cara Masak Daging Bebek Supaya Empuk, Harum Rempah, dan Disukai Tamu

Insight: Data falakiyah sering terlihat teknis, namun sebenarnya menggambarkan proses ilmiah penentuan kalender Islam. Dari Sabang sampai Merauke, posisi hilal memang berbeda karena kondisi geografis. Itulah sebabnya pengamatan hilal dan sidang isbat selalu dinanti setiap akhir Ramadhan. Nah, ikam pasti pahamlah, penentuan Idul Fitri kada hanya soal kalender pang, tapi juga hasil pengamatan dan kesepakatan nasional.

Bagikan jua informasi ini ke bubuhan ikam supaya makin banyak yang paham proses penentuan awal Syawal di Indonesia Cess.

Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapan Tv teman update setia, 'Bukan Sekadar Info Biasa!'

FAQ

1 Kapan konjungsi atau ijtimak terjadi pada Ramadhan 1447 H?
Konjungsi terjadi pada Kamis 19 Maret 2026 sekitar pukul 08.23 WIB menurut data BMKG.

2 Di mana posisi hilal tertinggi di Indonesia pada 19 Maret 2026?
Hilal tertinggi tercatat di Sabang Aceh dengan tinggi sekitar 2 derajat 53 menit.

3 Apakah Idul Fitri 2026 sudah dipastikan tanggalnya?
Belum. Kepastian menunggu hasil rukyah hilal dan sidang isbat pemerintah pada 19 Maret 2026 malam.

DISCLAIMER
Artikel ini menggunakan bantuan AI secara terbatas untuk menghasilkan tulisan bebas typo dan kalimat tidak efektif. Artikel ini telah melalui verifikasi dan validasi ketat oleh Manusia (Redaksi). Gambar dapat saja dihasilkan AI di artikel ini hanya sebagai ilustrasi pendukung yang membantu pembaca memahami konteks informasi bukan sebagai bukti realistis. Teknologi AI digunakan semata-mata sebagai alat bantu produktivitas dan efisiensi kerja redaksi — bukan sebagai pengganti peran jurnalis manusia.

Koneksi Informasi Terkini
Koneksi Informasi Terkini

Editor : Arya Kusuma
#bmkg #Rukyah Hilal Indonesia #Hilal Syawal 1447 H #Idul Fitri 2026 #Lembaga Falakiyah PBNU