Info Lokal InfoScope Gaya Hidup Infotainment Bisnis & UMKM Religi Iptek Mimbar Opini

Istana Megah dan Gubuk Sederhana, Cerita dari Uyunul Hikayat Tentang Doa Orang Terzalimi yang Menggugurkan Kekuasaan, Simak Pesannya Cess

Nazwa Deriska Noviyanti • Rabu, 4 Maret 2026 | 16:35 WIB

Ilustrasi istana megah dan gubuk sederhana, simbol kontras kekuasaan dan ketidakadilan dalam kisah Uyunul Hikayat.
Ilustrasi istana megah dan gubuk sederhana, simbol kontras kekuasaan dan ketidakadilan dalam kisah Uyunul Hikayat.

Ikhtisar: Kisah raja dan gubuk nenek miskin dalam Kitab Uyunul Hikayat mengajarkan pentingnya keadilan pemimpin serta bahaya doa orang terzalimi yang mustajab tanpa penghalang.

Balikpapan TV - Hai Cess! Sebuah kisah klasik tentang raja, istana megah, dan gubuk nenek miskin kembali jadi pengingat keras soal keadilan. Cerita ini dikisahkan Abdul Mun’im dari ayahnya, Wahab, lalu ditulis ulang oleh Ibnu Jauzi dalam Kitab Uyunul Hikayat. Intinya jelas. Kekuasaan tanpa empati bisa berujung petaka.

Jangan berhenti di sini pang. Baca sampai habis-selesai-tuntas, karena di balik cerita sederhana ini ada pesan besar tentang doa orang terzalimi yang kada main-main, Cess.

Kisah bermula saat seorang raja membangun istana tinggi dan megah. Ia ingin tempat tinggal yang indah, nyaman, dan membanggakan. Di seberang lokasi pembangunan, berdiri gubuk sederhana milik seorang nenek miskin. Gubuk itu bukan cuma tempat berteduh. Di sanalah ia beribadah kepada Allah.

Suatu hari raja sidak proyek bersama pejabat dan kepala pembangunan. Pandangannya tertuju ke arah gubuk kecil itu.

“Apa itu?” tanya sang raja.

“Itu adalah gubuk tempat tinggal seorang perempuan,” jawab salah satu pendampingnya.

Jawaban itu justru memicu amarah. Raja merasa keberadaan gubuk tersebut mengganggu tata ruang dan keindahan istananya. Tanpa negosiasi. Tanpa empati. Ia memerintahkan prajurit merobohkannya.

Kebetulan, si nenek sedang keluar mencari makan. Gubuk itu pun rata dengan tanah.

Mengapa Raja Merobohkan Gubuk Nenek Tua?

Keputusan raja diambil cepat dan sepihak. Ia hanya memikirkan estetika istana dan kenyamanan pribadi. Gubuk kecil itu dianggap merusak pemandangan. Padahal di situlah seorang perempuan tua menggantungkan hidup dan ibadahnya.

Tidak ada dialog. Tidak ada pertimbangan. Semua diputuskan dari atas. Nah, di sini letak persoalannya.

Seorang pemimpin, sekecil apa pun keputusannya, tetap berdampak pada hidup orang lain. Ketika kebijakan dibuat tanpa melihat siapa yang terdampak, di situlah kezaliman bisa terjadi. Kisah ini memperlihatkan bagaimana kekuasaan dapat membutakan rasa. Pahamlah ikam.

Baca Juga: Tiga Nasihat Rasulullah Agar Manusia Tidak Menyerupai Hewan, Simak Penjelasannya Cess

Apa yang Terjadi Saat Nenek Pulang dan Melihat Rumahnya Hancur?

Reaksi nenek itu sederhana tapi menyayat. Ia pulang, melihat rumahnya rata dengan tanah, lalu bertanya, “Siapa yang tega merobohkan rumahku?”

Setelah mengetahui prajurit raja yang melakukannya, ia tidak berteriak ke istana. Tidak mengumpulkan massa. Ia menengadahkan tangan ke langit.

Air mata mengalir. Hatinya menjerit. Lalu ia berdoa:

“Ya Rabb, tadi aku sedang tidak ada, sedangkan Engkau selalu ada dan mengetahui apa yang terjadi.”

Kalimat ini pendek. Namun tajam. Ia mengadu langsung kepada Allah. Tanpa perantara. Tanpa jalur dunia.

Ilustrasi nenek tua melihat rumahnya rata dengan tanah.
Ilustrasi nenek tua melihat rumahnya rata dengan tanah.

Bagaimana Doa Orang Terzalimi Dijelaskan dalam Hadis?

Rasulullah telah mengingatkan soal ini jauh sebelumnya. Dalam hadis riwayat Muhammad disebutkan:

وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُوْمِ فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللهِ حِجَابٌ

Artinya: “Takutlah dan waspadalah terhadap doa orang yang terzalimi karena tidak ada antara ia dan Allah penghalang (mustajabah)”. (HR Bukhari).

Pesannya lugas. Doa orang terzalimi langsung sampai. Kada ada hijab. Kada ada jeda.

