Info Lokal InfoScope Gaya Hidup Infotainment Iptek Bisnis & UMKM Religi

Saat Masjid Nabawi Dimasuki Anjing dan Arab Badui Kencing di Dalam Masjid, Begini Sikap Rasulullah Menjaga Kesucian Tanpa Amarah

Nazwa Deriska Noviyanti • Rabu, 4 Maret 2026 | 13:14 WIB

Ilustrasi Masjid Nabawi pada masa Rasulullah, menggambarkan suasana sederhana penuh hikmah.
Ilustrasi Masjid Nabawi pada masa Rasulullah, menggambarkan suasana sederhana penuh hikmah.

Ikhtisar: Kisah anjing dan Arab Badui kencing di Masjid Nabawi pada masa Rasulullah menunjukkan akhlak, kebijakan, dan keteladanan Nabi dalam menjaga kesucian tanpa amarah berlebihan.

Balikpapan TV - Hai Cess! Cerita tentang anjing kencing di Masjid Nabawi dan Arab Badui yang melakukan hal serupa pada masa Rasulullah bukan dongeng pengantar tidur. Ini riwayat sahih yang dicatat para ulama hadis, dan isinya padat pelajaran tentang akhlak, kebijakan, serta cara menyikapi pelanggaran dengan kepala dingin.

Jangan geser dulu pang. Baca sampai tuntas Cess, karena di balik kisah yang terlihat sederhana ini, tersimpan makna besar tentang menjaga kesucian masjid tanpa kehilangan kelembutan hati.

Dalam riwayat Imam Muhammad al-Bukhari nomor 174 dari Abdullah bin Umar, disebutkan bahwa pada masa Rasulullah, anjing-anjing masuk ke dalam masjid, kencing, bahkan berlalu-lalang. Namun para sahabat kada menyiram setiap tempat yang dilalui anjing itu.

قَالَ كَانَتِ الْكِلاَبُ تَبُولُ وَتُقْبِلُ وَتُدْبِرُ فِي الْمَسْجِدِ فِي زَمَانِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَلَمْ يَكُونُوا يَرُشُّونَ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ

Artinya: "Dahulu anjing-anjing kencing, mencium, dan berbalik di dalam masjid pada masa Rasulullah saw, namun mereka tidak menyiramnya dengan sesuatu pun dari itu."

Mengapa Rasulullah Tidak Langsung Mengusir Anjing dari Masjid Nabawi?

Sikap Rasulullah saat itu tegas tapi tenang. Ketika seekor anjing masuk dan buang air di sudut Masjid Nabawi saat beliau memimpin shalat, para sahabat sempat geram. Mereka ingin mengusirnya. Namun Rasulullah meminta mereka tetap tenang dan membiarkan hewan itu menyelesaikan hajatnya.

Shalat tetap berjalan. Setelah selesai, beliau memerintahkan bekas kencing itu dibersihkan dengan air dan tanah. Tidak ada bentakan. Tidak ada penghinaan pada makhluk yang kada berakal.

Ini bukan soal membiarkan najis. Ini soal cara. Masjid tetap dijaga kesuciannya, tapi tanpa amarah yang berlebihan. Pahamlah ikam, ketegasan bisa berjalan berdampingan dengan kelembutan.

Baca Juga: Sering Nyatok Rambut? Coba 6 Cara Ini Supaya Rambut Tetap Sehat dan Tidak Kering

Apa Makna Hadis tentang Tanah yang Mengering Terkena Najis?

Riwayat lain dari Abu Dawud melalui Ibnu Umar juga menegaskan bahwa anjing-anjing kerap masuk masjid, dan para sahabat kada memercikkan air di setiap tempat yang terkena.

Muhammad Syamsul Al-Haqq Abadi dalam kitab Aunul Ma’bud menjelaskan, hadis ini menunjukkan bahwa tanah yang terkena najis lalu kering karena sinar matahari atau udara hingga hilang bekasnya, maka tanah itu kembali suci. Pendapat ini juga didukung oleh Al-Khattabi dalam Ma’alim As-Sunan.

والحديث فيه دليل على أن الأرض إذا أصابتها نجاسة فجفت بالشمس أو الهواء فذهب أثرها تطهر إذ عدم الرش يدل على جفاف الأرض ، وطهارتها

Artinya: "Hadits ini menunjukkan bahwa tanah yang terkena najis, kemudian mengering karena sinar matahari atau udara, sehingga bekas najisnya hilang, maka tanah tersebut menjadi suci."

Jadi, ada dimensi fikih di sini. Bukan sekadar kisah. Masjid kala itu juga kada memiliki pintu yang menghalangi hewan masuk. Peristiwa itu terjadi sesekali, bukan dibiarkan terus-menerus.

Ilustrasi tanah kering terkena sinar matahari, simbol penjelasan fikih tentang najis yang mengering.
Ilustrasi tanah kering terkena sinar matahari, simbol penjelasan fikih tentang najis yang mengering.

Bagaimana Sikap Nabi saat Arab Badui Kencing di Masjid?

Kisah lain diriwayatkan oleh Anas bin Malik dan dicatat dalam Shahih Bukhari dan Muslim. Seorang Arab Badui masuk masjid lalu kencing di salah satu sudutnya. Para sahabat marah, bahkan hendak menyerangnya.

