Ikhtisar: Berbakti kepada orang tua memiliki kedudukan tinggi dalam Islam. Melalui birrul walidain, seseorang meraih rida Allah, keberkahan hidup, serta keselamatan dunia hingga akhirat.
Balikpapan TV - Hai Cess! Ramadan sering menjadi momen refleksi. Salah satu pesan penting yang kembali diingatkan adalah soal berbakti kepada orang tua atau birrul walidain.
Dalam program Cahaya Qolbu Spesial Ramadan yang tayang live dari studio Balikpapan TV pada Sabtu (7 Maret 2026), Ketua BAZNAS Balikpapan, Abdul Rosyid Bustomi, S.Pd., M.Pd., mengulas betapa tinggi kedudukan bakti anak kepada orang tua dalam ajaran Islam.
Nah, pembahasan ini menarik disimak sampai tuntas. Sebab bukan sekadar soal etika keluarga, tapi juga menyangkut keberkahan hidup, penerimaan ibadah, bahkan keselamatan di akhirat. Penasaran bagaimana penjelasannya? Baca terus sampai selesai Cess!
Mengapa berbakti kepada orang tua memiliki kedudukan sangat tinggi dalam Islam?
Berbakti kepada orang tua ditempatkan pada posisi yang sangat mulia dalam ajaran Islam. Bahkan kedudukannya langsung setelah perintah menyembah Allah SWT.
Abdul Rosyid Bustomi menjelaskan bahwa hubungan ini sangat erat karena orang tua adalah sebab utama seseorang hadir di dunia. Dari masa kehamilan, kelahiran, hingga proses merawat dan mendidik, pengorbanan mereka begitu besar.
“Keridaan Allah sangat bergantung pada keridaan orang tua. Sebaliknya murka Allah juga bergantung pada murka orang tua,” jelasnya. Prinsip tersebut dikenal dalam ungkapan ridhallahu fi ridhal walidain. Artinya, rida Allah mengikuti rida orang tua.
Nah, pahamlah ikam. Dalam pandangan Islam, menghormati orang tua bukan sekadar sopan santun keluarga pang. Itu adalah perintah langsung dari Sang Pencipta.
Apa manfaat berbakti kepada orang tua bagi kehidupan seorang anak?
Bakti kepada orang tua membawa dampak luas bagi kehidupan seseorang. Bukan hanya urusan keluarga, tetapi juga keberkahan perjalanan hidup.
Menurut Abdul Rosyid Bustomi, bakti kepada orang tua sering disebut sebagai “jimat kesuksesan” bagi seorang anak. Maksudnya, keberhasilan seseorang di dunia hingga akhirat sangat berkaitan dengan doa dan keridaan orang tua.
“Ibadah seseorang bisa dianggap kosong jika tidak disertai dengan bakti kepada orang tua,” ujarnya.
Bahkan seseorang yang memiliki ilmu terbatas atau kemampuan sederhana tetap bisa diangkat derajatnya oleh Allah jika sungguh-sungguh berbakti kepada orang tua.
Beberapa manfaat utama birrul walidain antara lain:
1. Mendapatkan rida Allah SWT.
2. Mendapat keberkahan hidup dan kemudahan rezeki.
3. Menjadi kunci kesuksesan dunia hingga akhirat.
4. Mendapat ampunan serta keselamatan dari api neraka.
Ramadan menjadi waktu istimewa untuk memperkuat bakti ini. Sebab menurut penjelasan beliau, anak yang berbakti akan mendapatkan magfirah dan pembebasan dari api neraka.
Bagaimana cara tetap berbakti jika tinggal jauh dari orang tua?
Banyak orang merantau untuk bekerja atau menempuh pendidikan. Jarak sering dianggap penghalang untuk berbakti. Padahal menurut Abdul Rosyid Bustomi, bakti tetap bisa dilakukan meski berjauhan.
“Usahakan untuk menghubungi orang tua setidaknya seminggu sekali. Menanyakan kabar mereka adalah bentuk bakti,” tuturnya.
