Info Lokal InfoScope Gaya Hidup Infotainment Iptek Bisnis & UMKM Religi

Kerja Setiap Hari Bisa Bernilai Ibadah, Begini Pesan Al-Qur’an tentang Rezeki, Syukur, dan Tujuan Hidup

Nazwa Deriska Noviyanti • Rabu, 11 Maret 2026 | 14:34 WIB

Ilustrasi aktivitas bekerja sehari-hari yang menggambarkan makna mencari rezeki sebagai ibadah dalam Islam.
Ilustrasi aktivitas bekerja sehari-hari yang menggambarkan makna mencari rezeki sebagai ibadah dalam Islam.

Ikhtisar:Bekerja dalam Islam bukan sekadar mencari nafkah. Al-Qur’an menegaskan usaha mencari rezeki, beribadah, dan bersyukur adalah satu rangkaian hidup yang bernilai pahala bila diniatkan karena Allah.

Balikpapan TV - Hai Cess! Bekerja sering dipandang hanya sebagai cara memenuhi kebutuhan hidup. Padahal dalam ajaran Islam, aktivitas mencari rezeki memiliki makna jauh lebih luas. Setiap usaha yang dilakukan dengan niat karena Allah Swt dapat bernilai ibadah dan menghadirkan pahala.

Nah, topik ini menarik disimak sampai tuntas. Soalnya banyak orang menjalani rutinitas kerja setiap hari tanpa memikirkan nilai ibadah di baliknya. Padahal Al-Qur’an sudah memberi arahan jelas soal hubungan antara mencari rezeki, beribadah, dan bersyukur kepada Allah. Pahamlah ikam, di situlah letak makna besar dari aktivitas bekerja.

Mengapa bekerja dalam Islam dapat bernilai ibadah?

Bekerja dalam pandangan Islam memiliki kedudukan yang mulia ketika diniatkan karena Allah Swt. Aktivitas mencari rezeki bukan sekadar usaha ekonomi, tetapi bagian dari ketaatan kepada perintah-Nya.

Allah Ta’ala berfirman:

فَابْتَغُوْا عِنْدَ اللّٰهِ الرِّزْقَ وَاعْبُدُوْهُ وَاشْكُرُوْا لَهٗۗ اِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ

Artinya:
“Maka, mintalah rezeki dari sisi Allah, sembahlah Dia, dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nya kamu akan dikembalikan”. (Qs. Al-Ankabut: 17)

Ayat ini menegaskan bahwa manusia diperintahkan mencari rezeki dari Allah. Artinya usaha mencari nafkah memiliki hubungan langsung dengan ibadah kepada-Nya. Jadi pekerjaan apa pun yang halal dapat menjadi jalan memperoleh pahala ketika niatnya benar.

Nah, ikam pasti pahamlah. Aktivitas kerja yang biasanya dianggap rutinitas biasa ternyata punya dimensi spiritual yang besar.

Baca Juga: Dari Masjid hingga Madrasah, Perjalanan Imam Al-Ghazali Mencari Ilmu kepada Tukang Sol Sepatu, Cerita Kerendahan Hati dan Pentingnya Guru Spiritual

Apa tiga perintah penting dalam QS Al-Ankabut ayat 17?

Penjelasan para ulama membantu memahami makna ayat tersebut secara lebih dalam. Syekh Nawawi Bantani dalam tafsirnya menjelaskan tiga perintah utama dari ayat tersebut.

Ia menuliskan:

فَابْتَغُوا عِنْدَ اللَّهِ الرِّزْقَ أي فَاطْلُبُوْا مِنَ اللهِ تَعَالَى كُلَّ الرِّزْقِ وَاعْبُدُوهُ لِكَوْنِهِ مُسْتَحَقًّا لِلْعِبَادَةِ لِذَاتِهِ، وَاشْكُرُوا لَهُ لِكَوْنِهِ سَابِقَ النِّعَمِ بِالْخَلْقِ وَمُعْطِي النِّعَمِ بِالرِّزْقِ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

Artinya:
“Maka mintalah rezeki dari sisi Allah, yakni mintalah segala rezeki kepada-Nya, sembahlah Allah sebab hanya Dia yang layak disembah, dan bersyukurlah kepada Allah sebab Dia pemberi kenikmatan”.

Dari penjelasan tersebut, terdapat tiga pesan utama:

1. Perintah mencari rezeki dari Allah.
2. Perintah beribadah kepada Allah.
3. Perintah bersyukur atas nikmat-Nya.

Ketiganya saling berkaitan. Mencari rezeki menjadi sarana menjalankan ibadah dan alasan untuk bersyukur. Jadi pekerjaan bukan hanya aktivitas duniawi. Ada nilai pengabdian di dalamnya.

Apakah semua pekerjaan memiliki nilai yang sama di sisi Allah?

Islam tidak membeda-bedakan pekerjaan selama dilakukan dengan cara halal. Petani, buruh, pedagang kecil, atau driver memiliki peluang pahala yang sama selama niatnya benar.

Intinya sederhana. Pekerjaan halal yang diniatkan karena Allah memiliki nilai ibadah. Sebaliknya, jabatan tinggi atau penghasilan besar tidak memiliki nilai jika diperoleh melalui cara yang haram.

Prinsip ini menegaskan bahwa ukuran kemuliaan bukan terletak pada profesi atau popularitas. Yang menjadi ukuran adalah niat dan cara mendapatkan rezeki tersebut.

