Info Lokal InfoScope Gaya Hidup Infotainment Iptek Bisnis & UMKM Religi

Tiga Nasihat Rasulullah Agar Manusia Tidak Menyerupai Hewan, Simak Penjelasannya Cess

Nazwa Deriska Noviyanti • Selasa, 3 Maret 2026 | 20:21 WIB

Ilustrasi manusia sebagai khalifah di bumi yang memiliki akal dan tanggung jawab menjaga keseimbangan kehidupan.
Ilustrasi manusia sebagai khalifah di bumi yang memiliki akal dan tanggung jawab menjaga keseimbangan kehidupan.

Ikhtisar: Tiga perbuatan yang diingatkan Nabi Muhammad SAW agar tidak menyerupai hewan: menarik kembali pemberian, berbicara berlebihan, serta gerakan shalat yang tidak tepat. Nasihat ini menegaskan pentingnya adab manusia.

Balikpapan TV - Hai Cess! Manusia dalam ajaran Islam disebut sebagai makhluk terbaik yang Allah SWT ciptakan. Bukan tanpa alasan. Dari bentuk fisik, tanggung jawab sebagai khalifah di bumi, sampai kemampuan mengelola akal dan nafsu, semuanya menjadi dasar keistimewaan tersebut.

Namun keistimewaan itu juga membawa tanggung jawab besar. Ketika manusia lupa menjaga adab, perilakunya kadang justru menyerupai tabiat hewan yang tidak memiliki akal. Nah, Nabi Muhammad SAW pernah memberi peringatan jelas tentang beberapa perilaku yang perlu dihindari. Penasaran apa saja? Simak sampai tuntas, Cess.

Mengapa manusia disebut makhluk terbaik menurut ajaran Islam?

Dalam Islam, manusia memiliki kedudukan yang istimewa dibandingkan makhluk lain. Keistimewaan ini disebutkan dalam Al-Qur’an, salah satunya dalam QS. At-Tin ayat 4 yang menjelaskan bahwa manusia diciptakan dalam bentuk terbaik.

Keunggulan manusia bukan sekadar tampilan fisik. Ada amanah besar yang diberikan. Dalam QS. Al-Baqarah ayat 31 dan QS. Al-Ahzab ayat 71 dijelaskan bahwa manusia diberi tanggung jawab sebagai khalifah di bumi, sesuatu yang bahkan langit, bumi, dan gunung tidak sanggup memikulnya.

Selain itu manusia juga dianugerahi akal dan nafsu yang seimbang. Kemampuan ini membuat manusia mampu mengelola kehidupan di bumi, sebagaimana diterangkan dalam QS. Al-Jasiah ayat 13.

Nah, di sinilah letak ujian sebenarnya. Ketika akal tidak digunakan dengan baik, perilaku manusia bisa menyimpang dari kodratnya sendiri. Pahamlah ikam, keistimewaan itu justru menjadi pengingat agar manusia menjaga adab dalam kehidupan sehari-hari, Cess.

Baca Juga: Walimah dalam Pernikahan Islam, Bukan Sekadar Jamuan Makan: Makna Syukur, Doa, dan Silaturahmi yang Perlu Dipahami

Kenapa mengambil kembali pemberian dianggap perilaku tercela?

Perbuatan mengambil kembali barang yang sudah diberikan kepada orang lain ternyata mendapat peringatan keras dalam ajaran Islam. Nabi Muhammad SAW menyamakan tindakan tersebut dengan perilaku anjing yang kembali menjilat muntahannya.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dari Ibnu Abbas disebutkan:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ‌لَيْسَ ‌لَنَا ‌مَثَلُ السَّوْءِ، الَّذِي يَعُوْدُ فِي هِبَتِهِ، كَالْكَلْبِ يَرْجِعُ فِي قَيْئِهِ

Artinya: Dari Ibnu Abbas Ra, ia berkata, Nabi Muhammad SAW bersabda: “Tidak sepantasnya bagi kita mempunyai sifat buruk. Yakni, mengambil kembali barang pemberian, bagaikan anjing yang menelan kembali muntahannya sendiri.” (HR. Bukhari)

Pesan hadits ini tegas. Ketika sesuatu sudah diberikan sebagai hadiah atau hibah, tindakan mengambilnya kembali merupakan sikap yang tidak terpuji.

Kadapapa pang jika ingin memberi sesuatu kepada orang lain, tapi pastikan pemberian itu tulus tanpa niat menariknya kembali. Nah, itu sudah.

Apa maksud larangan berbicara berlebihan dalam hadits Nabi?

Berbicara adalah kemampuan manusia yang membedakan dari banyak makhluk lain. Tetapi jika dilakukan secara berlebihan dengan tujuan menunjukkan kepandaian, justru bisa menjadi perilaku yang tidak disukai.

Dalam hadits yang diriwayatkan Imam Tirmidzi dari Abdullah bin Amr, Rasulullah SAW bersabda:

عَنْ عَبْدِ اللّٰهِ بْنِ عَمْرٍو، أنَّ رَسُوْلَ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ‌إنَّ ‌اللّٰهَ ‌يُبْغِضُ ‌البَليْغَ مِنَ الرِّجَالِ الَّذِيْ يَتَخَلَّلُ بِلِسَانِهِ كَمَا تَتَخَلَّلُ البَقَرَةُ

Artinya: Dari Abdullah bin Amr, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah SWT membenci laki-laki yang pandai berbicara, yang menggerakkan lidahnya seperti sapi.” (HR. At-Tirmidzi)

Syekh Hasan bin ‘Ali al-Fayumi dalam kitab Fathul Qarib al-Mujib ‘alat Targhib wat Tarhib menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah berbicara terlalu berlebihan hingga mulut berbuih, seperti sapi yang sedang mengunyah rumput.

