Info Lokal InfoScope Gaya Hidup Infotainment Iptek Bisnis & UMKM Religi

Saat Orang Tua Kehilangan Kendali, Depresi Pascapersalinan dan Kisah Maryam Jadi Pengingat Penting untuk Keluarga di Indonesia

Nazwa Deriska Noviyanti • Rabu, 4 Maret 2026 | 11:56 WIB

Ilustrasi ibu dan bayi dengan sorotan tema kesehatan mental dan pencegahan filisida di era modern.
Ilustrasi ibu dan bayi dengan sorotan tema kesehatan mental dan pencegahan filisida di era modern.

Ikhtisar: Fenomena filisida kian mengkhawatirkan. Depresi pascamelahirkan, perubahan otak, dan tekanan mental jadi faktor risiko. Kisah Maryam dan peran keluarga menjadi inspirasi pencegahan sejak dini.

Balikpapan TV - Hai Cess! Aneh tapi nyata, di zaman modern masih ada orang tua yang mengakhiri nyawa anak kandungnya sendiri. Fenomena ini dikenal sebagai filisida dan terjadi di berbagai negara, termasuk Indonesia. Kasusnya memprihatinkan dan bertentangan dengan nilai kemanusiaan.

Lalu apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa orang tua bisa sampai pada titik itu? Yuk, simak sampai tuntas Cess, supaya pahamlah ikam bahwa persoalan ini kada sesederhana yang terlihat di permukaan.

Filisida bukan sekadar tindakan kriminal biasa. Banyak faktor kompleks saling berkelindan, mulai dari sosial ekonomi sampai gangguan kejiwaan. Data menunjukkan, meskipun angka di negara maju menurun, pembunuhan anak kandung masih menjadi salah satu penyebab utama kematian anak, dengan pelaku ayah dan ibu dalam jumlah hampir seimbang.

Mengapa Fenomena Filisida Masih Terjadi di Zaman Modern?

Filisida terjadi karena kombinasi faktor yang rumit. Penelitian Koenen (2008) dalam Infant Mental Health Journal menyebut sebagian besar kasus berkaitan dengan penyakit mental, khususnya depresi pascapersalinan dan psikosis. Sisanya dipicu penganiayaan serta penelantaran.

Artinya, ini bukan sekadar soal emosi sesaat. Ada kondisi psikologis yang serius di baliknya. Tekanan mental yang tidak tertangani dapat mendorong seseorang kehilangan empati, bahkan terhadap anak sendiri. Pertanyaannya, sudahkah lingkungan sekitar cukup peka melihat tanda-tandanya? Nah, di sinilah pentingnya pemahaman bersama, Cess.

Baca Juga: Buka Puasa Ramadan Tanpa Ribet! 6 Langkah Ringkas Bikin Wastafel Dapur Kembali Bersih Hanya Dalam Waktu 2 Menit

Apa Itu Depresi Pascapersalinan dan Baby Blues?

Depresi pascamelahirkan menjadi salah satu faktor yang bisa diantisipasi. Setelah persalinan, hormon yang sebelumnya tinggi saat hamil menurun drastis. Perubahan ini memengaruhi mood dan kondisi mental ibu.

Ada kondisi ringan yang dikenal sebagai baby blues. Namun ada pula gangguan berat seperti depresi dan psikosis. Dalam situasi ekstrem, ibu bisa kehilangan kepedulian terhadap bayinya. Penelitian Ali dkk (2024) menyebut 4,5 persen pasien wanita pascamelahirkan dengan depresi rentan melakukan filisida.

Angka ini memang tidak besar, tapi dampaknya fatal. Pahamlah ikam, satu kasus saja sudah terlalu banyak.

ibu pascamelahirkan mengalami baby blues dan depresi.
ibu pascamelahirkan mengalami baby blues dan depresi.

Bagaimana Perubahan Otak Berperan dalam Risiko Filisida?

Perubahan fisiologis pada otak juga ikut berperan. Selama kehamilan, area abu-abu di otak wanita berkurang dan biasanya kembali normal setelah melahirkan. Namun pada ibu dengan depresi, area ini bisa mengalami perubahan tidak normal.

Qi dkk (2018) menemukan adanya gangguan pada bagian otak yang disebut Brain Reward System pada penderita depresi berat. Sistem ini berfungsi menghasilkan rasa senang dan kepuasan. Jika terganggu, kebahagiaan terasa hambar.

Aktivitas sederhana seperti makan dan minum ternyata memicu sistem ini. Karena itu, perhatian terhadap nutrisi ibu hamil dan melahirkan bukan sekadar urusan fisik, tapi juga mental. Kada remeh pang urusan makan minum ini.

Apa Pelajaran dari Kisah Maryam dalam Mencegah Filisida?

Islam memberi pelajaran menarik melalui kisah Maryam. Dalam Surah Maryam ayat 26, Maryam diperintahkan untuk makan, minum, dan bersuka cita setelah melahirkan.

