Info Lokal InfoScope Gaya Hidup Infotainment Iptek Bisnis & UMKM Religi

Menyambut Lailatul Qadar dengan Takwa: Penjelasan Ulama tentang Makna dan Cara Mengukur Ketakwaan

Nazwa Deriska Noviyanti • Kamis, 12 Maret 2026 | 10:18 WIB

umat Muslim beribadah di masjid
umat Muslim beribadah di masjid

Ikhtisar: Lailatul Qadar adalah malam istimewa di bulan Ramadhan yang disebut lebih utama dari seribu bulan. Ulama menjelaskan makna takwa, ciri-cirinya, serta bagaimana umat Islam mempersiapkan diri menyambutnya.

Balikpapan TV - Hai Cess! Di bulan Ramadhan, ada satu malam yang selalu dinanti umat Islam di berbagai belahan dunia. Malam itu dikenal sebagai Lailatul Qadar. Dalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa malam ini memiliki nilai ibadah yang melampaui seribu bulan.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Qadr ayat 3:
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍ

Artinya: “Lailatul Qadar itu lebih baik daripada seribu bulan.”

Nah, malam yang penuh keutamaan ini dirahasiakan waktunya. Tidak ada manusia yang mengetahui secara pasti kapan datangnya. Karena itu, umat Islam dianjurkan memperbanyak ibadah sepanjang Ramadhan. Penasaran bagaimana ulama menjelaskan makna malam ini dan kaitannya dengan ketakwaan? Simak sampai tuntan Cess!

Mengapa malam Lailatul Qadar disebut lebih utama dari seribu bulan?

Penjelasan mengenai keutamaan malam Lailatul Qadar telah dibahas dalam banyak kitab tafsir. Salah satu penjelasan datang dari ulama Nusantara yang dikenal luas di dunia Islam, Nawawi al-Bantani atau Syekh Nawawi Banten.

Dalam kitab Marahul Labid, beliau menjelaskan bahwa amal ibadah yang dilakukan pada malam tersebut memiliki nilai yang jauh melampaui ibadah pada malam-malam lain.

Syekh Nawawi Banten menjelaskan:

إِنَّ الْعِبَادَةَ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ الْعِبَادَةِ فِي أَلْفِ شَهْرٍ لَيْسَتْ فِيهَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ

Artinya:
“Ibadah di malam Lailatul Qadar lebih baik daripada ibadah seribu bulan di selain malam tersebut.”

Maknanya sederhana namun dalam. Satu malam ibadah bisa bernilai setara dengan ibadah selama puluhan tahun. Karena itu, setiap Ramadhan umat Islam berharap dapat bertemu dengan malam ini.

Pahamlah ikam. Maka tidak heran jika banyak orang memperbanyak doa, salat malam, serta amal kebaikan pada hari-hari terakhir Ramadhan.

Baca Juga: 6 Tips Pasang Wallpaper Dinding Sendiri di Rumah, Hasil Rapi Tanpa Tukang dan Bikin Ruangan Naik Level

Mengapa waktu Lailatul Qadar dirahasiakan oleh Allah?

Keistimewaan lain dari Lailatul Qadar adalah waktunya yang tidak diketahui secara pasti. Hari, tanggal, bahkan jam kedatangannya dirahasiakan oleh Allah SWT.

Dalam banyak penjelasan ulama, rahasia ini memiliki hikmah besar. Salah satunya agar umat Islam tidak hanya beribadah pada satu malam saja, tetapi menjaga ketakwaan sepanjang bulan Ramadhan.

Hal ini juga sejalan dengan firman Allah dalam Surah Ali Imran ayat 102:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah mati kecuali dalam keadaan muslim.”

Nah, dari ayat ini terlihat bahwa bekal utama untuk menyambut malam Lailatul Qadar adalah ketakwaan. Jadi bukan sekadar menunggu satu malam, tetapi menjaga kualitas ibadah sepanjang Ramadhan.

Apa sebenarnya makna takwa dalam kehidupan sehari-hari?

Dalam literatur keislaman, makna takwa dijelaskan secara luas oleh para ulama. Takwa bukan hanya ibadah ritual, tetapi juga sikap dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu contoh yang sering dijelaskan adalah menghindari sikap berlebihan meskipun hal tersebut dibolehkan secara syariat. Misalnya ketika berbuka puasa. Makan dan minum secukupnya, tidak berlebihan.

Contoh lain adalah menghindari perkara yang syubhat. Artinya, sesuatu yang belum jelas halal atau tidaknya.

Dalam kehidupan modern, konsep ini juga bisa diterapkan pada aktivitas di media sosial. Konten yang tidak jelas manfaatnya, atau berpotensi menyinggung masyarakat, sebaiknya dihindari.

Nah, dari kebiasaan kecil seperti ini kualitas ketakwaan seseorang perlahan meningkat.

Bagaimana ulama menjelaskan tingkatan ketakwaan?

Ulama tasawuf Abdul Karim al-Qushayri menjelaskan hakikat takwa dalam karya klasiknya Ar-Risalah Al-Qusyairiyah.