Ada beberapa cara sederhana menjaga bakti dari jarak jauh:
1. Menjaga komunikasi rutin melalui telepon atau pesan.
2. Menyampaikan kabar baik agar orang tua ikut bersyukur.
3. Segera merespons panggilan orang tua.
4. Selalu mendoakan kesehatan dan keberkahan mereka.
5. Melibatkan pasangan dalam menjaga hubungan dengan orang tua.
Kadapapa pang tinggal jauh. Selama komunikasi tetap dijaga dan doa terus dipanjatkan, keberkahan itu tetap mengalir. Pahamlah ikam.
Apa pelajaran penting dari kisah Jurais tentang panggilan ibu?
Dalam penjelasannya, Abdul Rosyid Bustomi juga mengangkat kisah Jurais, seorang ahli ibadah yang terkenal rajin salat dan beribadah.
Suatu hari, saat Jurais sedang melaksanakan salat sunnah, ibunya memanggil hingga tiga kali. Jurais mengalami kebingungan batin: membatalkan salat atau tetap melanjutkan ibadah. Namun Jurais tetap melanjutkan salatnya dan tidak menjawab panggilan ibunya.
Merasa diabaikan, sang ibu kemudian berdoa, “Ya Allah, jangan matikan anakku ini kecuali dia mendapatkan musibah yang besar.”
Doa tersebut akhirnya menjadi kenyataan. Jurais kemudian difitnah oleh seorang wanita dan dihina masyarakat hingga tempat ibadahnya dirusak.
Meski akhirnya kebenaran terungkap melalui mukjizat bayi yang baru lahir, kisah ini menyimpan pelajaran besar.
Pelajaran utamanya jelas:
1. Panggilan orang tua harus didahulukan dibanding ibadah sunnah.
2. Doa orang tua memiliki pengaruh sangat kuat.
3. Mengabaikan orang tua dapat mendatangkan musibah besar.
Di zaman sekarang, pengabaian sering terjadi karena kesibukan gadget atau teman. Nah, itu sudah… pahamlah ikam.
Apakah tetap wajib berbakti jika orang tua bersikap tidak baik?
Pertanyaan ini sering muncul. Namun menurut Abdul Rosyid Bustomi, kewajiban berbakti tetap berlaku apa pun kondisi orang tua.
“Kewajiban berbuat baik kepada orang tua adalah perintah langsung dari Allah, bukan permintaan orang tua,” tegasnya. Artinya, sikap anak tetap harus hormat dan menjaga adab meskipun orang tua bersikap kurang menyenangkan.
Dalam ajaran Islam, anak bahkan dilarang mengucapkan kata kasar kepada orang tua. Termasuk sekadar mengeluh atau mengucapkan kata pendek bernada kesal. Karena itu, sikap bakti harus tetap dijaga. Mau tidak mau. Suka atau tidak suka. Nah, itulah bentuk ketaatan kepada Allah.
Baca Juga: Perbedaan Amil Zakat dan Panitia Zakat Lengkap Dengan Aturan dan Dasar Hukumnya
Bagaimana cara berbakti kepada orang tua yang telah meninggal?
Berbakti kepada orang tua setelah mereka wafat tetap bisa dilakukan dengan berbagai cara. Salah satu yang paling utama adalah doa yang terus dipanjatkan oleh anak.
Dalam kajian tersebut Abdul Rosyid Bustomi menyampaikan doa yang biasa dibaca oleh seorang anak: “Rabbighfirli waliwalidayya warhamhuma kama rabbayani shaghira.”
Doa ini berisi permohonan agar Allah mengampuni dosa kedua orang tua dan memberikan kasih sayang kepada mereka sebagaimana mereka merawat anak saat kecil.
Selain doa, menjadi anak yang saleh dan menjalani kehidupan yang baik juga menjadi bentuk bakti. Ketika seorang anak berhasil dan hidup dalam keberkahan, hal itu secara tidak langsung menjadi kehormatan bagi orang tua di alam sana.
Nah, sederhana pang. Doa yang tulus dari anak bisa menjadi hadiah besar bagi orang tua yang sudah tiada.
Terakhir, amal ibadah seorang anak memiliki nilai spiritual yang besar bagi orang tua. Dalam penjelasan Abdul Rosyid Bustomi, ibadah seperti puasa Ramadan dan ketaatan kepada Allah bisa menjadi jalan untuk mendapatkan ampunan.
