Ikhtisar: Sepuluh malam terakhir Ramadhan 1447 H menjadi momen penting bagi umat Muslim menjalani itikaf di masjid. Artikel ini membahas niat itikaf, penjelasan ulama, serta makna ibadah mendekatkan diri kepada Allah.
Balikpapan TV - Hai Cess! Sepuluh malam terakhir Ramadhan 1447 H mulai hadir pada Selasa malam, 10 Maret 2026. Bagi umat Muslim, fase ini sering dianggap momentum penting untuk meningkatkan ibadah. Salah satu amalan yang dianjurkan adalah itikaf di masjid, yaitu berdiam diri sambil memperbanyak ibadah demi mendekatkan diri kepada Allah swt dan mengharap keutamaan malam lailatul qadar.
Nah, sebelum menjalankan ibadah ini, ada satu hal yang sering dianggap sepele padahal inti dari semua ibadah: niat. Lalu bagaimana sebenarnya lafaz niat itikaf yang diajarkan ulama? Penasaran kan? Simak sampai tuntas supaya pahamlah ikam, Cess!
Kenapa 10 Malam Terakhir Ramadhan Jadi Waktu Penting untuk Itikaf?
Sepuluh malam terakhir Ramadhan selalu menjadi perhatian khusus dalam tradisi ibadah umat Muslim. Pada periode inilah banyak orang memilih memperbanyak amal, termasuk beritikaf di masjid.
Itikaf sendiri berarti berdiam diri di masjid dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah swt. Aktivitas ini biasanya diisi dengan berbagai ibadah seperti salat, membaca Al-Qur’an, dan doa. Fokusnya sederhana tetapi dalam: menjauh sejenak dari rutinitas dunia dan memperkuat hubungan spiritual.
Bagi banyak Muslim, momen ini juga menjadi kesempatan meraih lailatul qadar, malam yang penuh keberkahan di bulan Ramadhan. Karena itu, itikaf sering dilakukan khusus pada malam-malam terakhir Ramadhan. Kadapapa pang kalau waktunya singkat, yang penting niat ibadahnya kuat. Pahamlah ikam, Cess.
Baca Juga: Jangan Buru-Buru Disingkirkan! 6 Trik Mengakali Baju yang Kebesaran Agar Tampil Rapi dan Fungsional
Bagaimana Lafal Niat Itikaf yang Dijelaskan Ulama?
Dalam menjalankan itikaf, niat menjadi unsur utama. Wakil Sekretaris Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Ustadz Alhafiz Kurniawan, menjelaskan ada dua alternatif lafaz niat yang dapat digunakan.
Lafaz pertama bersumber dari kitab Tuhfatul Muhtaj dan Nihayatul Muhtaj:
نَوَيْتُ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ مَا دُمْتُ فِيهِ
Nawaitu an a‘takifa fī hādzal masjidi mā dumtu fīh.
Artinya: “Saya berniat itikaf di masjid ini selama saya berada di dalamnya.”
Lafaz ini menegaskan bahwa niat berlaku sepanjang seseorang berada di dalam masjid untuk menjalankan ibadah tersebut. Sederhana. Namun maknanya kuat.
Adakah Pilihan Niat Itikaf Lain yang Bisa Digunakan?
Selain lafaz pertama, terdapat niat lain yang juga digunakan dalam praktik itikaf. Lafaz ini merujuk pada Kitab Al-Majmu’ karya Imam An-Nawawi.
Bunyi niatnya sebagai berikut:
نَوَيْتُ الاِعْتِكَافَ فِي هذَا المَسْجِدِ لِلّهِ تَعَالى
Nawaitul i’tikāfa fī hādzal masjidi lillāhi ta‘ālā.
Artinya: “Saya berniat i’tikaf di masjid ini karena Allah swt.”
Lafaz ini menegaskan bahwa tujuan utama itikaf adalah semata-mata karena Allah. Intinya sederhana. Semua ibadah kembali pada niat yang tulus.
Ustadz Alhafiz Kurniawan juga mengingatkan bahwa niat tidak cukup hanya dilafalkan. Ia menulis, “Jangan lupa niat itikafnya sendiri di dalam hati.”
Nah, ini penting. Lisan boleh mengucapkan, tetapi inti niat berada di dalam hati.