Beliau menjelaskan bahwa hakikat takwa adalah menjaga diri dari hukuman Allah dengan cara melaksanakan ketaatan kepada-Nya.

Penjelasan tersebut menggambarkan bahwa takwa memiliki beberapa tingkatan.

Pertama menjauhi kesyirikan.

Kemudian menjauhi kemaksiatan dan perbuatan buruk.

Setelah itu menjauhi perkara syubhat.

Dan yang terakhir menjauhi hal-hal yang berlebihan dalam kehidupan.

Penjelasan ini menunjukkan bahwa ketakwaan bukan sesuatu yang muncul secara instan. Ia tumbuh bertahap melalui kebiasaan dan pengendalian diri.

Bagaimana cara mengenali tanda seseorang memiliki ketakwaan?

Dalam penjelasan Abdul Karim al-Qushayri, ada tiga tanda yang dapat menjadi ukuran kualitas ketakwaan seseorang.

Pertama, tawakal terhadap sesuatu yang belum diperoleh. Misalnya ketika melamar pekerjaan tetapi belum mendapatkan kepastian. Sikap positif dan tetap berserah kepada Allah merupakan bagian dari ketakwaan.

Kedua, ridha terhadap apa yang telah diperoleh. Ketika usaha sudah dilakukan namun hasilnya hanya cukup memenuhi kebutuhan dasar, tetap bersyukur dan tidak mencari jalan yang dilarang.

Ketiga, sabar terhadap apa yang hilang. Kehilangan usaha, barang berharga, atau orang yang dicintai merupakan ujian hidup. Respon sabar dan tetap berprasangka baik kepada Allah menjadi tanda ketakwaan.

Nah, ukuran ini sebenarnya sederhana. Yang paling mengetahui kondisi tersebut adalah diri masing-masing.

Poin Penting dari Artikel

1. Lailatul Qadar disebut dalam Al-Qur’an sebagai malam yang lebih utama dari seribu bulan.

2. Ulama menjelaskan ibadah pada malam tersebut memiliki nilai jauh lebih besar dibanding malam lainnya.

3. Waktu Lailatul Qadar dirahasiakan agar umat Islam menjaga ibadah sepanjang Ramadhan.

4. Takwa menjadi bekal utama untuk menyambut malam istimewa tersebut.

5. Tanda ketakwaan antara lain tawakal, ridha terhadap hasil, dan sabar atas kehilangan.

Baca Juga: Dari Ponsel Murah Jadi Konsol Game Genggam, Eksperimen Smartphone Android $25 Ini Tunjukkan Cara Gaming Portabel Tanpa Perangkat Mahal

Insight: Menanti Lailatul Qadar bukan hanya soal satu malam istimewa dalam kalender Ramadhan. Para ulama menjelaskan bahwa inti dari penantian itu adalah memperbaiki kualitas takwa sepanjang hidup. Bukan sekadar memperbanyak ibadah pada malam tertentu. Ada latihan mengendalikan diri, menjauhi hal berlebihan, serta menjaga sikap saat menghadapi rezeki, ujian, dan kehilangan. Nah, di situ letak maknanya. Ketakwaan dibangun dari kebiasaan kecil setiap hari, pahamlah ikam.

Bagikan jua artikel ini ke bubuhan ikam supaya makin banyak yang memahami makna Lailatul Qadar di bulan Ramadhan Cess!

Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapan Tv teman update setia, 'Bukan Sekadar Info Biasa!'

FAQ

1. Apa yang dimaksud dengan malam Lailatul Qadar?
Lailatul Qadar adalah malam di bulan Ramadhan yang disebut dalam Al-Qur’an memiliki nilai ibadah lebih baik daripada seribu bulan.

2. Mengapa waktu Lailatul Qadar dirahasiakan?
Para ulama menjelaskan agar umat Islam memperbanyak ibadah sepanjang bulan Ramadhan, bukan hanya pada satu malam tertentu.

3. Apa tanda seseorang memiliki ketakwaan menurut ulama?
Tiga tanda utama yaitu tawakal terhadap hal yang belum diperoleh, ridha terhadap hasil yang didapat, dan sabar terhadap apa yang hilang.

DISCLAIMER
Artikel ini menggunakan bantuan AI secara terbatas untuk menghasilkan tulisan bebas typo dan kalimat tidak efektif. Artikel ini telah melalui verifikasi dan validasi ketat oleh Manusia (Redaksi). Gambar dapat saja dihasilkan AI di artikel ini hanya sebagai ilustrasi pendukung yang membantu pembaca memahami konteks informasi bukan sebagai bukti realistis. Teknologi AI digunakan semata-mata sebagai alat bantu produktivitas dan efisiensi kerja redaksi — bukan sebagai pengganti peran jurnalis manusia.

Koneksi Informasi Terkini
Koneksi Informasi Terkini

Editor : Arya Kusuma
#Lailatul Qadar #Nawawi al Bantani #Abdul Karim al Qushayri #ketakwaan dalam Islam #bulan ramadhan