Ikhtisar: Ramadhan menjadi momentum melatih akhlak menahan amarah. Al-Qur’an, hadits Nabi Muhammad SAW, serta penjelasan ulama menegaskan bahwa mengendalikan marah membuka pintu kebaikan dan menolak mudarat dalam kehidupan.
Balikpapan TV - Hai Cess! Ramadhan selalu hadir membawa ruang latihan akhlak. Salah satu yang sering dibicarakan ulama adalah menahan amarah. Bukan sekadar sikap menahan emosi sesaat, tapi cara menjaga diri agar kada terjebak dalam perbuatan yang merugikan orang lain.
Nah, sebelum lanjut jauh, simak dulu sampai tuntas Cess. Pembahasan kali ini menarik pang, sebab menahan amarah dalam ajaran Islam ternyata menjadi kunci lahirnya banyak kebaikan. Pahamlah ikam, dari satu akhlak ini bisa muncul banyak sikap mulia lainnya.
Mengapa Ramadhan jadi waktu tepat melatih menahan amarah?
Ramadhan dipandang sebagai momen membentuk akhlak mulia. Dalam ajaran Islam, menahan amarah termasuk akhlak yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW. Sifat ini bahkan menjadi ciri orang bertakwa sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an.
Allah SWT berfirman dalam Surat Ali Imran ayat 133–134:
“Bersegeralah menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga (yang) luasnya (seperti) langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa. (Yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”
Ayat ini menunjukkan satu hal penting. Orang bertakwa digambarkan mampu menahan kemarahan dan memaafkan kesalahan orang lain. Jadi Ramadhan bukan cuma soal menahan lapar dan haus pang. Tapi juga latihan menahan emosi yang sering muncul dalam kehidupan sehari-hari.
Apa makna menahan amarah menurut penafsiran ulama?
Syekh Nawawi Banten dalam tafsirnya memberikan penjelasan menarik tentang ayat tersebut. Ia menerangkan bahwa hubungan manusia dengan orang lain pada dasarnya ada dua bentuk: memberi manfaat atau menolak mudarat.
Artinya, kehidupan sosial manusia sangat berkaitan dengan dua sikap utama itu. Memberi manfaat dapat dilakukan dengan berbagai cara. Misalnya mengajarkan ilmu kepada orang yang belum tahu atau membantu orang lain menemukan petunjuk yang benar.
Dalam tafsirnya disebutkan:
“Dan ketahuilah bahwa manusia terhadap orang lain ada dua macam: yaitu dengan memberikan manfaat kepadanya atau dengan menolak bahaya darinya.”
Memberikan manfaat juga termasuk menggunakan harta di jalan kebaikan dan ibadah. Jadi akhlak baik kada hanya berbentuk sikap lembut, tapi juga tindakan nyata yang bermanfaat bagi orang lain.
Lalu bagaimana dengan menolak mudarat? Syekh Nawawi menjelaskan salah satunya dengan cara menahan amarah. Artinya ketika menghadapi keburukan dari orang lain, seseorang kada langsung membalas dengan keburukan yang sama.
Bagaimana hadits Nabi menjelaskan bahaya marah?
Dalam beberapa riwayat hadits, Rasulullah SAW mengingatkan umatnya agar berhati-hati terhadap sifat marah. Sebab marah dapat membawa seseorang pada hal yang mengundang kemurkaan Allah SWT.
Diriwayatkan dalam hadits:
“Seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW, ‘Dosa apa yang besar di sisi Allah?’ ‘Membuat murka Allah,’ jawab Nabi Muhammad saw. Ia bertanya lagi, ‘Apa yang dapat menjauhkanku dari murka-Nya?’ ‘Tahan marah,’ jawab Rasulullah SAW.” (HR Imam Ahmad).
Pesan hadits ini sederhana pang. Tapi kuat maknanya. Mengendalikan amarah menjadi salah satu jalan agar manusia terhindar dari kemurkaan Allah.
Pahamlah ikam, emosi yang meledak sering membuat seseorang bertindak tanpa berpikir panjang. Dari situ muncul konflik, pertengkaran, bahkan penyesalan setelahnya. Nah itu sudah.
Siapa yang disebut kuat menurut Rasulullah SAW?
Menariknya, Rasulullah SAW memberikan definisi kekuatan yang berbeda dari pandangan umum. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Nabi menjelaskan bahwa orang kuat bukan yang menang dalam perkelahian.