Nabi bersabda:

«دَعُوهُ، فَإِنَّهُ لَمْ يَعْلَمْ»

Artinya: "Biarkan dia, karena ia tidak mengetahui."

Setelah itu Nabi memanggilnya dan menjelaskan dengan lembut bahwa masjid adalah tempat ibadah dan kada boleh dikotori. Arab Badui itu diberi pemahaman, bukan dimaki. Nah’ itu sudah, pendekatan edukatif jauh lebih efektif daripada amarah spontan.

Apa Pelajaran Akhlak dari Dua Peristiwa Ini?

Dua kisah ini menegaskan keluhuran akhlak Rasulullah. Masjid tetap dihormati. Najis tetap dibersihkan. Tapi pendekatan yang dipilih adalah kebijaksanaan.

Dalam Ar-Rahiq al-Makhtum, Safiur Rahman Mubarakfuri menggambarkan Rasulullah sebagai sosok dengan kedermawanan, keberanian, kesetiaan, dan kelembutan yang tiada tara. Sikap beliau dalam dua peristiwa ini menjadi contoh nyata.

Ada tiga poin yang bisa dicatat:

1. Menjaga kesucian tempat ibadah tanpa kehilangan empati.
2. Mengedukasi pelanggaran dengan pendekatan tenang dan proporsional.
3. Memahami latar belakang seseorang sebelum bereaksi keras.

Masjid adalah tempat suci. Itu jelas. Tapi cara menjaganya juga bagian dari ajaran.

Mengapa Kisah Ini Relevan Dibahas Hari Ini?

Riwayat ini bukan hanya catatan sejarah. Ia memotret bagaimana akhlak bekerja dalam situasi nyata. Rasulullah kada menormalisasi pelanggaran, tapi juga kada membiarkan emosi menguasai keadaan.

Ketika menghadapi ketidaktahuan, beliau memilih edukasi. Ketika berhadapan dengan hewan, beliau tetap menunjukkan belas kasih. Garisnya jelas: kesucian dijaga, martabat makhluk tetap dihormati.

Pahamlah ikam, kekuatan ajaran Islam bukan hanya pada aturan, tapi pada cara menerapkannya.

Poin Penting dari Kisah Ini:

1. Hadis riwayat Imam Bukhari nomor 174 mencatat anjing masuk masjid pada masa Rasulullah.
2. Tanah yang terkena najis dan mengering hingga hilang bekasnya dihukumi suci menurut penjelasan ulama.
3. Nabi melarang sahabat memarahi Arab Badui yang kencing di masjid.
4. Pendekatan edukatif lebih diutamakan daripada reaksi emosional.
5. Akhlak Rasulullah menjadi teladan menjaga kesucian lahir dan batin.

Baca Juga: Puasa Syawal Bukan Sekadar Sunnah, Penelitian Ungkap Dampaknya untuk Mental dan Kepribadian Muslim

Insight: Kisah ini menunjukkan standar akhlak yang tinggi dalam praktik nyata. Ketegasan ada, tapi tanpa ledakan emosi. Masjid dibersihkan, aturan ditegakkan, namun manusia tetap diperlakukan dengan hormat. Di zaman serba reaktif, pelajaran ini relevan. Jangan cepat tersulut. Lihat konteksnya. Edukasi dulu, baru koreksi. Itu sikap dewasa. Nah, pahamlah ikam, akhlak itu terlihat saat situasi panas, bukan saat semua aman terkendali.

Bagikan jua artikel ini ke kawalan ikam supaya makin banyak yang memahami makna di balik kisah klasik penuh hikmah ini, Cess.

Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapan Tv teman update setia, 'Bukan Sekadar Info Biasa!'

FAQ

1. Apakah benar anjing pernah masuk Masjid Nabawi pada masa Rasulullah?
Ya, hal ini diriwayatkan dalam hadis Imam Bukhari nomor 174 dari Abdullah bin Umar.

2. Mengapa para sahabat tidak selalu menyiram tempat yang dilalui anjing?
Karena menurut penjelasan ulama, tanah yang terkena najis lalu kering hingga hilang bekasnya dihukumi suci.

3. Mengapa Nabi tidak memarahi Arab Badui yang kencing di masjid?
Karena ia tidak mengetahui aturan. Nabi memilih menjelaskan dengan lembut daripada menghukumnya.

DISCLAIMER
Artikel ini menggunakan bantuan AI secara terbatas untuk menghasilkan tulisan bebas typo dan kalimat tidak efektif. Artikel ini telah melalui verifikasi dan validasi ketat oleh Manusia (Redaksi). Gambar dapat saja dihasilkan AI di artikel ini hanya sebagai ilustrasi pendukung yang membantu pembaca memahami konteks informasi bukan sebagai bukti realistis. Teknologi AI digunakan semata-mata sebagai alat bantu produktivitas dan efisiensi kerja redaksi — bukan sebagai pengganti peran jurnalis manusia.

Koneksi Informasi Terkini
Koneksi Informasi Terkini

Editor : Arya Kusuma
#Anas bin Malik #masjid nabawi #Abu Dawud #Safiur Rahman Mubarakfuri #Muhammad al Bukhari