Dalam Tafsir Jalalain dijelaskan bahwa perintah tersebut bertujuan menenangkan hati Maryam agar tidak memikirkan hal lain. Padahal, situasinya sangat berat. Ia hamil tanpa suami dan menghadapi potensi tuduhan masyarakat.

Bahkan di ayat sebelumnya, sempat terlintas keinginan untuk mati sebelum kehamilan itu diketahui. Namun solusi datang dengan perintah menjaga ketenangan dan kebahagiaan. Pesannya jelas: suasana mental ibu hamil dan melahirkan harus dijaga. Nah, itu sudah… pahamlah ikam maknanya.

Langkah Nyata Apa yang Bisa Dilakukan Keluarga dan Tenaga Medis?

Pencegahan perlu dimulai sejak dini. Depresi pascamelahirkan harus dikelola dengan pengawasan tenaga medis dan psikolog. Ada pula catatan dari Bramante dan Di Florio (2023) bahwa obat golongan SSRI dalam kondisi tertentu dapat mencetuskan filisida, sehingga dokter dan apoteker perlu waspada.

Selain itu, pendekatan keluarga juga penting. Gerakan Keluarga Maslahat yang dicetuskan Nahdlatul Ulama menjadi salah satu contoh upaya komprehensif memperhatikan perempuan dan anak dalam keluarga.

Potret keluarga mendampingi ibu dan bayi sebagai bentuk dukungan pencegahan filisida.
Potret keluarga mendampingi ibu dan bayi sebagai bentuk dukungan pencegahan filisida.

Beberapa langkah yang dapat diperhatikan:
1. Memastikan asupan nutrisi ibu hamil dan melahirkan tercukupi.
2. Mengawasi tanda-tanda baby blues, depresi, atau psikosis sejak awal.
3. Melibatkan tenaga medis profesional dalam penanganan gangguan mental.
4. Memberikan dukungan emosional yang konsisten dari keluarga terdekat.

Kada bisa diserahkan pada ibu seorang diri. Perlu gotong royong keluarga.

Poin Penting:
1. Filisida sering berkaitan dengan gangguan mental, khususnya depresi pascamelahirkan.
2. Perubahan hormon dan struktur otak memengaruhi kondisi emosional ibu.
3. Brain Reward System berperan dalam menciptakan rasa bahagia.
4. Kisah Maryam mengajarkan pentingnya menjaga kegembiraan ibu melahirkan.
5. Dukungan keluarga dan pengawasan medis menjadi kunci pencegahan.

Baca Juga: Privasi Aman, Tampilan Naik Level! Inspirasi Tanaman Pagar Rumah yang Rapi dan Tahan Panas

Insight: Fenomena filisida menunjukkan kesehatan mental ibu pascamelahirkan kada bisa dianggap sepele. Ada faktor biologis, psikologis, dan sosial yang saling terkait. Kisah Maryam memberi perspektif spiritual, sementara riset ilmiah memberi dasar medis. Dua pendekatan ini kada perlu dipertentangkan, justru bisa saling menguatkan. Di Balikpapan, dukungan keluarga besar masih kuat. Tinggal bagaimana perhatian itu diarahkan pada kesehatan mental ibu. Jangan tunggu krisis baru bergerak. Itu poinnya.

Bagikan artikel ini ke bubuhan ikam supaya makin banyak yang paham pentingnya menjaga kesehatan mental ibu dan anak di keluarga, nah.

Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapan Tv teman update setia, “Bukan Sekadar Info Biasa!”

FAQ

Apa itu filisida?
Filisida adalah tindakan orang tua yang menghilangkan nyawa anak kandungnya sendiri, sering berkaitan dengan gangguan mental dan tekanan psikologis.

Apakah depresi pascamelahirkan selalu berujung filisida?
Tidak. Namun depresi berat dan psikosis yang tidak ditangani dapat meningkatkan risiko, sehingga perlu pengawasan medis.

Bagaimana peran keluarga dalam mencegah filisida?
Keluarga berperan dalam memastikan dukungan emosional, pemenuhan nutrisi, serta membantu ibu mendapatkan penanganan profesional jika muncul tanda gangguan mental.

DISCLAIMER
Artikel ini menggunakan bantuan AI secara terbatas untuk menghasilkan tulisan bebas typo dan kalimat tidak efektif. Artikel ini telah melalui verifikasi dan validasi ketat oleh Manusia (Redaksi). Gambar dapat saja dihasilkan AI di artikel ini hanya sebagai ilustrasi pendukung yang membantu pembaca memahami konteks informasi bukan sebagai bukti realistis. Teknologi AI digunakan semata-mata sebagai alat bantu produktivitas dan efisiensi kerja redaksi — bukan sebagai pengganti peran jurnalis manusia.

Koneksi Informasi Terkini
Koneksi Informasi Terkini

Editor : Arya Kusuma
#Brain Reward System #Gerakan Keluarga Maslahat #Filisida #Depresi Pascapersalinan #Maryam