Bagaimana Niat Itikaf Jika Berkaitan dengan Nazar?
Dalam beberapa kondisi, itikaf dapat berubah status hukum. Salah satunya jika seseorang pernah bernazar untuk melakukannya.
Ustadz Tatam Wijaya menjelaskan bahwa niat itikaf karena nazar memiliki lafaz tersendiri dan hukumnya menjadi wajib, bukan lagi sunnah.
Berikut lafaz niatnya:
نَوَيْتُ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ فَرْضًا للهِ تَعَالَى
Nawaitu an a‘takifa fī hādzal masjidi fardhan lillāhi ta‘ālā.
Artinya: “Aku berniat i’tikaf di masjid ini fardhu karena Allah.”
Perbedaan lafaz ini menandai perubahan hukum ibadah. Jika sebelumnya sunnah, maka karena nazar ia menjadi kewajiban yang harus ditunaikan.
Nah, ikam pasti pahamlah. Niat menentukan arah ibadah.
Apa Makna Spiritual Itikaf di Malam-Malam Akhir Ramadhan?
Di balik tata cara dan lafaz niat, itikaf memiliki tujuan spiritual yang dalam. Ibadah ini mengajak seseorang menenangkan diri di dalam masjid sambil memperbanyak amal ibadah.
Banyak orang memanfaatkan waktu tersebut untuk membaca Al-Qur’an, berdoa, dan memperbanyak salat sunnah. Aktivitas sederhana, namun sarat makna.
Bagi sebagian Muslim, itikaf juga menjadi cara menyambut kemungkinan datangnya lailatul qadar. Malam yang dikenal penuh keberkahan di bulan Ramadhan.
Karena itu, tradisi itikaf di sepuluh malam terakhir terus dijalankan di berbagai masjid. Bubuhan ikam mungkin juga sering melihat masjid ramai pada malam-malam tersebut. Nah itu sudah… suasana Ramadhan memang terasa berbeda.
Poin Penting dari Artikel Ini
1. Sepuluh malam terakhir Ramadhan menjadi waktu yang dianjurkan untuk menjalankan itikaf.
2. Itikaf berarti berdiam diri di masjid sambil memperbanyak ibadah.
3. Ada dua lafaz niat itikaf yang umum digunakan berdasarkan kitab ulama.
4. Niat harus hadir dalam hati, bukan sekadar diucapkan.
5. Jika itikaf dilakukan karena nazar, hukumnya berubah menjadi wajib.
Insight: Ramadhan sering dipahami hanya sebagai puasa siang hari. Padahal malam-malam terakhir memiliki makna yang jauh lebih dalam. Itikaf membuka ruang refleksi spiritual yang sering terlewat dalam rutinitas harian. Bagi masyarakat kota yang sibuk, momen ini seperti jeda spiritual. Sebentar saja di masjid, kadapapa pang. Yang penting niat ibadah kuat. Nah, di situ letak nilainya, pahamlah ikam.
Bagikan jua artikel ini ke bubuhan ikam supaya semakin banyak yang memahami makna niat itikaf di malam terakhir Ramadhan, Cess.
Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapan Tv teman update setia, "Bukan Sekadar Info Biasa!"
FAQ
Apa itu itikaf dalam Ramadhan?
Itikaf adalah ibadah berdiam diri di masjid dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah swt melalui berbagai amalan ibadah.
Apakah niat itikaf harus diucapkan?
Niat boleh diucapkan dengan lisan, tetapi inti niat berada di dalam hati.
Kapan waktu yang dianjurkan untuk itikaf?
Itikaf sering dilakukan pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan karena di waktu tersebut terdapat kemungkinan datangnya lailatul qadar.
DISCLAIMER
Artikel ini menggunakan bantuan AI secara terbatas untuk menghasilkan tulisan bebas typo dan kalimat tidak efektif. Artikel ini telah melalui verifikasi dan validasi ketat oleh Manusia (Redaksi). Gambar dapat saja dihasilkan AI di artikel ini hanya sebagai ilustrasi pendukung yang membantu pembaca memahami konteks informasi bukan sebagai bukti realistis. Teknologi AI digunakan semata-mata sebagai alat bantu produktivitas dan efisiensi kerja redaksi — bukan sebagai pengganti peran jurnalis manusia.