Hadis ini bukan ancaman kosong. Ia jadi pengingat keras bagi siapa pun yang memegang kuasa. Sekali keputusan menindas, dampaknya bisa panjang. Bahkan melampaui rencana yang sudah dibangun rapi.

Ilustrasi tangan terangkat berdoa, menggambarkan doa orang terzalimi yang mustajab.
Ilustrasi tangan terangkat berdoa, menggambarkan doa orang terzalimi yang mustajab.

Apa yang Terjadi pada Istana Sang Raja Setelah Doa Itu?

Jawabannya singkat. Pembangunan istana mulai mangkrak. Perlahan tapi pasti. Sampai akhirnya runtuh dengan sendirinya.

Tidak disebutkan gempa. Tidak diceritakan badai. Hanya satu sebab yang disorot: doa nenek yang terzalimi.

Di sinilah klimaks kisah ini. Raja yang ingin membangun simbol kemegahan justru kehilangan segalanya. Istana yang digadang-gadang jadi kebanggaan, berakhir jadi puing.

Nah’ itu sudah. Kuasa manusia ada batasnya.

Apa Hikmah Kepemimpinan yang Bisa Diambil dari Kisah Ini?

Pelajaran utamanya jelas: pemimpin wajib adil dan berhati-hati dalam memutuskan perkara. Jangan sampai ada pihak yang merasa terinjak.

Empati itu bukan tambahan. Itu inti.

Raja dalam kisah ini hanya memikirkan kepentingan pribadi dan kelompoknya. Ia kada melihat dari sisi si nenek. Padahal kepemimpinan sejati diukur dari kemampuan merasakan penderitaan rakyatnya.

Beberapa poin penting yang bisa dipetik:

1. Keputusan sepihak berpotensi melahirkan kezaliman.
2. Doa orang terzalimi mustajab dan tanpa penghalang.
3. Kekuasaan tanpa empati dapat menghancurkan diri sendiri.
4. Pemimpin wajib mempertimbangkan dampak sosial sebelum bertindak.

Cerita ini singkat. Tapi maknanya dalam.

Poin Penting dari Kisah Ini:

1. Raja membangun istana megah tanpa memikirkan gubuk nenek miskin di seberangnya.
2. Gubuk dirubuhkan saat nenek sedang mencari makan.
3. Nenek mengadu kepada Allah atas kezaliman tersebut.
4. Doanya dijawab, pembangunan istana mangkrak dan runtuh.
5. Hadis Rasulullah menegaskan doa orang terzalimi tidak terhalang.

Baca Juga: Polda Kaltim Intensifkan Operasi Harkamtibmas Selama Ramadan hingga Idulfitri 2026

Insight: Kisah ini bukan sekadar cerita moral lama. Ia relevan untuk siapa saja yang memegang tanggung jawab, sekecil apa pun. Kekuasaan sering terasa besar, tapi dampaknya bisa kembali ke diri sendiri. Doa orang terzalimi itu kada terlihat, tapi efeknya nyata. Di Balikpapan yang terus berkembang, keputusan pemimpin, atasan, bahkan kepala keluarga, semua ada konsekuensi. Jangan cuma lihat tampilan luar pang. Lihat juga siapa yang terdampak. Pahamlah ikam.

Bagikan artikel ini ke bubuhan ikam supaya makin banyak yang paham soal keadilan dan empati dalam memimpin. Siapa tahu jadi pengingat bersama, Cess.

Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapan Tv teman update setia, 'Bukan Sekadar Info Biasa!'

FAQ

1. Dari mana kisah raja dan nenek miskin ini berasal?
Kisah ini diriwayatkan Abdul Mun’im dari ayahnya Wahab dan dicatat oleh Ibnu Jauzi dalam Kitab Uyunul Hikayat.

2. Apa pesan utama dari hadis tentang doa orang terzalimi?
Pesannya agar waspada terhadap doa orang yang dizalimi karena doanya langsung sampai kepada Allah tanpa penghalang.

3. Apa pelajaran kepemimpinan yang bisa diambil?
Pemimpin harus adil, berhati-hati dalam mengambil keputusan, dan mampu merasakan penderitaan rakyatnya.

DISCLAIMER
Artikel ini menggunakan bantuan AI secara terbatas untuk menghasilkan tulisan bebas typo dan kalimat tidak efektif. Artikel ini telah melalui verifikasi dan validasi ketat oleh Manusia (Redaksi). Gambar dapat saja dihasilkan AI di artikel ini hanya sebagai ilustrasi pendukung yang membantu pembaca memahami konteks informasi bukan sebagai bukti realistis. Teknologi AI digunakan semata-mata sebagai alat bantu produktivitas dan efisiensi kerja redaksi — bukan sebagai pengganti peran jurnalis manusia.

Koneksi Informasi Terkini
Koneksi Informasi Terkini

Editor : Arya Kusuma
#Uyunul Hikayat #Doa Orang Terzalimi #Ibnu Jauzi #Raja dan Nenek Miskin #Hadis Rasulullah