Nah, di sinilah pesan pentingnya. Rutinitas kerja yang sederhana pun dapat menjadi ladang pahala ketika diniatkan untuk menafkahi keluarga, membantu orang lain, dan menjalankan kewajiban hidup.

Bagaimana Al-Qur’an menggambarkan usaha mencari rezeki di bumi?

Al-Qur’an memberikan gambaran bahwa bumi diciptakan agar manusia dapat memanfaatkannya untuk mencari rezeki.

Allah berfirman dalam surat Al-Mulk ayat 15:

هُوَ الَّذِيْ جَعَلَ لَكُمُ الْاَرْضَ ذَلُوْلًا فَامْشُوْا فِيْ مَنَاكِبِهَا وَكُلُوْا مِنْ رِّزْقِهٖۗ وَاِلَيْهِ النُّشُوْرُ

Artinya:
“Dialah yang menjadikan bumi untuk kamu dalam keadaan mudah dimanfaatkan. Maka jelajahilah segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya”.

Dalam tafsirnya, Syekh Abdullah bin Ahmad An-Nasafi menjelaskan bahwa bumi dibuat mudah bagi manusia untuk mencari rezeki. Gunung, jalan, dan berbagai tempat di dunia dapat dimanfaatkan sebagai sarana usaha.

Namun ayat tersebut juga mengingatkan satu hal penting. Setelah kehidupan di dunia selesai, manusia akan kembali kepada Allah. Di sanalah pertanyaan tentang rasa syukur terhadap nikmat rezeki akan muncul.

Nah itu sudah. Rezeki bukan hanya soal usaha, tapi juga soal syukur.

Bagaimana menjadikan pekerjaan sehari-hari sebagai ibadah?

Banyak orang menjalani pekerjaan sebagai rutinitas biasa. Padahal dengan niat yang benar, aktivitas tersebut dapat berubah menjadi ibadah yang bernilai pahala.

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan agar pekerjaan memiliki nilai ibadah:

1. Niatkan pekerjaan karena Allah dan mencari ridha-Nya.
2. Pastikan rezeki diperoleh melalui cara yang halal.
3. Jadikan hasil kerja sebagai sarana beribadah dan membantu sesama.
4. Tetap menjalankan ibadah utama tanpa mengabaikan kewajiban kepada Allah.

Ketika empat hal ini dijalankan, pekerjaan tidak hanya menghasilkan nafkah tetapi juga menghadirkan nilai spiritual dalam kehidupan.

Apalagi saat Ramadhan. Setiap aktivitas yang dilakukan dengan niat ibadah memiliki makna yang semakin dalam.

Poin Penting dari Artikel Ini

1. Bekerja dalam Islam memiliki nilai ibadah ketika diniatkan karena Allah.
2. QS Al-Ankabut ayat 17 memuat tiga perintah: mencari rezeki, beribadah, dan bersyukur.
3. Islam tidak membedakan jenis pekerjaan selama halal.
4. Bumi diciptakan sebagai tempat manusia mencari rezeki.
5. Niat, cara yang halal, dan tujuan yang benar menentukan nilai pekerjaan.

Baca Juga: Penjelasan Hukum Zakat Fitrah Menurut Ulama yang Sering Bikin Gagal Faham

Insight: Banyak orang memisahkan urusan kerja dan ibadah. Padahal dalam ajaran Islam, keduanya saling terhubung. Mencari rezeki dengan niat benar dapat menjadi ibadah yang bernilai pahala. Hal kecil sering terlewat. Padahal di situlah maknanya. Kerja keras untuk keluarga, membantu orang lain, dan menjaga kehalalan rezeki punya nilai besar. Nah, pahamlah ikam. Aktivitas harian yang terlihat biasa bisa berubah menjadi amal bernilai tinggi.

Bagikan artikel ini ke bubuhan ikam supaya makin banyak yang memahami makna bekerja dalam Islam, nah tolong nah Cess.

Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapan Tv teman update setia, “Bukan Sekadar Info Biasa!”

FAQ

Apakah bekerja selalu bernilai ibadah dalam Islam?
Bekerja dapat bernilai ibadah ketika dilakukan dengan niat karena Allah dan melalui cara yang halal.

Apakah profesi mempengaruhi nilai pahala pekerjaan?
Tidak. Islam tidak membedakan profesi selama pekerjaan tersebut halal dan dilakukan dengan niat baik.

Mengapa Al-Qur’an memerintahkan manusia mencari rezeki?
Karena bumi diciptakan agar manusia memanfaatkannya untuk kehidupan sekaligus sebagai sarana bersyukur kepada Allah.

DISCLAIMER
Artikel ini menggunakan bantuan AI secara terbatas untuk menghasilkan tulisan bebas typo dan kalimat tidak efektif. Artikel ini telah melalui verifikasi dan validasi ketat oleh Manusia (Redaksi). Gambar dapat saja dihasilkan AI di artikel ini hanya sebagai ilustrasi pendukung yang membantu pembaca memahami konteks informasi bukan sebagai bukti realistis. Teknologi AI digunakan semata-mata sebagai alat bantu produktivitas dan efisiensi kerja redaksi — bukan sebagai pengganti peran jurnalis manusia.

Koneksi Informasi Terkini
Koneksi Informasi Terkini

Editor : Arya Kusuma
#Mencari rezeki dalam Islam #QS Al Ankabut ayat 17 #Tafsir Syekh Nawawi Bantani #Tafsir An Nasafi tentang rezeki #Makna bekerja dalam Islam