Hadits tersebut berbunyi:
“Ibnu Mas’ud ra berkata, Rasulullah SAW bertanya, ‘Apa yang kalian pikirkan tentang tarung?’ kami menjawab, ‘Orang yang tidak terkalahkan dikeroyok beberapa orang.’ ‘Bukan itu, tapi petarung sejati ialah orang yang mengendalikan dirinya ketika marah.’”
Maknanya jelas. Menguasai diri saat marah jauh lebih sulit dibanding mengalahkan lawan dalam pertarungan. Orang yang mampu menahan emosi menunjukkan kekuatan karakter.
Di sinilah pentingnya latihan akhlak, terutama di bulan Ramadhan. Sebab suasana puasa mengajarkan kesabaran dalam banyak hal.
Kenapa ulama menyebut meninggalkan marah sebagai inti akhlak?
Imam Ibnu Hajar al-Haitami menjelaskan sebuah kisah menarik tentang Ibnu Mubarak. Suatu ketika ia diminta merangkum seluruh akhlak baik dalam satu kalimat saja.
Jawabannya singkat:
“Meninggalkan kemurkaan.”
Kalimat ini dipandang sangat padat namun mencakup banyak makna. Menurut penjelasan Imam Ibnu Hajar al-Haitami, kalimat tersebut mengandung berbagai bentuk kebaikan sekaligus menolak banyak keburukan.
Artinya ketika seseorang mampu meninggalkan marah, ia otomatis menutup pintu banyak perbuatan buruk. Dari situlah muncul sikap sabar, memaafkan, hingga menjaga hubungan baik dengan sesama manusia.
Nah, pahamlah ikam. Satu akhlak saja ternyata bisa membuka banyak pintu kebaikan.
Poin Penting dari Pembahasan Ini
1. Menahan amarah termasuk akhlak mulia yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai ciri orang bertakwa.
2. Syekh Nawawi Banten menjelaskan manusia dianjurkan memberi manfaat dan menolak mudarat kepada orang lain.
3. Rasulullah SAW mengingatkan bahwa menahan marah dapat menjauhkan diri dari kemurkaan Allah.
4. Nabi Muhammad SAW menyebut orang kuat adalah yang mampu mengendalikan dirinya saat marah.
5. Ulama seperti Ibnu Mubarak merangkum seluruh akhlak baik dalam satu kalimat: meninggalkan kemurkaan.
Insight: Menahan amarah sering dianggap hal kecil. Padahal dampaknya luas pang. Ketika emosi terkendali, hubungan antar manusia tetap terjaga. Konflik kada cepat membesar. Ulama bahkan menilai sikap ini sebagai pintu lahirnya banyak akhlak baik. Nah, di tengah kehidupan yang serba cepat, latihan menahan marah terasa makin penting. Ramadhan memberi ruang latihan itu. Siapa yang mampu menjaga emosi, pahamlah ikam, ia sedang menjaga banyak kebaikan sekaligus.
Bagikan artikel ini ke bubuhan ikam supaya makin banyak yang memahami pentingnya menahan amarah dalam kehidupan sehari-hari Cess.
Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapan Tv teman update setia, “Bukan Sekadar Info Biasa!”
FAQ
Apa makna menahan amarah dalam Islam?
Menahan amarah berarti mengendalikan emosi ketika menghadapi sesuatu yang memicu kemarahan sehingga kada membalas keburukan dengan keburukan.
Mengapa menahan amarah disebut ciri orang bertakwa?
Karena Al-Qur’an dalam Surat Ali Imran ayat 133–134 menyebut orang bertakwa sebagai mereka yang mampu mengendalikan kemarahan dan memaafkan kesalahan orang lain.
Bagaimana Rasulullah SAW mendefinisikan orang kuat?
Dalam hadits riwayat Imam Muslim, Nabi menjelaskan orang kuat adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.
DISCLAIMER
Artikel ini menggunakan bantuan AI secara terbatas untuk menghasilkan tulisan bebas typo dan kalimat tidak efektif. Artikel ini telah melalui verifikasi dan validasi ketat oleh Manusia (Redaksi). Gambar dapat saja dihasilkan AI di artikel ini hanya sebagai ilustrasi pendukung yang membantu pembaca memahami konteks informasi bukan sebagai bukti realistis. Teknologi AI digunakan semata-mata sebagai alat bantu produktivitas dan efisiensi kerja redaksi — bukan sebagai pengganti peran jurnalis manusia.