Intinya sederhana. Berbicara secukupnya saja. Tidak perlu memutar-mutar lidah untuk menunjukkan kepandaian.

Bagaimana adab gerakan shalat agar tidak menyerupai hewan?

Selain perilaku sehari-hari, Rasulullah SAW juga mengingatkan umatnya agar menjaga gerakan shalat dengan benar. Salah satunya ketika sujud.

Dalam hadits riwayat Imam Bukhari dari Anas disebutkan:

عَنْ أَنَسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ‌اعْتَدِلُوا ‌فِي السُّجُودِ، وَلَا يَبْسُطْ أَحَدُكُمْ ذِرَاعَيْهِ انْبِسَاطَ الْكَلْبِ

Artinya: Dari Anas, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Seimbanglah dalam sujud, dan janganlah salah seorang dari kalian membentangkan lengannya seperti anjing.” (HR. Bukhari)

Syekh Mazharuddin Az-Zaidani dalam kitab Al-Mafatih Syarhul Mashabih menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah menempelkan kedua siku dan telapak tangan ke lantai saat sujud.

Gerakan tersebut dianjurkan untuk dihindari agar posisi sujud tetap sesuai tuntunan.

Ilustrasi gerakan sujud dalam shalat yang benar sesuai tuntunan Rasulullah.
Ilustrasi gerakan sujud dalam shalat yang benar sesuai tuntunan Rasulullah.

Gerakan shalat apa saja yang juga dilarang menyerupai hewan?

Selain sujud seperti anjing, Rasulullah SAW juga mengingatkan beberapa gerakan lain yang perlu diperhatikan dalam shalat.

 

Dalam hadits riwayat Ibnu Majah disebutkan larangan:

  1. Mematuk seperti gagak, yaitu sujud terlalu cepat.

  2. Duduk seperti hewan buas, yakni menempelkan lengan ke lantai saat sujud.

  3. Menetap di satu tempat seperti unta, yaitu selalu memilih tempat tertentu di masjid.

Selain itu terdapat pula hadits riwayat Muslim dari Jabir bin Samurah yang menegaskan larangan menggerakkan tangan ke kanan dan kiri saat salam seperti ekor kuda.

Pesan dari berbagai hadits ini jelas. Shalat dilakukan dengan tenang dan tertib. Tidak tergesa-gesa. Tidak berlebihan dalam gerakan.

Nah, ketika ibadah dijalankan dengan ketenangan dan sesuai tuntunan, makna shalat juga terasa jauh lebih dalam, pahamlah ikam.

Poin Penting yang Perlu Diingat

  1. Manusia memiliki keistimewaan sebagai makhluk terbaik dalam Islam.

  2. Mengambil kembali pemberian merupakan perilaku tercela.

  3. Berbicara berlebihan untuk menunjukkan kepandaian tidak disukai dalam ajaran Islam.

  4. Gerakan shalat harus dilakukan dengan tenang dan sesuai tuntunan.

  5. Rasulullah SAW mengingatkan agar manusia tidak meniru tabiat hewan.

Baca Juga: Menghormati Orang Tua dalam Islam, 5 Cara Berbakti yang Dijelaskan Al-Qur’an dan Hadis Ini Layak Dipahami dari Sekarang

Insight: Nasihat Nabi ini sebenarnya sederhana, tetapi dampaknya besar dalam kehidupan sosial. Menarik kembali pemberian merusak hubungan, berbicara berlebihan memicu kesombongan, sementara shalat yang tergesa membuat ibadah kehilangan makna. Nah, kadang manusia sibuk mengejar banyak hal sampai lupa menjaga adab dasar. Padahal adab itulah yang membedakan manusia dengan makhluk lain. Di Balikpapan pang sering terdengar nasihat lama: hidup itu bukan soal pintar saja, tapi juga soal sikap. Pahamlah ikam.

Bagikan artikel ini ke bubuhan ikam supaya semakin banyak yang memahami makna adab dalam kehidupan sehari-hari, nah.

Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapan Tv teman update setia, "Bukan Sekadar Info Biasa!"

FAQ

Apa maksud manusia sebagai makhluk terbaik dalam Islam?
Manusia disebut makhluk terbaik karena diciptakan dengan bentuk terbaik, diberi akal, serta amanah sebagai khalifah di bumi.

Mengapa mengambil kembali pemberian dilarang dalam Islam?
Karena perbuatan tersebut dianggap sebagai perilaku tercela yang disamakan dengan anjing yang kembali menjilat muntahannya.

Apa tujuan larangan gerakan shalat menyerupai hewan?
Agar shalat dilakukan dengan tenang, tertib, dan sesuai tuntunan yang diajarkan Rasulullah SAW.

DISCLAIMER
Artikel ini menggunakan bantuan AI secara terbatas untuk menghasilkan tulisan bebas typo dan kalimat tidak efektif. Artikel ini telah melalui verifikasi dan validasi ketat oleh Manusia (Redaksi). Gambar dapat saja dihasilkan AI di artikel ini hanya sebagai ilustrasi pendukung yang membantu pembaca memahami konteks informasi bukan sebagai bukti realistis. Teknologi AI digunakan semata-mata sebagai alat bantu produktivitas dan efisiensi kerja redaksi — bukan sebagai pengganti peran jurnalis manusia.

Koneksi Informasi Terkini
Koneksi Informasi Terkini

Editor : Arya Kusuma
#Nasihat Rasulullah tentang akhlak #Gerakan shalat dalam hadits #Adab manusia dalam Islam #Larangan menyerupai hewan #Nabi Muhammad SAW