Ia menyebutkan bahwa anak yang terus menjaga ibadahnya menjadi bentuk bakti yang berkelanjutan. Amal tersebut membawa keberkahan bukan hanya untuk diri sendiri tetapi juga bagi orang tua.
Di bulan Ramadan, misalnya, ada peluang mendapatkan magfirah dan pembebasan dari api neraka. Namun kesempatan ini tidak berlaku bagi anak yang durhaka kepada orang tua.
Mengapa pasangan yang saleh penting untuk birrul walidain?
Memilih pasangan hidup yang memiliki pemahaman agama kuat ternyata berperan penting dalam menjaga bakti kepada orang tua. Pasangan yang saleh akan selalu mendukung hubungan baik dengan orang tua.
Menurut Abdul Rosyid Bustomi, seseorang yang memahami agama akan mengingatkan pasangannya untuk tetap berbakti kepada orang tua masing-masing. Sikap ini muncul karena kesadaran bahwa berbuat baik kepada orang tua adalah perintah langsung dari Allah.
Selain itu, pasangan yang memiliki karakter religius biasanya sudah terbiasa menghormati orang tuanya sendiri. Nilai itu kemudian terbawa dalam rumah tangga yang dibangun bersama.
Jadi saat memilih pasangan, faktor agama memiliki prioritas utama. Sebab harta, jabatan, atau keturunan tidak menjamin seseorang akan memiliki sikap hormat kepada orang tua.
Poin Penting dari Pembahasan Birrul Walidain
1. Keridaan Allah berkaitan dengan keridaan orang tua.
2. Bakti kepada orang tua menjadi kunci keberkahan hidup.
3. Ibadah dapat menjadi kosong tanpa bakti kepada orang tua.
4. Doa orang tua sangat berpengaruh terhadap kesuksesan anak.
5. Berbakti tetap wajib meskipun orang tua bersikap kurang baik.
Bagi pemirsa Balikpapan TV yang ingin menyaksikan program Cahaya Qolbu secara langsung, dapat menontonnya melalui kanal resmi YouTube: Balikpapantv_Official yang tayang setiap hari selama bulan Ramadan, pukul 17.00–18.00 WITA.
Insight: Birrul walidain sering dianggap urusan rumah tangga pang. Padahal dampaknya jauh melampaui itu. Dalam penjelasan Abdul Rosyid Bustomi, bakti kepada orang tua berkaitan langsung dengan kualitas ibadah dan keberkahan hidup. Di era serba cepat, hubungan anak dan orang tua kadang renggang karena jarak atau kesibukan. Nah, ini yang perlu dijaga. Kadapapa pang hidup modern, asal hormat tetap dijaga. Sebab doa orang tua itu pengiring perjalanan hidup.
Bagikan artikel ini ke bubuhan ikam supaya semakin banyak yang paham pentingnya berbakti kepada orang tua, Cess!
Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapan Tv teman update setia, "Bukan Sekadar Info Biasa!"
FAQ
1. Apa yang dimaksud birrul walidain dalam Islam?
Birrul walidain adalah sikap berbakti, menghormati, dan berbuat baik kepada kedua orang tua sebagai perintah langsung dari Allah SWT.
2. Apakah ibadah tetap diterima jika tidak berbakti kepada orang tua?
Menurut penjelasan Abdul Rosyid Bustomi, ibadah bisa dianggap kosong jika tidak disertai sikap baik kepada orang tua.
3. Bagaimana cara berbakti jika orang tua sudah meninggal?
Salah satu cara utamanya adalah terus mendoakan mereka agar mendapatkan ampunan dan kasih sayang Allah SWT.
DISCLAIMER
Artikel ini menggunakan bantuan AI secara terbatas untuk menghasilkan tulisan bebas typo dan kalimat tidak efektif. Artikel ini telah melalui verifikasi dan validasi ketat oleh Manusia (Redaksi). Gambar dapat saja dihasilkan AI di artikel ini hanya sebagai ilustrasi pendukung yang membantu pembaca memahami konteks informasi bukan sebagai bukti realistis. Teknologi AI digunakan semata-mata sebagai alat bantu produktivitas dan efisiensi kerja redaksi — bukan sebagai pengganti peran jurnalis manusia.